Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
Ekstra part 3


__ADS_3

Liburan dan quality time tanpa anak-anak. Itulah dua hal yang sering mas Bima ucapkan beberapa hari terakhir ini, dan setelah mendapat kesempatan tanggal merah selama tiga hari berturut-turut, mas Bima langsung membawaku berlibur ke kota tawang mangu.


Tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami.


"Makasih untuk semuanya, Bi"


"Sama-sama" Sahutku tanpa mengalihkan tatapanku dari pandangan mas Bima yang sedang berada di atasku usai kami menikmati satu pelepasan.


Kebutuhan batin kami semenjak ada Ryu memang sangat minim, itu sebabnya mas Bima mengajakku menikmati liburan selama tiga hari tanpa membawa anak-anak.


Mereka ada dalam pengawasan mami dan papi yang menginap di rumah kami.


"Kemana wajah kaku, dingin dan ekspresi menyebalkan yang dulu selalu tampil di wajah mas?"


Alis mas Bima terangkat satu. "Sedingin apa aku dulu, Bi?"


"Dingin banget sampai minus derajat"


"Sedingin itu?"


"Hmm" Tanganku yang menangkup wajah mas Bima menggerakkan ibu jariku mengusap lembut pipinya. "Wajah kakunya kayak mau perang, kalau ngobrol kaya mau ngajak adu mulut"


Kali ini ekspresi mas Bima mengerutkan dahi.


"Biasa aja keningnya, ngga usah di lipet-lipet gitu"


Alih-alih merespon ucapanku mas Bima malah mengapitkan bibirnya di bibirku sekilas.


"Kenapa kalau habis di boboin gini gemesnya keluar si Bi?"


"Aku kan memang menggemaskan"


"Kalau gitu ku tidurin lagi"


"Nggak mau" Tolakku cepat.


Begitu mendengar penolakanku, mas Bima langsung melakukan pergerakan besar, merubah posisi kami menjadi aku yang berada di atasnya. Dia sedikit menata bantal lebih tinggi untuk mendaratkan kepalanya.


"Kita bikin adek buat Ryu yang cewe?"


"Jangan aneh-aneh deh mas, Ryu saja belum genap empat bulan"


"Okay, nanti kalau usianya satu tahun kamu ku hamili lagi"


"Apa Nggak terlalu dekat jaraknya? Satu tahun Ryu masih asi"


"Ya nggak apa-apa dong, nanti usia Ryu satu tahun kan adeknya keluar pas dia dua tahun"


"Apa nggak repot nanti. Bukankah mengurus wanita hamil itu sangat merepotkan buat mas?"


"Apa aku pernah bilang begitu?" tangan mas Bima yang melingkari punggungku membuat gerakan mengusap yang membuat bulu kudukku meremang.


"Enggak pernah, si. Tapi aku suka kasihan sama mas, hamil kemarin aku kan manja banget"


"Ya nggak apa-apa dong, aku malah senang kamu manja ke aku" Satu tangan mas Bima menyelipkan rambut ke belakang telingaku. "Kalau nggak hamil kamu nggak pernah manja, Bi. Sok-sokan bisa ngerjain semuanya sendiri, buktinya sekarang sudah jarang banget kan minta di peluk-peluk. Bandingkan pas kamu hamil kemarin. Pas hamil bubu aja maunya di peluk, nah pas udah nggak hamil, boro-boro minta peluk, kalau kepala sudah nempel di bantal, lupa kalau kamu punya suami"


Aku terkekeh mendengar ucapan mas Bima.


"Apa mas nggak cape ngurus aku yang manjanya setengah mati itu, padahal mas sudah capek di Lanud, sampai rumah harus ngurus pekerjaan rumah, ngurus wanita hamil, belum lagi ngurus anak-anak"


"Enggak, kan kesempatan bisa dapat pelukan kamu. Capek banyak-banyak, tapi malamnya dapat pelukan plus jatah makan malam tambahan, makannya di atas kasur. Kan nikmat banget Bi"


"Makan malam tambahan?" Alisku menukik tajam.


"Hmm" sahut mas Bima menganggukkan kepala. "Apalagi kalau ada hidangan penutup, lelahnya langsung hilang"


"Mas ngomong apa si, nggak jelas" kesalku mencebik.


"Nggak jelas gimana? kamunya aja yang nggak paham. Tadi aja baru selesai makan malam, nanti tinggal minta hidangan penutup?"


Aku mengerutkan dahi sebelum kemudian membungkam mulut mas Bima dengan salah satu telapak tanganku.

__ADS_1


Aku paham maksudnya sekarang.


"Kenapa Bi?"


"Jahil banget si mas"


"Tapi hidangan penutupnya belum, Bi" suaranya teredam karena masih berada di balik bungkaman tanganku.


"Hidangan penutup apa lagi?"


"Ya peluk, cium, sama raba-raba"


"Raba-raba apa?" tanyaku memantik gelak tawa mas Bima karena tanganku ganti mengapit hidungnya.


"Raba-raba yang buat kamu kesenengan. Enak kan tadi?"


"Mas, ihh.. Usil banget si" tanganku masih bertahan mengapit hidungnya sementara mas Bima berusaha menyingkirkan tanganku.


"Nggak usah munafik, Bi. Enak bilang enak, mau nambah tinggal ngomong"


"Mas ih, mulutnya mau ku cubit?"


"Mau! Cubit pakai mul_" Mas Bima menggantung ucapannya, sebab aku menguatkan cubitanku di hidungnya


"Aaauw..! Nggak bisa napas aku, Bi"


"Bodo amat, salah sendiri iseng"


"Penyiksaan itu namanya"


"Bodo amat"


"Oh mau jadi janda?"


"Nggak mau"


"Kalau gitu sini aku boboin lagi"


"Tinggal ngaku aja kalau kamu ketagihan"


"Kan malu mas"


"Sama suami sendiri masih malu-malu"


Mas Bima kian terkekeh ketika aku menggelitikinya, ia kembali merubah posisi kami, dan aku langsung berada di bawah kungkungannya. Tanganku masih lincah menggelitiki perutnya.


Tawa kami sama-sama pecah... Jauh dari khayalanku bisa seintim ini dengan mas Bima.


Padahal dulu, jangankan membayangkan hal seperti ini, mengkhayal di cium kening saja sama sekeli nggak pernah.


"I love you Bi" Ucapnya ketika mas Bima berhasil menghentikan tanganku.


"Aku juga cinta mas"


"Sekali lagi?" Tatapan mas Bima begitu dalam.


Aku langsung mengangguk mantap. Sementara mas Bima langsung meraup bibirku lembut, tangannya bergegas menjamah lekuk tubuhku, memberikan sentuhan yang membuat isi kepalaku seketika berantakan.


Menit berlalu, kami kembali menyesap manisnya madu.


Usai pelepasan kedua kami, mas Bima beranjak dari atas tubuhku, lalu memasuki kamar mandi.


Selang lima menit pria itu keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk basah untuk mengelap tubuhku.


Merasa kelelahan, kamipun langsung tidur sambil berpelukan.


****


Fajar hari ketika terbangun, aku merasakan dingin yang benar-benar menusuk tulang. Posisiku yang sudah berubah dan tak lagi berada dalam pelukan mas Bima, tanganku terulur menarik selimut hingga batas leher dan kembali meringkuk membelakangi mas Bima.


Tiba-tiba dari arah belakang, aku merasakan seseorang bergerak merapatkan tubuhnya ke tubuhku, tentu saja orang itu suamiku. Dia memelukku cukup erat.

__ADS_1


"Dingin ya, Bi?" tanya mas Bima dengan suara paraunya.


"Hemm" aku membalasnya dengan gumaman kecil.


Mas Bima kembali mengeratkan tangannya yang melingkari perutku untuk mengusir hawa dingin yang sama-sama kami rasakan.


Kami kembali tertidur hingga adzan subuh berkumandang.


"Bangun mas!" Liriku mengusap lengan mas Bima yang masih bertahan memelukku.


"Bentar lagi, Bi"


"Sudah Adzan, mandi dulu nanti ketinggalan subuhnya"


"Kamu dulu kalau gitu yang mandi"


"Mas duluan aja"


"Kamu aja, Bi. Masih dingin banget ini"


Kami berdua masih sama-sama malas bangun dari pembaringan karena udara benar-benar menusuk di daerah tawang mangu.


"Lagian kenapa kamu pilih liburan di sini, padahal sudah ku tawarin ke Jogja" Mas Bima akhirnya bangun dari tempat tidur meski agak sedikit malas-malasan.


"Ya nggak tahu, aku lihatnya di internet tempatnya bagus, aku nggak tahu kalau udaranya ternyata sedingin ini"


"Sudah ku ingatkan juga kemarin kan?"


"Hmm" Aku merutuk dengan mata terpejam serta tubuh terbungkus selimut tebal.


Sementara mas Bima tak lagi menyahut karena sudah melangkah menuju kamar mandi yang langsung ku dengar suara guyuran air.


Aku yakin mas Bima langsung mandi. Dia mengguyurkan air ke tubuhnya dengan sangat cepat, kemudian tahu-tahu sudah keluar dari sana dengan rambut basah dan handuk melingkari setengah badannya.


"Cepet amat mandinya, perasaan belum ada lima menit mas!"


"Itu namanya jurus mandi bebek, Bi. Kami para TNI biasa melakukannya kalau hidup di alam survival "


Aku menggeleng pelan, mas Bima sendiri bergegas mengenakan pakaiannya.


"Cepat bangun, mandi! Aku tunggu buat sholat jamaah"


"Bentar lagi mas"


"Bi! Ayolah, kalau sudah mandi nggak sedingin itu"


"Iya-iya" Aku pun menyingkirkan selimut lalu bangun, melangkah malas menuju kamar mandi sambil menahan dingin.


Usai mandi, kami melakukan sholat berjamaah.


Meski sudah sering mendengar mas Bima melantunkan ayat suci Al-Quran, tapi tetap saja ada rasa haru yang menyelinap di hati ketika priaku mengucap takbir di rokaat pertama.


Ada begitu banyak permintaan yang ku sebut dalam doa usai kami sholat.


Terutama kesehatan dan keselamatan untuk keluarga kami. Baik keselamatan dunia maupun akhirat.


Usai berdoa dengan khusyu, mas Bima bergerak membalikkan badan, menghadapku lalu mengulurkan tangannya untuk ku kecup, dia langsung membalasnya dengan kecupan hangat di keningku.


"Tetap seperti ini sampai jannah ya, Bi" Lirih mas Bima menatapku penuh intens.


"Insya Allah"


Mas Bima kembali memberikan kecupan kali ini di kedua mataku sebelum kemudian memelukku.


Dagu mas Bima yang mendarat di pucuk kepalaku, hangat nafasnya sangat kentara menyapu rambutku.


Semoga bahagia selamanya, Tuhan..


Jaga hati kami agar tak berkhianat, jaga pandangan kami dari gemerlapnya dunia sesaat, dan jaga telinga kami dari ucapan yang mampu merusak kebahagiaan kami.


Berdoa dalam hati, aku mengamininya dalam hati pulan.

__ADS_1


Mas Bima, dan putraku, akan menjadi satu-satunya lelaki yang ada dalam ingatanku, yang akan selalu ada dalam hidupku.


__ADS_2