
Hembusan angin yang masuk melalui jendela yang terbuka di kamar Reka, menyibakan rambut Risha hingga membuat tengkuknya terlihat. Matanya menelusuri tengkuk Risha hingga ke pinggang nya dan lagi-lagi Reka menelan ludahnya. Melihat betapa indahnya lekukan tubuh Risha yang putih dan mulus membuatnya tidak ingin mengedipkan matanya.
Hari sudah semakin larut. Gama dan Samba baru saja datang dan langsung melihat pemandangan yang membuat jantung Gama seakan terhenti. Dengan cepat Reka meraih handuk dan menutupi bagian dada Risha kemudian, ia membantu Risha berbaring kembali diranjangnya.
"Wah, kita sedang bertaruh nyawa disana. Kamu disini malah asyik bercinta, yah?!" Ucap Samba.
Deg!! Ada yang mendidih tapi bukan air. Tentu saja hati Gama yang tengah di landa api cemburu saat melihat Risha bersama Reka begitu mesra.
"Jangan sembarangan bicara, Samba. Aku hanya sedang mengobati Risha." Sahut Reka menjelaskan.
"Bagaimana keadaan nya?" Tanya Gama cemas.
Reka menghela nafas sejenak. "Sepertinya bahu kirinya patah!"
"Apa? Separah itukah?" Tanya Gama tercengang.
"Hey, kenapa Risha diam aja? Apa dia tidur?" Tanya Samba yang tengah memperhatikan Risha.
Gama dan Reka malah tampak panik mendengar ujaran Samba. Risha seharusnya sudah kembali ke dimensi nya. Reka dan Gama lekas menghampirinya dengan cemas. Reka menyuruh Gama dan Samba menunggu di luar sedangkan ia akan memakaikan kembali pakaian nya.
"Tidak, aku harus menyaksikan nya!" Ucap Gama keberatan.
"Apa?" Sahut Reka dan samba bersamaan.
"Aku tidak mau kamu memanfaatkan keadaan Risha yang sedang tidak sadarkan diri. Bagaimana kalau kamu sampai menyentuhnya?!" Ujar Gama. Entah ia memang mencemaskan Risha atau malah tidak ingin melewatkan pemandangan indah sebuah belahan gunung kembar milik Risha yang langka di Madavia.
"Aku pikir Gama benar juga. Lagipula Risha tidak telanjang bulat kan?" Ucap Samba menyetujui.
Usai memakaikan kembali pakaian Risha dengan di saksikan Gama dan Samba kemudian, Gama hendak membopong tubuhnya namun Reka mendahuluinya.
"Biar aku saja, aku akan mengantarkan Risha ke rumah lindung. Samba ikut lah bersama Gama. Hanya kamu yang bisa membawa Risha masuk ke dalam karena rumah itu masih memiliki jimat yang tidak bisa di masuki siluman seperti kami." Ujar Reka mengarahkan.
Sesampainya di rumah lindung, Reka menyerahkan Risha pada Samba. "Awas yah, jangan macam-macam!" Seru Reka nada mengancam.
"Macam-macam?" Ucap Samba meralat. Kemudian, tersenyum genit. "Ah kalian ini, paling cuma satu macam aja, kok!"
__ADS_1
"Kamu_" Ucap Gama terpotong dengan lagak hendak meninju.
"Hey, tenang! Aku bukan laki-laki mesum. Aku akan membaringkan nya!" Kata Samba bergegas masuk ke rumah lindung.
...*°°°°°°°°°°*...
*****Risha Pov*****
Aku mengerjap. Bagaikan manusia yang terlalu lama tenggelam di lautan dalam, rasanya seperti baru saja menemukan kembali udara yang membuat aku berkali-kali mengatur deru nafasku.
Waktu sudah menunjukan pukul 08:30 Wib. Lagi-lagi aku kesiangan. Jika begini terus, aku akan di pecat pikirnya. Aku hendak bangkit dari tempat tidur, namun tiba-tiba bahuku kananku terasa nyeri. Sedangkan, bahu kiriku terasa begitu perih.
Kalaupun tidak kesiangan, tetap saja aku tidak akan bisa bekerja dengan keadaan seperti ini pikirnya lagi. Aku berusaha mengangkat tanganku, hendak meraih ponsel yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurku.
Kreeekk
Terdengar suara retakan ketika aku mencoba mengangkat tangan. Sontak aku memekik kesakitan. Aku berjalan ke arah meja, pelan-pelan meraih ponsel itu dengan tanganku tanpa menggerakan bahuku. Kemudian, mencoba menelepon Aldi.
"Hallo?" Suara Aldi terdengar saat aku menekan tombol loundspeak.
"Kamu kenapa, sayang? Kok, suaranya kayak gitu?" Sahut Aldi yang mendengar suaraku sedikit tesesak menahan sakit.
"Bahuku sakit banget, aku gak bisa bergerak bebas, Al. Aku mau ke dokter." Jelasku.
"Ya udah, kamu tunggu bentar ya. Aku sekarang kesitu." Ucap Aldi yang kemudian menutup telepon nya.
Selang beberapa waktu kemudian, Aldi datang dengan wajah cemas. "Sayang, bahu kamu kenapa? Kamu abis jatuh?"
Aku menggeleng. "Aku gak bisa gerakin bahu aku, Al. Bahkan mau cuci muka atau ganti baju aja aku gak sanggup. Sakit banget!"
"Ya udah, aku bantu kamu cuci muka dan ganti baju ya?!" Ucap Aldi.
Aku mengangguk. Aldi melepas kancing baju tidurku dan mulai melepaskan pakaian dari tubuhku. Ia terperangah saat melihat luka cambukan di bahu kiriku, wajahnya tiba-tiba saja berubah.
"Kamu bukan jatuh, Risha. Bilang sama aku, siapa yang udah berani menganiaya kamu?" Tanya Aldi khawatir.
__ADS_1
"Menganiaya?" Ucapku mengerutkan dahi.
"Iya, luka ini seperti bekas cambukan. Luka separah ini, harusnya baju kamu juga sobek!" Pikir Aldi.
"Apa ini saat yang tepat buat ngobrol? Aku lagi nahan sakit, kamu malah mengulur waktu." Ucapku memprotes.
Aldi memandangku sejenak dengan tatapan heran. Kemudian, ia lekas membantuku mengganti baju. Dan, bergegas membawaku ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, aku dan Aldi duduk di kursi yang menghadap seorang wanita paruh baya yang hendak memeriksaku. "Bahu saya membengkak, Dok. Sakit banget, apalagi kalau di gerakin. Rasa sakitnya sampe ke punggung-punggung. Bahkan saya merasa sedikit sesak nafas."
Dokter mengangguk dan segera menyuruhku berbaring. Ia lekas memeriksa bahu kiriku. "Anda mengalami patah tulang selangka!" Seru sang Dokter mendiagnosa. "Apa anda habis mengalami kecelakaan atau jatuh dengan bahu terbentur?"
aku tertegun sejenak. Kemudian mengangguk. "Saya jatuh, Dok!"
"Apa lukanya serius, Dok?" Tanya Aldi memintas. "Apa harus di operasi?"
Dokter itu menggeleng dengan menyunggingkan senyum. "Tidak, pak! Istri anda bisa sembuh secara alami menggunakan selempang segitiga sederhana untuk menopang lengan dan menyatukan tulang-tulang dalam posisi normal."
Aldi mendesah lega. "Syukurlah!!"
Dokter itu meresepkan beberapa obat setelah selesai membalut bahuku dengan selempang penyangga bahu. Aku dan Aldi bergegas pergi setelah usai menebus obat yang di resepkan oleh Dokter.
...*°°°°°°°°°°*...
"Jelasin sama aku, kamu abis jatuh dimana? Dan kenapa bisa jatuh?" Tanya Aldi yang kini tengah duduk di sofa bersamaku.
"Di Madavia. Dewari mengibaskan ekornya dan mencambuk aku." Jelasku jujur.
"Apa?" Tanya Aldi tercengang. "Disini aku selalu jagain kamu, disana kamu malah di sakitin sama siluman sialan itu. Aku gak terima, kita harus cari ustadz atau orang pintar buat ngebantu kita, supaya kamu jangan pernah datang lagi kesana."
"Aku ngerti kamu marah, Al. Tapi ya udah lah, kata Dokter juga ini bukan luka serius, kan?"
"memang, hari ini lukanya belum serius. Tapi, giimana dengan nanti? Gimana kalau sampai berhasil ditangkap? Gimana kalau siluman itu sampai nyakitin kamu lebih dari ini?"
"Al, tugas aku di Madavia belum selesai." Ujarku mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Berhenti mikirin alam siluman itu, Risha!" Ujar Aldi berteriak. Aku tersontak, baru sekali ini aku melihatnya begitu marah. Wajah nya merah padam, matanya berkaca-kaca dengan napasnya yang memburu.