
"Apa? Aswasada bilang kayak gitu?" Sontak aku tercengang saat mendengar penolakan Aswasada dari mulut Reka. Apa lagi saat aku mendengar kalau Aswasada ingin balas dendam padaku, aku malah semakin geram dan ingin cepat-cepat menemui siluman sialan itu untuk memberinya sedikit pelajaran. "Gak bisa, ini gak bisa di biarin, aku harus pergi."
"Tidak Risha, jangan!" wajah Reka tampak panik. "Terlalu berbahaya untuk wanita hamil berada di Madavia apalagi dalam keadaan malam hari seperti ini."
"Iya, kamu bener. Dari awal aku datang ke Madavia sampai sekarang, aku selalu dalam bahaya. Tapi buktinya aku gak pernah kenapa-napa kan?" Aku terus mengelak seraya mendelik Reka
"Tapi kali ini berbeda Risha, karena Ummu Sibyan akan dengan mudah menemukanmu di Madavia. Ummu Sibyan memiliki rupa yang menyeramkan, mata nya bulat seperti cicak dan jalannya merangkak bahkan ia dapat merayap di dinding, dia adalah jin pengganggu bagi wanita hamil. Ummu Sibyan akan masuk ke dalam rahim perempuan dan mengikat rahimnya, agar perempuan yang sedang hamil itu keguguran. Ummu Sibyan juga suka mengganggu anak-anak kecil dan anak-anak yang diganggu oleh Ummu Sibyan akan menangis dengan mata terbelalak memandang ke atas atau sudut-sudut rumah sembari mengigau sambil menggemerutukkan gigi." Imbuh Reka dengan suara yang sengaja di desis-desiskan agar terdengar menyeramkan.
"Stop! Jangan bicara lagi Reka, kamu sengaja ya mau nakut-nakutin aku?" Aku menyentuh tengkukku yang sedari tadi merinding. Tanpa sadar ketakutanku membuatku mengedarkan mataku dan aku mulai berjalan ke arah Reka dan duduk di sebelahnya. Aku memegangi bajunya seakan takut Reka akan tiba-tiba menghilang dari hadapanku.
"Kamu takut?" Tanya Reka dengan wajah datar. Jika dia sedang mengejekku, seharusnya saat ini dia sedang menahan tawa melihatku seperti ini. Tapi tetao saja pertanyaan itu terdengar mengejek bagiku.
"Takut? Hahaha, mana mungkin aku takut. Aku cuma ngeri aja denger cerita kamu!" Sahutku berbohong, menutupi rasa gengsiku karena pada awalnya aku sok berani. "Ya udah, aku gak akan pergi ke Madavia, deh!"
Aku tidak bisa membantah larangan Reka meskipun saat ini aku benar-benar geram terhadap Aswasada. Aku tahu Reka melakukan ini demi keselamatanku, tapi mungkin aku bisa tenang selama Aldi belum di temukan. Rasanya aku ingin memberi Aswasada pelajaran meskipun sebenarnya aku bukan seorang jagoan, setidaknya aku bisa memakinya sepuas hatiku.
Setelah Reka pulang, aku hanya bisa rebahan dan ini sangat menyebalkan bagiku. Aku berdiri di balik jendela, melihat betapa cerahnya langit. Saat ini di dimensi manusia matahari tengah bersinar, sedangkan di Madavia bulan tengah bersinar. Waktu disana seakan kebalikan waktu disini.
Tiba-tiba aku teringat kembali perkataan Reka tentang Ummu Syiban yang akan dengan mudah menemukan aku di Madavia apa lagi pada malam hari.
Mungkin itu artinya aku bisa pergi ke Madavia saat matahari sedang bersinar disana. Tentu saja aku harus pergi, bagaimana pun caranya aku harus memaksa Aswasada agar mau bicara.
Peti yang ku sudah letakan kembali di ruangan Kakek Sukma seakan memanggilku untuk mendekat ke arahnya, aku benar-benar tidak dapat menahan hasratku untuk pergi ke Madavia.
__ADS_1
Jam tujuh malam, aku pergi mengendap-ngendap ke ruangan Kakek Sukma. Aku membuka kunci gembok itu lalu segera masuk ke dalam nya. Tubuhku serakan terperosok ke dalam lubang gelap hingga akhirnya pantatku harus mencium dasar lubang ini.
Altar? Aku udah nyampe di Altar?
Aku membuka pintu Altar dan bergegas pergi ke istana dengan tergesa-gesa. Entah kenapa perjalanan ini terasa sangat panjang, tidak seperti biasanya. Mungkin fikiranku sedari tadi di penuhi oleh ketakutanku sendiri, nama Ummu Sibyan itu sungguh membuatku menjadi waswas berada di Madavia.
"Risha, kamu disini?" Anjani yang sedang duduk di singgasana nya langsung berdiri saat melihat kedatanganku, ia bergegas menuruni tangga untuk menghampiriku lalu ia lekas memelukku.
"Aku kangen banget sama kamu, An!" Aku merasakan kehangatan pelukan Anjani sejenak, lalu melapaskannya.
"Kenapa kamu datang kesini, Risha? Aku dengar kamu hamil, apa kamu tidak takut akan bahaya yang mengancam nyawamu di sini?" Anjani tampak mengkhawatirkan aku.
"Aku gak takut sama siapapun, An. Aku cuma takut aku akan kehilangan Aldi selamanya!" Aku tertunduk sendu di hadapan Anjani.
"Aku mau ketemu sama Aswasada, An!" seruku memandang Anjani dengan tatapan memohon.
"Tentu saja, aku akan mengantarmu adikku! tapi sebelum itu tolong dengarkan aku dulu." Anjani berbisik di telingaku dan aku mengangguk mengerti. Kemudian, Anjani mengantarku ke penjara bawah tanah.
Bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan informasi dari Aswasada. Aku sudah mempertaruhkan hidupku, sebab itu kepergianku ke Madavia tidak boleh sia-sia.
"Risha, rupanya kamu begitu merindukanku hingga repot-repot pergi menemuiku!" Aswasada tersenyum ramah, wajahnya tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun.
Astaga, jadi ini wajah asli Aswasada.
__ADS_1
Aku tertegun sebentar, melihat siluman di depanku ternyata begitu tampan. Matanya teduh seperti milik Aldi, bibirnya manis dan hidung yang proposional. Bagaimana laki-laki yang tampak polos itu bisa melakukan kejahatan?
"Kenapa kamu melampiaskan kemarahan kamu sama aku, Sada?" Aku memandangnya dengan tatapan memelas. Sebenarnya aku ingin mencekiknya saat ini jika saja Anjani tidak memberitahuku tentang kelemahan siluman ini.
"Siapa yang kamu panggil Sada, Risha?" Protes Aswasada, ia menunjukan tatapan tidak suka kepadaku.
"Kamu lah, kamu Aswasada kan? nama kamu kepanjangan, jadi aku panggilnya Sada aja!" Gurauku mencoba mencairkan suasana.
"Tidak, panggil aku dengan nama yang lengkap, Risha!" Aswasada memprotes, namun ia masih bisa tersenyum padaku.
"Oke, Aswasada! Aku mohon, tolong kamu kasih tahu aku dimana kamu sembunyiin Aldi?" Aku memandangnya dengan tatapan memelas. Namun Aswasada malah tersenyum di sebelah bibirnya, membuatku kesabaranku benar-benar tertantang.
"Apa imbalan nya untukku, jika aku membebaskan Aldi?"
Apa? Dia pikir aku lagi nyogok dia emangnya?
Untung saja aku masih memiliki stock kesabaran, jika tidak pasti sudah ku cekik longgar lehernya itu.
"Apa yang kamu mau dari aku? Nyawa aku? Kamu masih mau membangkitkan ibu kamu itu?" Aku menatap Aswasada dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Eh, apa itu?
Tatapan Aswasada tiba-tiba berubah saat melihat wajah keputus asaan dariku. Aswasada mengerenyitkan alisnya, seakan ia dapat merasakan kepiluan hati yang aku rasakan saat ini.
__ADS_1