Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 23


__ADS_3

Mungkin, naluri ku selama ini benar. Reka tidak pernah berniat mencelakai aku. Entah, mengapa Gama berbohong dengan mengatakan bahwa Reka ingin mencelakai aku dan menukar nyawaku dengan nyawa Anjani.


"Aku tidak ingin kamu tahu alasan sebenarnya kamu sampai disini, karena itu akan membahayakan nyawamu selama disini. Kakek Sukma memintaku untuk melindungi kamu saat kamu tiba di Madavia. Aku hanya berusaha memenuhi keinginan terakhir kakek Sukma!" Wajah laki-laki itu tampak serius.


"Terus apa sebenarnya yang bikin sukma aku bisa berkelana ke alam ini?" Aku masih berpura-pura tidak mengetahui yang sebenarnya untuk memastikan perkataan nya adalah kejujuran atau kebohongan.


"Risha, aku tidak bisa mengatakan nya padamu! Aku takut kamu yang sedang dekat dengan Gama tidak bisa menjaga rahasiamu sendiri dan akhirnya kamu akan bernasib sama dengan Anjani." Kecemasan sangat terlihat jelas di wajah Reka.


"Reka, sebenarnya aku udah tahu. Ibu aku sendiri yang ngasih tahu aku. Aku cuma pengen mastiin aja jawaban kamu sama atau enggak dengan apa yang di ceritakan sama ibu aku." Aku menatap nya dan berharap setelah aku mengatakan itu, ia akan menjelaskan segalanya dengan jujur.


Reka memandang ku sejenak, kemudian ia menggeleng. "Aku tidak percaya! Kamu pasti sedang memancingku."


"Enggak, aku gak lagi mancing kamu. Emang nya kamu ikan? Aku justru takut kalau aku kasih tau kamu yang sebenarnya malah justru kamu yang ternyata bakal memanfaatkan aku." Tukas ku.


"Kalau begitu tidak perlu memberi tahuku, karena aku sudah tahu." Reka menjawab cepat.


"Oke! Sekarang kamu kasih tau aku gimana cara nya supaya aku bisa bebas dari Madavia."


"Kamu harus mengeluarkan benda itu dari tubuhmu, baru sukma mu tidak bisa kembali ke Madavia. Karena sebenarnya, benda itu lah yang menarik sukma mu kesini." Ujar Reka jujur.


Ternyata Reka benar-benar mengetahuinya. Dia bicara jujur!


"Terus gimana caranya aku ngelepasin benda ini dari tubuh aku?" Tanyaku.


"Kenapa bertanya padaku? Apa Gama tidak pernah memberi tahu mu?" Sahut Gama balik bertanya.


Aku mengerenyitkan dahi heran. "Emang dia juga tahu soal benda yang ada di tubuh ku itu?"


"Setahu aku, kakek Sukma hanya memberi tahukan nya padaku saja!" Jawab Reka.


"Kalau begitu mana mungkin Gama bisa ngasih tahu apa yang dia juga gak tahu. Gimana sih, kamu!" Jawabku kesal.


"Mungkin ramalan itu benar, kamu adalah wanita yang akan mengalahkan Agrapana. Kamu tidak akan bisa kembali ke dimensi mu sebelum kamu menyelesaikan tugas yang belum sempat kakek Sukma tuntaskan di Madavia."

__ADS_1


"Tapi mana mungkin wanita lemah kaya aku mampu mengalahkan siluman naga, kan?" Aku mendengus.


"Sudah lah, tidak perlu di bahas lagi. Kita bicarakan ini nanti." Ucap Reka.


"Oke, kita ganti topik. Kali ini aku mau tanya soal Anjani. Ada hubungan apa kamu sama Anjani?"


"Dia kekasih ku! Kami saling mencintai. Meskipun kakak ku, Gama membenci Anjani karena Anjani telah mengurung Gama lima tahun lalu."


"Kalau Gama gak suka sama Anjani, kenapa kamu bisa menyukainya?" Tanya heran.


"Aku tidak menyukainya, aku hanya mencintainya bahkan hingga saat ini aku masih mencintainya!" Bibir Reka tersenyum tipis, pertanyaan ku seakan mengingatkan nya pada Anjani.


"Cukup! kita lanjutin lagi ceritanya besok." Ujarku seraya bangkit dari tempat duduk.


Dia ini sedang menjawab pertanyaanku atau sedang curhat, sih?


"Aku harus pergi. Aku gak mau kesiangan lagi. Aku harus bekerja." Sambung ku.


"Baik, pergilah!" Sahut Reka seakan tak peduli.


***


"Dasar menyebalkan, ternyata dia gak selembut Gama." Gumam ku yang kemudian pergi melesat dari rumah Reka.


Di perjalanan pulang, aku melihat seseorang yang berekor buaya. Benar, siluman buaya itu yang pernah aku lihat waktu itu di depan rumah lindung bersama Gama.


"Hey, tunggu..." Aku berteriak seraya mengejar pria itu. "Berhenti sebentar..."


Sepertinya siluman buaya itu mendengar teriakan ku, dia menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah ku.


"Tunggu sebentar, aku mau bicara." Ucapku yang baru saja sampai di hadapan siluman buaya itu.


Siluman buaya itu memicingkan mata. "Anjani? Tidak, bukan! Siapa ya, aku lupa nama mu!"

__ADS_1


"Aku Clarisha, ingat?"


"Oh iya, Clarisha. Maaf aku sempat lupa. Ada apa mencariku?"


"Aku gak lagi nyariin kamu, sih! Aku cuma kebetulan lewat dan lihat kamu. Waktu itu aku belum sempat nanyain nama kamu, kan?"


"Oh, begitu! namaku Sagara. Panggil saja aku Saga."


Aku mengangguk dan mengurai senyum padanya. "Kamu mau kemana?"


"Aku mau pulang!" Sahut Saga seraya berjalan pelan. "Kamu sendiri mau kemana?"


"Aku juga mau pulang!" Sahutku yang kini berjalan santai bersama Saga.


"Waktu itu aku lihat kamu keluar dari rumah lindung, apa kamu tinggal di tempat itu?" Tanya Saga memastikan.


Aku mengangguk dan tidak berani mengatakan bahwa aku hanyalah manusia biasa yang berkelana di Madavia karena khawatir kabar ini akan cepat tersebar hingga ke Agrapana. "Waktu itu kamu bilang soal ramalan, kalau boleh tau ramalan apa, sih?"


"Dari yang pernah aku dengar, seorang wanita dari dunia manusia akan datang ke Madavia untuk mengalahkan Agrapana. Siluman naga putih yang jahat!"


"Tapi aku bukan manusia, kan? Mana mungkin aku bisa mengalahkan Agrapana? Ah ramalan itu pasti gak ada hubungan nya sama aku!" Ucapku berbohong.


"Jangan begitu, aku tau siapa kamu sebenarnya!"


"Maksud kamu?"


"Aku tidak bisa menceritakan nya disini. Kalau sampai ada yang mendengar, belum tentu hari ini kamu bisa kembali." Sahut Saga seraya menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada siluman lain di sekitar kami.


"Gimana kalau kamu mampir ke rumah ku? Kita mengobrol sebentar!" Ajak ku.


Saga tertawa kecil. "Aku akan mampir ke rumah lindung itu jika aku sudah bosan hidup!"


Aku mengerenyitkan dahi lalu teringat kata-kata Reka yang menjelaskan tentang rumah lindung yang di kelilingi pagar gaib. "Oh, iya! Maaf, aku lupa. Tapi emang nya siluman bisa mati ya?"

__ADS_1


"Siluman bisa di musnahkan, kecuali roh. Roh itu kan dari manusia yang sudah mati, jadi tidak bisa mati lagi. Aku siluman, aku bisa saja di musnahkan." Ujar Saga.


Siluman bisa di musnahkan? Siluman yang melewati pagar gaib akan terbakar dan musnah. Aku tahu, aku bisa mengalahkan Agrapana dengan pagar gaib itu!


__ADS_2