
"Hilang?!" seru Reka sontak tercengang saat Samba menceritakan batu giok berisi khodam Anjani telah di curi orang.
Setelah mendengar jawaban dari Mak Tati bahwa seseorang telah mengambil giok itu dengan mengaku kalau ia di suruh oleh Samba, kami segera bergegas pergi ke Madavia untuk menemui Reka dan Gama juga Aswasada yang kini telah berpihak pada kami melalui portal di hutan yang dijaga putri Kalingga untuk mencari tahu tentang Alpha yang saat ini menjadi objek kecurigaan kami.
"Iya, Ka. Kami semua sih, curiga sama Alpha. Siapa lagi kalo bukan dia, iya kan?" Sahutku menyampaikan kecurigaan yang telah kami sepakati.
"Siapapun pencurinya, dia gak akan bisa bebasin Anjani dari giok itu. Hanya aku yang bisa ngebebasin dia kembali." Ujar Samba, membuat kami semua sedikit bernafas lega. Sedikit.
"Memang! tapi jika pencuri itu adalah manusia, itu akan sangat berbahaya karena manusia itu akan menjadi tuannya dan Anjani bisa saja mempengaruhi manusia itu untuk melawan kita." Jelas Reka, tampaknya hanya dia yang tidak ikut serta dalam bernafas lega.
"Benar, manusia bisa berubah menjadi iblis saat mereka bersekutu dengan kajiman." Sahut Aswasada dengan ekspresi cemas.
"Walau bagaimanapun, kita harus menemukan giok itu kembali." Ujar Reka berambisi.
"Btw kalau Alpha kayaknya gak mungkin deh, karena kata nenek aku orang yang udah bawa giok aku itu cewek woy!" seru Samba, ia tiba-tiba merubah objek kecurigaan yang sebelumnya telah kami sepakati bersama.
"Tapi kan Alpha bisa aja nyamar jadi cewe, Sam!" sahutku, mencoba meyakinkannya kembali.
"Iya juga, sih. Jalan satu-satunya kita harus cari Alpha!" seru Samba seraya manggut-manggut.
"Aku tahu dimana Alpha, waktu itu aku bertemu dia di batas Madavia!" seru Aswasada.
Tanpa bertele-tele lagi, akhirnya kami bergegas ke batas Madavia untuk mencari Alpha. Benar saja, kami menemukan Alpha disana. Namun sayang keadaanya tidak seperti yang kami harapkan.
kami sudah repot-repot menyiapkan siasat untuk melawan Alpha, kami bahkan berpikir akan menemukan banyak jebakan disana. Tapi ternyata kini Alpha tengah terbaring sekarat tidak berdaya.
__ADS_1
"Astaga, bahkan kami belum ngelakuin apa-apa sama kamu. Tapi kamu udah kalah duluan!" ujar Samba dengan polosnya. Dia malah tidak terlihat panik sama sekali saat kami semua justru memburu Alpha yang tengah tersungkur di tanah.
"Alpha, siapa yang telah melakukan ini padamu?" tanya Aswasada mewakili pertanyaan kami semua yang dibuat penasaran oleh keadaannya.
Mata Alpha mengarah pada Aldi yang kini tengah berjongkok di sebelahku. Aku mengikuti arah mata itu dan menatap Aldi dengan perasaan tidak mengerti. Kemudian, tangan Alpha tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Aldi dengan sangat erat.
Tatapan nya begitu tajam dan aku benar-benar tidak dapat mengartikan tatapan itu. Aku hanya merasa jika aku yang memiliki tatapan itu, maka akan aku lemparkan pada orang yang telah sengaja ingin berurusan denganku dan aku berharap untuk membalasnya.
"Alpha, giok Anjani hilang di curi orang. Apa kamu yang udah nyuri giok Anjani?" tanyaku lirih, berharap ia akan mengakuinya atau setidaknya jika bukan dia yang mencurinya, dia mengetahui siapa orangnya.
"Tidak!" Bantah Alpha dengan suara tersengal. "Bukan aku, tapi di_"
Hanya itu kata-kata terakhirnya dan kami tidak mendapatkan jawaban apapun selain kegelisahanku yang memikirkan tatapan nya yang tidak ingin aku artikan negatif.
Alpha lenyap sebelum kami melenyapkannya. Tapi siapa yang telah melakukan itu padanya, dan siapa yang sudah mencuri giok itu jika bukan Alpha. Aku pikir musuhku sudah terkalahkan semua, aku tak terpikirkan memiliki musuh lain lagi selain mereka yang kini telah lenyap semua kecuali Anjani yg itupun trlah tersegel rohnya.
Di depan pintu rumahku ini, aku mendengar kata-kata Aldi yang entah kenapa terdengar kalau dia sedang ingin berpamitan dengan menggunakan bahasa yang yang dibuat semanis mungkin.
"Iya!" sahutku malas, aku bahkan menolak untuk menyunggingkan senyum meskipun hanya terpaksa sekalipun. "Lagian aku juga udah cape banget, kebetulan kamu gak mau mampir jadi aku mau langsung tidur."
...***...
"Mana gioknya?" tanya laki-laki seraya mengangkat tangannya, di arahkannya pada seorang wanita yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya dipinggir jalanan yang tidak terlalu ramai bahkan nyaris sepi.
Wanita berambut panjang sedikit ikal berwarna pirang itu menyunggingkan senyum di sebelah bibirnya seraya menatap laki-laki itu dengan tatapan nakal.
__ADS_1
"Mana duitnya?" jawab wanita yang mengenakan jaket jeans crop itu dengan santainya ia balik meminta.
Laki-laki itu kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan segepok uang yang telah dibungkus amplop coklat.
"Sesuai kesepakatan kita!" seru laki-laki itu seraya menyerahkan uang itu pada wanita yang kini berada di sebelahnya.
"Gitu, dong!" seru wanita itu seraya membuka amplop coklat itu, kemudian ia menghitung lembaran uangnya dengan begitu gesit. Setelah usai menghitungnya, ia merogoh saku jaketnya dan memberikan sebuah batu giok pada laki-laki itu. "Sesuai kesepakatan kita, kan?"
Laki-laki itu lekas mengambilnya, kemudian lekas memasukannya kedalam saku celananya setelah cukup lama ia mengamati batu giok itu.
"Ingat ya, gak ada yang boleh tahu soal ini." Ujar laki-laki itu terdengar mengancam.
"Kenapa, Al?" Tanya wanita itu penasaran. "Seberharga apa sih giok itu emangnya? sampe lo gak mau semua ini diketahui orang-orang bahkan Risha, calon istri lo sendiri."
"Bukan urusan Lo, Mir!" jawab laki-laki yang tak lain adalah Aldi. "Urusan kita udah selesai, lo ambil gioknya dan gue kasih duitnya. Beres udah, gak usah banyak tanya."
"Okey!" seru wanita itu yang tak lain adalah Mira. "Tugas gue udah beres, gue juga udah dapet duitnya. Jd sekarang lo pengen gue pergi?"
"Ya emangnya mau ngapain lagi?" tanya Aldi malas. "Lagian gue juga mau balik, kok!"
"Okey! tapi lo harus inget, Al. Gue jaga rahasia lo dan lo juga harus jaga rahasia gue. Gak ada yang boleh tau keberadaan gue termasuk Risha!" seru Mira, matanya menatap tajam Aldi.
Aldi menyunggingkan senyum disebelah bibirnya, lalu ia mengangguk setuju tanpa menjawabnya dengan kata-kata. Kemudian berjalan ke arah pintu mobilnya, sedangkan Mira mulai berjalan berlawanan arah dengannya.
Aldi kemudian membuka pintu mobilnya. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia melirik Mira yang kini mulai berjalan menjauh di tengah-tengah kelamnya malam.
__ADS_1
"Thank's, Mir! lo gak perlu tahu alasan gue kenapa sampe harus ngelakuin ini, yang pasti gue ngelakuin ini semua demi Risha!" gumam Aldi, kemudian ia masuk dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.