
Dua orang laki-laki baru saja turun dari mobilnya, lalu bergegas menuju rumah Risha. Bu Wati membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk untuk menunggu di ruang tamu. Tak berselang lama, Mama Erina datang dengan wajah kebingungan.
"Aldi, Samba!" Sapa Mama Erina. Aldi dan Samba kemudian meraih tangan Mama Erina dan mencium punggung tangan nya.
"Aldi mau ngajakin Risha keluar, Tan!" Ucap Aldi bersemangat.
"Tapi Risha baru aja keluar, Al." Sahut Mama Erina.
"Keluar? Kemana ya, Tan?" Tanya Aldi, penasaran karena tak biasanya Risha pergi tanpa memberi tahu Aldi.
"Tante gak tahu, Al. Risha juga gak ngomong dia mau kemana. Dia pergi sama laki-laki, katanya sih, temannya!" Jelas Mama Erina.
"Temannya?" Aldi termangu sejenak, mencoba mengingat teman mana yang dekat sama Risha selain Samba. "Tante tahu gak, siapa nama temannya Risha itu?"
"Itu dia, Tante belum sempat nanyain namanya. Tapi matanya itu berwarna biru, kayak orang barat gitu." Sahut Mama Erina.
"Gak mungkin, Al." Desis Aldi berbisik di telinga Aldi.
"Ya udah, kalau gitu kami pamit ya, Tan!" Ucap Aldi seraya menyalim tangan Mama Erina yang di ikuti dengan Samba.
"Eh, tunggu dulu, Al. Ini ada apa, sih? Kalian kenal sama temannya Risha itu?" Tanya Mama Erina sebelum membiarkan kami pergi.
"Aldi sih gak kenal, Tan. Tapi Samba kayaknya kenal." Sahut Aldi seakan mengerti arti dati bisikan Samba.
"Tante tenang aja, gak ada apa-apa, kok. Kita cuma gak mau ketinggalan aja acara mereka. Risha gak ngajak-ngajak kita, sih!" Sahut Samba berusaha menenangkan Mama Erina.
"Oh, gitu? Ya udah, kalian hati-hati, ya. Tolong bilangin sama Risha, pulangnya jangan kemaleman." Ujar Mama Erina yang tampaknya tidak curiga.
Aldi dan Samba mengangguk lalu pergi dengan tergesa-gesa.
"Lo bilang tadi gak mungkin, apanya yang gak mungkin?" Tanya Aldi seraya mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Ciri-ciri yang disebutin Tante Erina kayaknya itu Reka deh, Al." Sahut Samba menduga-duga.
"Kalau gitu pasti si Reka itu ngajak Risha ke Madavia, Sam." Ucap Aldi menebak.
"Tapi masalahnya, Reka gak mungkin datang ke rumah Risha, Al. Semalam gue datang kesana, dan ketemu Reka. Dia bilang dia belum bisa masuk ke dimensi manusia." Ujar Samba yang membuat Aldi melebarkan matanya.
"Apa? Terus yang datang ke rumah Risha itu siapa?" Tanya Aldi kebingungan.
"Nah, itu dia. Gue gak tahu! Cuma seriusan deh, feeling gue gak enak banget." Ucap Samba seraya mengusap kasar wajahnya.
"Sama, gue juga, Sam. perasaan gue gak tenang banget." Ucap Aldi tampak gelisah.
"Ya, udah. kita pergi ke hutan itu lagi." Ucap Samba yang terpikirkan untuk mencari Risha di Madavia bersama Aldi melalui Altar.
"perjalanan dari Bandung ke Ciamis kan lumayan, Sam. Apa lo gak ada cari lain buat sampe disana lebih cepat?" Tanya Aldi yang membuat Samba mengangkat sebelah alisnya.
"Ya kalau gue sih ada, cuma kalau elo mah tetep aja harus lewat hutan itu." Ujar Samba.
"Terus, lo gimana?" Tanya Samba.
"Gue mau ke hutan itu sekarang, gue juga mau ikut cari Risha di Madavia. Yah, sukur-sukur kalau pas gue datang Risha udah ketemu." Ujar Aldi.
"Ya udah, kalau gitu sekarang juga lo anterin gue ke kosan Risha lagi." Ucap Samba.
Aldi melanjutkan perjalanan nya ke hutan setelah selesai mengantar samba ke kosan Risha. karena Samba tidak mungkin bisa melakukan tirakat untuk meraga sukma di dalam mobil. Sedangkan, Aldi sudah terlalu cemas jika Samba mengikuti perjalanan ke hutan yang berada di daerah Ciamis-Jawa barat yang pasti akan memakan waktu cukup banyak.
"Tinggu!" Seru seorang wanita lebih dulu menghentikan Samba yang baru saja akan masuk ke dalam rumah kost Risha.
Samba menoleh ke arah suara itu berasal. Kemudian, ia mengerutkan dahinya saat melihat wanita cantik yang masih mengenakan pakaian tidur meski hari sudah setengah siang.
"Kenapa kamu masuk ke rumah Risha? Risha nya kemana?" Tanya wanita yang kosan nya bersebelahan dengan rumah Risha. Tentu saja wanita itu ada adalah Rosa.
__ADS_1
"Risha lagi sama Aldi, dan aku kesini mau numpang tidur aja." Jelas Samba dengan santainya, sehingga Rosa sepertinya tidak mencurigainya. "Ada masalah?"
Wanita itu menggeleng. "Ya udah, maaf aku ganggu. aku cuma pengen ketemu Risha aja!"
Sebenarnya Samba ingin sengaja mengajaknya mengobrol, atau mungkin mengajaknya berkencan. Tapi ia tahu, ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan saat ini.
...*°°°°°°°°°°*...
BUUUUUKKHH
Pukulan itu tepat mengenai wajah Reka hingga ia terpelanting membentur batu. Aku sedikit merasa lega, karena orang itu sudah menyelamatkan ku tepat pada waktunya saat Reka hendak mengeluarkan rohku dari tubuhku untuk membangkitkan kembali Dewari yang sudah tiada.
"Reka?" Aku benar-benar terlonjak, mataku terbelalak saat melihat orang yang sudah menyelamatkanku ternyata Reka yang datang bersama Samba. Ingin rasanya aku mengucek mataku kalau saja aku tidak ingat tanganku sedang di ikat.
Oh, rasanya aku mendadak migrain. Namun, aku juga merasa lega, karena ternyata bukan Reka yang sedang berusaha melenyapkanku. Dari awal aku memang sudah curiga, karena meskipun sosok Reka yang aku lihat, tapi hatiku benar-benar tidak merasakan sesuatu yang biasa aku rasakan saat bersamanya.
Tapi, siapa dia?
Siapa yang menjelma sebagai Reka?
"Kamu lepasin aja Risha. Biar aku aja yang urus siluman gak tahu malu ini, karena menyamar sebagai kamu." Ujar Samba yang sudah tidak sabar untuk melawan Reka palsu. Lihat saja, bahkan Samba sudah menyiapkan jimat Hu untuk menyegel siluman itu.
Reka mengangguk, lalu bergegas menghampiriku dan melepaskan tali yang mengikat tanganku. Sontak aku memeluknya histeris dengan mata yang sudah merah dan sembab karena tangisan yang tidak bisa ku hentikan sejak Reka palsu berusaha merenggut nyawaku.
"Reka, aku takut banget. Dia mau bunuh aku!" Seruku menangis histeris dalam pelukannya. Aku merasa sangat ketakutan dan sekarang aku merasa sangat aman berada di pelukannya.
"Tenanglah, Risha. Aku disini, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." Sahut Reka yang membalas pelukanku seraya mengusap-usap punggungku.
"Risha?" Ucap Aldi yang baru saja datang bersama Gama langsung di suguhi pemandangan yang melukai hatinya.
Hatinya seperti tertusuk benda tajam yang menancap begitu dalam. Hatinya Sakit dan wajahnya menunjukan ekspresi kecewa, bahkan putus asa.
__ADS_1
"Aldi?" Aku terperangah saat melihatnya yang kini sudah berdiri di belakang Reka, tepat di depan mataku.