Meraga Sukma

Meraga Sukma
62. Identitas Aswasada


__ADS_3

Setelah selesai mandi dengan terburu-buru tanpa memakai sabun mandi bahkan tidak gosok gigi. Aku bergegas bersama Rosa dan Reka pergi ke Giant Jaya dengan tergesa-gesa gara-gara aku bangun terlalu siang, aku harus melibatkan Rosa dan Reka yang ikut-ikutan kesiangan.


"Risha, bagaimana caranya kamu bisa menjebak Aswasada sendirian kemarin?" Tanya Reka yang masih sempat-sempatnya bertanya di saat kami sedang berjalan dengan tergesa-gesa.


"Aswasada siapa?" Aku yang tidak peka menjawabnya dengan pertanyaan pula.


"Siluman yang menjelma menjadi diriku!" Desis Reka nyaris tak terdengar.


"Oh, jadi kalian berhasil nangkap siluman itu? Syukurlah!" Sahutku dengan polosnya.


"Siluman?" Rosa yang ikut mendengar perkataanku-pun, menyahut. "Siluman apaan?"


"Iya! siluman, siluman acara tv, di Drama korea! Kami lagi ngomongin itu!" Sahutku asal-asalan.


Sesampainya di Giant Jaya, Rosa masuk ke dalam ruangan karyawan, tempat dimana kami selalu bertemu pembeli yang ingin bertransaksi. Sedangkan aku dan Reka pergi ke kantor yang berada di belakang ruangan karyawan.


Aku membuka pintu ruangan Ci Yuzzy setelah mendapatkan izin masuk dari dari Ci Yuzzy. Reka mengekor masuk dan kami duduk di kursi yang berhadapan dengan Ci Yuzzy.


"Ci, aku beneran di pecat?" Aku memberanikan diri bertanya pada atasanku itu.


"Iya! aku kecewa banget sama kamu, Rish." Sahut Ci Yuzzy memandangku dengan tatapan dingin. "Kamu sering banget bolos, coba liat ini."


Ci Yuzzy menyodorkan sebuah kartu absensi kepadaku. Aku menelan ludah saat melihat banyak sekali tanda merah disana yang berarti tidak hadir. Melihat kartu absensi ini malah membuatku semakin malu untuk meminta kesempatan kedua pada Ci Yuzzy.


"Kalau Reka gimana, Ci? Dia di pecat juga?" Tanyaku penasaran.


"Enggak. Aku mau kasih kesempatan buat Reka, soalnya kerja dia bagus." Sahut Ci Yuzzy.


"Maaf," seru Reka menyela. "Tapi saya ingin mengundurkan diri."


"Apa?" Ucapku serempak dengan Ci Yuzzy seraya menoleh ke arahnya dengan hati yang tersentak.


"Kenapa?" Tanya Reka heran melihat ekspresi kami.


"Gak bisa gitu, dong! kamu kan baru aja masuk, masa udah mau keluar lagi?" Ujar Ci Yuzzy protes.

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa? Tidak ada larangan tertulis, bukan? Lagi pula aku tidak pernah menandatangi kontrak kerja disini." Ujar Reka yang membuat Ci Yuzzy tidak berkutik.


'Astaga, dia mempelajari kata-kata itu dari mana? Reka benar-benar terlihat sangat dewasa dan cerdas!' Batinku.


Setelah itu akhirnya aku dan Reka resmi menjadi pengangguran. Mungkin itu tidak akan berpengaruh untuk Reka, karena dia hanya siluman yang sebenarnya tidak memerlukan pekerjaan. Tapi bagaimana denganku?


Aku ingin bersedih sebenarnya, tapi setelah aku pikir-pikir, walaupun aku masih memiliki kesempatan untuk tetap bekerja di Giant Jaya aku rasa hasilnya akan tetap sama. Selama masalahku belum selesai, aku akan selalu kesiangan dan bahkan bolos seperti biasanya.


Mungkin ini yang terbaik dan aku masih memiliki uang pesangon yang barusan Ci Yuzzy berikan padaku untuk membeli kebutuhanku. Aku masih tidak berani untuk menerima uang dari orang tuaku, entah kenapa aku lebih tenang menikmati hasil kerjaku sendiri.


Sebab, anak atau cucu dari orang tua yang melakukan pesugihan jika menikmati hasil pesugihannya maka kelak akan menjadi tumbal selanjutnya.


Takut?


Tentu saja aku takut. Tapi bukan takut di makan siluman, hanya saja aku takut kelak roh-ku tidak bisa pergi ke alam barzah dan tidak mendapatkan kesempatan Yaumul Mizan yang dimana segala amal perbuatan manusia akan di timbang di hadapan Allah SWT.


Dosa pesugihan adalah dosa yang tidak akan di ampuni oleh Allah dan dosanya akan turun ke anak cucunya yang ikut menikmati hasil pesugihan. Aku ingin memutus rantai keturunan pesugihan yang Kakek Sukma lakukan.


"Kalau aku gak kerja, mau gak mau aku harus pulang ke rumah orang tua aku!" Ujarku tampak muram.


"Aku mau bayar kost pake apa kalo gak ada pemasukan?" sahutku yang kemudian mendesah.


"Bagaimana kalau aku saja yang kerja? Kamu bisa menggunakan uang hasil kerjaku karena aku tidak memerlukannya." Ujar Reka.


"Enggak, Reka. Aku bukan orang yang suka menikmati hasil keringat orang lain. Aku gak kayak gitu!" Sahutku.


"Ngomong-ngomong gimana rencana kalian kemarin? kalian berhasil nangkap siluman itu?" Tanya Samba penasaran.


"Siluman itu adalah Aswasada, putra kandung Dewari yang terperangkap di dimensi manusia dan terkurung dalam peti itu." Jelas Reka.


"Apa?" Ucap Samba tercengang. "Pantesan, dia keukeuh banget pengen bikin Dewari bangkit lagi. Ternyata dia anaknya!"


"Aswasada tidak terima kalau ibunya mati dan ingin membalas dendam pada orang-orang yang terlibat melenyapkan ibunya." Sambung Reka.


"Tapi kalian berhasil menangkap Aswasada kan?" Tanya Samba memastikan.

__ADS_1


"Dia sudah di tahan di istana oleh Anjani." Sahut Reka. Kemudian, tatapannya tertuju padaku yang sedang melipat pakaianku. "Tapi aku ingin tahu, bagaimana kamu bisa menjebak Aswasada. Padahal kamu sendirian!"


"Aku pake cara halus, kalau pake cara kasar aku takut gak bisa ngalahin dia dan malah gagal nyelamatin Aldi." Sahutku seraya memasukan pakaian yang sudah terlipat ke dalam koper besar.


Reka mengerenyitkan kening. "Dengan cara halus yang seperti apa?"


"Aku peluk dia! Anehnya dia malah kayak menikmati banget di peluk sama aku. Tapi aku seneng sih, soalnya itu memudahkan aku buat ngedorong dia sampe masuk ke dalam peti itu." Ujarku menjelaskan.


Sontak Samba terkekeh mendengarnya. Namun, Reka malah menunjukan wajah tidak senang. Mungkin dia cemburu, padahal seharusnya ia berterimakasih padaku karena dengan cara jitu yang aku lakukan itu lah dia bisa menangkap Aswasada.


"Aku senang, kita udah aman sekarang. Gak akan ada lagi yang nyamar jadi kamu!" Ujarku seraya menghela nafas lega.


"Untuk sekarang kita aman, tapi apapun yang akan terjadi nanti, aku akan selalu melindungimu." Ujar Reka menatapku seraya tersenyum tipis.


"Maksud kamu?" Tanyaku heran.


"Aswasada telah di provokasi oleh Alpha. Sekarang Alpha sedang bertapa untuk mempersiapkan diri melawan kita nanti." Ujar Reka.


"Apa? heran deh, apa sih untung nya buat Alpha pake acara balasin dendam Dewari segala!" Ujarku terpancing emosi.


"Dia pengikut setia Dewari, dia merasa hidupnya tidak berarti ketika Dewari tiada!" Jelas Reka.


"Risha, aku pulang ya!" Seru Samba yang keadaannya sudah membaik.


...*°°°°°°°°°°*...


"Ayo lah Anjani, lepaskan aku!" Seru Aswasada yang berada di dalam jeruji di dalam istana di bawah tanah.


"Aku juga berharap bisa melepaskanmu, tapi apa yang akan terjadi setelah kamu bebas?" Ujar Anjani yang sedang melihat keadaan Aswasada.


"Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku berjanji. Aku hanya terpengaruh perkataan Alpha. Tapi setelah kalian menjelaskan semuanya, aku pun mengerti dan mengurungkan niatku untuk balas dendam." Ujar Aswasada penuh harap.


"Baik, akan aku bicarakan dulu bersama Risha dan yang lainnya. Jika mereka setuju, aku akan melepaskanmu." Jawab Anjani berniat mempertimbangkan.


"Anjani, kamu lupa aku ini teman baikmu? Kenapa harus meminta persetujuan orang lain? Kamu Ratu-nya disini." Ujar Aswasada dengan nada memaksa.

__ADS_1


__ADS_2