Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 36


__ADS_3

Setelah melepaskan secarik kertas itu dari dahi Gama, Reka dan Sagara. Kami duduk melingkar di depan api unggun. Laki-laki itu ternyata adalah manusia yang berkelana ke Madavia dengan ilmu meraga sukma. Aku mengenalkan diri serta ketiga temanku pada laki-laki itu. Kemudian, aku menceritakan bagaimana awal kedatangan ku ke Madavia.


"Jadi begitu,?! Aku mengerti sekarang. Maaf karena aku udah menyerang kalian." Ucap Laki-laki itu tampak merasa bersalah.


Gama dan Reka menanggapinya dengan anggukan yang membuat laki-laki itu mengerti bahwa mereka telah memaafkan perbuatan nya. Numun, Sagara masih tampak kesal. Matanya begitu sinis memandang laki-laki di depan nya.


"Enak saja, sudah hampir membunuh kami semuanya selesai hanya dengan kata maaf saja?" Protes Sagara.


"Loh, aku kan gak tahu kalau kalian itu siluman yang baik." Sahut laki-laki itu.


"Tidak bisa! Aku mau minta ganti rugi." Ucap Sagara yang membuat laki-laki itu mengerutkan dahi.


"Ganti rugi?! Hey, aku bahkan gak ngerugiin kalian. Kenapa minta ganti rugi?" Ujar laki-laki itu keberatan.


"Udah dong, jangan berdebat terus itu gak ada gunanya." Ucapku melerai. "Maafin Sagara, yah. Dia cuma salah dalam penyampaian nya aja, kok!"


Sagara tercekak, sontak ia menolehku dengan tatapan kesal. Ia pikir aku telah mengkhianatinya dan lebih membela orang asing ini.


"Saga, ganti rugi yang di maksud sama kamu itu adalah dengan cara bekerja sama, kan?" Tanyaku menebak. Tatapanku sepertinya berhasil membuat Sagara mengerti. Ia mengangguk terpaksa.


"Bekerja sama untuk apa?" Tanya laki-laki itu seraya mengangkat sebelah alisnya.


"Untuk mengalahkan Agrapana dan membantu aku terbebas dari alam ini dengan lega." Ujarku.


Laki-laki itu menghembuskan nafas berat kemudian, ia memandangku sejenak lalu mengangguk mantap. "Aku setuju. Tugasku memang membasmi siluman yang jahat."


Aku tersenyum damai. Tentu saja aku merasa senang karena menemukan seorang teman yang juga manusia seperti aku. Selain itu, aku akan lebih mudah mengalahkan Dewari dengan bantuan laki-laki itu.

__ADS_1


"Jadi aku harus panggil kamu apa?" Tanyaku yang masih penasaran dengan nama laki-laki itu.


"Mungkin, sayang! Aku rasa itu cukup romantis." Gurau laki-laki itu.


Kali ini Gama dan Reka yang tercekat dengan mata terbelalak. Mereka menoleh ke arah laki-laki itu secara bersamaan dengan bengis.


"Hey, kenapa wajah kalian begitu?" Tanya laki-laki itu pada Gama dan Reka kemudian, ia menoleh ke arahku dan memicingkan mata lalu tertawa sekilas. "Oh, rupanya kalian tidak terima, ya? Aku tahu, tenang aja! Aku gak akan ganggu persaingan kalian, kok!"


"Persaingan?" Tanya Gama dan Reka serempak.


"Eh, ayolah. Kita bahas ini dengan serius." Ucapku lagi-lagi melerai.


Laki-laki itu tersenyum tipis ke arahku. "Aku samba! Aku adalah seorang pemburu siluman. Sebab itu aku menyegel teman-teman kamu dengan jimat Hu ini." Jelas Samba seraya menunjukan secarik kertas berwarna merah yang sempat menyegel Reka, Gama dan Sagara. Kemudian, ia memasukan jimat itu ke dalam sakunya. "Terus, dimana Agrapana? Aku penasaran dengan sosok naga putih yang kamu ceritakan!"


"Ada di istana!" Sahutku yang sontak membuat ketiga temanku mengerenyitkan dahi.


"Kenapa di istana?" Tanya Reka penasaran.


"Yang benar saja, Istana adalah singgasana Dewari." Kali ini Sagara yang berbicara.


Aku mengehela nafas. Kemudian, menatap mereka dengan ragu. "Itu dia yang mau aku ceritakan sama kalian. Cincin yang Reka kasih ke aku, udah aku pasangkan di mata burung elang yang kemudian menarik aku pergi ke masa lalu dan melihat kejadian 20 tahun yang lalu saat Ratu Sundari meninggal, saat kakek Sukma datang membawa Anjani ke Madavia, saat kalian menangisi ibu kalian bahkan saat Gama dikurung Anjani. Aku tahu, aku udah lihat semuanya!"


"Benarkah? Aku benar kan, Risha? Saat itu aku melihat Anjani ada dua. Satu dengan Reka dan satunya lagi tengah bersama Gama." Ucap Sagara.


Aku mengangguk. "Benar, Saga enggak bohong. Yang mengurung Gama bukan Anjani."


Aku menceritakan segalanya dari awal hingga akhir dari apa yang telah aku saksikan. Mereka mendengarkan ku dengan seksama. Mata Reka dan Gama mulai berkaca-kaca. Mereka menggelengkan kepala seakan sukar menerima kenyataan. Apalagi Gama yang tampak begitu kalut.

__ADS_1


"Jadi maksud kamu, Agrapana adalah Dewari?" Tegas Gama dengan tatapan tidak percaya.


Aku mengangguk prihatin. "Aku tahu, ini sangat berat buat kamu. Apalagi buat Anjani, Gama. Aku gak bisa ngebayangin gimana sakit hatinya Anjani saat dia tahu yang bikin dia mati adalah wanita yang selama ini dia panggil ibu."


"Sebenarnya aku sudah curiga. Dewari memang sangat ingin menjadi ratu hingga adik nya sendiripun ia lenyapkan. Dewari ingin menguasai Madavia dengan memiliki mustika ular itu." Ucap Sagara meyakini kecurigaan yang ia pendam selama bertahun-tahun.


"Serakah banget! Siluman kaya gitu yang pantas aku enyahkan." Ucap Samba dengan wajah gusar.


"Hey, jangan gegabah! Dewari bahkan mampu mengalahkan Sundari. Apalagi kamu!" Ucap Sagara mengingatkan.


"Eh, kamu jangan meremehkan kekuatan aku. Apa kamu belum pernah dengar, siapapun yang berhasil masuk ke dimensi ini dia adalah orang yang berilmu tinggi." Sahut Samba memprotes.


"Sudah lah, gak ada guna nya berdebat. Kita harus membuat rencana." Ujarku


"Benar. Kayanya aku tahu. Boleh aku mengutarakan ideku?" Tanya Samba.


"Apa ide kamu?" Tanya ku ingin tahu.


"Dewari gak tahu kalau kita udah tahu rahasia dia, kan?! Kamu ajak dia ke hutan sebagaimana dulu dia ngajak Gama ke hutan terus, kamu dorong dan kurung dia kaya yang udah dia lakuin sama Gama." Ujar Samba memberi saran.


"Sebenarnya aku tidak suka sama orang itu. Tapi, aku pikir itu saran yang bagus. Kita bisa mengalahkan nya dengan mudah tanpa harus bertarung dengan nya." Ucap Sagara.


"Maksud kamu?" Tanyaku.


"Kita bikin sebuah sangkar untuk mengurung Dewari yang terbuat dari pagar gaib. Jika kita berhasil, pagar gaib itu akan langsung membakar tubuhnya sampai menjadi abu." Jelas Sagara.


"Aku setuju!" Seru Gama. "Dia memperlakukan aku seperti itu. Sekarang aku dia juga merasakan penderitaan yang aku alami karena ulah nya."

__ADS_1


"Aku juga setuju!" Ucap Reka. "Bertarung dengan nya terlalu beresiko dengan keselamatan Risha. Itu yang di sebut menyerang dengan akal, bukan dengan tenaga."


Kami mulai menjalankan rencana ini. Pertama-tama Aku mencabut semua pagar gaib yang mengelilingi rumah lindung. Dengan bantuan Samba, aku mulai membuat sebuah sangkar dari pagar gaib itu. Sedangkan Yang lain nya hanya membantu mengarahkan saja karena tidak bisa menyentuh pagar gaib itu.


__ADS_2