
Aku melepaskan pelukanku di iringi Reka yang menoleh ke belakang. Aldi menyeka air matanya, ia benar-benar tampak kalut saat ini. Aku mengerti betapa kejadian ini telah melukai perasaannya, namun apa yang sudah ia lihat adalah ketidak sengajaan diriku yg spontan memeluk Reka yang telah menyelamatkanku.
"Aldi, kamu disini?" Tanyaku terkesiap, seraya bangkit dari dudukku dengan gugup.
"Kenapa? Kedatangan aku mengganggu kamu, gitu?" Aldi balik bertanya seraya memandangku dengan tatapan yang menusuk hatiku.
"Kenapa kamu ngomongnya gitu, Al?" Tanyaku, membalasnya dengan tatapan memelas.
"Loh, emang kenapa? Aku salah ngomong, ya?" Lagi-lagi Aldi menyahut dengan pertanyaan.
"Al, tolong! Kamu jangan salah paham dulu." Kataku, mencoba membuatnya tenang.
"Salah paham apa, Risha? Jelas-jelas aku lihat dengan mata kepala aku sendiri, kamu lagi pelukan sama orang ini." Ucap Aldi dengan nada tinggi dan jari telunjuk yang menunjuk ke arah Reka. "Terus kamu bilang aku salah paham?"
"Terus kalau aku pelukan sama orang lain, kamu bisa seenaknya menyimpulkan kalau aku selingkuh, gitu?"
"Aku gak pernah bilang kalau kamu selinguh!" Sahut Aldi mengelak.
"Terus kenapa marah?" Tanyaku.
"Aku cuma_" Aldi menjeda perkataanya. Kemudian, ia menghela nafas panjang. "Risha, kamu gak tahu betapa aku khawatir sama kamu sampai aku bela-belain datang ke ciamis dan memasuki portal yang ada di hutan itu, lalu nyari-nyari kamu sampai akhirnya aku ketemu Gama. Aku benar-benar takut kamu kenapa-napa dan setelah aku ketemu kamu, aku malah lihat ini?"
"Aldi, sudahlah. Aku yakin kalian hanya salah paham." Kata Gama yang baru mendapatkan kesempatan untuk menyela.
Di sisi lain, Reka palsu yang sudah kehilangan banyak energinya saat melawan Samba malah melarikan diri sampai akhirnya terjadi kejar-kejaran. Namun, Samba tidak berhasil mengejarnya dan kembali dengan wajah menyesal karena merasa telah gagal.
"Kita selesaikan ini di rumahku!" Ucap Reka yang tiba-tiba membopongku dengan cepat membawaku pergi melesat begitu cepat menuju rumah pohonnya.
__ADS_1
"Hey, mau dibawa kemana calon istri gue?" Seru Aldi memprotes, namun tidak sempat menghentikannya. Sehingga Aldi harus ikut bersama Samba dan Gama ke rumah Reka.
Setibanya di rumah pohon Reka, kami duduk di bangku yang ada di balkon rumahnya. Aldi menatap tajam ke arah Reka dengan raut wajah gusar. Dalam hatinya, ia ingin sekali memaki laki-laki yang telah berani menyentuh calon istrinya. Namun, ia masih memilih untuk diam karena saat ini kami justru sedang membahas hal yang lebih penting.
"Siluman itu pasti akan mencoba melakukannya lagi." Kata Gama memprediksi.
"Siapapun siluman itu, pasti dia adalah pengikut setia Dewari." Sahut Reka menduga-duga.
"Kalian yang lebih mengenalnya, harusnya kalian lebih tahu siapa pengikut setia Dewari." Ucap Samba.
"Gue gak mau tahu, gimanapun caranya. Hal ini gak boleh sampai terjadi lagi. Beruntung Samba datang di saat yang tepat, kalau sampai terlambat?" Ujar Aldi.
"Udah, kalian pulang aja dulu, biar kami yang mencari tahu semua ini. Samba, kembalilah jika energimu sudah pulih." Ujar Gama menatap Samba.
Reka dan Gama mengantar aku dan Aldi sampai ke Altar. Sedangkan Samba, sudah kembali lebih dulu dengan menggunakan ajian qulhu balik. Sesekali aku melirik Reka dengan ragu, sebelum akhirnya kami sampai di hutan.
...*°°°°°°°°°°*...
Keesokan paginya, aku masih belum menerima kabar dari Aldi. Bahkan saat aku melihat ponselku, aku masih tidak menemukan satu pesanpun yang masuk dari Aldi.
"Risha, berangkat, yuk?!" Teriak Rosa dari luar rumahku.
Aku menghela nafas sejenak sebelum akhirnya aku pergi bersama Rosa menuju Toko tempat kami bekerja. Saat di perjalanan, Rosa mengerutkan dahinya saat melirik gelang yang melingkar di pergelangan tanganku
"Gelang kamu bagus, beli dari mana?" Tanya Rosa yang entah sedang memuji atau hanya mencibir.
Aku mengangkat tanganku dan mengamati gelang yg terbuat dari akar pohon dan di untun dengan sedemikian rupa hingga bentuknya terlihat sangat cantik. Aku masih ingat, bagaimana Reka memasangkan gelang ini saat kami di perjalanan menuju rumah Reka. Dia bilang, gelang yang berwarna kuning gading ini akan berubah warna ketika aura jahat berada di dekatku. Meski sebenarnya aku tidak terlalu memahaminya, karena Reka tidak sempat menceritakannya dengan begitu jelas.
__ADS_1
"Ini cuma kenang-kenangan aja, dari seseorang!" Sahutku yang bisa dibilang jujur.
Kami sampai di Toko Giant Jaya, tempat kami bekerja. Entah kenapa, hari ini begitu membosankan. Sampai tiba di jam istirahat, seharunya aku makan banyak hari ini. Apa lagi, di warung nasi langgananku ini tercium kuat aroma ayam bakar yang seharusnya menggugah selera makanku. Sepertinya ada yang salah dengan perutku, atau mungkin penciumanku.
Rasanya aku seperti mendengar suara Reka dari tempat yang jauh. Aku tidak yakin. Tapi ada sesuatu yang tidak menyenangkan yang akan terjadi, dan aku bisa merasakan hal itu.
Tapi tiba-tiba Rosa bersuara. "Perasaan tadi gelang kamu berwarna krem, kenapa sekarang berubah jadi coklat?"
Aku mengerutkan dahi, lalu melirik gelang yang melingkar di pergelangan tanganku. Mataku terbelalak saat gelang itu berubah warna menjadi coklat muda, kemudian teringat akan perkataan Reka tentang aura jahat di sekitarku jika warna gelangnya berubah. Aku ingin mengelaknya, tapi pandanganku tidak bisa menolak untuk tidak mengelilingi ruangan ini dengan sedikit panik serta penasaran.
"Cari siapa, sih?" Tanya Rosa yang ikut-ikutan celingak-celinguk dengan heran.
Aku menatap Rosa dan meraih pergelangan tangannya. "Kita harus pergi!"
Sesampainya di toko, lagi-lagi Rosa berujar, "Ternyata gelang kamu beneran unik, Rish. Lihat, dia berubah warna lagi."
Aku menghela nafas lega saat aku melirik gelangnya sudah kembali berubah warna seperti semula. Rosa mengerutkan dahi saat melihat aku menyunggingkan senyum tipis ke arah gelang itu terpasang.
"Kenapa?" Tanya Rosa heran.
"Enggak!" Sahutku seraya duduk di kursi depan meja komputer. Menggeliat sebentar untuk sejenak meregangkan otot-ototku yang terasa tegang.
"Sikap kamu aneh banget hari ini." Ucap Rosa tampak mencemaskanku. "Kamu sakit?"
Aku menggeleng, dan mulai melayani pembeli yang sudah mengantri tanpa menanggapi Rosa lebih jauh. Rosa hanya menghela nafas, kemudian ia lekas menyusul dan mengetik di komputernya.
Pukul tiga sore, aku dan Rosa baru saja keluar dari Toko. Aku melihat ke arah parkiran tempat Aldi biasa menungguku dan aku tidak mendapatinya disana. Aku yang biasanya menolak untuk dijemput karena jarak dari toko ke kosan cukup dekat, namun kali ini justru aku berharap dia datang menjemputku. Aku menghela nafas kecewa lalu bergegas pergi bersama Rosa.
__ADS_1
Dengan dahi yang mengkerut, Rosa berkata, "Tumben, Aldi gak ada jemput!"
"Aldi lagi sibuk hari ini." Sahutku mencoba menyembunyikan masalah antara aku dan Aldi di depan Rosa. Walaupun ia temanku, aku tidak ingin memberinya celah untuk bahagia di atas kesedihanku. Entah kenapa, aku masih belum bisa mempercayai Rosa meski dia selalu bersikap baik padaku. Hanya saja sejak aku melihatnya berpelukan dengan Aldi waktu itu, kepercayaanku seakan sudah tak utuh lagi.