
"Aku masih gak habis pikir, kenapa Aldi tega nusuk Risha. Apa karena Risha hamil terus dia gak mau tanggung jawab gitu?" tanya Papa Johan pada Istrinya. Rupanya topik pembicaraan mereka tentang Aldi masih belum usai.
"Aldi gak salah, Om!" seru Samba tiba-tiba menyela. "Anjani yang udah bikin Aldi ngelakuin itu."
Mama Erina dan Papa Johan tampak fokus saat mendengar penjelasan dari Samba tentang Anjani. Samba tidak melewatkan satu kisah pun untuk di ceritakan pada Mama Erina dan Papa Johan.
Samba tidak tahu bagaimana caranya mengakhiri ceritanya tentang Anjani. Dia tidak tahu sudah berapa banyak umpatan yang keluar dari mulut Aldi dan air mata yang di keluarkan orang tua Risha saat mendengar tentang salah satu anak kembarnya itu.
Suara Mama Erina menjadi yang pertama memecah keheningan di antara mereka. Rupanya ia tidak sanggup lagi mendengar tentang perbuatan Anjani pada Risha.
Wanita itu tidak tahu bagaimana caranya untuk menghentikan tangisan nya. Ada beberapa hal yang selalu ia sesali dalam hidupnya, dan penyesalan itu yang setiap malam selalu mengganggu tidurnya, merenggut mimpi indahnya dan tidak menyempurnakan kebahagiaan nya.
Mama Erina sangat menyesal karena telah membiarkan Kakek Sukma Wijaya membawa Anjani ke Madavia, membuat hubungan persaudaraan itu sekaan tidak bernilai dan menjadikan saudara kembar itu berseteru.
Kalau saja ia memiliki pilihan lain, kalau saja keadaan tidak memaksa dirinya untuk melepaskan Anjani, mungkin kebahagiaan keluarga itu akan lebih sempurna. Mama Erina yakin, kekuatan batin hubungan saudara kembar itu akan membuat mereka saling mengasihi dan saling melindungi.
Tapi ia juga sadar, jika ia tidak memberikan Anjani maka keduanya akan tiada. Dewari akan merenggut hak nya sebagai seorang ibu, dan Mama Erina akan kehilangan segalanya.
"Tunggu, deh!" seru Papa Johan tampak sedang memikirkan sesuatu. "Jangan-jangan, hilangnya janin Risha ada kaitan nya sama Anjani."
"Janin Risha hilang?" samba dan Aldi berseru beriringan.
Samba mendorong kursi roda yang di duduki oleh Aldi. Ia hendak mengantarkan Aldi ke ruangan Icu untuk melihat Risha. Namun tiba-tiba Dokter yang tengah mencarinya sejak tadi menghentikan nya. Dokter itu kemudian membawa Aldi kembali ke ruang rawatnya sebelum ia berhasil melihat keadaan Risha yang katanya masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Al, gue tinggal dulu ya. Gue mau cari Reka, mau nanya soal janin Risha yang hilang sekaligus mau ngasih kabar baik sama dia kalau Anjani udah berhasil gue segel." Ujar Samba berpamitan kemudian ia bergegas pergi.
Samba kembali menemui orang tua Risha yang masih menunggu di ruang tunggu pasien. Ia enggan untuk pulang hanya karena ingin melakukan tirakat meraga sukma, sedangkan Samba tahu setelah melakukan itu ia masih harus kembali ke rumah sakit ini untuk memantau keadaan Risha. Waktunya akan habis di makan perjalanan antara Bandung dan Ciamis.
"Om, Tante. Samba mau pergi ke Madavia, mau cari Reka. Samba pengen tanya sama Reka soal janin Risha yang hilang, barangkali dia tahu mengenai itu. Samba juga mau kasih tahu Reka kalau Anjani udah berhasil Samba segel, jadi kalau di izinkan Samba mau pergi lewat peti yang di simpan di ruangan Kakek Sukma." ujar Samba.
"Ya udah, kamu pergi aja. Nanti biar Om telepon Bi Wati buat anterin kamu ke ruangan Kakek." sahut Papa Johan.
"Tidak perlu, aku sudah disini." seru Reka tiba-tiba.
"Wah baru aja si omongin, udah nongol orang nya!" seru Samba.
"Om, Tante!" seru Reka seraya berjalan mendekat ke arah Mama Erina dan Papa johan yang tengah duduk bersanding. "Aku harap kalian mengerti dengan apa yang terjadi pada Risha dan Aldi, kalian mengetahui semua tentang kami dan dimensi kami. Aku harap orang lain tidak perlu mengetahui semua ini."
"Maksudnya gimana, sih?" tanya Mama Erina.
"Tapi kenapa janin Risha bisa hilang?" tanya Papa Johan penasaran.
"Ummu Syiban sudah mengambil janin Risha saat di Madavia. Aku sudah berusaha menyelamatkan Risha, namun rupanya aku kalah cepat dari makhluk itu." Jelas Reka.
...***...
*Risha Pov*
__ADS_1
Pelan-pelan aku membuka mataku, samar-samar aku melihat cahaya terang lampu yang menyorot ke arahku. Aku mulai mengedarkan mataku di ruangan yang sunyi nan sepi ini, hanya bunyi menderu dari layar monitor menjadi suara pertama yang aku dengar.
"Aku dimana?" Gumamku.
Aku tidak ingat, bagaimana aku bisa sampai disini. Aku hanya ingat saat hatiku merasa lega setelah melihat Aldi sudah berada di ruangan Kakek Sukma. Dan..
Aldi menusukku?
Aku menyentuh perutku, meraba luka yang terasa kasar oleh jahitan. Aku tidak bisa menahan untuk tidak menangis. Bukan, bukan karena perutku yang berdenyut-denyut antara ngilu dan perih, tapi ada yang lebih menyakitkan dari itu.
Perutku yang terluka, tapi hatiku yang merasakan sakitnya. Aku sakit saat membayangkan kembali tatapan Aldi ketika pisau itu di tusukan ke perutku oleh tangannya.
Tangan yang selalu membelaiku, tangan yang selalu menyentuhku penuh kasih, tangan yang biasa ia gunakan untuk menghapus air mataku dan tangan itu telah berusaha melenyapkan aku.
"Risha!" suara laki-laki itu memecahkan keheningan di ruangan ini. Ia berjalan mendekat dengan senyum yang terlukis indah di wajahnya. Kemudian, ia mengusap lembut dahiku, menatapku penuh haru.
"Terimakasih, terimakasih karena kamu mau berjuang untuk hidup." sambungnya.
"Reka, kenapa Aldi ngelakuin itu sama aku?" tanyaku, air mata menetes seiring dengan pertanyaan itu keluar dari mulutku.
"Tidak, Risha. Aldi tidak sengaja melakukan itu, Anjani telah merasukinya." Jawab Reka.
Aku tidak menyangka Anjani akan setega itu kepadaku, ia telah melampaui batas. Kelakuan nya telah membangkitkan perasaan dendam di dalam hatiku, ingin rasanya aku melampiaskan kemarahan ku padanya. Aku bahkan tidak merasa lega saat Reka memberi tahuku bahwa Anjani telah mendapatkan balasan dari perbuatan nya oleh Samba.
__ADS_1
Bagiku itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang bertubi-tubi ia limpahkan padaku. Hanya di segel di batu giok? bahkan ia tidak akan merasakan sakit seperti yang sudah ku alami karenanya.
Sakit yang seakan tidak berujung, sakit yang semakin bertambah saat Reka memberitahuku pula tentang janin yang hilang dari rahimku. Kebencianku semakin tak terkendali, aku tidak ingin memaafkan Anjani yang bahkan tidak pernah meminta maaf padaku.