
Reka membantuku mengemasi barang-barang yang akan aku bawa pulang ke rumah orang tuaku. Seharusnya Aldi yang bersamaku saat ini, dia yang selalu membantu aku menyelesaikan segalanya. Sekarang keadaan nya memprihatinkan, aku benar-benar merasa kehilangannya.
Aku melirik ranjang yang bukan milikku, ranjang fasilitas kost-an ini. Tiba-tiba aku membayangkan saat-saat aku bersama Aldi bercanda dan tertawa di ranjang itu. Tanpa sadar air mataku terjatuh, aku menangis tanpa isakan. Aku tidak pernah menduga jika aku akan merindukannya seperti ini.
Sebuah ibu jari yang lembut mengusap pipiku yang basah oleh air mata, sepasang mata itu tengah menatap ku penuh iba. Aku tidak bisa menahan diri lagi dan lekas memeluk laki-laki yang saat ini sedang berusaha menggantikan Aldi dalam hatiku. Aku menangis tersedu di pelukannya dan aku menyadari sesuatu, ternyata pelukan ini tidak sama dengan pelukan Aldi. Membuat rasa rinduku sama sekali tidak terobati.
"Kenapa menangis, Risha?" Tanya Reka menatapku.
"Reka, aku mohon bantu aku nyembuhin Aldi!" Seruku yang tidak bisa menahan tangis.
"Memangnya Aldi kenapa?" Tanya Reka yang belum mengetahui keadaan Aldi karena aku belum sempat memberitahu Reka.
"Kemarin Aswasada bawa aku ke tempat dimana dia nyekap Aldi. Aku udah nemuin Aldi dan bawa dia pulang ke rumahnya, tapi dalam keadaan yang gak sehat. Kata Aswasada Aldi linglung, sukmanya berada di antara dimensi manusia dan dimensi siluman. Aswasada juga bilang kalau aku mau Aldi sembuh, aku harus berkorban dengan menukar nyawa aku." Ujarku menjelaskan.
"Jika memang sukma Aldi berada di antara dimensi manusia dan dimensi siluman, harusnya Sukma Aldi berada di Altar. Tapi aku tidak pernah melihat sukma Aldi disana!" Jelas Reka.
"Terus, Aswasada bohong gitu?" Tanyaku.
"Bisa jadi dia berbohong, nanti kita interogasi Aswasada jika ke Madavia. Tapi sekarang aku ingin melihat keadaan Aldi." Ujar Reka.
"Ya udah, yuk!" Seruku lekas berdiri dengan penuh semangat, berharap Reka dapat menolong Aldi.
Namun, tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan pandanganku berkunang-kunang. Tubuhku terasa sangat lemas seakan tiada bertenaga hingga tubuhku terhuyung seakan kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh ke lantai, namun Reka lebih cepat menangkap tubuhku hingga aku jatuh ke dalam pelukannya.
"Risha, kamu kenapa? Risha, bangun!" Seru Reka merasa panik.
__ADS_1
...*°°°°°°°°°°*...
Aku mengerjap, pelan-pelan membuka mataku. Pandanganku masih sedikit kabur dan aku belum bisa melihat dengan begitu jelas, tapi aku tahu ini bukan rumah kost aku ataupun rumah orang tuaku.
"Reka!" Lirihku dengan suara serak memanggil Reka yang tampaknya tidak sedang bersamaku. Aku mencoba bangkit seraya memegangi kepalaku yang masih terasa pusing.
"Sayang, syukurlah kamu udah sadar!" Ujar Mama Erina yang baru saja masuk.
"Mama? Mama ngapain disini? Aku dimana, sih?" Aku terus bertanya seraya menelusuri tempat ini dengan mataku. "rumah sakit? Kenapa aku bisa ada di rumah sakit, Ma?
"Sayang, kamu tenang dulu ya. Iya, kamu di rumah sakit. Reka yang bawa kamu kesini." Ujar Mama Erina seraya mengelus rambutku, mencoba menenangkan aku.
"Terus Reka-nya mana, Ma?" Tanya heran.
"Kenapa kamu bawa aku ke rumah sakit, sih?" Tanyaku dengan nada kesal.
"Sayang, kamu tadi pingsan. Reka bawa kamu ke rumah sakit karena dia khawatir sama kamu. Takut kamu kenapa-napa, terus dia langsung telepon Mama dan kasih tahu Mama kalau kamu di rawat disini." Jelas Mama Erina seakan mewakili jawaban Reka.
Aku menghela nafas, merasa malas untuk mendebat. Aku tidak tahu kenapa Reka harus merasa panik saat melihatku tidak sadarkan diri sehingga ia harus membawaku ke rumah sakit. Dan kenapa Mama harus di beritahu? padahal sebelumnya aku pernah di masukan ke rumah sakit oleh Aldi dan ia tidak pernah menghubungi orang tuaku, karena Aldi tahu aku tidak suka membuat orang tuaku khawatir.
"Sebenarnya kamu gak perlu bawa aku ke rumah sakit, Reka. Aku cuma kurang tidur aja, terus kecapean juga. Berlebihan banget, sih!" Ujarku memprotes.
"Sayang, udah. Reka gak salah, dia melakukan hal yang benar. Kalau dia gak bawa kamu ke rumah sakit, mana mungkin Mama bisa tahu kalau ternyata kamu sedang hamil." Ujar Mama Erina yang membuat aku sontak menoleh ke arahnya.
"Apa? Hamil?" Aku terlonjak mendengarnya.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa hamil? Maksudku, kenapa aku sampai tidak menyadarinya? Haruskah aku bahagia karena aku telah mengandung anak dari Aldi, atau aku harus bersedih karena aku hamil di luar nikah!
"Iya, Sayang. Kenapa kamu gak bilang sama Mama kalau sebenarnya kamu sedang hamil? Mungkin Mama akan sering-sering jengukin kamu, bawain kamu makanan sehat dan nemenin kamu periksa kandungan ke klinik." Ujar Mama Erina tampak tidak marah sama sekali mengetahui kehamilanku. Padahal ia tahu aku dan Aldi belum menikah dan aku sudah hamil. Mama Erina malah sangat perhatian kepadaku, bukan memarahiku yang sepantasnya aku dapatkan.
"Ma, gimana Risha mau kasih tahu Mama? Risha aja gak tahu kalau Risha lagi hamil." Sahutku berkata jujur. "Lagian Risha gak ngerasain apa-apa, kok! Risha gak mual atau muntah dan perut Risha juga gak membesar kaya ibu-ibu hamil yang biasa Risha liat."
"Risha, gak semua orang yang hamil mengalami semua itu sayang. Mama juga sama dulu waktu mengandung kamu, Mama gak mual dan muntah-muntah. Dan kandungan kamu masih berusia dua bulan, jadi belum membesar." Jelas Mama Erina.
"Dua bulan?" Gumamku.
...*°°°°°°°°°°*...
Setelah keluar dari rumah sakit, Mama Erina membawaku pulang ke rumahnya. Reka masih ikut bersamaku, padahal Aswasada sudah tertangkap dan saat ini aku sudah aman. Seharusnya ia bisa kembali dengan tenang karena, tapi kenapa dia masih mengikutiku?
Astaga, kenapa aku bisa lupa kalau Reka ingin aku mengantarnya melihat keadaan Aldi. Lagi pula, aku juga ingin melihat keadaan Aldi sekarang. Tapi saat ini, kami sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah Mama Erina.
"Barang-barang kamu biar Papa yang urus, kamu gak boleh angkat barang-narang ysng berat, Risha!" Ujar Mama Erina overprotektif.
"Iya, Ma. Tapi sekarang Risha harus ke rumah Aldi." Sahutku, berharap Mama akan mengizinkan aku pergi ke rumah Aldi.
"Mama udah tahu semuanya dari Reka, kamu boleh ke rumah Aldi. Tapi Mama ikut, Mama juga pengen liat keadaan calon mantu Mama!" Ujar Mama Erina.
"Ya udah, sekarang ya, Ma!" Seruku memandang mama dengan tatapan memohon.
Pak Isan, supir pribadi Papa yang kini sedang mengemudikan mobil, memutar mobilnya atas perintah Mama Erina dan sekarang kami sedang menuju ke rumah Aldi.
__ADS_1