Meraga Sukma

Meraga Sukma
76. Sadarnya Aldi


__ADS_3

"Aldi, kamu udah sadar, nak?" Mama Aldi kegirangan saat melihat anaknya mulai membuka mata.


Ia lekas memanggil Dokter untuk segera memeriksa keadaan Aldi. Setelah Dokter menyatakan bahwa kondisi Aldi semakin sudah stabil, ia di perbolehkan pulang setelah melalui pemeriksaan selanjutnya pada esok hari.


Sedangkan saat ini Risha masih belum sadarkan diri, lukanya lebih parah dari Aldi dan Risha bahkan kehilangan banyak darah saat itu, karena pisau itu telah menusuk dua nyawa sekaligus.


"Kenapa Aldi bisa disini Ma? tanya Aldi pada Mama nya. Ia berusaha bangkit dari posisi berbaringnya. "Aw!" Aldi memekik seraya memegangi perutnya yang terasa sakit saat ia hendak duduk.


"Jangan banyak gerak dulu, Al. Ujar Mama Aldi seraya membantu Aldi berbaring kembali. "Bekas jahitan nya belum benar-benar kering. Kalau banyak gerak gak cuma sakit, tapi nanti bakal robek lagi."


"Tapi kenapa perut Aldi di jahit? Emang nya kapan Aldi jatoh?" Aldi tampak kebingungan. Tapi Mama Aldi juga tidak kalah bingung.


Mama Aldi merasa heran dengan pertanyaan anaknya itu. Harusnya Aldi yang lebih tahu tentang apa yang sudah terjadi padanya. Jika hilang ingatan rasanya tidak mungkin, sejak kapan tusukan di perut bisa membuat hilang ingatan?


"Kamu udah nusuk anak saya!" seru Mama Erina tiba-tiba menyahut


Entah sejak kapan wanita itu menguping percakapan Aldi dan Ibu nya. Ia baru saja masuk ke dalam ruang rawat Aldi dan langsung melontarkan kalimat yang membuat Aldi tidak percaya mendengarnya.


Aldi mengerutkan dahinya, menatap Mama Erina dengan wajah pilunya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan maksud Mama Erina.


"Nusuk anak Tante?"


Aldi mencoba mengingat-ingat apa yang sudah ia lakukan pada anak Mama Erina. Tunggu, anak Mama Erina yang mana memangnya?


Risha?


Tidak mungkin!

__ADS_1


Bagaimana ia sanggup melukai wanita yang sangat di cintainya. Jangankan untuk menusuk Risha, membentaknya saja ia tidak mampu.


Lantas anak yang mana yang Mama Erina maksud? mungkinkah Anjani?


Ah, tidak!


Memangnya kenapa Aldi akan menusuk Anjani? Wanita itu bahkan sudah berbaik hati menyelamatkan nya dari Ummu Syiban lalu Mengantarnya pulang. Anjani bahkan berjanji akan Mengantarkan Risha juga pulang. Seingatnya ia tidak pernah berkelahi dengan siapapun apa lagi dengan Anjani.


Tapi apa yang Aldi lakukan setelah kembali ke dimensi manusia? Benar! Sekarang Aldi ingat bahwa ia hanya mampu mengingat sampai di situ saja dan ia tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah ia kembali.


"Iya, Al. Terus kamu mencoba bunuh diri setelah kamu menusuk Risha. Kamu takut di jebloskan ke penjara, kan? Makanya kamu mau bunuh diri. Iya, kan?" tuding Mama Erina.


"Apa?" Secara naluriah, Aldi syok dan tercengang mendengar tudingan itu. Tidak, tudingan itu tidak penting. Tapi Aldi syok berat saat ia tahu kalau Risha di tusuk dan Aldi yang bertanggung jawab atas penusukan itu.


Mama Erina melemparkan wajah keputus asaan di hadapan Aldi. Tanpa bisa di bendung lagi, air mata mengalir di pipi Aldi. Dia mungkin bersalah karena telah menusuk calon istrinya sendiri, tapi Aldi berani bersumpah dirinya tidak pernah berniat melakukan itu.


"Rin, aku mohon jangan bahas ini dulu. Kondisi Aldi masih lemah banget, dia baru aja siuman." Mohon Mama Aldi pada Mama Erina.


"Ya mending lah May, Aldi udah sadar. Sedangkan Risha? Dia masih berjuang di antara hidup dan matinya!" tukas Mama Erina seraya menyeka air matanya lalu pergi dari ruang rawat Aldi dengan tergesa-gesa.


"Rin!" Mama Aldi ingin sekali menenangkan Mama Erina, tapi ia memilih untuk tidak mengejarnya dan akan mengajaknya bicara di saat yang tepat.


Mama Erina masuk ke ruangan ICU saat gaun protektif pembesuk berwarna hijau polos itu melekat di tubuhnya. Dengan wajah yang sudah basah oleh air mata, ia menatap nanar anaknya yang tengah terbaring tidak berdaya.


Hanya berselang sepuluh menit, Papa Johan tiba-tiba masuk dan meraih pergelangan Mama Erina lalu mengajaknya pergi keluar. Papa Johan tidak ingin melihat istrinya menangis di depan anaknya karena khawatir tangisan itu akan mempengaruhi kondisi Risha.


"Aldi udah sandar, terus kenapa Risha belum sadar-sadar juga!" Mama Erina menutup wajah dengan kedua tangan nya, ia menangis di paling tangan nya itu.

__ADS_1


"Sabar Ma, kita berdoa aja semoga Risha bisa cepet-cepet sadar juga kayak Aldi." Papa johan merangkul pundak Mama Erina, ia membiarkan kepala Mama Erina bersandar di bahunya.


"Om, Tante! Gimana keadaan Risha?" tanya Samba yang baru saja datang ke ruang tunggu pasien.


"Risha masih belum sadar juga, Sam!" sahut Papa Johan mencoba terlihat tegar.


"Ini gak adil!" seru Mama Erina seraya menyeka air mata nya. "Kalau Aldi bisa sadar, harusnya Risha juga ikutan sadar, dong!"


"Aldi udah sadar, Tan?" tanya Samba antusias.


Samba bergegas pergi setelah mendapatkan balasan kata, "iya" dari Mama Erina. Ia berjalan menuju ruang rawat Aldi yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari ruang rawat Risha.


Samba tampak tidak sabar untuk menginterogasi Aldi. Dia merasa harus tahu apa alasan Aldi menusuk Risha, meski Samba sudah menduga ini adalah ulah Anjani, tapi tetap saja ia ingin tahu bagaimana Anjani bisa mengendalikan dirinya.


Walau bagaimanapun, Aldi dan Risha sudah seperti keluarga baginya. Dia akan selalu ada setiap kali mereka dalam masalah, dia juga tidak ingin hubungan yang sudah lama di bangun oleh mereka hancur begitu saja.


"Sam, kebetulan banget lo dateng. Banyak yang mau gue ceritain sama lo." Mata Aldi berbinar saat melihat Samba datang. Dia pikir hanya Samba satu-satunya orang yang akan mempercayai dirinya di saat orang-orang bahkan orang tuanya sendiri menyalahkan nya atas penusukan itu.


"Al, lo kenapa nusuk Risha? Risha salah sama lo emangnya?" tanya Samba menyelidik.


Dalam seketika harapan Aldi luluh lantak. Binar itu tiba-tiba hilang dari matanya. Aldi tertunduk seraya menghela nafas berat dengan mata terpejam. Dia tidak menyangka bahwa ia akan mendengar pertanyaan yang sama dengan pertanyaan orang tuanya dari Samba.


"Lo juga sama aja kaya bokap nyokap gue, Sam!" Aldi melemparkan tatapan kecewa pada Samba. "Gimana caranya gue ngebuktiin Kalau gue gak ngelakuin itu?"


Samba kemudian duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur. Ia menatap lekat wajah tidak bersalah Aldi. Ia tahu, laki-laki itu pikiran nya sedang kacau sekali. Bukan karena Aldi takut akan menjadi tersangka setelah ini, ia hanya tidak ingin semua orang salah paham apa lagi Risha.


"Gue tahu lo gak salah, Al!" seru Samba, kemudian ia menceritakan segalanya pada Aldi.

__ADS_1


__ADS_2