
Jelmaan Reka membawaku pergi dengan menggunakan mobil Mama Erina yang belum sepat aku kembalikan. Astaga, aku benar-benar tidak tahu kalau siluman juga bahkan bisa mengendarai mobil.
"Kamu mau bawa aku kemana, Reka?" Tanyaku mencoba setenang mungkin.
"Aku akan mempertemukan kamu dengan Aldi." Sahut siluman yang menjelma sebagai Reka seraya mengemudikan mobil Mama Erina.
"Emang kamu udah nemuin Aldi? Dimana dia sekarang? Gimana keadaanya?" Aku mengebomnya dengan pertanyaan.
"Kamu lihat saja sendiri nanti." Sahutnya singkat.
Kami melaju melewati perbatasan kota bandung menuju ke arah Sumedang. Hari sudah semakin gelap, Jelmaan Aldi membawaku ke sebuah perdesaan yang sangat sepi dan gelap di kabupaten Sumedang. Kemudian, kami bertepi di sebuah rumah yang tampaknya tidak berpenghuni.
"Reka, ini rumah kosong?" Tanyaku tercekat.
Jelmaan Reka mengangguk, aku menelan ludah saat melihat tatapan matanya yang menusuk. "Ada apa? Kamu tidak ingin melihat Aldi?"
Astaga, apa benar Aldi di sekap di rumah kosong itu? Aku benar-benar tidak sanggup membayangkan betapa Aldi kesepian dan kedinginan. Bahkan mungkin kelaparan.
Aku memberanikan diri keluar dari mobil, Reka menggamitku seakan ia benar-benar Reka yang akan melindungiku dari apapun yang mengancam nyawaku. Ingin sekali rasanya aku membakarnya saat ini, tapi aku masih membutuhkannya untuk menemukan Aldi.
Aku menghela nafas sejenak lalu membuka pintu rumah kosong itu dengan berani. Reka masih di sampingku, menemaniku masuk ke dalam rumah yang gelap di tengah-tengah hutan. Aku melirik sebuah peti milik Kakek Sukma dalam keadaan terbuka, ternyata benar, jelmaan Reka yang mencurinya dan bersembunyi di rumah kosong ini.
"Aldi..!!" Hatiku tersentak melihat Aldi sedang duduk mematung di atas kursi tamu di dalam rumah dalam kegelapan.
Pelan-pelan, aku mendekatinya. Aku tidak mengerti, kenapa Aldi tidak bereaksi apapun saat mendengar suaraku yang menyebut namanya. Matanya terarah lurus kedepan menghadap sebuah lukisan yang tergeletak di lantai. Namun, pandangannya tampak kosong.
"Aldi..!!" Aku memeluknya saat aku sudah memastikan bahwa dia benar-benar Aldi yang kucari selama ini.
Aku menangis dalam pelukannya, tapi Aldi masih tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya diam, tidak berbicara sepatah katapun dan tidak bergerak dari tempat duduknya.
"Reka, Aldi kenapa?" Tanyaku panik.
"Aldi linglung, sukmanya berada di antara dimensi manusia dan dimensi siluman!" Sahut jelmaan Reka menjelaskan dengan begitu santai.
__ADS_1
"Apa? Kenapa bisa begitu?" Tanyaku penasaran.
"Kamu harus menyerahkan nyawamu jika ingin Aldi tetap hidup!" Sahut siluman itu membuatku semakin tercengang.
"Maksud kamu?" Tanyaku meminta jawaban yang lebih jelas.
"Tukar nyawamu dengan sukma Aldi, Risha. Karena hanya Dewari yang bisa memulihkan kondisi Aldi, sehingga kamu harus rela memberikan tubuhmu pada Dewari." Ujar siluman itu memainkan siasatnya.
"Sialan!" Umpatku dalam hati. "Siluman gak tahu diri, bisa-bisanya dia menjelma sebagai Reka dan mau nipu aku."
Aku mendekat ke arah jelmaan Reka, lalu memeluk tubuhnya. "Biarin aja Aldi begitu, kita saling mencintai, kan? Sekarang gak ada yang akan menghalangi cinta kita."
Entah kenapa aku merasa jelmaan Reka tampak menikmati pelukanku sehingga ia tidak melepaskan dirinya dan malah memejamkan mata, membenamkan setengah wajahnya di bahuku.
Namun ini lah saat yang tepat untuk menjalankan rencana yang sudah aku sepakati bersama Gama. Aku mendorong tubuhnya hingga ia masuk kedalam peti dan terjatuh di Altar.
"Aaaakkh, sialan!" Umpat jelmaan Reka seraya bangkit dari jatuhnya. "Bisa-bisanya aku tertipu oleh wanita itu!"
Baru saja dia membuka pintu Altar, tiba-tiba Reka dan Gama menarik lengannya dan mendekap tubuhnya hingga jelmaan Reka tidak bisa berkutik lagi.
Tiba-tiba jelmaan Reka terkekeh. "Alpha kamu bilang? Apa yang membuat kalian berpikir aku adalah Alpha? Apa penciuman kalian sudah tidak berfungsi?"
Gama dan Reka tampak mengendus tubuh jelmaan Reka. Tiba-tiba Gama memicingkan mata. "Kalau bukan Alpha, lalu siapa dirimu?"
...*°°°°°°°°°°*...
Aku membawa Aldi dan memasukannya ke dalam mobil. Aku juga membawa peti milik kakek Sukma dan menguncinya agar jelmaan Reka tidak bisa kembali melalui peti ini. Ada sedikit perasaan lega dalam hatiku karena telah menemukan Aldi dalam keadaan hidup. Tapi hatiku terpukul karena aku malah merasakan jiwanya telah mati.
Aku membawa Aldi pulang ke rumahnya. Entah bagaimana perasaan Mama Aldi setelah melihat keadaan anaknya menjadi seperti ini. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan berusaha menyembuhkan Aldi sampai dia bisa mengingatku kembali.
"Aldi?" Panggil Mama Aldi, berjalan lemas ke arah kami yang masih berada di teras rumahnya. Air mata kerinduan berderai membasahi pipinya, tangannya terulur seakan isyarat untuk anaknya agar segera berlari memeluk ibunya.
Namun, Mama Aldi kemudian mengerutkan dahinya saat mengamati anaknya tengah menatapnya dengan tatapan kosong, menatapnya tanpa ekspresi apapun dan menatapnya seperti bukan anaknya.
__ADS_1
"Aldi? Kamu kenapa, nak? Kamu gak mau peluk Mama, sayang?" Tanya Mama Aldi seraya meletakan kedua telapak tangannya di pipi Aldi dengan menangis tersedu-sedu.
"Risha, apa yang terjadi sama Aldi? Kenapa dia jadi begini?"
Baru saja aku ingin menjelaskan, tiba-tiba Papa Aldi berteriak histeris menyebut nama Aldi seraya berlari kecil menghampiri kami. Dan Ia memberikan ekspresi yang sama lengkap dengan pertanyaan yang sama yang aku lihat dan dengar dari Mama Aldi.
"Om, Tante, kita bawa dulu Aldi ke dalam rumah. Nanti Risha jelasin semuanya."
Kami semua masuk ke dalam rumah Aldi dan duduk di sofa. Mama dan Papa Aldi tidak berhenti menangis meratapi anaknya yang masih membisu dengan pandangan yang kosong.
"Risha, sebenarnya Aldi kenapa?" Tanya Papa Aldi yang berusaha tetap tenang.
"Iya, sayang. Kenapa anak tante jadi begini?" Tanya Mama Aldi menimpali.
"Om, Tante, Risha nemuin Aldi di daerah Sumedang. Di rumah kosong!" Ucapku mencoba menjelaskan. Namun, Mama Aldi menyela.
"Apa?" Ucap Mama Aldi tercengang.
"Tapi ngapain Aldi disana?" Tanya Papa Aldi penasaran.
"Pas Risha nemuin Aldi disana, keadaan Aldi udah kaya gini. Katanya Aldi linglung om, tante!" Ujarku mencoba menjelaskan lagi. Dan lagi-lagi Mama Aldi menyela.
"Linglung?" Ucap Mama Aldi dengan mata yang terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang terjadi pada anaknya. Dan tiba-tiba, ia pingsan.
"Tante?" Aku menghampiri Mama Aldi dengan hati yang tidak tenang.
"Ma? Bangun, Ma!" Seru Papa Aldi yang kemudian menggotong tubuh Mama Aldi dan membaringkannya di kursi.
...*°°°°°°°°°°*...
"Sudah lah, kamu lupakan saja niatmu untuk membangkitkan kembali Dewari dengan mengorbankan tubuh manusia yang tidak berdosa." Ujar Anjani membujuk jelmaan Reka yang kini sudah merubah wujudnya menjadi wujud aslinya.
"Tapi Dewari adalah ibuku dan kalian sudah membunuhnya!" Sahut siluman yang gagah dan rupawan itu.
__ADS_1
"Kamu harus bisa membedakan antara membunuh dan membela diri. Kami tidak mungkin membunuh Dewari kalau dia tidak akan mencelakai kami, Aswasada!" Ujar Anjani mencoba menjelaskan.