Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 42


__ADS_3

"Aku dimana?" Gumamku saat mendapati diriku sedang berbaring di atas batu besar nan datar bersama Anjani di sebelah ku. Entah sudah berapa lama aku pingsan, tahu-tahu tangan dan kakiku sudah dalam keadaan terikat.


"Risha, akhirnya kamu sadar juga." Ucap Anjani yang sedang berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya. "Kita harus pergi dari sini. Dewari pasti akan mencoba merenggut paksa mustika ular yang ada di tubuh kita. Kalau sampai itu terjadi, kamu tidak akan bisa kembali kr dimensi mu.


Terdengar suara hentakan langkah kaki yang di ikuti tawa menggelegar. Aku dan Anjani menoleh dengan serentak ke arah pemilik suara yang fals itu. Terlihat Dewari tengah berjalan santai ke arah kami dengan membuah sebilah keris dan sebuah kendi yang terbuat dari tanah liat berisi air dengan taburan bunga mawar merah.


"Tenanglah, anak-anak ku. Aku akan segera mengakhiri penderitaan kalian, sakitnya pasti hanya sebentar saja. Kalian tidak perlu cemas, aku akan melakukan nya dengan pelan-pelan." Ujar Dewari yang membuatku bergidig.


"Biadab!!" Cerca Anjani penuh amarah. "Belum puas kamu membunuhku? Lalu bertahun-tahun mengurungku. Sekarang, kamu ingin merenggut pula nyawa adikku. Dasar siluman laknat!!"


"Anjani, bagaimana aku akan puas jika belum mendapatkan mustika ular yang seharusnya menjadi milikku. Gara-gara Wijaya menyatukan mustika ular itu dengan jantungmu, terpaksa aku harus merawatmu dan pura-pura mencintaimu. Menjadikan mu anak yang paling aku sayangi agar setelah kamu mati di makan usia, aku yang akan mewarisi mustika ular itu. Kalau saja waktu itu kamu tidak berniat memberikan mustika ular itu pada Altar hanya demi untuk hidup bersama dengan Reka di dimensi manusia, mungkin aku akan membiarkan mu hidup lebih lama. Dan adikmu- Risha, tidak akan pernah datang ke Madavia hingga harus mengalami nasib semalang ini. Semua gara-gara kamu, Anjani." Ujar Dewari menjelaskan.


Dewari mencelupkan tangannya ke dalam kendi kemudian, mencipratkan air di tangannya ke tubuhku dan tubuh Anjani. Entah apa yang akan di lakukannya setelah ini. Mungkin, ia akan menusuk ku dengan sebilah keris yang kini sedang berada dalam genggaman nya. Mungkinkah aku akan bernasib sama seperti Anjani yang pada akhirnya roh-ku tidak bisa pergi ke alam barzah dan hanya akan tinggal di Madavia selamanya.


Aku menahan nafas saat Dewari mengangkat kerisnya tepat di atas tubuhku dan memilih untuk memejamkan mata setelah melihat betapa mengkilatnya ujung keris itu.


Aku mengintip sejenak sebelum aku benar-benar menyerah pada keadaan. Dewari masih belum menusuk dadaku dengan keris itu. Hanya sebuah kilat yang membentuk segitiga menyambar tubuhku dan tubuh Anjani dengan keris itu. Ternyata ia hanya menyedot energiku, pelan-pelan melemahkanku.

__ADS_1


Aku merasakan sesuatu yang keluar dari tubuhku dan aku melihat bagaimana dua buah cahaya putih melayang-layang di udara mengitari tubuh kami. Aku tidak tahu apakah anjani yang statusnya roh, merasakan juga lemas seperti yang saat ini aku rasakan. Aku hanya tahu satu hal dari apa yang pernah ku dengar dari Sagara, bahwa roh tidak akan bisa di lenyapkan.


Aku masih bisa mendengar suara teriakan seseorang menyebut namaku. Aku sempat menoleh ke arah suara itu berasal sebelum akhirnya mataku terpejam.


...*°°°°°°°°°°*...


Satu tendangan maut dengan mengandalkan Ajian Waringin Sungsang, berhasil membuat Dewari tersungkur. Kendi yang di letakan nya di atas meja tersenggol hingga jatuh dan pecah. Kerisnya yang tengah di pegang nya pun terlempar entah kemana.


Kali ini Samba tidak akan memberinya ampun. Anggap saja pertempuran sebelumnya hanya pemanasan, tidak butuh waktu lama daun ajaib menyembuhkan luka Samba. Ia tidak akan memberi Dewari peluang untuk melumpuhkan nya lagi.


Untuk sejenak Gama dan Reka merasa lega melihat Anjani masih dalam keadaan sadar, bahkan Anjani tidak merasakan sakit sama sekali. Tapi, hati Reka dan Gama seakan teriris saat melihat Risha tak sadarkan diri. Bahkan Reka langsung beralih pada Risha dari Anjani dengan sedikit menggeser posisi Gama yang sedang memangku tengkuk Risha kedalam pelukan nya.


"Tidak, Risha. Jangan pergi, aku mohon bukalah matamu." Ucap Reka seraya memeluknya.


Gama mengalihkan pandangan nya pada dua buah cahaya di udara yang berputar-putar mengitari mereka. "Apa itu?" Tanya Gama seraya menyeka air matanya. Reka dan Anjani mendongak dan melihat apa yang ditunjukan oleh Gama.


"Itu mustika ular yang berhasil di tarik keluar dari dalam tubuhku dan juga Risha. Kalau mustika ular itu sampai tidak kembali ke tubuh Risha, rohnya akan pergi ke alam barzah dan raganya tidak lagi bernyawa."

__ADS_1


Deg!!


Gama dan Reka semakin frustasi. Kalaupun Risha harus pergi meninggalkan mereka, tapi tidak dengan cara seperti ini. Bagi mereka ini terlalu menyakitkan dan akan membuat mereka dihantui rasa bersalah sepanjang hidupnya.


Gama dan Reka melirik Samba yang sedang berjuang melawan Dewari, kemudian saling bertukar pandang lalu mengangguk seakan mereka sedang bicara dari hati ke hati dan lekas berlari menuju ke arah dimana Samba dan Dewari bertarung untuk membantu Samba mengalahkan Dewari. Sedangkan Anjani memutuskan untuk tetap berada di samping Risha dan berharap adiknya akan segera membuka matanya kembali.


"Aku tidak tahu mengapa Reka menangis melihatmu seperti ini, Risha. Bahkan aku sudah tidak melihat cinta dimatanya untukku. Apa yang terjadi selama aku di kurung? Apa yang sudah kalian lalui bersama saat aku tak ada? Mengapa aku melihat matanya begitu dalam saat menatapmu? Aku mencintai Reka bahkan sejak aku masih kecil. Jangan pernah kamu berpikir untuk merenggutnya dariku. Dia milik ku, hanya milik ku." Ujar Anjani dengan perasaan kalut.


Anjani melihat sebilah keris tergeletak ditanah. Ia bergegas meraihnya. Dengan dendam yang membara ia melihat ke arah Dewari yang sedang berlutut membelakanginya dari jauh. Samba sedang bersiap-siap untuk mengirimnya ke alam baka. Namun, Anjani lebih cepat mendahuluinya.


Blusssssskk


"Aaaaaaakkkhh" Pekik Dewari. Ia menundukan kepala dan melihat sebilah keris miliknya telah memangsa tuannya sendiri.


"Itu yang kamu lakukan kepadaku lima tahun yang lalu, ibuku sayang. Sekarang lihat, bagaimana aku membalasnya." Ujar Anjani dengan tersenyum miring.


Dua buah cahaya yang melayang mengitari Risha kemudian masuk kedalam tubuhnya. Perlahan ia membuka kedua matanya, samar-samar melihat teman-teman di sekitarnya bersama Dewari yang sudah tumbang.

__ADS_1


__ADS_2