
Pagi yang cerah mengiringi hari ini. Aku sangat menikmati belaian hangat sang mentari. Aku mengangkat lenganku dan melihat sebuah cincin yang kini tengah berada di jari manisku, membuatku teringat kembali kejadian saat Reka mengajak ku pergi untuk mencari kebenaran.
Aku sempat mengira Reka akan membawaku ke sebuah tempat atau kepada seseorang. Ternyata dia hanya ingin memberikan cincin yang menjadi peninggalan kakek Sukma ini. Terngiang di telinganku kata-kata Reka sebelum ia mengantarkanku kembali ke rumah lindung,
Apa kamu ingat? Hari kedua pertemuan kita? Aku menjemputmu di rumah lindung dan membawamu ke rumahku. Waktu itu kamu menagih janjiku untuk menjelaskan bagaimana agar bisa terbebas dari dimensi ini. Sebelum aku menjelaskan, aku hendak memasangkan mu sebuah cincin perak dengan batu mustika berwarna merah yang sayang nya kamu tolak.
Cincin itu bukan cincin biasa, seperti yang sudah aku bilang, itu adalah cincin peninggalan kakek Sukma yang ia dapat dari hasil bertapa. Batu mustika yang ada di dalam cincin itu adalah mata elang bertuah yang bisa membawamu melihat masalalu.
Pada saat kamu bertemu Gama, aku tahu ia sudah mempengaruhimu. Hingga aku terpaksa memaksamu untuk memakai cincin itu agar kamu segera tahu apa yang sebenarnya terjadi tanpa harus aku jelaskan. Karena aku tahu, apapun yang aku katakan, itu tidak akan membuatmu mempercayaiku.
kamu telah banyak menyia-nyiakan waktumu untuk mencari jawaban yang sejak awal sudah ada di depan matamu.
Sekarang, pakailah cincin ini. Jika kamu ingin tahu kebenaran nya!
"Risha, pagi-pagi begini kamu mau kemana?" Tanya Rosa membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh ke arah Rosa yang tengah berdiri di teras depan rumah nya yang bersebelahan dengan rumahku. Bagaimana bisa wanita itu bersikap ramah kepadaku setelah apa yang sudah ia lakukan pada kekasihku, Aldi?!
"Aku mau joging sama Aldi!"
Ingin rasanya aku memakinya. Namun, untung saja aku masih memiliki sisa kesabaran untuk membalas keramahan nya yang mungkin hanya sandiwara.
"Wah, seru kayanya! Aku boleh ikut gak?"
Ikut? Cih, gak tau malu banget, sih, si Rosa ini. Masa orang mau joging sama pacarnya di ikutin?!
"Loh, bukannya kaki kamu lagi sakit, ya?"
__ADS_1
"Ahh itu kan, kemarin! Sekarang kaki aku udah sembuh. Kemarin Aldi merawatku dengan sangat baik." Ucap Rosa tampak bersemangat.
"Oh, gitu! Tapi maaf, Ros! Lain waktu aja, ya?! Soalnya abis joging, kami mau langsung otw ke rumahku!" Ucapku jujur.
Desiran angin pagi menambah gairah langkah kaki seseorang yang ku cintai sedang menuju ke arahku. Aku dan Rosa serempak menoleh ke arahnya, melihat senyumnya terurai untuk ku. Kemudian, berhenti tepat di depanku. Mata kami kini bertemu dengan balasan senyum di bibirku.
"Sayang, kamu udah siap, kan?!" Tanya Aldi penuh semangat.
"Udah! Malah aku sempat ngobrol-ngobrol dulu sama Rosa!" Sahutku.
"Hm" Aldi mengangguk. " Ya, udah! kita pergi sekarang, yuk?!"
Tatapan Rosa mengikuti langkah kakiku yang berlalu bersama Aldi. Entah apa yang kini sedang Rosa pikirkan, aku sudah tidak peduli!
...*°°°°°°°°°°*...
"Abis ini, kita kemana?" Tanya Aldi yang masih menyeka peluhnya.
"Kayanya aku mau ke rumah mama, deh! Seperti biasa, setiap hari minggu aku pasti jengukin mama dan papa. Yah, sekalian aku mau periksa ruangan kakek sukma lagi." Jelasku.
"Oke, kemanapun kamu mau pergi, aku pasti anterin kamu, kok! Asal jangan bawa-bawa Rosa aja. Aku gak mau hubungan kita sampai rusak gara-gara dia!" Ucap Aldi tampak kesal.
"Masa?" Sahutku.
"Ih, kok, masa?! Kan, aku udah jelasin semuanya sama kamu. Jangan-jangan kamu masih ngeraguin aku, ya?" Ucap Aldi menyelidik.
"Enggak! Aku percaya, kok! Kamu pacar aku yang paling setia. Aku cuma gak ngerti aja sama Rosa, kenapa dia ngelakuin itu. Padahal aku kurang baik apa coba sama dia?!" Aku merengut, tampak jelas kekecewaan tergambar dalam wajahku.
__ADS_1
"Kamu, sih! Polos banget pikiran nya! Dia itu naksir aku, sayang! Kan, aku ganteng! Makanya dia iri sama kamu." Ucap Aldi menyeringai.
"Ih, apaan, sih?! Pede banget, deh!" Ucapku mulai kesal.
"Kok, pede? Kan, emang kenyataan nya kaya gitu!" Ucap Aldi seraya menggerak-gerakan alisnya.
Aku berdecak. Kemudian, memutar bola mataku jengah. "Udah, ah! Jangan bahas Rosa lagi. Aku jadi badmood, deh! Aku masih gak bisa terima kalau ingat kejadian kemarin pas Rosa sama kamu berpelukan. Aku orang nya cemburuan banget, tahu!"
"Ya, udah! Jangan di bahas lagi. Yang penting aku udah jelasin semuanya sama kamu dan untung aja sekarang kamu lebih bijak dalam mengambil keputusan. Gak kaya dulu!" Uvap Aldi tampak lega.
Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya.
"Sayang, aku baru sadar, loh! kamu ternyata pake batu akik?! Beli dari mana?" Tanya Aldi seraya meraih tanganku. Kemudian, memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisku.
"Ini gak beli, tapi di kasih sama Reka." Ucapku seraya melepaskan tangan nya yang memegang tanganku.
"Kok bisa? Reka udah bisa masuk ke dimensi manusia?" Tanya Aldi penasaran.
"Enggak! Aku pake ini saat di Madavia. Pas aku bangun, ternyata cincin ini gak lepas dari jari aku. Kata Reka, aku akan tau kebenaran nya. Gak tahu, deh, gimana caranya!" Jelasku yang menatap batu mustika itu seraya mengusapnya dengan ibu jariku.
"Sayang, sumpah, deh! Itu jelek banget. Kamu jadi keliatan kaya mbah dukun gitu, loh! Gimana kalau kamu lepas aja, aku beliin yang baru, yang lebih bagus!" Ucap Aldi terdengar mencimbir.
"Jangan gitu, dong! Aku mau pakai cincin ini juga demi kebebasan aku dari dimensi siluman itu, kok! Emangnya kamu mau, aku terjebak selamanya disana? Enggak, kan?" Ucapku gusar.
Aldi tertegun. Rupanya Aldi juga cemburu melihatku memakai cincin pemberian dari laki-laki lain meskipun laki-laki itu tidak sedang bersaing dengan nya.
Rela tidak rela, Aldi membiarkan aku tetap memakai cincin mustika mata elang itu demi mendukung usahaku untuk membebaskan sukmaku yang setiap malam selalu tertarik masuk ke alam siluman.
__ADS_1
Hari sudah semakin siang, matahari sudah semakin terik dihiasi awan yang berarak. Aku dan Aldi segera bergegas pergi menuju ke rumah mama Erina dengan menggunakan taksi.