
Aldi dan Risha sudah bersiap pulang. Aldi membantu Risha masuk ke dalam mobil. Risha duduk di jok depan tempat aku duduk sebelumnya. Sedangkan sekarang aku harus duduk di belakang dan menyaksikan Aldi dan Risha di depanku. Ini sangat membuatku kesal namun aku tetap harus menunjukan wajah ceria agar Risha dan Aldi tidak merasa curiga.
Sesampainya di tempat kost, mataku melihat bagaimana Aldi membukakan pintu mobil untuk Risha dan membantunya keluar dari mobil. Aldi memperlakukan Risha bagaikan seorang putri membuatku semakin iri hati.
Wanita manapun akan sangat beruntung memiliki kekasih seperti Aldi.
"Udah sekarang kamu istirahat aja ya" Ucap Aldi yang kini duduk di sofa panjang Risha.
"Apaan sih, Al. Aku beneran gak sakit. Aku sehat-sehat aja kok" Sahut Risha bersikekeh.
"Risha, harus berapa kali aku jelasin sama kamu. Tadi malam, jam 2 aku terbangun karena ingin ke toilet. Aku lihat kamu gak bergerak dan kamu gak bangun-bangun. Sekarang kamu bilang baik-baik aja?" Aldi terus menyela seakan menganggap Risha berbohong untuk membuat Aldi tidak merasa khawatir.
"Sayang aku tau kamu khawatir sama aku. Aku ngerti kok. Cuma kamu hanya salah faham" Terang Risha.
"Salah paham gimana? Dokter aja bilang kalau kamu memang pingsan" Ucap Aldi.
Risha berdecak kesal "Udah ah, cape ngomong sama kamu." Ucap Risha tampak kesal. "Aku mau nganter dulu Rosa ke rumah ibu kost."
Aku dan Risha bergegas pergi ke rumah ibu kost hanya dengan berjalan kaki karena Kata Risha, rumah ibu kost tidak terlalu jauh dari tempat kost-nya.
Sesampainya di rumah ibu kost, terlihat senyum terurai dari seorang wanita paruh baya dengan rambut keriting terikat rapi dan sudah sedikit beruban.
"Siang, Bu Lilis." Sapa Risha seraya yang di sambut dengan senyuman.
"Siang juga, Risha." Ucap wanita yang dipanggil bu Lilis oleh Risha. "Apa yang membawa Risha datang kesini?"
"Kenalin bu, ini namanya Rosa. Dia mau ngekost di tempat ibu juga. Seingat Risha yang ngekost disebelah kamar Risha sebelumnya udah pulang kampung kan?"
__ADS_1
Ibu Lilis menoleh ke arahku dengan melebarkan senyuman nya. "Oh, boleh. Kebetulan belum ada yang ngisi lagi. Kira-kira kapan mau mulai ngekost nya?"
"Kalau bisa sekarang juga, bu" Sahutku tidak sabar.
Ibu Lilis memberikan kunci rumah kost setelah aku membayar uang mukanya dan akan melunasi sisanya besok setelah aku mulai mengisinya. Hari ini aku harus kembali ke rumah kost ku sebelumnya untuk mengemasi barang-barangku.
"Risha, aku bingung cara memindahkan barang-barang aku" Ucapku seraya berjalan santai untuk kembali ke tempat kost Risha. "Soalnya kan jarak dari tempat kost aku kesini lumayan jauh. Kira-kira kamu ada kenalan tukang angkut barang gak?
"Emang barang kamu apa aja?" Tanya Risha.
"Ranjang, kulkas, lemari dan perlatan lain nya. Gak banyak sih, paling cuma 1 kali jalan aja." Sahutku.
"Sebenarnya Aldi punya mobil pick-up yang biasa dia sewain." Ucap Rish membuatku semakin kagum terhadap Aldi. "Nanti aku coba bilang sama Aldi ya. Dia pasti mau kok bantuin kamu"
"Duh aku gak enak jadi ngerepotin kamu dan Aldi, Rish." Ucapku berusaha menutupi rasa senangku.
"Gak apa-apa kok, Ros. Kita kan teman. Apalagi sekarang kita akan jadi tetangga. Nanti kita bisa berangkat kerja bareng-bareng.
*Risha Fov*
"Al, kamu harus pulang. Nanti orang tua kamu nyariin" Ucapku memperingati Aldi.
"Enggak" Ucap Aldi yang menggelengkan kepalanya. "Aku gak akan ninggalin kamu. Gimana kalau nanti malam kamu pingsan lagi."
Aku mendengus. "Aku memang selalu pingsan setiap malam dan itu bukan hal yang aneh."
Aldi mengangkat sebelah alisnya. "Kok gak aneh, sih! Semalam kamu benar-benar bikin aku panik, Rish! Aku pikir aku akan kehilangan kamu, aku segera memakaikan kamu baju dan lekas membawa kamu ke rumah sakit. Di rumah sakitpun kamu masih tidak sadar. Entah dari jam berapa kamu pingsan. Aku hanya menyadarinya pada jam 2 pagi dan kamu sadar jam 8 pagi."
__ADS_1
"Sayang, kan aku udah pernah bilang sama kamu. Aku udah pernah ceritain tentang roh ku yang selalu pergi ke alam siluman pada saat raga aku tidur. Kamu lupa?"
Aldi tampak berfikir dan mencoba mengingat kembali apa yang pernah aku ceritakan.
...*Flashback On*...
"Kamu tau gak sih, setiap malam saat aku tertidur sukma ku selalu pergi ke dimensi siluman yang dimana kakek ku dulu melakukan pesugihan degan siluman ular di dimensi itu. Aku mengalami semua ini sejak kakek ku meninggal."
...*Flashback Off*...
"Apa?" Ucap Aldi terperangah. "Jadi semua itu benar?"
"Ya ampun, jadi selama ini kamu nganggap semua itu karangan aku aja gitu?" Balasku dengan pertanyaan.
"Enggak, ini gak bener." Aldi menggelengkan kepala dan wajahnya tampak panik. Kini ia benar-benar akan mencemaskanku. "Ini gak bisa di biarin, Risha. Pasti akan sangat berdampak pada kesehatan kamu"
Aku memutar bola mataku jengah. "Kamu terlalu berlebihan, Al. Kakek Sukma bahkan mengalami hal itu di sepanjang hidupnya. Itu udah gak aneh lagi buat aku"
"Setiap malam kamu tidur seperti orang mati dan kamu masih bisa bilang kalau itu gak aneh?"
"Kamu pikir aku menikmatinya?" Ucapku yang mulai kesal. "Aku bahkan selalu berusaha cari tahu cara untuk terbebas dari alam siluman yang disebut desa Madavia itu"
"Cari tau juga gimana caranya agar aku bisa ikut masuk ke Madavia. Aku gak rela kamu akan terus berduaan dengan laki-laki yang bernama Gama itu." Ujar Aldi tampak cemburu buta.
Aku berdecak kesal karena merasa Aldi terlalu berlebihan. "Gama hanya berusaha melindungi aku dari Reka. Nyawa aku selalu dalam bahaya saat berada di Madavia. Harusnya kamu gak perlu secemburu itu, Al."
"Aku juga akan menjadi pelindung kamu kalau aja aku bisa menemani kamu di alam itu." Sahut Aldi yang berdiri di depan jendela membelakangiku yang tengah duduk di sofa. "Aku bahkan akan menghajar laki-laki yang bernama Reka itu karena berani menyentuh kamu"
__ADS_1
"Udah ah, aku capek debat terus sama kamu" Ucapku seraya meraih buku agenda kakek Sukma dari atas lemari bajuku. "Aku harus baca buku ini untuk cari tahu cara terbebas dari alam siluman itu"
Kali ini Aldi tidak menjawab. Dia hanya berjalan ke arahku kemudian duduk di sebelahku. Dia tampak menungguku membuka buku agenda kakek Sukma.