
Kasih yang manis sebelum ke konflik lagi 😖😖😖
Dan makasih banyak-banyak yang masih nungguin kisah keluarga ayah Bima.
Happy reading...😘😘
...🌷🌷🌷...
Perlahan aku membuka kedua mataku, bias cahaya lampu membuatku menyipitkan mata sebab tampak begitu menyilaukan.
Saat mataku terbuka sepenuhnya, aku mendapati sosok kak Rosa tengah berdiri dengan raut khawatir.
"Kamu sudah sadar, Bi?"
"Kak Rosa?"
Bukannya menjawab, aku malah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang serba hijau tua dengan aroma khas obat-obatan.
Sepersekian detik, aku kembali mengingat kejadian hari ini, mengulas perdebatan di dalam ruang sidang dengan gerakan lambat, tentang percakapanku dengan Gesya saat di toilet, dan terakhir aku berjalan keluar lalu tiba-tiba gelap.
"Bagaimana kondisimu, Bi?" tanya Kak Rosa ketika melihatku hanya diam dan kebingungan.
Aku bangkit, sambil memegang pelipisku yang masih menyisakkan pusing.
"Pelan-pelan, Bi" Kak Rosa membantuku bangkit. "Kalau masih pusing, sebaiknya kamu tiduran saja"
"Aku tidak apa-apa kak"
"Kamu yakin? Badanmu masih terlihat lemah"
"Nggak apa-apa"
Setelah aku duduk tegap, mendadak kak Rosa menerbitkan senyum, senyum tulus yang tak ku tahu apa maksudnya.
Reflek alisku menukik atas ekspresi wanita yang usianya setara dengan mas Bima.
"Kabar ini bisa kita jadikan alat untuk membungkam mulut Hana dan para hakim, Bi. Kita akan beritahu bahwa hubungan rumah tangga kalian tidak seburuk yang mereka prasangkakan"
Mendengar kalimat kak Rosa, kebingunganku semakin menjadi.
Dia yang menyadari raut bingungku, langsung bersuara untuk menepis sesuatu yang tidak aku mengerti.
"Kamu hamil, Bi"
Tertegun aku mendengarnya, hatiku seperti mencelos, seakan tak percaya.
"H-hamil?"
Kak Rosa tampak menganggukkan kepala lengkap dengan senyum terulas lebar.
__ADS_1
"Selamat ya, usia kandunganmu baru menginjak minggu kedua"
"I-ini serius kak?"
"Kamu pikir aku bohong, Bi?"
Masyaa Allah, aku hamil? Kepalaku tertunduk menatap perutku yang masih rata.
Benarkah?
Aku berusaha menelan ludah sebab masih belum percaya.
"Jaga kondisimu agar tetap fit ya Bi, jangan sampai kelelahan apalagi kelaparan. Kamu harus menjaga kandungan pertamamu"
Ucapan kak Rosa membuyarkan fokusku, otomatis sepasang netraku langsung memindai wajahnya.
"Jangan bengong Bi, ini kabar yang membahagiakan. Aku tahu kamu pasti terkejut, shock karena kehamilanmu, tapi percayalah ini akan membuat Bima bahagia luar biasa, tidak hanya Bima, orang tua kalian pasti juga akan senang mendengarnya"
"Aku hanya masih belum percaya kak"
"Apa perlu aku panggil dokter untuk mengatakan langsung padamu?"
"Nggak perlu kak" Sahutku tak enak hati.
"Aku sudah menelfon om Rio, dia akan mengirim supirnya untuk menjemputmu, sementara mobilmu sudah di antar ke rumah oleh asistenku"
"Apa papi mertuaku tahu mengenai kehamilanku?"
Kak Rosa menggeleng. "Aku belum memberitahu om Rio"
"Tolong jangan beritahu keluargaku, terutama pada mas Bima"
"Aku tidak memiliki hak apapun untuk memberitahu kabar gembira ini pada keluargamu, hanya istrilah yang berhak memberitahu kehamilannya pada suaminya, Arimbi"
"Makasih kak, aku pasti akan beritahu mas Bima"
"Harus itu"
Kemudian kami saling berbalas senyum. "Oh ya, apa sekarang kamu sudah lebih baik? Apa perlu aku mengajukan rawat inap untukmu?"
"Tidak perlu, kak. Aku sudah baikan"
"Ya sudah, sambil menunggu sopir om Rio datang, kamu istirahatlah, aku akan keluar mengurus administrasi dan menebus obat untukmu"
"Makasih sekali lagi kak"
"Sama-sama"
Seperginya kak Rosa dari ruang IGD, aku menunduk seraya tersenyum, menatap perutku kemudian mengusapnya lembut.
__ADS_1
Kamu hadir di waktu yang tepat, nak. Kak Lala sama ayah pasti senang.
Kembali aku menerbitkan senyum.
Ayah adalah orang pertama yang akan bunda kasih tahu, setelah itu ayah sama bunda akan kasih tahu kak Lala sama-sama.
Makasih ya nak, sehat-sehat di dalam perut bunda.
****
15:25 WIB, aku sudah berada di sekolah Lala. Tadi, setelah dari rumah sakit, aku dan pak Herman langsung kemari untuk menjemputnya.
Di tengah-tengah waktuku menunggu Lala, ponsel yang berada di tanganku berdering, tanpa berfikir aku langsung mengangkat panggilan masuk dari mami.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam, kamu dimana nak?" tanya mami, nadanya agak sedikit cemas.
"Di sekolah Lala, mi"
"Sama pak Herman, kan?"
"Iya"
"Terus gimana kondisi kamu, kamu nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa mi"
"Tapi kenapa pingsan?"
"Cuma kelelahan sedikit"
Ku dengar helaan nafas lega, tapi sedetik kemudian mami kembali mende*sah cemas.
"Jangan terlalu banyak memikirkan Lala, Bi. Rosa pasti bisa mengatasinya. Mami beri tahu satu hal" kata mami seolah menenangkanku. "Seorang istri yang berselingkuh, itu artinya dia sudah di nyatakan gagal menjadi seorang ibu. Hal itulah yang membuat Lala jatuh ke tangan Bima, dan kali ini Bima pasti akan memperjuangkan Lala kembali. Kamu yang kuat ya, nggak boleh lemah di depan Hana"
"Doain terus ya mi"
"Pasti sayang"
"Mi, Lala sudah keluar, ini ku tutup dulu ya"
"Iya, hati-hati ya. Salam buat Lala"
"Iya mih, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Benar kata mami, aku nggak boleh lemah, aku harus kuat demi Lala, mas Bima sudah menguji mentalku selama ini. Aku pasti bisa.
__ADS_1