Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 48 ~


__ADS_3

Ji Chang wook as Mas Bima



Emma as Arimbi



Arimbima



"Assalamu'alaikum, bundaaa!"


"Wa'alaikumsalam" jawabku sambil membilas kain yang akan ku pakai mengepel.


"Bunda di mana?" Lala sedikit meninggikan suaranya.


"Ada di ruang tengah nak, sebentar ya, Lala jangan lari-larian lantainya basah soalnya"


Tadi sebelum mas Bima jemput Lala, aku sudah berpesan padanya supaya jangan ijinkan Lala masuk sambil lari-lari. Sebab, selesai membuat kudapan aku memang bilang mau mengepel lantai.


Dan sampai mas Bima pulang dari jemput Lala di sekolah, aku bahkan belum selesai membersihkan semuanya.


Setelah ember ku singkirkan di tepi ruangan, serta mengambil kain kering untuk mengelap lantai yang masih basah, aku berjalan ke luar menuju pintu utama. Pintu yang memang tak ku tutup.


"Bun, Lala mau pergi jalan-jalan sama teman-teman dan bunda-bunda di sekolah" Dia mengatakannya sembari mengecup punggung tanganku.


"Jalan-jalan? Kemana?"


"Ke museum katanya"


Aku melempar pandangan pada mas Bima yang tengah bicara di telfon.


"Kata ayah, nanti ayah sama bunda bisa temani Lala, nanti ayah ijinin bunda biar nggak kerja dulu"


"Kapan memangnya?"


"Lala lupa"


"Lupa?" aku mengulang jawaban Lala yang langsung di anggukkan kepala olehnya.


"Kita masuk yuk"


Aku mengambil alih tas Lala dari gendongannya, kemudian menggandeng tangannya dan membawanya masuk, membiarkan mas Bima yang masih bicara dengan mas Ken melalui sambungan jarak jauh.


Setelah membantu Lala berganti pakaian, kami kembali turun, sepasang netraku melihat mas Bima sedang melanjutkan kegiatan mengepelku yang belum usai saat langkahku dan Lala sudah berada di beberapa anak tangga terakhir.


"Lala mau puding?" Tanyaku mengarahkan kaki menuju dapur.


"Bunda bikin puding, iya?"


"Iya, tadi bunda bikinnya pas ayah jemput Lala"


"Mau bun"


"Okay, bunda ambilin ya"


"Iya" Sahut Lala sementara aku langsung mengangkat tubuhnya untuk ku dudukan di kursi makan.


"Bunda tahu nggak, museum itu apa?"


"Memangnya apa?" tanyaku balik, sambil membawa dua mangkok salad untukku dan Lala.


"Kata bunda Lisa, miseum itu tempat sejarah bun"

__ADS_1


"Museum nak" Ralatkku cepat. Kemudian duduk setelah meletakkan mangkok di depan Lala.


"Iya itu" Kata Lala menyuapkan suapan pertamanya. "Sejarah itu apa bun?"


"Sejarah itu sesuatu yang terjadi di masa lampau sayang, masa-masa pahlawan yang berjuang dan berperang melawan penjajah"


"Penjajah itu apa?"


"Penjajah itu musuh"


"Kalau musuh berarti nggak berteman ya bun?"


"Iya, sayang"


"Wow puding, ayah mau dong" Mas Bima membawa ember bekas mengepel melewati ruang makan. Dia akan meletakannya di tempat cucian baju yang letaknya ada di belakang dapur.


"Ayah sudah selesai main airnya?"


"Ayah bersihin lantai La, bukan main air" Jawab mas Bima seraya berlalu.


"Lala tahu nggak, mau ke museum mana?" tanyaku setelah mas Bima keluar dari area dapur.


"Lala lupa bun, nanti tanya ayah ya"


Aku pun mengangguk kecil. Cukup lama aku dan Lala saling diam sambil menikmati puding buah, tiba-tiba mas Bima datang dari arah balik punggungku.


"Lala ada kunjungan ke museum besok" Aku menoleh ke belakang, menatap mas Bima yang sedang menenggak air mineral.


"Salah satu dari kita harus temani dia, tapi karena aku masih ada cuti, jadi ku putuskan kita akan temani sama-sama"


"Kapan? Museum mana?" tanyaku masih bertahan menatap mas Bima.


"Kamis, ke sepuluh november"


"Kenapa informasinya mendadak?


"Kata bunda Lisa sudah ada pemberitahuan di wa group sebelumnya"


"Pemberitahuan?" Aku bergeming menatap mas Bima yang tampak santai.


"Hmm, bunda Lisa juga tadi bilang katanya bundanya Lala nggak kasih respon di wa group. Biasanya kirim stiker tapi ini diam-diam aja"


"Kenapa bun?" Lala menatapku dengan raut serius.


"Enggak nak, cuma bunda sedikit bingung karena bunda baru tahu"


"Ya itu salahmu kenapa nggak baca pesannya"


"Mas" tegurku spontan, setelah mendengar kalimat mas Bima yang menyalahkanku.


"Aku nggak sempat buka ponsel loh, karena aku juga sibuk dengan pekerjaan"


Mas Bima mengangkat satu alisnya ketika aku sedikit meninggikan nada bicaraku.


"Ya kenapa nggak di sempatin?"


"Mas yang membuatku nggak sempat buka ponsel"


Raut heran mas Bima semakin terlihat jelas.


"Ya sudah, apa masalahnya? Sekarang sudah tahu, jadi nggak ada masalah kan?"


"Tapi besok aku ada acara di kantor" Ucapku berusaha mengendalikan diri.


"Batalin acaramu"

__ADS_1


"Aku membuang napas panjang "Nggak bisa, ini urusan pekerjaan, nggak bisa sembarangan batalin"


Setelah mendengar jawabanku, mas Bima yang tadi fokus pada gadgetnya kini beralih menatapku.


"Kenapa nggak bisa? Acara tahunan itu biasanya juga siang ba'da Dzuhur, kamu bisa kerja setengah hari"


"Ini tanggung jawabku, jadi nggak bisa"


"Kenapa baru ngomong sekarang? Bukankah acara itu akan sampai malam? Untuk hal ini kamu nggak ngomong dari kemarin-kemarin?"


"Ya aku nggak sempat"


"Nggak sempat kamu bilang?" Mas Bima menatapku lekat-lekat. "Tadi nggak sempat baca pesan di group sekolah Lala, sekarang lupa minta ijin? Dua puluh empat jam aku di rumah loh, Bi. Kamu ada banyak kesempatan buat ngomong"


Aku diam, tahu bahwa ucapanku pasti akan menjadi boomerang untukku sendiri.


"Kenapa?" tanya mas Bima masih dengan nada yang sama, bahkan lebih serius dari sebelumnya.


"Ayah jangan marahin bunda ya" ucap Lala yang tiba-tiba turun dari duduknya lalu duduk di pangkuanku.


Alis mas Bima menukik tajam, mungkin terkejut karena reaksi Lala.


"Ayah kan sudah janji nggak akan marah-marah ke bunda"


"Ayah nggak marah kok, La" ucapku menenangkannya.


"Tapi mukanya ayah kayak mau marahin Lala kalau Lala nakal"


Aku tersenyum sambil membelai rambut indah milik Lala.


"Ayah nggak marahin bunda sayang, orang dewasa kalau ngomong memang kadang seperti ini"


Senyum Lala seketika terbit ketika tangan lain milik ayahnya mengusap puncak kepalaku.


"Ayah kan udah janji, nggak akan marahin bunda, ayah sendiri juga takut kalau bunda pergi lagi sampai pulangnya malam-malam"


"Ayah sayang bunda berarti?"


Mas Bima mengangguk tanpa beban.


Aku, mas Bima, dan Lala lantas sama-sama tersenyum. Namun senyumku tak bertahan lama ketika mas Bima mengangkat panggilan dari Gesya.


Gesya bilang, dia dan mbak Hana akan menemani Naura, putrinya Yoga. Sebab Yoga sendiri tidak bisa menemani sang putri karena sedang di tahan di kantor polisi. Bukti visum dan rekaman cctv yang sudah jelas membuatnya langsung di tetapkan sebagai tersangka dan setelah tiga hari dari kejadian itu dia di jemput polisi.


Gesya juga bilang, agar mas Bima tidak perlu mengajakku untuk ikut serta, sebab akan ada mbak Hana yang ingin bertemu Lala.


Mbak Hana ada di Indonesia?


Sudah pasti tujuannya adalah mengurus sidang untuk masalah hak asuh Lala.


"Kamu jangan berfikir yang macam-macam, Bi" Mas Bima melingkarkan lengannya di perutku dari arah belakang. Tangannya kemudian menelusup ke balik baju dan bermain-main di area dadaku.


Hangat telapak tangannya pasti merasakan debaran jantungku yang berdetak tak wajar.


Sementara aku selain fokus menidurkan Lala, pikiranku juga terusik oleh mas Bima yang kemungkinan akan bertemu mbak Hana, besok.


"Kamu tenang saja!! Aku nggak akan pernah memberikan perhatian lebih pada wanita yang bukan milikku"


Dia seakan berusaha menangkis perasaan risau yang sejak tadi sore terus merongrongku.


"Sudah berapa tahun mas nggak ketemu dengan mbak Hana?"


Jantungku berdebar menunggu jawaban mas Bima.


Habis....!!😊😊

__ADS_1


__ADS_2