
Aku berusaha melupakan apa yang mbak Hana katakan beberapa jam lalu. Tak menampik kalau ucapannya memang sangat menyakitiku, tapi aku tak mau ambil pusing karena mas Bima sudah benar-benar menerimaku.
Hanya sedikit gamang sebab tak tahu kenapa, terbersit pikiran buruk kalau ayahnya Lala menyentuhku hanya karena tak ada pilihan lain atau mungkin hanya main-main untuk mengatasi nafsunya saja, bukan karena cinta.
Dan aku, mungkin harus menanyakan perihal ini pada mas Bima supaya aku bisa lebih yakin dengan perasaannya. Secara tersirat, memang perhatian dan sikap manisnya sudah menunjukan perasaan cintanya padaku, akan tetapi cinta juga harus di ucapkan, ataupun di utarakan dengan mulut.
Begitupun sebaliknya, cinta saja tidak cukup kalau hanya dengan untaian kata, pembuktian lewat perbuatan juga perlu di lakukan.
Tidak bisa jika hanya menggunakan salah satu saja untuk menyimpulkan perasaan seseorang. Ucapan serta perbuatan juga harus balance untuk lebih meyakinkannya.
Karena hari jum'at adalah hari pendek, aku yang biasanya pulang sekitar pukul empat, kini jam dua aktivitas sudah selesai. Tinggal melakukan perekapan harian dan itu hanya ku selesaikan dalam waktu tiga puluh menit.
Tepat pukul 14:30 Wib, aku keluar dari area kantor bersama dengan Riska, kami sama-sama melangkah menuju area parkir karena mas Bima biasanya menungguku di sana. Namun, saat melewati ruang tunggu, aku mendengar teriakan Lala, dan aku baru ingat kalau hari ini dia libur.
Anak itu berlari menghampiriku, lalu dengan cepat mengulurkan tangan padaku, setelahnya pada Riska.
"Anak pintar" Ucap Riska ketika Lala mengecup punggung tangannya.
"Lala nggak sekolah?"
"Libur onty"
"Libur?" Dahi Riska mengernyit, wanita yang menjadi partner kerjaku pasti heran sebab ini bukan tanggal merah.
"Iya, soalnya kan Lala kemarin habis ada fieldtrip ke museum onty, pulangnya malam-malam, jadinya di suruh libur sama bunda Lisa, kan capek banyak-banyak"
"Oh, jadi begitu" Sahut Riska paham.
Aku tersenyum menyimak percakapan Lala dengan Riska.
"Ayah di sana bun" Lala menunjuk ke ruang tunggu. Aku dan Riska kompak mengarahkan atensi kami ke mana arah jari telunjuk Lala jatuh.
Di sana, aku melihat mas Bima tengah bermain ponsel dengan pandangan tertunduk.
"Onty duluan ya, La" Pamit Riska. "Duluan ya Bi"
"Iya, hati-hati"
"Okay" Riska mengusap puncak kepala Lala. "Onty duluan ya sayang"
"Iya onty, hati-hati"
"Okay, Lala juga. Daaa ..!"
"Dada onty"
Sesaat setelah kepergian Riska, aku menggandeng tangan Lala kemudian mengarahkan kaki ke tempat mas Bima duduk.
Ketika langkahku kian dekat, mas Bima mendongak kemudian menoleh ke arah kami.
"Assalamu'alaikum" Sapaku setelah berdiri di depannya sambil mengulurkan tangan.
"Wa'alaikumsalam" Jawab mas Bima dengan suara rendahnya.
"Kita langsung pulang?" Lanjutnya bertanya.
"Iya"
Kami sama-sama melangkah menuju mobil.
Mas Bima membukakan pintu untukku kemudian beralih ke pintu belakang untuk Lala.
Setelah aku dan Lala sudah duduk di dalam mobil, barulah mas Bima masuk dan duduk di balik kemudi.
"Lala tadi ngapain saja di rumah?" Tanyaku menoleh ke belakang saat mas Bima fokus melirik ke spion luar di sisi kanannya untuk keluar dari area parkir kantorku.
"Berenang sama ayah, terus bantu ayah jemur baju, sama main-main"
"Ayah cuci baju?" Tanyaku menoleh ke wajah mas Bima. Mas Bima yang masih fokus dengan arahan si tukang parkir tak mendengar pertanyaanku yang memang ku tujukan pada Lala.
"Iya, bajunya Lala sama ayah banyak, bajunya bunda juga banyak, jadi di cuci sama ayah"
Ah, padahal ini bukan pertama kalinya mas Bima membantuku mencuci baju. Terhitung sudah yang ke dua kali, tapi entah kenapa aku masih suka malu-malu kala teringat mas Bima menjemur pakaian dalamku, apalagi jika teringat penyatuan tubuh kami, aku benar-benar tidak bisa menahan senyumku.
Jika aku mengingatnya, aku pasti langsung menutup wajahku dengan kedua tangan.
"Makasih pak" Mas Bima membuka kaca jendela lalu mengulurkan uang lima ribuan pada pria paruh baya yang membantu mas Bima parkir.
"Tadi ayah juga gambar pesawat bun, terus Lala yang mewarnai"
"Oh ya?"
"Iya, kata ayah pesawat yang di naiki ayah kalau cari uang"
Aku tersenyum kemudian kembali bertanya. "Ada bobo siang?"
__ADS_1
"Nggak ada"
"Ko nggak bobo, kenapa?"
"Nggak bisa bobo kalau sama ayah"
"Ayah ngajakin main terus ya La?"
Mas Bima melirik Lala melalui spion tengah setelah aku melontarkan pertanyaan itu.
Anggukan cepat Lala langsung di sangkal oleh mas Bima.
"Kan ayah sudah minta Lala buat bobo, Lalanya yang nggak mau kan?"
"Iya kan ayahnya ngajak main-main jadinya Lala nggak bisa bobo"
"Karena Lala nggak mau bobo jadi ayah ngajak main"
"Bukan nggak mau ayah, tapi Lala nggak bisa bobo" Bibir mas Bima langsung terkatup setelah mendengar sanggahan Lala. Pria di sampingku kembali fokus dengan kemudinya.
Sementara aku hanya diam. Aku sudah terbiasa mendengar adu argumen di antara mereka.
Sifat Lala yang pemberani memang sering sekali mendebat ayahnya. Sangat berlawanan denganku yang sama sekali tak ada keberanian untuk menyanggah kata-kata mas Bima.
"Ada sesuatu yang mau di beli, Bi?" Pertanyaan mas Bima membuatku memindai wajahnya yang menatap lurus ke depan.
Belum sempat aku menjawab, suara Lala lebih dulu ku dengar.
"Ayah nggak boleh nyebut bunda namanya aja, kata bunda Lisa itu nggak sopan"
Kini aku menoleh ke belakang, begitu juga dengan mas Bima yang kembali melirik putrinya lewat kaca spion.
"Panggil orang dewasa nggak boleh namanya yah, harus ada kakak, apa mas, apa mbak, om, tante, ayah, apa bunda, gitu. Kaya bunda panggil ayah. Lala sering dengar bunda panggil ayah, mas. Iya kan bun?" Lala bertanya padaku, dan aku langsung mengangguk "Berarti bunda sopan ke ayah, terus Lala yang panggil bunda sama ayah, panggil onty Gesya, berarti Lala juga sopan"
"Ya itu kan anak kecil ke orang dewasa, kalau ayah ke bunda nggak apa-apa"
"Tetap nggak boleh yah, kan bunda udah dewasa udah jadi bunda"
"Terus ayah harus panggil bunda apa?"
Alih-alih menjawab pertanyaan ayahnya, Lala justru melempar pertanyaan padaku.
"Ayah harus panggil bunda apa berarti, bun?"
Aku tergagap. Bukan hanya aku, mas Bima bahkan sering sekali di buat kehabisan kata-kata oleh putri kami yang cerdas ini.
"Nggak apa-apa panggil namanya aja, La"
"Boleh?" Lala menatapku dengan sorot serius.
"Boleh"
"Berarti bunda juga boleh panggil ayah namanya aja?"
"Kalau itu nggak boleh. Ayah kan lebih tua dari bunda, jadi bunda harus hormat ke ayah. Sama kayak Lala yang harus hormat ke yang lebih tua. Nggak cuma ke ayah sama bunda, Lala juga harus hormat ke mbak Cia, mas Alvio, sama mas Gema, oma, opa, sama bunda-bunda di playgroup juga"
"Iya bunda, Lala ngerti"
"Ada yang mau di beli, bun?" Mas Bima kembali bertanya dengan melirikku sekilas.
"Nggak ada" Balasku kikuk.
Mas Bima pasti nggak mau di protes lagi sama putrinya, maka dari itu dia mengganti kata 'Bi' jadi 'bun'.
Tak terasa mobil kami sudah sampai di depan rumah.
Mas Bima turun untuk membuka gerbang karena mas Jim masih libur.
Kemudian kembali naik dan menerobos pintu besi bercat hitam.
***
Malam harinya, setelah makan malam, mas Bima mengajak Lala untuk bermain dan melihat tv di ruang tengah. Aku sendiri mencuci piring bekas makan.
Selesai aku berkutat di dapur, aku menyusul Lala ke ruang tengah. Ku lihat dia sudah tidur dalam posisi kepala berada di pangkuan ayahnya. Sama halnya mas Bima yang juga dalam kondisi mata terpejam sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Mereka pasti kelelahan karena aktivitas di siang hari, apalagi Lala yang tidak tidur siang, sangat jelas raut lelah terlihat di wajahnya.
"Mas" panggilku lembut.
Mas Bima langsung membuka mata, dia menggeliat sembari menarik napas panjang kemudian menunduk menatap putrinya.
"Pindah ke kamar!"
"Sudah jam berapa memangnya?"
__ADS_1
"Baru jam delapan"
"Lala sudah tidur?"
"Dia pasti capek karena siang nggak bobo"
Pria itu membopong tubuh mungil Lala untuk membawanya ke kamar.
Aku mengekor di belakangnya menaiki anak tangga.
"Dia belum gosok gigi, Bi"
"Ngga apa-apa mas, kasihan juga kalau di bangunin"
Ketika langkah kami sudah sampai di depan pintu kamar Lala, aku membukanya dan masuk lebih dulu.
Menata bantal untuk Lala, dan mas Bima langsung merebahkannya.
"Bobo yang nyenyak ya, ayah bunda sayang Lala" Pungkas mas Bima tepat di telinga Lala. "Besok sama ayah lagi di rumah karena bunda masih kerja"
Usai mengatakan itu, dia mengecup kening Lala, kemudian beranjak dari tempat tidur dan mempersilahkanku berpamitan juga.
"I love you, nak" Ku usap keningnya setelah aku menciumnya.
Setelah mengatur suhu AC dan menyelimuti Lala, kami keluar dan menuju lantai bawah.
Saat menuruni tangga, aku memberanikan diri untuk bersuara.
"Mas capek?" tanyaku meski agak sedikit ragu.
"Kenapa?"
Sudah jadi kebiasaan mas Bima kalau aku bertanya, pasti dia selalu menjawabku dengan pertanyaan balik.
"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan"
Mas Bima menghentikan langkahnya tepat di anak tangga terakhir lalu menghadapku.
"Soal apa?"
"Mbak Hana"
Pria itu mengernyitkan dahi, menatapku penuh selidik.
"Hana?"
"Iya" jawabku berlalu menuju kamar mas Bima yang sekarang juga menjadi kamarku.
Mas Bima mengikuti langkahku kemudian menutup pintu kamar.
Saat ini, kami sudah berada di dalam kamar, berdiri saling berhadapan.
"Kenapa dengan dia?"
"Sebelum bicara soal Hana, aku ingin bertanya dan mas jawab dengan jujur"
"Kamu baik-baik saja kan?" tanyanya sambil melihatku yang mendongak untuk membalas tatapannya. "Apa dia mengganggumu?"
Mengerti apa maksudnya, aku menggelengkan kepala. "Dia hanya menemuiku tadi"
"Ada apa?" tatapan mas Bima nampak sangat serius.
"Bukankah ada kalanya sesuatu harus di perjelas?" Aku berusaha mengatakan apa yang ada di dalam hatiku.
"Kenapa?" Lirihnya.
Diam sejenak, baru aku berucap setelah sekian detik.
"Apa mas mencintaiku?"
Tak langsung menjawab, mas Bima hanya bergeming dengan kening berkerut sambil membalas sorot mataku.
Pria ini lantas menghela napas yang terdengar berat di telingaku.
Sedetik kemudian, tubuhku tersentak ketika tiba-tiba satu tangan mas Bima melingkar di pinggangku lalu menarikku hingga tubuh kami saling menempel.
"Kamu ingin mendengar jawabanku? tapi sebelumnya aku juga ingin mendengar isi hatimu"
Seperti biasanya, jantungku tidak bisa ku ajak berkompromi. Setelah sekian lama tak di buat marathon seperti ini oleh mas Bima, kini kembali di buatnya melompat-lompat. Dan detakannya sungguh terasa amat tidak nyaman.
"Minta maaf dulu padaku Bi!"
"Minta maaf?" keningku mengernyit. "Apa aku berbuat salah? Lantas apa kesalahanku?"
Mas Bima diam sambil menatapku dalam-dalam.
__ADS_1
Bersambung..