
Kali ini aku harus membacanya sampai selesai. Setidaknya sampai aku mengetahui cara untuk terbebas dari alam siluman itu agar aku bisa merasakan kembali mimpi yang normal.
_Sebagai seorang ayah, aku ingin melakukan hal yang terbaik untuk putri semata wayangku. Aku menggunakan ilmu meraga sukma untuk datang ke Madavia yang dikenal desanya para siluman. Aku bertemu dengan wanita cantik berekor ular dan bersisik emas bernama Dewari. Dia adalah ratu siluman ular yang bijaksana.
"Siluman ular yang bijaksana? Tapi waktu itu Reka bilang Dewari mau menangkapku agar rohku gak bisa kembali ke jasadku.!!" Batinku.
_Aku menceritakan maksud dan tujuanku datang ke desa Madavia. Dewari yang baik hati menawarkan aku sebuah pekerjaan untuk menjadi penasihatnya. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati. Aku akan di gaji setiap bulan layaknya pegawai negeri. Aku meminta setengah gajiku di awal untuk membantu Erina mencicil hutang-hutangnya dan Dewari mengabulkan nya.
_Ini bukan lah pesugihan. Karena tidak ada yang perlu aku tumbalkan. Aku mendapatkan uang dengan hasil keringatku selama di Madavia. Penghasilanku memang tidak akan sebesar hasil pesugihan. Semua orang yang melakukan pesugihan pasti akan benar-benar kaya mendadak. Tapi untuk mendapatkan kekayaan aku harus bekerja dulu baru dapat uang._
"Jadi kakek kamu gak melakukan pesugihan?" Tanya Aldi yang membuatku terjeda.
"Aku gak tau" Sahutku dengan wajah bingung. "Cerita Gama dan Reka juga berbeda. Belum lagi cerita yang aku baca di buku ini, malah jadi simpang siur jadinya. Aku gak tau mana cerita yang mesti aku percaya"
"Mungkin di halaman selanjutnya kita akan mendapatkan jawaban nya" Ucap Gama yang di angguki olehku. Aku membuka halaman selanjutnya dan mulai membacanya kembali.
_Dewari menunjukan aku sebuah pohon terbesar di Madavia yang memiliki pintu. Pintu itu adalah sebuah portal yang bisa membuatku datang ke Madavia dan pulang ke dimensiku sehingga aku tidak perlu melakukan tirakat dan meraga sukma untuk datang ke tempat ini.
_Waktu kerjaku di Madavia hanya 12 jam. Aku akan masuk ke dalam peti setiap jam 19.00 Wib dan akan kembali setiap jam 07:00 Wib._
"Peti?" Gumamku.
Tiba-tiba aku teringat dengan sebuah peti yang berada di ruangan Kekek Sukma yang belum sempat aku periksa karena peti itu terkunci dan aku belum sempat menemukan kunci peti itu.
"Ada apa?" Tanya Aldi dengan heran melihatku yang tertegun. "Kok berhenti bacanya?"
Aku menoleh pada Aldi dan menutup buku Agenda kakek Sukma. "Aku ingat, ada peti yang terkunci di ruangan kakek Sukma dan aku belum sempat memeriksa peti itu"
"Apa mungkin peti yang di maksud kakek Sukma di buku itu adalah peti yang kamu lihat di ruangan nya?" Tanya Aldi mencoba menebak.
Aku mengangkat bahuku. "Aku gak tau, tapi ya bisa jadi begitu."
__ADS_1
"Jika memang peti itu adalah sebuah penghubung antara dimensi kita dan dimensi siluman, berarti jiwa kamu bisa kembali ke raga kamu melalui peti itu, Rish." Ujar Aldi seolah menebak apa yang sedang ku pikirkan.
"Aku gak tau, aku udah lelah banget." Ucapku seraya menggosok kedua mataku dengan jemariku. "Aku udah gak sanggup lagi baca buku ini. Setiap kali baca buku terlalu lama pasti aku bakal ngerasa ngantuk."
Terlihat Aldi tengah menutupi mulutnya dengan tangan nya tengah menguap. Lalu mengusap kasar wajahnya. "Aku juga ngantuk banget, apalagi aku kurang tidur tadi malam."
Aku menyandarkan bahuku di sofa. "Jam berapa, sih ini?"
Aldi melihat arlojinya. "Jam depalan!!"
"Aku mau mandi dan langsung tidur." Ucapku seraya bangkit dari sofa dan menyimpan kembali buku agenda kakek Sukma di atas lemari. "Kamu pulang gih."
"Iya, aku pulang. Tapi besok aku jemput kamu ke toko ya!"
"Boleh, tapi bawa mobil pick up, ya!" Sahutku teringat pada Rosa yang akan pindah kost.
Aldi mengerutkan dahi. "Kok mobil pick up sih?"
"Enggak ah, ngapain aku bantuin dia." Jawab Aldi tampak malas. "Emang dia siapanya aku?"
"Dia bukan siapa-siapa nya kamu tapi dia temen aku dan aku mau kamu bantu Rosa demi aku." Tegasku.
"Sayang, aku suruh pak Adim aja ya, biar aku sama kamu pake mobil aku, nanti pak Adim yang bakal bantuin Rosa." Ucap Aldi.
"Yah boleh lah, yang penting bisa bantu angkutin barang Rosa. Kasian kalau harus sewa ke orang kan harus bayar. Mending kalau dia punya uang, kalau enggak?"
...*°°°°°°°°°°*...
setelah Aldi berlalu pergi, aku segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi aku merebahkan diriku dan mulai memejamkan mataku.
Ternyata benar apa kata Gama, aku tetap memakai pakaian ini saat aku datang ke Madavia.
__ADS_1
Aku membuka pintu penuh semangat. Terlihat Gama sedang bercengkrama dengan seorang pria muda yang berekor buaya.
"Gama" panggilku yang membuat gama menoleh ke arahku bersamaan dengan siluman buaya di sebelah Gama.
"Anjani?" Ucap manusia dengan ekor buaya berwarna hijau tampak terkejut saat melihatku.
"Bukan!!" Sahut Gama yang memandangku sedang berjalan ke arahnya.
"Kalau bukan Anjani lalu?" Siluman buaya itu memperhatikan aku dengan seksama.
"Aku Risha." Seruku yang kini sudah berada di depan Gama dan siluman buaya.
Siluman buaya itu mengerjap. "Jadi ramalan itu benar-benar terjadi?"
Aku mengangkat sebelah alisku. "Ramalan?"
"Sudah lah, kita harus pergi dulu." Gama menuntun tanganku dan membawaku pergi melesat bersama-sama. Sesampai nya di gua, kami di sambut oleh Alpha.
"Sekarang aku udah tau kisah Kakek ku yang bisa berada disini"
"Oh, ya?" Sahut Gama yang di angguki oleh ku dengan percaya diri. "Coba ceritakan"
"Kepanjangan kalau di ceritakan semuanya" Jawabku seraya berjalan ke arah kursi kemudian duduk dengan menumpangkan kaki. "Intinya aku tau bahwa ternyata kakek Sukma enggak melakukan pesugihan di alam ini"
Tiba-tiba Alpha dan Gama terkekeh geli. "Ada apa? Kenapa tertawa?"
"Siapa yang menceritakan itu padamu?" Tanya Alpha dengan suara seraknya yang khas.
"Gak ada." Jawabku seraya menggelengkan kepala. "Aku hanya baca buku agenda kakek ku."
"Tapi bukan seperti itu kenyataan nya." Ucap Alpha yang tengah berjalan ke arahku kemudian duduk di depanku.
__ADS_1
"Jadi menurut kalian kakek aku menuliskan kebohongan di agenda nya?"