
Kesabaran ini akhirnya membuahkan hasil, Samba datang ke rumahku bersama Aldi. Laki-laki genit itu ternyata dapat di andalkan, ia telah menepati janji nya untuk membawa Aldi pulang.
Aku tertegun menatap Aldi, lebih tepatnya aku dan Aldi tengah saling memandang dengan tatapan tidak percaya. Rasanya seperti mimpi, setelah berminggu-minggu kehilangan Aldi, akhirnya aku dapat melihatnya kembali.
Bibirku tersenyum di antara bulir-bulir air mata yang berderai di pipiku. Pelan-pelan aku menghampiri Aldi, bukan! tapi kami tengah saling menghampiri. Lihat senyum itu, senyum yang paling aku rindukan dalam hidupku. Aldi menyeka air mata yang mulai membuat pandangannya kabur, seakan-akan ia tidak ingin apapun menghalangi matanya untuk menatapku.
Setelah saling berhadapan, akhirnya kami saling berpelukan di iringi tangis kerinduan. Samba dan Reka tengah menyeka air mata melihat kami, mereka ikut terharu akan cinta yang kembali bersatu.
"Kamu bilang kita gak akan terpisahkan lagi, tapi kenapa kamu ninggalin aku, Al?" Aku membenamkan setengah wajahku di bahunya, dan menangis di pelukannya.
"Enggak, sayang!" Aldi melepaskan pelukannya, tangan kirinya memegangi bahu kiriku dan tangan kanan nya tengah menyeka air mataku. "Aku gak pernah ninggalin kamu, Risha. Aku selalu ada disini." Aldi mendaratkan telunjuknya di dadaku.
"Aku kangen banget sama kamu, Al!" seruku sedikit mendongak menatap Aldi. Tiba-tiba ia mendaratkan bibirnya tepat di bibirku. Aku memejamkan mata saat bibir Aldi mulai bermain di bibirku.
"Sabar ya, bro! cewek masih banyak, kok!" Samba menepuk-nepuk bahu Reka yang tengah tertunduk cemburu saat melihat aku dan Aldi berciuman di hadapan mereka.
Aku tidak ingin menolak ciuman singkat ini meski aku tahu kami tidak sedang berduaan saat ini, bahkan ada Mama Erina dan Papa Johan juga disini ikut menyaksikan semua ini.
"Eh, kamu mau kemana?" Tanya Samba saat melihat Reka hendak pergi.
"Pulang!" sahut Reka yang mulai melangkahkan kakinya menuju keluar rumah.
"Kenapa?" Tanya Samba yang sepertinya merasa keberatan akan kepergian Reka.
__ADS_1
"Memangnya untuk apa aku tetap disini?" Reka berbalik sebentar untuk menatap Samba, lalu melanjutkan kembali langkahnya.
Aku sempat melirik Reka, menatapnya penuh rasa penyesalan. Aldi yang menyadari tatapanku mulai melihat ke arah pandanganku dan ia sempat melihat Reka sebelum akhirnya menghilang.
Aldi menatapku lalu mengangkat daguku dengan tangannya, membuat mataku bertemu dengan wajahnya. Kemudian ia tersenyum manis seraya mengerjapkan matanya dan sedikit mengangguk, seolah-olah ia sedang berkata, °sudah lah, tidak apa-apa! Biarkan saja Reka pergi, kita akan menemuinya nanti.°
Setelah Reka berlalu, Samba yang khawatir akan menjadi kacung akhirnya berpamitan pulang. Padahal aku berharap dia tetap disini untuk aku interogasi, namun tampaknya ini memang bukan waktu yang tepat dan aku akan melakukan itu di lain hari.
"Tante bersyukur karena kamu di temukan sebelum pernikahan Risha di lakukan!" Ujar Mama Erina tampak bahagia.
"Om juga lega, karena akhirnya Risha akan menikah hanya dengan laki-laki pilihan hatinya!" seru Papa Johan menimpali.
"Iya Om, Tante. Untung aja Risha, Samba dan Reka mau berusaha buat nyariin Aldi sampe Aldi bisa kembali dengan selamat!" Ujar Aldi seraya meraih bahuku.
"Iya, Om. Bentar lagi Aldi pulang, kok!" sahut Aldi.
"Ya udah, kalau gitu Om sama tante tinggal dulu ya. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu, Tante mau telepon Maya, ibu kamu. Mau ngasih tahu kabar baik ini sama dia." Ujar Mama Erina kemudian berlalu bersama Papa Johan.
Aku menyandarkan kepalaku di dada bidang Aldi dengan posisi membelakangi nya. Sedangkan telapak tangan Aldi menempel di perutku dan mengelus-elus perutku dengan lembut.
"Harusnya kamu gak boleh kecapean, nanti bayi kita stres!" seru Aldi masih mengelus-elus perutku.
"Enggak bakalan, bayi kita itu jagoan. Dia gak pernah ngerepotin Ibu nya, makanya aku selalu baik-baik aja walaupun lagi hamil." Jelasku seraya menikmati sentuhan Aldi. Apa lagi sandaran ini, sudah lama sekali aku tidak merasakan nya.
__ADS_1
"Sayang, maafin aku ya. Kalau aja waktu itu aku bisa sedikit aja nahan emosi aku, mungkin aku gak perlu menyusahkan kamu buat nyari-nyari aku. Gara-gara emosi aku yang tidak terkendali, aku menemui Reka yang ternyata itu hanya jelmaan nya. Aku bahkan melukai perasaan Samba, tapi justru mereka berdua yang udah bantuin aku bebas dari alam gaib itu." Ujar Aldi tampak merasa bersalah.
"Udah, gak usah di pikirin." Aku memegangi tangan Aldi di atas perutku. "Tapi kenapa kamu bisa ada di sana, Al?"
"Jadi waktu itu aku emang di sekap sama Samba di tempat yang sama, cuma aku gak tahu itu di daerah mana. Tiba-tiba kamu datang dan nyelamatin aku terus kamu bawa aku pulang ke rumah aku. Kata Samba itu hanya tipuan Jin, dan gak bener-bener nyata. Tapi aku gak percaya, karena semuanya justru tampak nyata. Kamu, Mama, Papa, semuanya tampak nyata." jelas Aldi.
"Terus?" Tanyaku menyelidik.
"Terus aku kepikiran kata-kata Samba dan aku mulai memperhatikan kedua orang tua aku, rumah aku dan kamu. Akhirnya aku bisa ngerasain kalau semua itu emang gak nyata. Satu-satunya yang aku rasa nyata itu cuma kamu, tapi akhirnya aku sadar kalau itu bukan kamu." Sambung Aldi.
"Terus kamu sama Anjani udah ngelakuin apa aja disana" Tanyaku dengan perasaan kuyu.
"Anjani?" Aldi mengerutkan dahinya.
"Dia saudari kembar aku yang sering aku ceritain sama kamu!" sahutku mencoba mengingatkan Aldi.
"Tapi kenapa dia ngelakuin itu sama aku? maksud aku, sama kita?" Tanya Aldi penasaran.
"Jawab dulu, kamu udah ngelakuin apa aja sama Anjani?" Aku yang tidak ingin ganti topik akhirnya menagih jawaban yang belum sempat terjawab oleh Aldi.
"Enggak, sayang. Sumpah aku gak pernah ngelakuin apa-apa sama dia, cuma pelukan aja gak lebih." Ujar Aldi sontak membuatku terperangah.
"Cuma pelukan?" Aku mengerutkan alisku, seakan tidak bisa menerima hal itu. Mungkin lebih tepatnya, cemburu!
__ADS_1
"Ya aku tahu nya kan itu kamu, sayang!" sahut Aldi.