
Sebenarnya aku ingin menolak ajakan Aldi untuk pergi ke Madavia, tapi ia tetap bersikukuh dengan keputusan nya. Aku juga tidak ingin membiarkan nya pergi sendiri setelah apa yang sudah Anjani lakukan ada Aldi.
Aku tidak tahu bagaimana perkembangan Reka menyelesaikan masalah nya dengan Anjani. Mungkin aku bisa merasa lebih tenang jika ia berhasil menghukum Anjani, tapi kalau Anjani masih berkeliaran di Madavia aku khawatir dia akan menculik Aldi lagi.
Aku tidak pernah menginginkan Reka menghukum Anjani sebenarnya, tapi jika kebebasan Anjani menjadi ancaman bagiku, maka tidak ada cara lain selain membuatnya bernasib sama dengan Aswasada.
Selama ini aku menyayangi Anjani, aku ingin melihat nya bahagia. Bahkan aku selalu bahagia saat ia merasa bahagia, namun entah bagaimana dia bisa setega itu menculik Aldi dan membuatku putus asa.
Lagi pula, kesalahan apa yang sudah aku perbuat padanya hingga ia harus menyimpan dendam padaku. Bukan kah selama ini hubungan kami selalu baik-baik saja dan ia selalu bersikap baik padaku.
Aku dan Aldi pergi ke Madavia melalui jalur peti. Sesampainya di Altar, kami bergegas menuju rumah Reka. Namun tiba-tiba kami melihat sekelebat sosok yang entah itu apa dan siapa. Sosok itu berhasil menghentikan langkah kami sejenak, membuat kami saling bertukar pandang dan mencoba mencari kembali sosok yang berkelebat itu.
"Udah lah, kita lanjutin perjalanan kita. Mungkin tadi cuma siluman yang lagi terburu-buru." Ujar Aldi seraya menggamit tanganku dan mulai melangkah kembali.
Sebenarnya aku sedikit merinding, entah bagaimana tengkukku terasa dingin. Tidak seperti biasanya, kali ini aku dapat merasakan sesuatu yang membuat jantungku berdetak cemas.
Di tengah perjalanan, aku merasa sedang di ikuti. Aku bahkan sudah beberapa kali menoleh ke belakang namun tidak menemukan apapun. Aku berusaha berpikir bahwa mungkin itu hanya perasaanku saja, tapi bahkan kali ini suara seperti langkah kaki yang di seret tetdengar begitu jelas.
Namun setiap aku menoleh ke belakang, aku masih saja tidak menemukan apapun. Padahal di Madavia matahari sedang terbit, entah bagaimana pikiranku malah menjadi paranoid.
"Bayi.." Suara serak menyeramkan tiba-tiba sudah berada di hadapan kami saat kami menoleh lagi ke depan.
Sosok menyeramkan itu tampak sedang mengendus-endus seraya merangkak menghampiri kami. Astaga, aku baru ingat sosok Ummu Syiba yang di ceritakan Reka. Mungkinkah sosok menyeramkan itu adalah Ummu Syiban? Gawat!!
"Bayi.." Sosok menyeramkan itu semakin mendekat dan ia mulai mengulurkan tangannya ke arah perutku.
"Risha..." Teriak Aldi, matanya mengikuti aku yang kini tengah di bawa melesat oleh seseorang, menyelamatkan aku dari Ummu Syiban, membiarkan Aldi tertinggal disana.
...***...
__ADS_1
"Kenapa kamu malah bawa aku pergi, sih?" Aku menatap Reka emosi. Aku tidak ingin berterimakasih karena ia telah menyelamatkan aku jika itu membuat nyawa Aldi terancam.
Bagaimana Reka bisa seegois itu, meninggalkan Aldi hanya untuk menyelamatkan aku. Tentu saja ini tidak adil bagi Aldi.
"Sudah aku bilang kamu tidak boleh datang kesini lagi jika tidak bersamaku." Reka mencekal kedua lenganku, membuat tubuhku nyaris menempel dengan tubuhnya.
Aku mendorongnya pelan, membuat ia melepaskan cekalan nya lalu aku memutar badanku dan membelakanginya. "Aku terpaksa datang kesini karena Aldi keukeuh mau ketemu kamu buat minta maaf. Aku gak bisa ngebiarin dia pergi sendirian karena aku takut Anjani akan nyulik Aldi lagi. Dan sekarang kamu malah bikin aku harus ninggalin dia bersama Ummu Syiban. Gimana kalau sampe Ummu Syiban nyakitin Aldi?"
Reka meraih pundak ku dan memutar kembali badanku seolah ia ingin aku menatapanya. "Kamu tenang saja, Ummu Syiban tidak akan menyakiti Aldi. Dia hanya mengincar janin yang ada di perut kamu, Risha!"
"Tapi tetep aja aku gak tenang, gimana kalau Anjani nyulik Aldi lagi?" Kali ini aku menatapnya, aku memberi tatapan intimidasi.
Reka tertegun, ia seakan mengerti kecemasanku. Dan aku dapat mengartikan ekspresi itu, tubuhku seketika lemas saat ia menunjukan keputus asaan dalam tatapannya.
"Dimana Anjani sekarang?" Tanyaku menyelidik.
Reka masih membeku, seakan ia ragu untuk memberi tahu aku apa yang sebenarnya telah terjadi. Kemudian ia melepaskan cekalan nya dan mulai berjalan pelan ke arah balkon.
"Maafkan aku, Risha. Di saat dia sudah terpojok karena kebohongan nya telah terbongkar, dia malah berhasil melarikan diri." Reka tertunduk seakan tidak berani menatapku lagi.
DEG
Itu artinya Anjani masih berkeliaran di Madavia, dan itu artinya masalah ini belum selesai. Hatiku semakin dilanda kecemasan, aku sudah tidak memikirkan tentang keselamatan ku dan aku tidak peduli apapun yang mengancam nyawaku. Aku hanya peduli dengan keselamatan Aldi, aku tidak ingin kehilangan dia lagi.
Aku bergegas pergi dari rumah pohon ini jika saja Reka tidak cepat-cepat menghadangku. Aku menatapnya sebentar dengan tatapan kesal, lalu mendorongnya dan lekas berlari.
"Risha, tunggu!" seru Reka seraya mengejarku.
...***...
__ADS_1
"Ternyata bener, kamu udah pulang duluan!" Aku menghela nafas lega saat melihat Aldi sudah berdiri mematung di depan cermin, di ruangan Kakek Sukma.
Aku memutuskan kembali saat aku dan Reka tidak berhasil menemukan Aldi di Madavia. Sebelumnya aku menentang ucapan Reka yang mengatakan bahwa Aldi sudah kembali karena takut dengan Ummu Syiban.
Tapi aku tahu Aldi bukan seorang pengecut yang akan lari begitu saja tanpa memikirkan aku. Meski Reka benar kalau Aldi telah kembali, namun aku tetap tidak setuju kalau Aldi kembali karena takut.
"Kemana aja kamu?" Aldi menatapku dengan tatapan kecewa. Ia mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arahku.
Reka tidak bisa berbuat apa-apa, dia sudah terlanjur ikut kemari dan ia tidak bisa kembali begitu saja. Lagi pula, Reka ikut kemari untuk menemui Aldi yang ingin bertemu dengan Reka. Reka tidak ingin menyela, ia hanya bisa menyaksikan kejadian ini sampai ia mendapatkan kesempatan untuk bicara.
"Tadi Reka_" sahutku terpotong.
"Di saat hantu itu menghadang jalan kita, kamu malah pergi sama laki-laki itu, Risha? dimana hati kamu? Kamu tega ninggalin aku sendirian dan nyelamatin diri kamu sendiri." Aldi terus melangkah dan mendekat, sedangkan aku terus melangkah mundur dan menghindar.
Entah kenapa tatapan nya tampak menyeramkan, dan ini pertama kalinya aku melihat tatapan seperti itu selama bersamanya.
"Aldi, aku gak_" lagi-lagi ucapanku terpotong disaat dinding di ruangan Kakek Sukma menghalangi langkahku sehingga aku tidak bisa memundurkan kembali kakiku.
"Udah, kamu gak perlu jelasin apa-apa." Aldi berada tepat di depanku.
BLUSSSKK
Aku tidak memekik saat sebilah pisau itu menusuk diperutku, aku malah merasa sesak dan kehilangan suaraku. Aku meneteskan air mata saat menatap mata teduh laki-laki yang selalu mencintaiku, tidak tahu apa yang sudah merasukinya hingga ia bisa berbuat setega ini padaku.
"Risha..." Suara teriakan Reka masih bisa aku dengar dengan jelas, aku masih sadar meskipun darah tidak berhenti keluar dari perutku.
"Aldi, kenapa?" tanyaku lirih, memandang Aldi dengan tatapan tidak percaya serta air mata yang berderai.
Aku memegangi perutku yang masih tertancap sebilah pisau, mencoba menahan rasa sakitnya serta aliran darah yang terus mengalir. Pandanganku mulai sedikit kabur, tubuhku tak sanggup lagi menopang beban tubuhku hingga aku mulai terhuyung-huyung.
__ADS_1
Reka berhasil menangkap tubuhku sebelum aku jatuh ke lantai. Kemudian, ia memandang Aldi dengan tatapan emosi berpadu sendu.
"Kau..!!" panggil Reka menatap kalut pada laki2 di depannya itu dengan penuh tekanan. "Siluman licik!"