Meraga Sukma

Meraga Sukma
51. Pengorbanan Membangkitkan Dewari


__ADS_3

"Permisi!" Suara seorang laki-laki di luar familiar bagiku.


Mama memandangku sambil mengerutkan dahinya. "Itu siapa, ya?"


Aku menggeleng mencoba menepis dugaanku. "Gak tahu!"


"Permisi!" Kali ini suaranya lebih terdengar tinggi.


"Iya, sebentar!" Seru Mama seraya mengajak ku keluar menemui pemilik suara itu.


'Reka?' Batinku seraya memicingkan mata saat melihat Reka tengah berdiri di depan rumahku. 'Kenapa dia bisa datang kesini?'


"Maaf, cari siapa, ya?" Tanya Mama heran.


Reka melirik ke arahku, lalu tersenyum tipis. Mama yang melihat wajahnya, kemudian menoleh ke belakang dan melihat aku sedang bertukar pandang dengan Reka.


"Oh, cari Risha, ya?" Tanya Mama lagi. "Silahkan masuk!"


Reka masuk ke dalam rumah, kemudian duduk di sofa ruang tamu. Pandangannya menyapu ruangan rumah ini sebelum akhirnya pandangannya tertuju ke arahku yang sedang menatapnya dengan heran.


"Kamu kenapa kesini?" Tanyaku penasaran.


"Tidak boleh, ya?" Sahut Reka balik bertanya.


"Enggak, aku cuma heran aja!" Sahutku singkat.


"Bukankah aku udah pernah bilang bahwa aku akan menemuimu?" Tanya Reka.


"Iya, aku ingat. Aku cuma mengira ada hal lain yang bawa kamu datang kesini." Sahutku.


"Aku hanya merindukan mu. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Ajak Reka

__ADS_1


"Jalan-jalan? Kemana?" Tanyaku.


"Ke dimensiku. Aku akan bawa kamu ke suatu tempat yang indah yang belum sempat kamu datangi saat di Madavia." Sahut Reka.


"Emangnya ada yang lebih indah dari apa yang udah aku lihat di Madavia?" Ucapku bertanya.


"Tentu saja ada, kamu pasti menyukainya." Sahut Reka membuatku semakin penasaran.


Aku melirik jam dinding yang menunjukan pukul 07.30 Wib. Rasanya tidak ada salahnya aku menerima ajakan Reka, lagi pula aku tidak ada janji bertemu Aldi hari ini.


"Oke, kalau gitu tunggu bentar, ya! Aku mandi dulu." Ucapku yang kemudian berlalu.


Usai mandi dengan berpakaian rapi lengkap dengan riasan natural khasku, akhirnya kami pergi setelah berpamitan dengan Mama Erina. Entah mengapa aku merasa ada yang berbeda dari Reka. Tidak, bukan tentang penampilan nya, tapi ekspresi wajahnya yang membuat aku seakan merasa sedang bersama orang asing.


"Dimana kamu menyimpan peti itu setelah membebaskan putri kalingga?" Tanya Reka menatapku begitu dingin.


"Aku tinggalin di hutan!" Sahutku jujur.


"Kenapa tidak di bawa pulang?" Tanya Reka.


"Peti itu terhubung juga dengan Altar. jangan sembarangan menyimpan nya. bagaimana kalau sampai ada orang lain yang menemukan nya?" Jelas Reka.


"Apa? Aku pikir, setelah hutan itu di hubungan dengan Altar melalui Putri Kalingga, peti itu jadi gak berguna lagi!" Ujarku.


"Apa tidak ada yang memberitahumu tentang bagaimana peti itu membawa Wijaya datang ke Madavia?" Tanya Reka.


'Wijaya? Tumben! Biasanya Reka panggil Kakekku dengan sebutan Kakek Sukma.' Batinku bertanya-tanya.


"Apa kamu ingat udah ngasih tahu aku atau belum soal itu?" Tanyaku menyelidik.


Reka mendesah seraya menggeleng. "Sudah lah, nanti biar aku yang bawa ke rumahmu."

__ADS_1


'Aneh!' Batinku.


Dengan sekejap mata Reka membawaku kembali ke hutan. Bahkan kami tidak memerlukan kendaraan apapun untuk sampai disini. Reka menuntunku memasuki portal menuju dimensi siluman. Rasanya seperti sedang terjun ke dalam sumur dengan ritme yang perlahan. hingga akhirnya aku sampai di dalam sebuah pohon yang tak lain adalah Altar.


ini adalah pertama kalinya aku datang ke Madavia dengan membawa tubuh fisiku. Entah kenapa aku merasa ada yang janggal dari perjalanan yang ku tempuh bersama Reka. Bukankah seharusnya aku merasa bahagia, karena bisa bertemu dengan Reka. Bahkan berjalan-jalan dengannya, melesat melewati bebatuan dan pohon-pohon rindang dengan membiarkan aku menaiki punggungnya dan merasakan hembusan angin yang begitu segar hingga akhirnya kami sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi hingga aku dapat melihat pemandangan di bawahnya.


"Apa sebelumnya ada yang pernah mengajakmu ke tempat ini?"


"Reka, ini tempat dimana Dewari dulu mengikat aku sama Anjani." Ucapku yang masih mengenali bukit ini. Bagaimana aku bisa melupakan saat-saat dimana aku hampir saja mati di tempat ini. "Kenapa kamu bawa aku kesini?"


"Aku ingin membangkitkan kembali Dewari!" Sahut Reka yang membuatku menahan nafas. Hatiku yang biasanya berdesir saat bersamanya, kini malah terasa begitu menakutkan. Ada apa dengan Reka?


Reka membawa keris dan candi berisi air yang sudah ditaburi bunga mawar merah, membuat aku teringat kembali akan apa yang waktu itu Dewari lakukan juga sama. Apa yang sebenarnya Reka pikirkan?


"Reka, kayaknya aku harus pergi. Aku lupa kalau hari ini aku ada janji sama Aldi." Ucapku yang tidak ingin berlama-lama di tempat ini bersama sikap Reka yang aneh, membuatku tidak enak hati seakan aku sedang dalam masalah saat ini.


Baru saja aku hendak pergi, tiba-tiba tangannya mendorong dadaku hingga aku tersungkur jatuh ke tanah yang dipenuhi batu kerikil. Aku memekik kesakitan karena lenganku yang bergesekan dengan batu kerikil itu telah membuat lenganku terluka dan berdarah.


"Reka, kamu apa-apaan, sih?! Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku?" Tanyaku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aku merasa sakit hati bercampur takut, melihat perubahan sikap Reka.


Tiba-tiba Reka tertawa seakan ada sesuatu yang menggelikan. Dia semakin membuatku ketakutan, apa lagi sekarang dia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arahku dengan tatapan yang jahat yang begitu tajam. Aku menyeret mundur tubuhku yang masih terduduk di tanah yang berkerikil, apa yang sebenarnya akan Reka lakukan padaku?


"Tidak akan ada yg bisa menyelematkanmu!" Ujar Reka yang berhasil meraih tubuhku, membopongku dan membawaku ke arah batu besar nan datar, batu yang pernah membuatku terbaring tidak berdaya bersama Anjani.


"Reka, tolong! Sadarlah, Aku Risha-mu. Mana bisa kamu ngelakuin ini sama aku setelah apa yang udah kita bersama." Ucapku berusaha membujuknya.


Reka membaringkan tubuhku di atas batu besar yang datar itu dan mencoba mengikat tanganku dengan seutas tali yang entah sejak kapan ia siapkan di batu itu. Apakah dia memang sudah merencanakan ini semua sejak dulu, dan aku tidak tahu? Tapi kenapa?


"Reka, lepasin aku! Aku mohon, sadarlah!" Ucapku terus memohon dan berharap ia tidak benar-benar ingin mengikatku.


"Kamu udah membuat Dewari Tiada, sekarang aku mau kamu menggantikan nya." Ujar Reks yang sudah berhasil mengingat kedua tanganku. Betapa aku berusaha melepaskan diri dengan terus meronta, namun aku sungguh tidak berdaya.

__ADS_1


'Tunggu, kenapa aku lupa kalau aku bisa melawannya dengan ajian qulhu geni?' Batinku.


Sayang sekali, sekarang sudah terlambat untuk melawannya karena tanganku sudah terikat. Dan ini membuatku sangat putus asa!


__ADS_2