
Luka jahitan di perutku belum benar-benar kering, tapi aku sudah di perbolehkan pulang. Walaupun hanya satu minggu melalui waktu di rumah sakit, tapi rasanya sudah berbulan-bulan saking jenuhnya.
Luka Aldi rupanya tidak separah lukaku, dia lebih cepat sembuh daripada aku. Dia bahkan mampu menjemputku dari rumah sakit dan mengantarku pulang.
Ada sedikit perasaan lega dalam hatiku, namun masih menyisakan ruang untuk kegelisahanku. Semuanya belum berakhir ketika aku terbebas dari alam itu, malah aku merasa perjalananku baru akan di mulai.
"Mana, aku mau lihat giok itu!" seruku pada Samba. Dia yang tidak ikut menjemputku tiba-tiba dia sudah menungguku di ruang tamu.
Setelah mendengar Samba menceritakan tentang kehebatan nya yang telah menarik roh Anjani dan menyegelnya di batu giok, rasanya aku malah tidak senang sama sekali.
Menurutku hukuman itu terlalu ringan untuk Anjani yang sudah menggagalkan rencana pernikahan aku dan Aldi, bahkan ia sudah beberapa kali membuat kami nyaris kehilangan nyawa.
Aku pikir, semuanya akan adil jika dia benar-benar hilang dari dunia ini. Aku marah, kemarahanku telah membungkam hati nuraniku yang selama ini tidak pernah memberi kesempatan dari sisi lainku untuk ikut serta mengendalikanku.
"Astaga, kamu gak percaya sama aku?" tukas Samba mendelik malas wajahku yang berada tepat di seberangnya.
"Aku percaya, Sam. Tapi aku gak mau kamu cuma nyimpen giok itu aja, aku mau bakar Anjani biar dia bener-bener hilang dari dunia ini." Sahutku dengan tekad yang mantap.
"Udah lah, Rish. Semuanya kan udah selesai, kita juga udah aman kan sekarang?" suara Aldi menyela. Sontak membuatku menoleh tidak percaya ke arahnya.
"Selesai kamu bilang?" Aku menyipitkan mata, menatap laki-laki yang tengah duduk di sebelahku itu dengan tatapan tidak percaya. "Al, masih ada Alpha. Kita belum aman, dia lebih berbahaya karena dia bisa memanfaatkan siluman lain buat ngelawan kita."
"Ya udah, kita cari Alpha aja selesai, kan?" ucap Aldi, membuat aku sontak menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Ada apa sama kamu, Al? Kok, aku ngerasa kamu kayak ngelindungi dia, sih? atau jangan-jangan hati kamu sekarang buat Anjani, iya?" Aku benar-benar tidak ingin berkedip saat menatap mata kekasihku yang entah kenapa terasa asing bagiku.
Jangan lagi, aku mohon jangan lagi. Sudah cukup kemarin, kemarin dan kemarin nya lagi aku kehilangan dia. Entah sudah berapa kali aku di permainkan demi wajah itu, wajah yang memiliki mata yang teduh, wajah yang membuat aku jatuh cinta. Kali ini, akan aku pastikan semua itu tidak akan terulang kembali.
Dan aku tahu kali ini dia memang Aldi yang asli, aku dapat merasakannya dari tatapan itu. Hanya saja aku tidak mengerti dengan sikapnya sekarang, sikap yang membuat hatiku seakan menjadi wartawan yang siap dengan beribu-ribu pertanyaan jika aku tidak berusaha menahannya.
"Kok gitu sih, ngomongnya?" tanya Aldi, kini ia menunjukan wajah kecewanya. Mungkin ia tidak terima dengan apa yang aku curigakan, malah baginya itu terdengar seperti sebuah tuduhan. "Hati aku selalu buat kamu, Rish. Dan gak ada yang bisa merubah itu apalagi Anjani."
"Terus kenapa kamu gak mau aku bakar Anjani?" tanyaku menyelidik.
"Bukan gitu sayang, aku cuma gak mau kamu jadi orang pendendam. Itu aja, kok!" sahut Aldi. Aku sedikit menahan saat aku ingin menghela napas lega.
"Jangan berantem mulu dong, pusing kepalaku dengernya." Ujar Samba melerai. "Oke kita turuti kemauan kamu, Rish. Kita bakar giok itu!"
"Terus sekarang kita harus pergi ke rumah Samba gitu?" tanya Aldi, ia tampaknya keberatan atau mungkin malas atau bagaimana apapun itu, aku tidak ingin berdebat dengannya lagi.
"Jadi udara disini gak segar gitu?" tanya Aldi. Lagi.
"Seger sih, tapi disana kebih sejuk, lebih menyegarkan!" seruku yang lekas melangkah menuju ke luar rumah.
Aldi menghela nafas pasrah. Dia hanya bisa mengikutiku pergi bersama Samba ke Ciamis. Kali ini dia tidak bisa mencegahku pergi, dan tidak ada yang mampu menggoyahkan apa yang menjadi inginku juga tidak ada yang mampu merubah apa yang menjadi tujuanku.
"Buset, liat koleksi giok lu yang segini banyak gue jadi curiga, jangan-jangan profesi lu jualan giok!" seru Aldi saat kami telah sampai di rumah Samba yang waktu itu pernah aku dan Reka kunjungi.
__ADS_1
Aldi sangat terpukau saat melihat peti-peti berukuran kecil berisi giok yang begitu banyak hingga mengisi penuh sebuah rak bertingkat dan bersekat itu. Aku hanya mengedarkan mataku, mengamati ruangan tersembunyi ini yang bernuansa alamiah kuno.
"Sembarangan lo, Al." Protes Samba, sontak mengagetku dengan suara tinggi itu. "Semua giok ini bukan sembarang giok, ini yang paling banyak di cari orang-orang buat dijadikan jimat. Tapi gak ada satupun yang gue jual, makanya sampe banyak begini."
"Bagus!" Aku menyela saat mulut Aldi baru saja hendak mengucap. "Sekarang mana gioknya?"
Tangan kanan Samba kemudian meraih salah satu peti di antara puluhan peti itu dan memberikannya padaku. Aku membuka peti itu tanpa melepas kertas HU yang merekat di atas peti untuk keamanan khodam dalam giok itu agar tidak sampai terbebas.
"Kamu bercanda?" tanyaku setelah melihat isi di dalam peti yang diberikan Samba padaku.
"Bercanda apaan?" Samba mengernyitkan dahi.
"Mana gioknya?" tanyaku seraya memperlihatkan isi di dalam peti yang ternyata kosong.
"Loh, kok gak ada?" Samba lekas meraih peti itu dalam genggamanku, lalu ia membalik peti nya dan menggerak-gerakan peti tersebut seakan ia sedang berharap batu giok itu menyangkut di sela-sela peti.
"Lupa kali, lo!" seru Aldi.
"Enggak, lah. Mana mungkin gue lupa, orang jelas-jelas gue simpen disini, kok gak ada sih?" Bantah Samba. Kini tangannya mulai berhenti menggerakkan peti itu, tampaknya ia sudah mengerti kalau giok itu memang benar-benar tidak ada di tempatnya.
Kami lekas keluar dari kamar itu dengan di iringi suara Samba yang memanggil neneknya. Sesampainya di ruang tamu, terlihat Mak Tati baru saja keluar dari arah dapur dan berjalan tergesa-gesa menuju ke arah kami yang masih berdiri dengan kekalutan hati.
"Naon atuh jang, teriak-teriak bae. Aya naon?" tanya Mak Tati ketika sampai di hadapan anaknya itu.
__ADS_1
"Mak, Sam mau tanya ke emak. Apa ada orang yang dateng ke rumah waktu Sam lagi gak ada?" tanya Samba menyelidik.
Nenek tua itu tampak tengah mengingat-ingat. Samba yang belum mendapatkan jawaban hanya bisa berharap neneknya itu tidak melupakan ciri-ciri orang yang telah datang ke rumahnya dan mencuri gioknya.