Meraga Sukma

Meraga Sukma
58. Perjalanan Mencari Samba 2


__ADS_3

Aku dan Reka masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi tamu yang terbuat dari bambu yang di modifikasi sedemikian rupa hingga kursi ini terasa nyaman saat aku duduk di atasnya.


"Samsul-nya ada, Mak?" Tanyaku, mencoba membuktikan perkataan Reka.


"Nyaeta (Itu dia) si Samsul teh gak pulang-pulang. Gak tahu kemana, gak ngasih kabar pisan ka emak." Ujar Mak Tati.


Aku hanya mendesah seraya menundukan kepala. Aku sudah tidak tahu harus kemana lagi mencari Samba dan Reka. Mereka hilang tanpa meninggalkan petunjuk. Aku melirik jam dinding kuno, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


"Kalian teh saha kitu? (Siapa gitu)" Tanya Mak Tati ingin tahu. "Mau apa nyariin Samsul?"


"Oh, iya. Mak, kenalin nama saya Risha!" Ucapku seraya mengulurkan tangan ke arahnya dan Mak Tati langsung menjabat tanganku.


"Ini Reka, Mak!" Sambungku seraya melirik Reka yang duduk di sebelahku. Reka mengulurkan tangannya pula, dan Mak Tati menjabat tangannya.


"Kami temannya Samsul, Mak. Kami lagi ada keperluan mendesak sama Samsul soal kerjaan. Jadi kami bela-belain pergi kesini malam-malam begini. Sayangnya Samsul gak ada." Ucapku dengan menatap Mak Tati yang mangut-mangut saat mendengarkanku.


"Haduh, nyaah teuing! (Kasian banget) Ya udah atuh, kalian teh nginep aja disini lah, bahaya pulang malam-malam begini." Ujar Mak Tati dengan logat khas warga Ciamis.


Sebenarnya aku ingin menolak, tapi rasa lelahku seakan menyetujuinya. Apa lagi, Reka malah mengiyakannya. Akhirnya kami setuju untuk menginap satu malam saja di rumah Samsul. Lagi pula ini sudah terlalu malam dan aku sudah sangat mengantuk.


Mak Tati mengantarkan kami pada sebuah kamar yang ternyata adalah kamar Samsul. Lihat saja, banyak foto-fotonya tergantung di dinding kayu dan satu foto terpajang di nakas kayunya.


Mak Tati hanya memberi kami satu kamar, entah karena ia mengira kami suami istri atau memang tidak ada kamar lain yang kosong. Tapi, aku tidak keberatan karena aku merasa aman jika Reka tetap bersamaku. Lagi pula, ia bersedia untuk tidur di lantai.


Tapi, aku merasa tidak tega melihat Reka tidur di lantai. Apa lagi suhu disni sangat dingin dan banyak sekali nyamuk. Baru saja aku akan menyuruhnya berbaring di kasur bersamaku dengan syarat tidur saling memunggungi. Tapi dia sudah berdiri lebih dulu. Mungkin dia kedinginan!


"Risha, aku harus kembali ke Madavia. Energiku sudah terkuras banyak dengan berada di dimensi manusia terlalu lama." Ujar Reka tampak lemas.


"Hah?" Aku pikir dia sedang kedinginan dan akan berdiri untuk pindah ke kasur. Ternyata dia akan meninggalkanku disini, membiarkanku sendirian di kamar ini.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan pergi dari sini setelah Gama datang!" Ucap Reka yang mengerti kecemasanku.

__ADS_1


"Kenapa Gama akan datang? Emang Gama tahu kalau kita lagi disini?" Tanyaku heran.


"Kami berkomunikasi dengan telepati. Besok pagi, datang lah ke Madavia. Kita cari petunjuk disana" Ujar Reka yang bekum mendapatkan setuju dariku.


"Tapi gimana kalau nanti Mak Tati syok, liat wajah laki-laki yang dia lihat semalam jadi berbeda?" Tanyaku, masih mempertimbangkan.


"Gama akan merubah wujudnya menyerupai aku." Sahut Reka, dan akhirnya aku tidak bisa apa-apa lagi untuk tetap menahan Reka.


Tidak lama setelah itu, Gama datang dan ia merubah wujudnya di depan mataku. Ia hanya memutar badannya dan tarraaa, dia berubah jadi Reka.


Esok paginya, aku berpamitan pada Mak Tati. Kemudian, bergegas bersama Gama ke hutan yang tidak terlalu jauh dari rumah Mak Tati untuk pergi ke Madavia. Dengan perbedaan waktu yang terbalik, aku merasa seakan hanya menikmati pagiku sangat singkat.


"Gimana? Kamu nemuin petunjuk atau apa, gitu?" Tanya pada Reka saat kami sampai di rumah pohonnya.


"Belum!" Sahut Reka seraya menggeleng.


"Siluman itu belum kembali ke Madavia!" Seru Gama. "Kalau siluman biasa, pasti dia tidak akan mampu berlama-lama tinggal di dimensi manusia. Pasti dia adalah siluman yang sudah berumur ribuan tahun!"


"Iya, Risha!" Sahut Reka. "Siluman bisa hidup sampan ribuan tahun. Tidak seperti manusia pada umumnya."


"Dewari bahkan sudah berumur dua belas ribu tahun!" Seru Gama. "Kalau tidak mati, dia masih bisa hidup beberapa ribu tahun lagi."


"Astaga!" Gumamku, terperangah.


"Jika bukan Dewari, pasti Alpha!" Ujar Reka menebak. "Dia tidak pernah terlihat sejak Dewari tiada."


"Aku juga berpikir begitu!" Sahut Gama. "Karena hanya dia yang lebih tua di Madavia. Bahkan, dia lebih tua dari Dewari."


"Kayaknya masuk akal." Aku menyahut. "Soalnya, dia pengikut setia Dewari, kan?"


"Sudah, kita lanjutkan pencarian ini nanti. Pulang lah dulu." Kata Reka. "Gama kamu antar Risha pulang, energiku masih belum pulih."

__ADS_1


...*°°°°°°°°°°*...


"Gimana, Ros?" Tanya Ci Yuzzy yang sedang menyuruh Rosa menghubungi Risha.


"Ponselnya gak aktif, Ci!" Sahut Rosa yang malah mendapati suara dari operator.


"Gimana sih, Risha sering banget bolos. Di tambah lagi dengan Reka, apa lagi dia baru aja di terima kerja kemarin, hari ini udah ikut-ikutan bolos." Ujar Ci Yuzzy penuh amarah.


"Kemarin sih, mereka pergi berdua. Bilangnya mau nganterin mobil Mamanya yang udah Risha pinjam." Ujar Rosa.


Ci Yuzzy berdecak kesal. "Gimana sih, udah tahu peranan Reka penting banget disni. Malah gak kerja! Nanti kalau Risha pulang, tolong bilangin sama dia, gak usah kerja lagi disini. dia di pecat!"


...*°°°°°°°°°°*...


"Gimana hubungan kamu sama Anjani? Aku udah lama gak ketemu sama kembaranku itu. Gimana ya, kabarnya?" Tanyaku seraya mengemudikan mobil menuju pulang ke kost-an.


"Anjani baik-baik saja, dia juga sering menanyakan kabar kamu padaku. Kalian itu memang kembar, tapi memiliki sifat yang berbeda." Ujar Gama yang kini duduk di jok sebelahku.


"Sifat yang berbeda gimana, maksudnya?" Tanyaku tidak mengerti.


"Kamu itu lembut, kalau Anjani itu kasar!" Sahutnya uang membuat aku mengerutkan dahi.


"Kasar gimana?" Tanyaku heran.


"Iya, dia itu pemarah!" Sahut Gama singkat, seakan tidak ingin percakapan ini menjadi panjang.


"Tapi aku yakin kok, kalau hati Anjani baik. Makanya dia mau menghormati Ratu Sundari buat nikah sama kamu." Ujarku menyimpulkan.


"Itu hanya demi jabatan saja, Risha. Dia tidak benar-benar menerimaku." Bantah Gama.


"Kok, gitu?" Tanyaku tidak percaya.

__ADS_1


"Dia tidak akan bisa di tobatkan sebagai Ratu kalau tidak menikah dengan putra pertama Ratu Sundari, yaitu aku. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, kalau ingin menjadi Ratu, tentu dia harus menikah denganku dan merelakan Reka mencintai wanita lain."


__ADS_2