Meraga Sukma

Meraga Sukma
11. Bersemi Kembali


__ADS_3

Sesampainya di toko, seperti biasa aku akan menyalakan komputer, menghitung uang receh yang ada di laci kasir dan segera melayani pembeli.


"Risha" Panggil ci Yuzzy yang baru saja masuk ke toko bersama seorang gadis yang tampak seumuran dengan ku. "Kenalin, ini Rosa. Mulai saat ini dia kerja disini, gantiin Yoga."


Toko Giant Jaya memang memiliki dua kasir sebelum Yoga mengundurkan diri seminggu yang lalu. Sejak itu aku sering kewalahan bekerja sendiri melayani pembeli. Akhirnya ci Yuzzy mendapatkan juga pengganti Yoga sehingga aku tidak akan lagi repot sendiri.


Aku tersenyum ramah pada Rosa seraya menjabat tangan nya. "Aku Risha"


"Kamu ajarin dia cara menggunakan komputernya ya, Rish. Soalnya saya harus ke gudang buat cek barang yang baru datang" Ucap ci Yuzzy yang di angguki olehku dengan senyum.


"Duduk disini, Ros." Aku mempersilahkan Rosa duduk di kursi depan komputer yang bersebelahan dengan tempat duduk ku. Aku mulai mengajarinya cara login ke akun karyawan dan cara menemukan katalog produk toko di komputernya.


Di jam istirahat, aku mengajak Rosa makan siang di warung nasi langgananku.


"Kamu udah lama kerja di toko Giant Jaya, Rish?" Tanya Rosa setelah menghabiskan makanan nya.


"Baru setahun" Jawabku seraya menuangkan air dari teko ke gelas kemudian meneguknya.


Rosa mengangguk "Kamu tinggal dimana, Rish?"


Aku meletakan gelas di atas meja "Aku ngekost di daerah sini."


"Wah, enak dong, Rish. Aku juga mau pindah kost ke daerah sini. Kira-kira di tempat kamu masih ada yang kosong gak?" Tanya Rosa


"Kebetulan kemarin ada yang baru keluar. Nanti aku coba tanya dulu ke ibu kost nya ya"


Usai makan siang, aku dan Rosa kembali bekerja hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 14:50 Wib. Aku dan Rosa segera bersiap untuk pulang.


Di depan toko Giant Jaya, seorang pria yang mengenakan jaket levis warna biru tengah bersandar di sebuah mobil berwarna putih. Pria itu mengurai senyum ke arahku. Tentu saja aku membalas senyum nya.


"Itu siapa, Rish.?" Tanya Rosa yang berada di sebelahku.


Aku menoleh ke arah Rosa yang masih memandang Pria yang sudah tak asing lagi bagiku. "Namanya Aldi"


"Pacar kamu?" Tanya Rosa penasaran.

__ADS_1


Aku sedikit termenung dengan pertanyaan Rosa. Aku ingin mengangguk tapi itu terkesan mengada-ada. Berat sekali rasanya jika kepalaku harus menggeleng. namun pada akhirnya aku tetap menggeleng. "Bukan"


Aldi berjalan menuju ke arahku seakan tidak sabar menunggu aku untuk datang kepadanya. "Kita jadi jalan-jalan kan?" Tanya Aldi yang kini berada tepat di depanku.


"Iya, jadi." Sahutku seraya mengangguk. "Oh iya, kenalin dulu, Al. Ini Rosa partner kerja aku. Dia baru aja masuk hari ini"


Rosa dan Aldi berjabat tangan. Mereka saling mengurai senyum dan memperkenalkan namanya masing-masing.


"Jadi kalian mau jalan-jalan?" Tanya Rosa


Aku membalasnya dengan menganggukan kepala.


...***...


"Risha" Panggil Aldi dengan tatapan teduhnya yang dahulu selalu menjadi bayang-bayang dalam hatiku. "Apa kamu masih ingat dulu di Taman ini kita pernah mengukir sebuah kenangan yang sangat indah?"


Pertanyaan Aldi sungguh membuat hatiku berdebar. Bagaimana aku bisa melupakan kenangan bersamanya di Taman ini. Dulu taman ini adalah tempat dimana Aldi menyatakan perasaan nya kepadaku dengan begitu romantis. "Aku gak pernah ngelupain satu hal pun saat bersama kamu, Al."


"Jujur aja, aku masih sayang sama kamu" Ucap Aldi seraya meraih tanganku dan menggenggam jemariku. "Apa kita bisa memulainya dari awal lagi?"


Tapi kini aku merasakan ada yang berbeda. Seolah tak hanya Aldi yang kini tinggal di dalam hatiku yang membuat perasaan cintaku terhadap Aldi menjadi terbagi.


Aku memalingkan wajah dari Aldi "Aku gak tau, Al"


Aldi meraih daguku, membuat wajahku kembali terarah kepadanya. "Apa itu artinya kamu nolak aku?"


Aku menggeleng. Rasanya aku tidak sanggup jika membiarkan Aldi pergi lagi dari hidupku. "Aku cuma_"


"Apa sudah ada yang menggantikan aku didalam hati kamu, Rish?" Potongnya dengan wajah kecewa.


Aku menggeleng lagi. "Bukan itu, Al. Jujur aja aku juga masih sayang sama kamu, aku cuma lagi banyak pikiran aja. Itu bikin aku jadi merasa takut akan melibatkan kamu dalam masalah aku"


Aldi terkekeh seolah ada yang lucu. "Sejak aku kenal kamu, sampai kita pacaran. Kamu selalu melibatkan aku dalam masalah kamu. Kenapa sekarang kamu merasa takut akan melibatkan kembali aku dalam masalah kamu?"


"Entahlah, aku pengen pulang sekarang. Kita bahas ini di kosan aku ya."

__ADS_1


...***...


Hujan yang turun sejak aku dan Aldi baru saja sampai, seolah memihak Aldi untuk bersemayam di rumah kost ku. Rintik nya yang membasahi tubuh Aldi karena jaketnya ia gunakan sebagai payung untuk menutupi kepalaku saat di parkiran menuju rumah kost ku yang bejarak 50 meter. Membuat aku harus rela meminjamkan handuk ku untuk mengeringkan tubuh dan rambutnya yang basah kuyup.


Aldi baru saja keluar dari kamar mandi. Aku melihat sosok yang hanya berbalutkan handuk di pinggangnya tengah berdiri dengan tegap di hadapanku. Mataku melihat bagaimana air itu mengalir di tubuhnya dan terserap handuk biru yang di pakainya.


Aku menelan ludahku. Tubuhnya begitu sempurna membuat aku terpesona dengan keindahan nya. Aku memalingkan wajahku karena tak ingin ia menyadari kekagumanku kepadanya.


"Apa kamu gak dingin, Al.?" Tanyaku mencoba membuyarkan keheningan di ruangan ini.


"Dingin lah, Rish" Sahut Aldi yang kini berjalan ke arahku kemudian duduk di sebelahku sambil menggosok telapak tangannya. Aldi selalu melindungiku sedari dulu. Bahkan ia melindungi ku dari air hujan yang jatuhnya keroyokan.


"Kamu bisa masuk angin kalau terlalu lama seperti itu. Aku akan mengeringkan baju kamu dengan cara menyetrikanya" Ucapku seraya bangkit dari sofa.


"Enggak perlu!" Seru Aldi seraya menarik lenganku hingga aku terhuyung jatuh ke Pelukannya. "Memeluk kamu aja aku udah merasa hangat"


Tangan nya mendekap erat tubuhku, membuat kepalaku bersandar di dadanya yang berotot. Aku merasa ada kehangatan di tengah dinginnya kulit Aldi. Kenyamanan ini sudah pernah aku rasakan sebelumnya, kenyamanan ini yang membuat aku jatuh cinta dan kenyamanan ini yang membuat aku tidak pernah bisa melupakan nya selama satu tahun berpisah dengannya.


"Al" panggil ku lirih. "Apa kamu akan ninggalin aku lagi?"


Aldi mencium keningku dan membelai rambutku. "Emangnya kapan aku ninggalin kamu? Malah kamu yang ngejauhin aku"


"Dulu aku sangat mencintai kamu. Saat mengetahui kamu udah punya istri, hati aku rasanya sakit banget" Ucapku yang tenggelam di pelukannya.


"Andai aja dulu kamu mau berkomunikasi sama aku sebelum memutuskan pergi, mungkin kamu tidak akan pernah mengalami rasa sakit yang bahkan gak pernah aku berikan"


"Aku tau, aku memang salah. Maafin aku!" Aku menundukan wajahku yang dipenuhi rasa bersalah.


Aldi meraih daguku membuat aku mendongak ke arahnya. "Udah lah. Gak apa-apa. Untuk apa minta maaf. Kita akan memulainya lagi kan?"


Aku mengangguk dan kembali bersandar di bahunya. Rasanya aku tidak ingin melepaskan kenyamanan ini. Aku tidak ingin kehilangan Aldi untuk yang kedua kalinya.


Waktu sudah menunjukan pukul 21:35 Wib. Tapi hujan belum juga reda. Padahal sore tadi begitu cerah, seakan tidak ada tanda-tanda akan hujan. Hujan ini seolah menahan Aldi untuk pergi. Haruskah aku membiarkannya bermalam disini?


"Sepertinya hujan nya gak akan reda. Kamu nginep aja, aku khawatir kalau kamu maksain pulang" Ujarku cemas.

__ADS_1


"Aku memang lagi nungguin kamu ngomong gitu" Aldi menyeringai lalu menunduk dan mencium bibirku dengan lembut. Rasanya aku tidak bisa menolak, caranya mengulum bibirku membuat jantungku berdetak lebih kencang. Aku membalas ciumannya yang tidak bisa aku tahan lagi.


__ADS_2