Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 40 ~


__ADS_3

Sampai jam istirahat makan siang, konsentrasiku masih belum kembali. Aku yang di temani Riska jenguk Lala ke sekolahnya, membicarakan ini ketika dalam perjalanan.


"Aku merasa Bi, suamimu emang kesambet setan angkasa. Sikapnya berubah jadi baik semenjak pulang dinas"


"Sepertinya sebelum dinas dia memang sudah agak sedikit berubah, maksudku nggak sedingin biasanya, tapi entahlah, aku masih bingung dengan perasaannya padaku. Dia belum menyatakan cintanya, tapi di sisi lain dia seakan mulai posesif, menunjukkan sinyal-sinyal yang membuatku salah paham akan sikapnya"


"Jangan-jangan, suamimu baik hanya alibinya saja, dia baikin kamu karena ada maksud lain"


"Maksud lain?" Aku melirik Riska yang tengah fokus mengemudi. Karena aku tak membawa mobil, aku yang tadinya mau memesan ojek online, justru di cegah sebab dia menawarkan untuk mengantarku ke sekolah Lala di jam istirahat.


Wanita itu langsung mengangguk. "Mungkin dia mau minta restumu buat nikah lagi"


"Riska!"


"Woopss... Sorry! Itu kan menurutku Bi"


"Aku nggak mau di poligami"


"Logikanya gini Bi" Kata Riska menekan tombol sign


"Kamu tahu kan, gimana Lala pas kamu pergi kemarin? nah demi putrinya, mas Bima nggak mau kehilanganmu, dia baik-baikin kamu biar nggak pergi lagi, supaya misinya buat poligami di restuin sama kamu"


"Ish amit-amit"


"Ya sudah tanyakan saja, dari pada su'udzon" Riska menjeda ucapannya sejenak. "Eh tapi, sikap suamimu kan memang bikin orang lain su'udzon"


"Aku harus mulai dari mana, Ris?" tanyaku ketika ada hening sesaat.


"Apanya?"


"Tanya ke mas Bima harus mulai dari mana?" Balasku cepat.


"Ya tanya aja langsung, nggak usah basa-basi. Nanti kalau terlalu banyak berkelit, apa yang ingin kamu tanyakan malah jadi ambyar"


"Tapi aku nggak siap dengan jawaban mas Bima"


"Nggak siap gimana?"


"Ya kalau benar wanita itu adalah yang di cintai mas Bima dan mas Bima berniat poligami, sudah di pastikan hatiku akan hancur untuk ke dua kali, dan aku belum siap untuk itu Ris"


"Kalau memang belum siap buat bertanya, tunggu beberapa hari buat persiapkan diri kamu"


"Aahh, kenapa serumit ini" Aku menyentakkan punggungku ke sandaran jok, kemudian melipat tangan di dada. "Kepercayaan diriku yang sempat melambung tinggi, karena sejak kepulangannya, dia jadi lebih banyak bicara, dia bahkan nggak segan buat melempar candaan ke aku. Tapi sekarang kepercayaan diri itu turun drastis"


"Kamu kuat, Bi. Pak Raskha masih menantimu, dokter yang pernah kirim burger ke kamu juga sepertinya masih belum bisa move on darimu"


"Kok malah pak Raskha"


"Kenapa? menurutku dingin dan irit senyumnya beda tipis kok sama masmu itu"


"Enggaklah"


"Enggak apa?"


"Enggak dua-duanya, Enggak pak Raskha juga nggak pak dokter" sahutku melempar pandangan ke arah kiri. "Mereka bukan kriteria untuk ku jadikan suami"


"Baiklah, semoga wanita berhijab itu hanya temannya saja. Teman curhat karena suamimu kan sempat down gara-gara di selingkuhi ibunya Lala"


"Apa aku ambil cuti aja, Ris? Nanti kalau misalnya jawaban mas Bima membuatku patah hati, setidaknya aku ada waktu biar bisa langsung menenangkan diri"


"Ide yang bagus"


"Tapi bisa nggak?"


"Kalau urgent pasti bisa lah, nanti ku bantu ngomong, lagi pula kamu kan anak kesayangan pak Firman"


Aku mencebik saat Riska mengatakan kalau aku anak kesayangan pak Firman.


"Kalau ketakutanmu itu kejadian, kamu mau menenangkan diri kemana?"


"Jogja mungkin"


"Yah, nggak ketemu kamu, deh"


"Eh, tapi enggak deh... Aku lebih baik mengalihkan pikiranku untuk bekerja"


"Ish gimana si kamu, Bi"


Sampai mobil Riska tiba di sekolah Lala, obrolan masih berlanjut, tapi kali ini bicara mengenai masalah Riska.


****

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, kedekatanku dan mas Bima kian lebih, dia kerap sekali bersikap lembut padaku. Dia yang sangat ahli dalam berciuman, sering tiba-tiba mencuri kecup jika Lala sedang berada jauh dari jangkauan kami.


Mas Bima bahkan pernah mengatakan sesuatu yang membuatku tersipu.


Kalau nggak lagi ada tamu bulanan, kamu sudah ku makan, Bi.


Entahlah, sama sekali tak menunjukkan gelagat aneh yang menyiratkan kalau mas Bima memiliki wanita idaman lain.


Aku sempat searching juga mengenai tanda-tanda suami selingkuh, tapi tanda-tanda itu sama sekali tak ku jumpai dari sikap mas Bima.


Dia bahkan dengan sembarangan meletakkan ponselnya, hanya sesekali menerima telfon dari teman dan juga rekan kerjanya, selebihnya waktunya ia gunakan untuk mengantar jemput aku dan juga Lala. Juga bercengkrama dan bercanda di ruang tengah ketika selesai makan malam.


Saat aku pura-pura meminjam ponselnya pun, mas Bima sama sekali tak keberatan.


Tapi ada sesuatu yang membuatku heran, hingga detik ini pria dingin itu masih belum memintaku untuk memboyong pakaianku ke lemarinya seperti yang di katakan beberapa waktu lalu.


Dia lupa, atau hanya bercanda?


"Bi, siapkan baju-baju buat Lala" perintah mas Bima ketika aku sedang mempersiapkan buah untuk membuat kudapan.


"Baju-baju apa mas?"


"Nanti aku jemput Lala sekalian antar dia ke rumah mami. Mbak Cia menginap di sana dan minta Lala juga buat nginep di sana"


"Tapi kan besok masih hari sabtu mas, Lala masih sekolah sehari"


"Nggak apa-apa, aku sekalian ijin ke bunda Lisa. Toh cuma sehari Lala nggak masuk"


"Mbak Cia memangnya nggak sekolah?" aku masih keberatan dengan mas Bima yang ingin membawa Lala menginap di rumah orang tuanya.


"Dia libur karena kemarin dapat juara satu lomba baca puisi tentang Maulid Nabi, jadi sekolah mengijinkan cuti satu hari. Berangkat lagi hari senin, malam sabtu nginep di rumah mami, malam minggunya di rumah bunda Nina"


Aku manggut saja merespon ucapan mas Bima. "Terus kapan Lala pulang?"


"Hari minggu siang kita ke rumah mami, jemput Lala sekalian makan malam di sana"


"Minggu siang?"


"Kenapa?" mas Bima mengerutkan dahinya.


"Berarti dua malam Lala menginap di rumah mami?" Aku melangkah menuju westafle.


"Cuma dua malam kok" mas Bima menghiburku.


"Sepi, nggak ada Lala?" Tebaknya yang tepat sasaran. Sementara kepalaku langsung terangguk lesu.


"Kan ada aku" Mas Bima tiba-tiba berdiri di belakangku.


Aku yang tengah mencuci buah-buahan untuk membuat salad, tubuhku seketika berjengit karena kaget.


Bulu kudukku meremang ketika pria di belakangku menyibakkan rambutku yang tergerai.


Aku semakin tak bisa mengendalikan diri saat mas Bima tahu-tahu mengecup tengkukku lalu menyesapnya kuat-kuat.


"Ingat, kalau ada sesuatu yang mengusik pikiranmu" Tangan mas Bima memutar tubuhku agar menghadapnya. "Tanyakan ke aku, jangan di pendam disini" Ia menunjuk bagian dadaku.


Mungkin mas Bima peka denganku yang beberapa hari ini tak banyak bicara.


Aku memang belum bertanya soal wanita berhijab yang mas Bima temui, tapi aku berusaha berfikir positif. Mungkin saja wanita itu hanya temannya yang tidak sengaja bertemu. Tapi tetap saja pikiranku sibuk berspekulasi yang tidak-tidak.


"Kenapa?" Tangan mas Bima melingkar di pinggangku setelah sebelumnya mematikan kran air yang tadi belum sempat ku matikan.


Aku mendongak, memberanikan diri menatap sepasang netranya.


"Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanyanya ketika aku hanya bergeming sambil menatapnya penuh lekat.


"Bicara Bi! Aku bukan paranormal yang langsung mengetahui apa yang kamu pikirkan dan rasakan"


Menelan ludah, aku menarik nafas untuk membuang perasaan nervous yang membelitku.


"Apa mas ada niatan poligami?" Tanyaku tanpa mengerjap.


Mas Bima mengangkat satu alisnya. "Kenapa tanya begitu?"


"Aku mau mas jawab"


"Aku mau tahu alasan kamu menanyakan itu" Sergahnya tanpa beralih dari tatapanku.


"Jawab saja, setelah mas jawab, akan ku beri tahu alasanku bertanya hal itu"


"Nggak ada" jawab mas Bima tanpa pikir. "Kalau satu saja cukup, kenapa harus dua?"

__ADS_1


"Apa sudah cukup memilikiku?"


"Belum"


Aku mendelik, sementara mas Bima tersenyum. "Sampai aku belum menidurimu, maka belum cukup untuk memilikimu"


Mendengar jawaban mas Bima, reflek tangan kananku mencubit pinggangnya yang secara spontan membuat mas Bima melentingkan badan ke kiri.


"Loh, benar kan aku?" Mas Bima mengeratkan lingkaran tangannya di pinggangku.


"Masih ada yang mau di komplain?" Tanyanya lembut.


Aku mengangguk, dan anggukan kepalaku persekian detik membuat alis mas Bima menukik tajam.


"Apa?"


Hening hingga lima detik.


Mas Bima mengangkat alis serta dagunya, kode agar aku segera mengeluarkan unek-unekku.


"Bi"


Mengatupkan bibir, akhirnya aku memberanikan diri untuk bersuara. "Siapa wanita berhijab yang pernah mas temui di restauran dekat kantorku?"


Mas Bima seperti terkejut, tapi setelah sekian detik, pria yang masih menempelkan tubuhnya begitu rapat di tubuhku kembali dengan gestur santai.


Dia menatapku dengan tatapan yang tak ku tahu apa artinya.


"Kamu lihat?"


Aku mengangguk. "Pertama aku melihat sendiri mas di restauran dekat supermarket, kedua tamanku yang melihatnya"


Tangan mas Bima terulur menyelipkan helaian rambut ke belakang telingaku, seakan tak peduli dengan detak jantungku yang memberontak menunggu jawaban mas Bima.


"Dia Rosa, teman sekaligus pengacaraku. Teman Elfino juga saat di Madrasah kakek"


Dahiku mengernyit. Nama itu tak asing bagiku, Rosa??


"Apa dia yang selalu datang bareng mas Bima saat ada kegiatan kepramukaan?"


Mas Bima mengangguk.


Rosa, selalu menjadi kakak pembina kalau ada kegiatan pramuka di Madrasah. Dulu, setahuku kak Rosa itu tomboy, jadi wajar kalau aku pangling dengannya. Dia cukup dekat dengan mas Bima dan mas Fino.


Juga selalu aktif di pramuka dan Osis. Bahkan dia mewakili mas Bima yang menjabat sebagai ketua osis.


Tapi apa maksudnya menjadi pengacara mas Bima? Apa dia dulu yang di tunjuk mas Bima untuk menyelesaikan kasus perceraiannya?


"Kenapa mas sering bertemu dengannya?" tanyaku setelah tadi terjeda hampir lima menit.


"Ada work yang harus kami selesaikan"


"Work apa? Menikah?"


Mas Bima mencubit hidungku lembut.


"Pikiranmu itu loh dek?"


"Kenapa? Aku hanya menebak" Kataku tanpa ekspresi apapun.


"Tapi tebakanmu salah"


"Tapi work apa?"


"Nanti ku ceritakan. Sekarang sudah waktunya jemput Lala, kamu siapkan apa saja yang perlu di bawa untuk menginap di rumah mami, kamu bundanya, pasti tahu kan"


"Ini saladnya gimana?"


"Buat besok saja, nanti sepulang dari rumah mami kita makan malam di luar, jadi kamu nggak perlu masak"


"Jam berapa mas pulang dari rumah mami?"


"Ku usahakan pulang cepat. Begitu sampai langsung balik lagi"


Kini bukan lagi soal wanita berhijab yang membuatku terusik.


Kira-kira pekerjaan apa yang sedang di lakukan mas Bima dan kak Rosa?


Bersambung.


Libur ni... Crazy up yuk..

__ADS_1


__ADS_2