
"Aku tahu, kamu bukan siluman yang jahat. Mana mungkin wajah sepolos itu memiliki hati yang kejam!" Aku menatapnya tanpa senyuman. Tapi dia harusnya merasakan betapa tulusnya ucapanku yang aku tunjukan melalui tatapanku itu.
Tiba-tiba Aswasada terkekeh geli. "Risha, kalau aku siluman yang baik, mana mungkin aku menculik kekasihmu?"
"Aku percaya kamu ngelakuin itu bukan atas keinginan hati kamu, Sada." Aku mencoba meluluhkan hatinya, Aswasada mulai mendekat ke arah pintu jeruji dengan alis yang mulai mengerenyit. Aku menyentuh tangannya yang sedang memegang pintu jeruji. "Aku hamil, aku harus menikah sama Aldi. Gimana nasib aku kalau Aldi gak ada?"
"Aku tahu, Anjani sudah menceritakan nya padaku!" Aswasada menjawab dengan nada lembut.
"Sada, siluman yang baik kayak kamu gak pantes berada di dalam penjara. Aku akan mencoba membujuk Anjani agar dia mau bebasin kamu dari sini." Ucapku berbohong, aku hanya ingin memancing pembahasan yang nantinya akan mengarah pada Anjani.
"Dia tidak akan sudi membebaskan aku, Risha. Meskipun dia teman kecilku, tapi sekarang dia sudah berubah. Dia bukan lagi Anjani yang aku kenal dulu karena sekarang dia bukan manusia." Aswasada melepaskan genggaman tanganku lalu berbalik dan membelakangiku.
"Aku tahu, Anjani itu adalah roh yang gak bisa pergi ke alam barzah. Sekarang dia jadi seorang pemimpin di Madavia karena dia udah berhasil melenyapkan Dewari. Semua penduduk di Madavia merasa senang, karena mereka percaya kalau Anjani akan menjadi pemimpin yang baik." Ujarku, menjabarkan kebenaran pada Aswasada.
"Kamu bilang apa tadi, Anjani yang melenyapkan Dewari?" Sontak Aswasada berbalik kembali ke arahku dengan antusias.
"Benar! Anjani berhasil membalaskan dendamnya pada Dewari. Waktu itu Dewari menusuk Anjani sampai dia mati dan lebih parahnya, Dewari menahan Anjani di jeruji Hilton. Saat ada kesempatan, Anjani menusuk Dewari hingga lenyap dan sekarang dia merasa dendamnya udah terbalaskan."
"Apa!!" seru Aswasada terlonjak. "Jadi bukan kamu yang sudah melenyapkan ibuku, Risha?"
"Mana bisa kamu berpikir kayak gitu, Sada? Apa aku keliatan kayak orang jahat?" Aku mendekatkan wajahku ke arahnya hingga wajah ini nyaris menempel di pintu jeruji.
__ADS_1
"Jin laknat, dia sudah mengadu domba aku denganmu, Risha!" seru Aswasada tampak sangat murka.
"Apa?" Aku malah tercengang mendengar kalimat yang seketika mengguncang hatiku.
"Kamu harus berhati-hati kepadanya, dia sudah berubah. Dia bukan lagi Anjani yang memiliki hati, dia sudah berubah menjadi bangsa kajiman!" Ujar Aswasada meraih pergelangan tanganku, tatapan nya seakan menunjukan kecemasan nya padaku.
"Bangsa kajiman? Apa itu maksudnya?" Aku yang tidak mengerti pun, bertanya untuk mendapatkan penjelasan yang lebih intens.
“Kajiman adalah ruh manusia yang sudah meninggal akibat bunuh diri atau pesugihan yang akhirnya menjadi bangsa kajiman. Dan Anjani adalah manusia yang pada awalnya memang menjadi sebuah tumbal pesugihan dan setelah meninggal ia berubah menjadi jin karena ruhnya tidak bisa masuk alam barzah." Jelas Aswasada.
"Gak mungkin!" Aku menggeleng tidak percaya, lututku mendadak gemetar, bulir-bulir kristal di pelupuk mata sudah tak terbendung dan aku menjatuhkan diriku hingga terduduk lemas di lantai berbatu ini.
"Terus kenapa kalau Anjani seorang kajiman? Anjani sayang sama aku, kenapa aku harus berhati-hati sama dia? Anjani gak mungkin nyakitin aku, kan?" Bantahku yang malah emosi, seakan tidak terima kalau saudariku akan melakukan hal buruk kepadaku.
"Risha, dia yang sudah menyekap Aldi." Ungkap Aswasada berhasil membuat mataku terbelalak seraya menutup mulutku dengan kedua tanganku. "Memang benar aku yang telah menculiknya, tapi aku sudah melepaskan Aldi dan Samba. Lalu Anjani membawa Aldi dengan menyamar menjadi kamu hingga Aldi percaya dan mau mengikutinya. Setelah itu Anjani menjadikan aku tersangka untuk menutupi kebusukannya."
"Tapi buat apa Anjani harus ngelakuin semua itu?" Aku masih bertanya di antara rasa skeptisku.
"Dendam!!" seru Aswasada menatap lekat mataku.
...*°°°°°°°°°°*...
__ADS_1
"Lantas, kenapa kamu membantu Risha menemukan Aldi, Reka? Kalau kamu mencintainya, kenapa tidak lekas menyetujui pernikahan itu dan berhenti membantunya untuk mencari Aldi." Ujar Anjani yang kini sedang duduk berdua di sebuah batu di dekat kolam depan istana bersama Reka.
"Rasa sayangku terhadap Risha lebih besar dari pada rasa egoisku, Anjani. Aku hanya tidak tega melihatnya selalu bersedih karena kehilangan Aldi." Ujar Reka tampak sendu.
"Kalau begitu lupakan saja Risha!" seru Anjani menatap Reka seolah ingin meyakinkan Reka dengan kalimatnya itu.
"Reka, ayo kita pergi aja. Aswasada ternyata keras kepala, dia itu gak bisa di bujuk meskipun aku udah memakai cara lembut sekalipun." Aku berjalan tergesa-gesa ke arah Reka dan Anjani dengan wajah kalut.
"Risha, lagi-lagi kamu menangis setelah bertemu Aswasada. Sudahlah, kamu jangan menemuinya lagi. Percuma saja, dia tidak akan bicara." Anjani berdiri dari dan menunjukan simpatinya padaku.
Aku nangis karena kamu, An. Aku gak percaya kamu bisa sejahat itu sama aku!
"Kamu bener, An. Aku bingung, harus cari Aldi dimana. Cuma Aswasada yang tahu dan dia gak mau ngasih tahu aku." Aku menunjukan wajah putus asa untuk menutupi kebohonganku, wajah putus asa itu tidak aku dapatkan dari Aswasada, tapi dari Anjani yang ternyata sedang menusukku dari belakang.
"Sudahlah, Risha. Aku akan mengantarmu pulang, biar aku yang membuatnya bicara nanti. Kita tunggu saja saat yang tepat, mungkin suatu hari nanti dia akan berubah pikiran!" Reka berjalan menghampiriku lalu merangkul pundakku dan menggiring aku pergi dengannya.
Aku dan Reka segera bergegas pergi setelah berpamitan pada Anjani. Kami sudah melakukan tugas kami di Madavia sesuai perintah Samba.
Aku berharap Samba berhasil membawa Aldi pulang agar perjuangan kami pergi ke Madavia dengan mempertaruhkan keselamatanku dari Ummu Syiban ini tidak sia-sia.
Jika Samba berhasil menyelamatkan Aldi, maka setelah ini aku tidak perlu lagi berurusan dengan siluman dan Madavia yang sudah beberapa kali membuat hidupku sengsara.
__ADS_1