Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 46 ~


__ADS_3

Setelah kikuk dan salah tingkah dengan perlakuanku, dia beranjak dari tempat tidur lantas melangkah ke kamar mandi. Sementara aku pergi ke dapur untuk meletakkan piring bekas kentang goreng yang sudah habis termakan.


Aku langsung kembali ke kamar setelah sebelumnya memadamkan lampu di ruang tamu dan ruang tengah.


Begitu memasuki kamar, ku lihat Arimbi baru saja keluar dari kamar mandi, kemudian berjalan ke arahku.


"Aku mau ambil baju di kamar"


"Kamu sudah pakai baju, ngapain ambil?" ku raih pergelangan tangannya dan membawa ke arah ranjang.


"Ini kemejanya mas"


"Kenapa memangnya?"


"Nggak nyaman karena nggak memakai pakaian dalam" lirihnya malu-malu.


"Naik" Titahku meminta Arimbi untuk naik ke atas tempat tidur.


Dia menurutiku, merebahkan diri dengan hati-hati. Maksudnya, supaya bagian sensitivenya tetap aman dari pandanganku.


Dia langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Aku yang juga turut merebahkan diri, menarik bahunya agar tubuhnya merapat padaku.


"Mas!"


"Hmm?"


"Jadi work yang sedang mas diskusikan dengan kak Rosa itu mengenai hak asuh Lala?"


"Kamu tahu?" Jujur aku tak menyangka kalau Arimbi tahu tentang hal itu. Tapi pikirku, mungkin Yoga yang sudah memberitahunya kamarin.


"Kamu tahu dari Yoga?" Aku mengusap lengannya.


"Bukan dia yang memberitahuku, tapi dokumen yang dia bawa, mas simpan di lemari paling bawah. Dan aku menemukannya"

__ADS_1


Hening cukup lama. Karena jemari lentiknya bermain-main di area dadaku, aku kembali terangsang, namun tak berani memintanya sebab aku tahu dia masih kesakitan.


"Aku nggak akan biarkan Hana mengambil Lala darimu, Bi"


"Mas memang harus menepikan mbak Hana dari hidup mas, bahkan mas harus melupakan dia. Karena masa depan mas sekarang adalah bersamaku" Pungkasnya terdengar sendu.


Dia yang sebelumnya selalu takut-takut jika menatapku, kini ketakutannya berkurang meski hanya sedikit sebab dia melakukannya hanya sekilas.


"Tapi mas juga jangan lupa, mbak Hana adalah wanita yang melahirkan Lala. Aku nggak mau Lala lupa dengan ibu yang mempertaruhkan nyawanya buat ngelahirin dia"


"Jangan, ya!" Imbuhnya yang setelah aku mengangguk, aku bergerak merubah posisi kami hingga aku berada di atasnya.


Dia kembali di liputi rasa gugup karena perlakuanku ini.


Bertumpu pada salah satu lengan yang mendarat di samping kepalanya, tanganku yang lain membelai lembut wajahnya.


"Terimakasih sudah mengingatkanku" ucapku lalu mengecup keningnya.


"Apa?"


"Mbak Hana nggak takut sama mas?"


"Enggak" Jawabku jujur. Hana memang tak pernah takut padaku, aku yang justru takut padanya. Selama pernikahan kami dulu, aku yang berada dalam kendalinya.


"Kamu takut sama aku?" tanyaku dan dia langsung mengangguk meski sangat pelan.


"Apa mbak Hana juga berani marahin mas?"


"Kenapa bahas Hana?"


"Aku cuma pengin tahu bagaimana mbak Hana menghadapi mas yang bagiku sangat menakutkan"


"Selama pernikahan kami yang tergolong singkat, pangkatku masih berada di kelas paling bawah, aku masih prajurit saat itu. Dia sering protes dan bahkan marah-marah karena aku jarang sekali di rumah. Di rumah paling lama lima hari, dan tiga sampai lima bulan tugas di lapangan. Dia juga sempat marah karena aku nggak mau pensiun dini"

__ADS_1


"Pensiun dini?"


"Iya, dia penginnya itu aku jadi pengusaha, kayak mas Ken, selalu di rumah buat manjain dia"


"Terus mas nggak mau?"


Aku mengangguk untuk mengiyakan.


"Terus?" tanya Arimbi ragu-ragu.


"Mungkin dia jenuh dengan kondisiku yang jarang di rumah, akhirnya dia ambil jalan pintas"


"Ada provokasi juga mungkin, mas?"


"Nggak mau menduga-duga" sahutku dengan fokus menatapnya. "Setelah pisah, dan sebelum mami menjodohkan kita, emosiku yang terus naik bahkan di setiap hari, membuatku kejar target meraih pangkat Bintara. Dan sesaat setelah kita menikah, aku mendapatkan kenaikan pangkat yang aku incar itu"


"Andai aku bertemu wanita sepertimu sejak dulu, Bi" lanjutku setelah tadi aku sempat menjeda ucapanku.


"Mas nggak boleh ngomong gitu. Secara tersirat, mas menyesali kehadiran Lala"


"Bukan Lala yang ku sesali" Manik hitam milik Arimbi yang tadi jatuh di area dadaku, kini bergerak memindai wajahku.


"Apa?" Tanyanya mengerutkan kening.


"Cintamu yang terlambat ku sadari"


"Nggak terlambat kok"


"Im so sorry!" sesalku


Arimbi mengangguk lalu tersenyum. Sepasang manik kami lekat saling menatap, bergerak saling mengikuti gerakannya, sebelum akhirnya aku mengecup bibirnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2