
"Setelah Anjani meninggal, Reka menyimpan jantung Anjani di dalam sebuah batu permata berwarna merah. Batu permata itu dibelahnya menjadi dua lalu dia berikan pada Kakekmu dalam bentuk cincin. Sedangkan sebelahnya lagi ia simpan untuk ia pasangkan langsung dijarimu.
Setelah Kakekmu memakai cincin itu, ia tidak bisa melepaskan nya dan sejak itu ia tidak bisa kembali lagi ke tempat ini disaat tidurnya sekalipun ia menggunakan ajian Meraga Sukma.
Cincin itu hanya akan lepas jika Kakekmu meninggal dan akan berpindah ke pewarisnya yaitu kamu, Risha. Reka memanfaatkan Kakekmu untuk menarikmu ke alam ini dengan cincin itu.
"Tapi kenapa bisa cincin itu berpindah sama aku sedangkan aku gak pernah menerimanya bahkan gak pernah memakai cincin itu" Tanyaku heran.
"Batu permata itu sudah tersegel di sebelah jantungmu. Reka hanya perlu melengkapinya dan kamu tidak akan kembali ke dimensimu. Kamu akan menjadi Anjani dan tetap tinggal disini selamanya" Ungkap Gama.
Aku mendengar cerita Gama yang berbeda dari apa yang pernah ku dengar dari Reka. Entah siapa yang harus aku percaya. Aku harus mencari tahunya sendiri agar tidak bertindak gegabah, karena ini menyangkut hidup dan matiku.
Aku teringat akan Cincin yang saat itu hendak Reka pasang di jariku. Emban cincin itu berwarna silver dengan batu permata berwarna merah. Jika ucapan Gama benar, maka beruntung lah aku karena telah menolak cincin itu.
"Dimana aku bisa menemukan daun yang waktu itu kamu pakai buat ngobatin luka aku?" tanyaku membuat Gama sedikit tersentak.
"Untuk apa?" Tanya Gama.
"Aku harus mengobati Reka, dia terluka cukup parah. Meskipun dia berniat jahat sama aku, tapi aku gak bisa ngebiarin dia mati"
Gama mengangkat kedua tangan nya dan meletakan nya di pundak ku. "Itu bukan urusan mu, Risha. Itu bukan tanggung jawabmu."
Aku berpaling dari Gama "Aku ngerti kalau kamu siluman yang mungkin gak punya hati. Tapi aku manusia, aku tidak bisa melihat siapapun kesusahan."
Gama meraih daguku membuatku menatap matanya yang memelas. "Aku mohon jangan kembali ke rumah Reka" Ucapnya dengan tatapan memohon.
"Hanya Sekali ini aja, Gama. Tolong biarkan aku merawat Reka hingga ia pulih. Setelah itu aku gak bakal nemuin dia lagi" Sahutku bersikeras.
Gama mendengus. Dia tampak kecewa. "Baiklah, terserah kamu. Tanaman itu ada di belakang gua ini. Jika kamu bersikeras ingin ke rumah Reka maka pergilah, aku tidak akan mengantarmu." Ucap Gama yang membuat aku merasa lebih asing dari orang asing.
"Itu pohon nya" Gama menunjuk sebuah pohon yang berada di belakang gua. Pohon itu nyaris mirip pohon singkong, daun nya menjari mirip daun pepaya. Tinggi pohon itu hanya dua meter, ini memudahkan aku memetik daun nya tampa harus memanjat pohon nya.
"Aku pergi dulu" Pamitku pada Gama usai memetik beberapa helai daun ajaib itu.
Gama mengangguk pasrah. "Hati-hati"
__ADS_1
Kali ini aku tidak tersesat. Setelah melewati hutan aku berhasil sampai di rumah Reka tampa di antar oleh Gama. Aku bergegas menaiki tangga.
Reka masih terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Kasihan sekali, bahkan Gama sebagai kakak nya tidak mempedulikan nya. Siapa yang akan merawat Reka dalam kondisi seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan Reka akan Mati dan tidak ada yang peduli.
Suara langkah kakiku yang tengah menghampiri Reka membuatnya menoleh ke arah ku. Dia memicingkan mata, memastikan bahwa ia tidak salah melihat.
"Kamu membuat kesalahan dengan kembali kesini" Ucap Reka.
Aku mengeluarkan beberapa helai daun dari kantong celana tidurku kemudian duduk di sebelah Reka. "Aku harus mengobati lukamu, atau kamu akan mati disini dan tidak akan ada yang peduli"
Reka tersenyum di sebelah bibirnya. "lalu mengapa kamu peduli?"
Aku meletakan satu persatu daun ajaib itu di antara luka-lukanya. "Aku akan dihantui rasa bersalah di seumur hidup aku kalau mengabaikan siapapun dalam kondisi sekarat."
Terlihat Reka tersenyum di sebelah bibirnya. "Apa Gama masih belum menceritakan semua tentang aku?"
"Dia udah cerita semuanya sama aku tentang kamu" Jawabku jujur.
"Dan kamu tidak merasa takut dengan kembali lagi kesini?" Tanya Reka.
"Aku takut. Aku memang penakut, tapi aku bukan pengecut. Aku akan pergi setelah menyelesaikan ini." Jawabku.
Tiba-tiba Reka meraih tanganku yang tengah mengobati luka di sudut bibirnya "Kamu cantik dan juga baik" Ucap Reka kemudian melepaskan kembali tanganku lalu memalingkan wajahnya.
Aku bersiap pergi setelah usai membalutkan daun ajaib itu di antara luka-lukanya. Baru saja aku akan menuruni tangga tiba-tiba Reka menarik sikuku membuat tubuhku berputar dan mendarat di dada bidangnya.
"Jangan pergi, Risha. Aku belum selesai denganmu"
Aku mendorong dadanya hingga membuat nya mundur selangkah "Aku udah selesai mengobati luka kamu. Aku harus pergi sekarang"
Dengan jurus melesatnya ia menghalangi tangga lalu merangkul tubuhku dan membawaku kembali ke kamar.
"Aku sudah lama menunggumu. Kamu tidak bisa pergi begitu saja" Ucap Reka yang kini membuat punggungku menempel di lemarinya dengan tekanan keras pada pergelangan tanganku.
"Lepasin aku, Reka... Jangan lampiaskan kemarahan kamu sama aku. Aku mengerti kamu terpukul dengan kepergian Anjani, tapi kamu tidak bisa mengorbankan aku untuk ngembaliin pacar kamu yang udah tiada"
__ADS_1
Oh tidak, ternyata benar apa kata Gama. Setelah Reka pulih, nyawaku menjadi taruhan nya. Reka menempelkan tubuhnya di tubuhku. Mulutnya berada di leherku. Apa yang sebenarnya akan Reka lakukan padaku? Apa dia sedang ingin menggigit leherku seperti vampire? Tamatlah riwayatku!!
Reka menghempaskan tubuhku ke atas ranjang. Dia meraih sebuah cincin yang di simpan di dalam lemari kemudian menunjukan nya padaku. "Akan ku pasangkan cincin ini di jari manismu" Ucapnya seraya meraih pergelangan tanganku.
Aku mengepalkan tanganku erat "Aku gak mau, jangan paksa aku, Reka."
Reka berusaha menegakan jari manisku. Tenganya sungguh di luar batas kemampuan ku. Reka tersenyum puas ketika ia berhasil menegakan jari manisku.
"Jangan melawan, Risha. Aku mohon percayalah padaku."
Dia baru saja akan memasang cincin itu di jari manisku, namun tiba-tiba Gama datang dan lekas meninju wajah Reka hingga Reka tersungkur dan cincin itu terlempar entah kemana.
"Dia milik ku sekarang" Bentak Gama dengan penuh amarah. "Kamu tidak akan bisa mengubahnya menjadi Anjani, Reka. Aku tidak akan membiarkan mu menyentuh Risha"
"Benarkah?" Tanya Reka yang mencoba bangkit dari lantai. "Jadi kamu sudah mengurungkan niatmu dan menjadikan wanita ini sebagai kekasihmu, begitu?"
Gama tampak sangat marah. Aku bisa melihat bagaimana ia mengepalkan tangan nya, berusaha menahan amarahnya.
"Udah lah, jangan terpancing omongan nya." Ucapku seraya menahan bahu Gama yang baru saja hendak menghampiri Reka untuk meninjunya lagi. "Ayo kita pergi aja"
Gama meraih tubuhku dan membopongku. Dengan cepat ia membawaku melesat meninggalkan Rumah Pohon itu beserta pemiliknya.
"Sudah waktunya pulang. Aku akan mengantarmu ke rumah lindung"
Aku mengangguk pasrah "Makasih, Gama. Maaf tadi aku gak dengerin apa kata kamu"
Gama menurunkan tubuhku dari pangkuannya. Membuat sandal pemberian nya harus menginjak tanah.
Tangan nya yang kekar membelai lembut rambutku, lalu menggenggam jemariku. "Besok aku akan menunggumu disini. Jangan melewati pagar rumah ini jika aku belum datang"
Aku hanya menanggapinya dengan mengangguk kemudian masuk ke rumah lindung.
...*°°°°°°°°°°*...
Kilauan cahaya matahari yang menerobos melalui celah-celah tirai yang tersimbak mampu membangunkan ku yang masih asik bergulung dengan selimut tebalku. Aku mengerjapkan kedua mataku guna menghalau sinar matahari yang menyilaukan pandangan mataku.
__ADS_1
Aku meregangkan seluruh anggota tubuhku yang terasa pegal dan melihat jam dimeja sebelah tempat tidurku. Waktu sudah menunjukan pukul 05:35 Wib.
Aku bangkit dari ranjangku yang masih terasa nyaman untuk rebahanku. Mulai melangkahkan kaki ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera berangkat ke toko untuk bekerja.