
"Kenapa jadi banyak banget orang-orang yang setengah hewan disini?" Tanyaku dengan heran melihat betapa ramainya tempat yang awalnya selalu sepi kini sudah di penuhi berbagai jenis siluman.
"Tidak ada yang berubah disini. Memang dari awal sudah begini. Hanya saja kamu baru bisa melihatnya setelah memakai baju ini. Itu sebabnya kamu baru bisa melihat Alpha. Padahal Alpha selalu ada dan berjaga di depan gua ini" Terang Gama.
"Jadi selama ini tempat ini memang udah seramai ini dan aku tidak menyadarinya?" Tanyaku.
"Benar, Risha. Perlu kamu ketahui bahwa pakaian ini bukanlah pakaian biasa. Pakaian ini akan sedikit melindungimu karena pakaian ini memiliki kekuatan." Ungkap Reka.
"Oh, ya.?" Entah mengapa aku justru malah senang mendengar hal itu. "Apa aku akan bisa terbang dengan pakaian ini?"
"Tidak, hanya bisa lari melesat sepertiku saja" Sahut Gama.
"Enggak masalah, aku gak bisa terbang. Bisa melesat-melesat aja seperti kamu aku udah seneng banget" Ucapku dengan penuh semangat.
"Sebenarnya Sudah lama aku ingin memberikan pakaian ini, tapi aku takut kamu tidak akan bisa menerimanya karena pada saat itu kamu sedang dekat dengan Reka dan selalu membelanya" Ucap Gama.
"Aku memang bodoh!!" Seruku yang menyadari kebodohanku. "Jika saja gak ada kamu, mungkin sekarang ini aku pasti udah jatuh cinta sama dia dan menuruti semua perintahnya. Maafin aku ya, dan makasih karena kamu udah menyelamatkan aku."
"Sudah lah, tidak apa-apa. Mulai saat ini kamu tidak perlu khawatir jika ketiduran pada saat mandi. Pakaian ini akan melekat seperti kulit di dagingmu. Tidak perlu dilepaskan karena pakaian ini tidak akan membebani tubuhmu. Ujar Gama yang kemudian menuntun tanganku dan membawaku pergi melesat bersama-sama.
Ini lebih menyenangkan daripada hanya di gendong oleh Gama. Meskipun ini tidak semudah yang aku bayangkan karena beberapa kali aku hampir menabrak pohon. Namun ini membuatku merasa menjadi seorang pahlawan super dan aku sangat menikmatinya.
Akhirnya kami sampai di rumah lindung. Setelah berpamitan dengan Gama, aku segera masuk dan berbaring di ranjang kayu. Tidak butuh waktu lama untuk kembali ke dimensiku. Hanya cukup menutup mata dan tarraaaa aku pun terbangun.
"Aku dimana ini? Ini bukan kamarku. Apa yang sudah terjadi?"
Pakaian biru muda khas pasien rumah sakit sudah menutupi tubuhku. Tanganku di balut dengan selang infusan. Aku bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah pintu dengan membawa roller infusan.
Entah apa yang terjadi padaku semalaman. Apakah aku sakit? Dan dimana Aldi?
__ADS_1
Baru saja aku akan membuka pintu, tiba-tiba seseorang lebih dulu membukanya dari luar.
"Wah, syukurlah mbak Risha ternyata udah sadar" Ucap suster yang baru saja masuk.
Sudah sadar? Memang nya aku kenapa?
"Mbak Risha mau kemana, jangan banyak gerak dulu mbak." Sambung suster itu seraya merangkul pundakku dan menggiringku kembali ke ranjang.
"Apa yang terjadi sama saya, sus? Kenapa saya ada disini?" Tanyaku yang kini tengah menaikan kedua kakiku ke atas ranjang.
"Mbak pingsan begitu lama. Kata suami mbak, mbak udah pingsan dari semalam" Jawab Suster seraya membantuku berbaring.
Aku mengangkat sebelah alisku. "Suami?"
"Iya, suami mbak. Pak aldi." Sahut Suster yang kini tengah mengganti imfusan.
"Terus sekarang Aldi nya dimana sus?" Tanyaku.
"Mbak tunggu sebentar ya, saya panggilkan dulu suami mbak." Kata suster yang kemudian berlalu.
Tidak lama kemudian Aldi datang bersama seorang perempuan dengan rambut sebahu berwarna coklat terang.
"Sayang, syukurlah kamu udah sadar" Ucap Gama yang kini menggenggam erat jemariku kemudian menciumnya dengan sangat lembut.
"Emangnya aku kenapa sih, Al?" Tanyaku dengan heran.
"Semalam aku curiga karena kamu tidur begitu lelap. Meskipun kamu masih bernafas, tapi kamu gak gerak-gerak. Bahkan pada saat aku bangunin kamu, kamu gak bangun-bangun. Aku khawatir sama kamu, sayang." Ujar Aldi seraya menempelkan dahinya di punggung tanganku.
Aku menoleh ke arah perempuan yang sedari tadi berdiri di samping Aldi dengan tidak bergeming "Kamu juga disini Ros?"
__ADS_1
"Iya, Rish." Terdengar Rosa menghela nafas. "Tadi Aldi datang ke toko ngasih tau ci yuzzy kalau kamu gak bisa masuk kerja karena sakit dan sedang di rawat. Mendengar itu ci yuzzy nyuruh aku ikut sama Aldi untuk jengukin kamu. Gimana keadaan kamu sekarang, Rish?"
"Aku baik-baik aja. Makasih ya udah jengukin aku kesini. Ucapku yang di angguki Rosa dengan uraian senyumnya.
"Kamu kenapa sih sayang?" Tanya Aldi seraya mengusap rambutku. "Harusnya kamu kasih tau aku dong kalau ada yang kamu rasa gak enak atau kamu ngerasa sakit. Bilang sama aku."
"Enggak, Al." Aku meraih tangan Aldi. "Aku benar-benar gak sakit. Kamu salah faham."
"Gak sakit gimana, kamu gak gerak-gerak. Kamu pingsan, sayang." Ucap Aldi sedikit berteriak.
"Oke. Aku bakal jelasin semuanya soal penyakit aku, tapi nanti di rumah."
~Rosa POV~
Melihat Aldi begitu peduli pada Risha, hatiku merasa iri. Betapa beruntungnya Risha bisa memiliki pria seperti Aldi. Dia tak hanya tampan, tapi juga kaya. Aku bisa menebaknya dari mobil miliknya serta style nya. Sedangkan aku yang hanya orang kampung yang melarikan diri ke kota, karena tak ingin di jodohkan dengan pria pemilik peternakan bebek yang sudah berumur 35tahun. Mengingat usiaku yang baru 22 tahun, tentu saja aku menolaknya dan lebih memilih bekerja ke luar kota meninggalakan segala keresahan di kampungku. Selain akan mendapatkan uang, di kota ini juga aku akan menemukan jodohku.
"Istri anda sudah boleh pulang hari ini juga" Kata Dokter setelah selesai memeriksa keadaanku.
"Makasih, Dok!!" Seru Aldi pada Dokter yang telah memeriksa Risha.
"Sama-sama" Jawab Dokter seraya berlalu pergi.
"Risha, apa aku boleh ikut pulang sama kamu?" Tanyaku harap-harap ragu. "Aku mau sekalian nanyain soal kosan di tempat kamu ngekos, siapa tau masih ada yang kosong."
"Boleh dong, Ros." Sahut Risha dengan senyuman tulusnya. "Maaf ya, aku belum sempat nanyain sama ibu kosnya. Nanti kita tanyain bareng-bareng, ya."
Aku yakin, jika aku ngekost di tempat yang sama dengan Risha, aku pasti akan lebih sering bertemu dengan Aldi sehingga akan lebih mudah untuk aku mendekati Aldi.
Aku masih ada kesempatan merebut Aldi dari Risha karena mereka hanya pacar dan belum menikah, sehingga aku tidak akan berdosa jika merusak hubungan mereka.
__ADS_1