
Ada sedikit perasaan lega setelah Aldi di temukan dan aku dapat merasakan kembali setiap hangat nya pelukan Aldi. Aku yakin, orang tua Aldi sekarang merasa sangat tenang dan bahagia dengan kembali nya anak semata wayang nya itu.
Tapi, kalimat Aldi tentang pelukan itu selalu terngiang di telingaku. Seakan menyisakan sedikit ruang untuk merasakan kesesakan hati di antara kelegaan itu.
Mana mungkin aku rela, orang lain ikut menikmati pelukan Aldi meskipun itu saudariku sendiri. Lantas, mengapa Anjani melakukan ini padaku? Apa dia masih menyimpan dendam dalam hatinya?
Entahlah, aku berharap tidak perlu lagi berurusan dengan Madavia. Lagi pula semua itu harusnya sudah berakhir sejak aku berhasil membebaskan Putri Kalingga dan menghubungkan nya dengan Altar. Itu adalah misi terkahir setelah aku menyelesaikan misi-misi lain nya di Madavia.
Meski sebenarnya hasratku seolah memaksa untuk bertemu Anjani dan bertanya tentang alasan mengapa dia melakukan semua ini padaku. Tapi aku mencoba menahan diriku dan memilih untuk memaafkan serta melupakan semuanya.
Mentari pagi bersinar cerah hari ini, aku sudah bersiap-siap pergi ke rumah Aldi untuk menemani Mama Aldi belanja perlengkapan hantaran pernikahan. Namun, baru saja aku membuka pintu keluar, tiba-tiba Aldi sudah berada di depanku sontak mengagetkanku.
"Ya ampun, sayang! Sejak kapan kamu disitu?" aku sedikit mendongak untuk menatapnya.
"Baru aja aku mau ketuk pintu tadi, tapi keduluan sama kamu!" sahut Aldi tersenyum tipis.
"Tapi harus kenapa kesini? Aku kan mau ke rumah kamu!" Kataku seraya menutup pintu rumahku.
"Justru itu aku gak mau kamu pergi sendirian, aku yang akan antar jemput kamu seperti biasanya!" Ucap Aldi, kemudian ia meraih pergelangan tanganku lalu membawaku pergi bersamanya.
...*°°°°°°°°°°*...
Saat ini Anjani tengah berjalan santai menuju rumah pohon Reka yang di temani oleh Gama, para siluman yang di temui Anjani dan Gama di sepanjang jalan tampak tersenyum dengan sedikit membungkuk. Terlihat Anjani membalas setiap senyum penduduk desa yang menjadi rakyatnya, seolah ia adalah seorang ratu yang sangat ramah dan di segani oleh semua penghuni Madavia.
__ADS_1
Gama tampak tersenyum bangga melihat pemandangan itu. Dia hanya tidak pandai saja mengartikan setiap senyum yang di sunggingkan oleh Anjani. Selama ini Gama selalu berada di dalam gua, ia tidak terlalu sering pergi ke istana. Bahkan Gama tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Risha dan Aldi, Reka pun belum sempat menceritakan nya pada Gama.
"Reka, bagaimana keadaan Risha? Apa ada perkembangan dari Aldi?" Tanya Anjani menunjukan simpatinya saat mereka telah sampai di rumah Reka.
Terlihat Reka tengah tersenyum di sebelah bibirnya memandang Anjani dengan tatapan bengis. "Sudah lah! tidak perlu berpura-pura lagi, Anjani. Aku tahu kamu hanya ingin memastikan bagaimana Risha menemukan Aldi, bukan?"
"Reka, kenapa kamu bicara seperti itu?" Tanya Anjani pula, kali ini ia menunjukan wajah tidak berdosa.
"Aku sudah mengetahui semuanya, Anjani." Ujar Reka, sontak membuat Gama dan Anjani mengerutkan dahinya.
"Mengetahui apa maksudmu, Reka? Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Gama yang dibuat penasaran oleh percakapan itu.
"Wanita ini yang telah menculik Aldi, Gama!" Imbuh Reka seraya menunjuk ke arah wajah Anjani.
"Tidak Gama, bukan aku yang melakukan itu." Anjani menggeleng ke arah Gama yang kini tengah menatapnya seraya mengerutkan dahinya seolah ia sedang berusaha menebak ekspresi raut Anjani.
"Wanita ini terlalu banyak menyimpan dendam, dia sengaja terlihat baik di depan kita agar dia bisa menjadi musuh dalam selimut." Ucap Reka, sontak Anjani melebarkan matanya. Saat ini Anjani merasa heran, entah sejak kapan Reka menjadi peramal karena ramalan nya itu semua benar.
"Kenapa kamu melakukan itu, Anjani?" Tanya Gama, menatap Anjani dengan putus asa.
"Aku tidak_" Dalih Anjani terpotong. Reka bahkan tidak ingin memberinya kesempatan untuk berdalih dan meracuni pikiran kakak nya itu.
"Dia sudah bukan Anjani yang kita kenal dulu, Gama. Hatinya sudah mati bersama raganya, dan yang kini berada di hadapan kita adalah jin kajiman atau jin pendamping Anjani saat masih hidup. Itu sebabnya kenapa aku kehilangan rasa cintaku padanya, karena aku sudah tidak merasakan cinta itu di dalam hatinya." Ujar Reka menatap tajam mata Anjani.
__ADS_1
"Tapi bukan kah kita memang mengetahui itu, Reka? dan kita sudah sepakat memberi Anjani kesempatan untuk tinggal di Madavia agar bisa menjadi Ratu dan menikah denganku." Ujar Gama seakan-akan ia ingin membela Anjani.
"Aku tahu, Gama. Tapi wanita itu hanya berpura-pura menerimamu untuk memudahkan rencananya membalas dendam kepada Risha." Ujar Reka, membuat Anjani tidak bisa lagi berkata-kata.
...*°°°°°°°°°°*...
Setelah menghabiskan waktu empat jam berkeliling di mall dan toko perhiasan, akhirnya aku dan Aldi pulang ke rumah nya dengan membawa tas belanjaan yang cukup banyak. Bahkan tas belanjaan itu hampir memenuhi jok belakang mobil.
Di rumah Aldi, Mama Aldi memintaku untuk mencoba kembali pakaian dan sepatu yang sudah ia belikan untuk memastikan ukurannya benar-benar cukup bagiku.
Aku mencoba memakai kembali beberapa pakaian dan sepatu yang nantinya akan menjadi hantaran pernikahan. Hatiku berbunga-bunga dengan senyum yang melebar saat aku memakai semua itu dan menunjukan nya pada Aldi serta ibunya. ini membuatku semakin merasa tidak sabar untuk menyambut hari pernikahan kami.
"Kamu cantik banget sayang!" seru Aldi saat melihatku mengenakan pakaian mini dress dengan renda-renda berwarna dusty di sekitar lenganku.
Aku tersenyum, sedikit tersipu mendengar pujian itu. Ini adalah salah satu baju yang sedang aku coba kembali, seandainya baju ini bukan untuk bahan hantaran pernikahan pasti aku tidak akan melepaskannya lagi dari tubuhku.
Cahaya sang mentari sudah tidak terlalu menyilaukan, langit sore ini terlihat oranye oleh mega. Aku melirik jam di ponselku, waktu menunjukan pukul 17:10 Wib. Akhirnya aku berpamitan pulang pada orang tua Aldi, dan bergegas pergi bersama Aldi.
"Kapan ya Reka kesini lagi, atau mungkin kita yang harus pergi ke Madavia?" Ujar Aldi yang kini tengah menyetir mobilnya.
DEG!!
Aku tersentak kaget mendengar ucapan Aldi. Sontak aku menolehnya dengan tatapan tidak percaya. Aku sudah bilang, aku tidak ingin berurusan lagi dengan Madavia. Bagaimana bisa Aldi akan membuatku kembali ke desa siluman itu disaat aku sedang berusaha menghindarinya!
__ADS_1