
Reka dan Samba duduk di bangku kayu yang di sediakan di taman belakang rumah sakit itu. Mereka sengaja duduk di tempat yang tidak terlalu ramai agar dapat mengobrol dengan leluasa.
"Aldi dan Risha tidak terluka karena bertengkar, Samba. Mana mungkin mereka akan saling melukai di saat mereka saling melindungi. Aldi menusuk Risha, tapi aku tahu dia melakukan itu dalam keadaan tidak sadar. Dia bahkan menusuk dirinya sendirinya sendiri setelah ia menusuk Risha" ujar Reka menjelaskan.
"Aku gak percaya Aldi setega itu, Reka. Apa yang bikin Aldi ngelakuin itu?" tanya Samba penasaran.
"Semua ini pasti ulah Anjani, siapa lagi kalau bukan dia?" tuding Reka.
"Astaga, siluman itu gak bisa di biarin terus. Bisa bahaya buat kita." ujar Samba tampak begitu geram.
"Dia bukan siluman, Samba. Anjani adalah bangsa kajiman, dia tidak menyerang dengan tangannya sendiri, tapi melalui tangan orang lain." ujar Reka membongkar kebenaran tentang Anjani.
"Kalau kamu tahu, kenapa gak dari dulu-dulu aja kamu penjarain dia kayak Aswasada?" tanya Samba tampak jengah.
"Karena awalnya kami berpikir dia berbeda, apa lagi dia selalu bersikap baik pada kami selama ini." ujar Reka sedikit tertunduk seraya menghela nafas.
"Aku tahu gimana caranya menghadapi jin kayak gitu. Bahkan kita gak perlu repot-repot melawan dia, aku bisa mengatasinya. Serahin aja masalah Anjani sama aku, Reka. Aku akan menarik khodam nya dan menyegelnya di batu giok!"
"Baik! tapi satu hal yang perlu kamu ingat, Samba. Setelah khodamnya berhasil di tarik, jangan pernah meminta bantuan apapun pada khadam itu. Jika kamu melakukannya, kelak nasibmu akan sama dengan Anjani. Hal itu juga akan memberi peluang pada Anjani untuk membalas dendam padamu, bahkan pada anak-cucumu kelak." ujar Reka menjelaskan, membuat Samba sedikit bergidik.
"Enggak, lah! kamu tahu kan, aku ini pembasmi siluman jahat. Ilmu aku udah cukup, buat apa aku minta bantuan sama jin?" jawab Samba seraya tertawa kecil.
__ADS_1
Sejak kecil, Samba sudah menjalani hidup dengan kesederhanaan dan jauh dari kehidupan duniawi. Setelah ia menguasai beberapa Ajian dan ilmu kanuragan yang di ajarkan oleh Mbah Sarjo, ia menjadi seorang pembasmi siluman dan jin untuk membalaskan dendamnya atas kematian kedua orang tuanya yang meninggal demi menyelamatkan nya dari siluman yang di sembah oleh orang tuanya.
Sejak itu ia suka mengembara ke hutan dan gunung yang terkenal angker untuk memburu siluman, jin ataupun roh-roh jahat seperti bangsa kajiman yang mengganggu dan mencelakai manusia.
Samba memang seorang pengembara, seperti layaknya pendekar-pendekar di masa lalu. Bahkan kerap kali ia mengembara ke dunia gaib dengan ajian meraga sukma. Hingga petualangannya mempertemukan dia dengan Risha dan yang lainnya saat ia berkelana ke Madavia.
Kali ini Samba akan menarik khodam Anjani tanpa datang ke Madavia baik fisik maupun dengan meraga sukma. Dia hanya perlu mengamalkan salah satu ilmu Kedigjayaan yaitu Ajian Kyai Liung Gaib.
Ilmu ini merupakan peninggalan nenek moyang pada abad ke-7, tepatnya zaman kerajaan Kalingga yang pada waktu itu rajanya dipimpin oleh seorang ratu adil bernama Ratu Sima. Sang Ratu mendapatkan ilmu itu dari seorang pertapa sakti pada zamannya.
Ajian Kyai Liung Gaib adalah ajian yang langka dan sangat ampuh yang bertujuan untuk menaklukan khodam baik itu jin maupun siluman, bahkan sebuah benda pusaka sekalipun akan menuruti dan patuh kepada pemilik ajian ini.
Khodam yang terlalu sakti dan jin yang terlalu tua terkadang sulit untuk ditundukkan. Tapi Ajian Liung Gaib ini adalah ilmu tingkat tinggi yang bisa menaklukan jin dan siluman yang sangat kuat bahkan yang sudah berumur tua sekalipun.
"Bismilahirrohmanirrohiim Niat ingsun matak ajiku Kyai Liung Ghaib, Awang-awang uwung-uwung, Sadurunge bumi langit durung ana, Lungguhku pinuju sawung, Panguwasane sepi ing awakku, Rame ing kona- sunkono kang kalimputan dening dzate Gusti Allah, Sakabehing niyat ala tan tumama, Amiin.”
Kemudian, ia meletakan sebuah batu giok berwarna hijau toska di sebuah meja kecil yang berada tepat di hadapannya. Samba mulai mengayunkan tangannya seperti ekor ikan yang sedang berenang di dalam air seraya membaca mantera selanjutnya.
...***...
"Kamu kenapa, Anjani?" tanya Alpha, ia merasa heran saat melihat Anjani tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berjalan terhuyung-huyung menuju keluar gua seraya mencengkeram dadanya sendiri.
__ADS_1
"Sialan!" umpat Anjani dengan suara yang di tekan. "Ada seseorang yang sedang berusaha menarik khodamku, Alpha!"
Ujung kaki Anjani mulai berubah menjadi asap kelabu yang menggumpal pelan-pelan mulai menjulur ke arah tubuhnya. Sebelum kepalanya berubah, ia sempat berseru pada Alpha, "selamatkan aku, Alpha!"
Kemudian asap itu seakan terhisap dan enyah dari hadapan Alpha. Alpha merasa terguncang, tanpa Anjani ia akan kesulitan menjalankan rencananya. Apa lagi Aswasada kini sudah berada di pihak Reka dan Gama, itu akan memudahkan mereka mengalahkan Alpha dan menggagalkan semua rencana yang sudah susah payah di bangun olehnya.
...***...
"Ahaa, berhasil." Ujar Samba kegirangan saat melihat asap kelabu itu masuk ke dalam batu giok.
Kemudian, Samba memasukan batu giok yang berisi khodam Anjani ke dalam sebuah peti kecil seukuran pas dengan batu giok itu dan lekas menutup kembali petinya lalu menempelkan jimat HU di atas peti itu untuk menyegel khodam tersebut.
Samba membuka sebuah rak kayu di dalam sebuah ruangan khusus, banyak sekali peti yang tersimpan di dalam rak itu. Sudah banyak sekali siluman dan jin yang ia segel di dalam peti yang berisi batu giok bertuah khodam.
"Perkara Anjani udah beres, aku akan ke rumah sakit sekarang buat jengukin Risha sekaligus ngasih kabar baik ini pada Reka. Dia pasti ada di rumah sakit, aku akan pergi sekarang!" Gumam Samba yang kemudian bergegas menaiki mobilnya dan pergi menuju rumah sakit tempat dimana Risha dan Aldi di rawat.
...***...
"Seharusnya kita ikut dengan Reka, Gama!" seru Aswasada yang kini tengah duduk berdua di dalam istana bersama Gama. "Kita juga harus menjenguk Risha."
"Kalau kita juga pergi, siapa yang akan menyelidiki keberadaan Anjani di sini? kita juga tidak sedang kekurangan tugas yang perlu di selesaikan, Aswasada." ujar Gama. Sebenarnya ia setuju dengan ucapan Aswasada, tapi keselamatan Risha akan tetap terancam selama Anjani belum di temukan. Mereka tidak tahi kalau sebenarnya Anjani sudah di segel oleh Samba.
__ADS_1
"Aku sangat merasa bersalah pada Risha, semua terjadi gara-gara aku. Aku ingin bertemu dengan mereka dan meminta maaf!" ujar Aswasada tampak menyesal.