
~Flashback On~
"kenalin ini temen aku, nama nya Risha" Mira tengah memperkenalkan ku kepada seorang pria dengan pakaian rock'n roll yang tak lain adalah pacarnya Mira.
Pria yang berusia 23 tahun itu tersenyum ramah ke arahku seraya mengenalkan dirinya "Beni" Ucap pria itu yang kemudian berjabat tangan denganku sebagai tanda perkenalan.
Mira duduk di sofa panjang tepat di sebelah Beni. Sedangkan aku duduk berhadapan dengan Mira dan Beni.
"Oh ya, Mir. Aku pulang ya" Aku bangkit dari sofa dan bersiap untuk meninggalkan rumah ini serta Mira dengan Beni agar aku tidak mengganggu momentum mereka berdua.
"Pulang??" Tanya Mira seraya melepaskan tangan Beni dari pundaknya. "Jangan dong, kita kan baru aja sampai. Masa pulang sih..."
"Yah kan aku aja yang pulang, kamu gak usah.. Perjanjian nya kan aku cuma nganterin kamu aja" Sahutku
"Kalau ibu Erina nanyain aku ke kamu gimana?" Tanya Mira
"Kamu tenang aja, nanti aku bilang sama mamah kalau kamu pulang kampung" Jawabku
"Ya udah, tapi sebelum itu aku mau nunjukin sesuatu sama kamu" Kata Mira membuat langkahku tertahan.
Aku mengerenyitkan dahi "Apa?"
"Tunggu, aku ambilkan dulu" Mira pergi arah pintu keluar.
"Mau kemana??" Tanyaku heran melihat Mira hendak keluar dari rumah ini.
"Ngambil dulu barang nya lah, surprice deh pokoknya" Jawab Mira, kemudian lekas pergi dari rumah ini meninggalkan aku bersama Beni.
Entah apa yang akan di tunjukan Mira kepadaku. Sebenarnya aku tidak tertarik, hanya saja aku tidak ingin membuat Mira kecewa jika menerima penolakan dariku. Aku melihat jam di ponsel ku, sudah 5 menit aku menunggu namun Mira masih belum kembali.
Beni tersenyum sendiri ketika melihatku yang tampak gelisah "Kamu nungguin apa, sayang?"
Aku menoleh ke arah Beni yang kini tengah bangkit dari sofanya lalu kembali duduk di sofa tepat di sebelahku. Aku memandang nya dengan tatapan sinis, merasa sebal dengan kata _sayang_ yang ia lontarkan kepadaku sedangkan ia adalah pacarnya Mira, wanita yang sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri. Ucapan Beni Itu mencerminkan bahwa Beni pasti bukan pria yang setia pada Mira.
Beni merangkul pundak ku, membuatku semakin merasa tidak nyaman. Aku berdecak kesal menunggu Mira yang tak kunjung kembali.
__ADS_1
"Udah lah, aku mau pulang aja. Bilang sama Mira nunjukin surprice nya lain waktu aja." aku bangkit dari sofa bersiap untuk pergi.
Tiba-tiba Beni menarik tanganku hingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh kedalam pelukannya.
"apa-apaan ini, lepasin..." Aku mengangkat tubuhku sendiri yang tengah menindih tubuh Beni.
Beni menahan tubuhku dalam pelukan nya dengan begitu kuat kemudian mengangkat tubuhku dan membawanya masuk ke dalam kamar tidur lalu menjatuhkan diriku di atas ranjang. Dia menindih tubuhku yang terlentang dan mengunci kedua tanganku hingga aku tak bisa memberontak.
"Kamu gila, cepat lepasin aku" Teriak ku yang kini mulai marah.
Beni terkekeh geli ketika melihat wajah ku yang mulai tegang. "Aku akan lepasin kamu" Jawab Beni dengan senyuman iblis. "Tapi setelah aku selesai menikmati tubuhmu, sayang"
Kini aku merasa sangat ketakutan. Bagaiaman bisa pria ini berfikir untuk memperkosaku. Lalu kemana Mira? mengapa Mira tak kunjung kembali?
"Dasar mesum... Cepat lepasin aku, aku mau pulang..." Beni tidak menghiraukanku, ia malah lekas mencium bibirku penuh nafsu.
Aku masih berusaha memberontak, namun tetap saja tidak bisa karena pria ini terlalu kuat. Ketika Beni tengah menciumi leherku, tiba-tiba seseorang memukul pundak Beni dari belakang hingga membuat beni tersungkur jatuh ke lantai.
Terlihat seorang pria tampan, warna kulitnya hitam manis, hidungnya mancung dan mata teduh mengenakan jaket kulit tengah memandangku dengan tatapan iba.
"Kalo gue gila terus lo apa, waras?" Bentak Aldi balik bertanya.
Meskipun wajah Beni tampak kesal, tetap saja ia tidak berani menyela. Beni hanya menunduk malu kemudian Aldi menarik lenganku hingga aku terhuyung ke pelukan nya.
"Dibayar berapa lo sama Mira?" tanya Aldi membuat ku sontak menoleh ke arah Aldi dengan terbalalak.
"Satu juta, Al.." jawaban Beni sungguh membuatku tercengang. Aku menutup mulut ku dengan keduan tanganku, aku tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.
"Satu juta?" Aldi mengeluarkan dompet nya dan mulai menghitung uang yang di keluarkan dari dompetnya.
"Gue kasih lo dua juta, tapi lo balikin lagi duit satu juta itu ke Mira." Aldi melemparkan uang yang sudah di hitung nya tepat di wajah Beni.
"gue ingetin lo, rumah ini bukan markas pencabulan. Lo fikir setelah lo ngelakuin ini sama dia semuanya selesai gitu aja? Enggak, Ben... Lo bakalan jadi buronan polisi.." Ujar Aldi seraya merangkul pundak ku, membawaku keluar dari rumah ini lalu masuk ke dalam mobil. Aldi menyalakan mesin mobil dan mulai mengemudikan nya.
"Kamu siapa? Kamu mau bawa aku kemana?" Tanyaku masih ketakutan.
__ADS_1
"Aku Aldi, aku mau nganterin kamu pulang" Jawab pria yang kini tengah duduk di jok mobil tepat di sebelahku.
Aku yang duduk di samping Aldi menoleh ke arah jendela mobil. "Kenapa kamu nolongin aku?"
Aldi menyipitkan matanya tampak heran. "Kamu keberatan aku nolongin kamu?"
Aku menoleh ke arah Aldi kemudian menggelengkan kepala. "Enggak lah, justru aku bersyukur karena kalau gak ada kamu entah gimana nasib aku"
Aldi tersenyum tipis kemudian menoleh ke arahku pula "Oh ya, siapa namamu?"
"Aku Clarisha, panggil aja Risha" Ucap ku sambil memandang Aldi yang tengah menanggapi nya dengan mengangguk.
"Dimana rumah kamu?" Tanya Aldi
" Di perumahan Atlantis" Jawabku.
"Akan aku antar kamu pulang" Ujar Aldi
Aku mengangguk "Oh ya, kenapa kamu tau kalau aku ada di rumah itu dan kenapa kamu tau kalau mira udah bayar Beni buat ngelakuin itu sama aku?"
"Dika yang memberi tahuku segalanya" Jawab Aldi yang fokus pada jalan di depannya.
Aku memiringkan wajahku "Siapa Dika?"
"Temanku. Dika masih satu gank sama aku dan Beni. Mira bayar Dika dan Beni untuk memperkosa kamu, tapi Dika menolak. Dika lebih memilih melaporkan nya sama aku. Untung aja aku datang tepat waktu" Terang Aldi
"Aku gak percaya Mira bisa setega itu bayar pacarnya buat memperkosa aku. Memang nya apa salah aku sama dia" Ujarku
"Kamu gak salah, cuma dia aja yang sirik sama kamu" Ujar Aldi membelaku "Lagian Beni itu bukan pacarnya Mira, Mira pasti sengaja bikin cerita seperti itu agar kamu gak curiga"
Aldi benar-benar mengantarku pulang ke rumahku. Dia menyelamatkan aku meski sebelumnya ia tidak mengenal diriku. Entah bagaimana nasibku jika Aldi tidak datang tepat waktu, aku bahkan tidak sanggup membayangkan nya.
Sejak itu aku dan Aldi saling mengenal dan kami mulai sering bertemu hingga akhirnya saling jatuh cinta. Aku baru tau bagaiamana rasanya cinta, ini tidak berarti aku baru merasakan pacaran, hanya saja selama pacaran dengan yang lain, aku tidak merasakan cinta seperti yang kini tengah aku rasakan pada Aldi.
Sejak saat itu pula Mira tidak pernah kembali. Entah kemana dia pergi dan mengapa ia ingin menghancurkan hidupku, sedangkan aku sudah menganggapnya adik ku sendiri bahkan Mamah Erina dan Papah Johan pun sudah menganggap Mira sebagai anaknya sendiri meskipun Mira hanyalah anak pembantu di rumah ini.
__ADS_1
~Flashback Off~