
Sungai yang berada di bawah kaki bukit Hilton ini adalah tempat bermain Sagara. Sedangkan tempat tinggalnya berada di sebrang sungai ini, di sebuah guha yang di kelilingi pepohonan rindang.
Laki-laki bermata hitam pekat dengan pupilnya yang runcing khas mata buaya itu tampak sedang mengingat sesuatu. Tangan nya memegang dagu nya. Bola matanya mengarah ke atas.
"Pantas saja, Gama mengarang cerita! Bahkan dia saja tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya. Dia sedang terkurung pada saat kejadian itu berlangsung." Ungkap Sagara setelah mencerna cerita yang sudah aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri.
"Terus, kenapa Gama harus mengarang cerita untuk jelasin semua itu sama aku?!" Tanyaku memastikan jawaban Sagara akan sama dengan apa yang aku pikirkan.
"Aku rasa dia menceritakan itu dari cerita yang ia dengar dari Alpha. Seperti yang kamu bilang, Alpha bekerja sama dengan Dewari, memenafaatkan Gama untuk merebut mustika ular darimu dan Anjani." Sagara menyimpulkan.
"Jadi kamu percaya sama aku, kan? Tadinya aku ragu ceritain apa yang udah aku lihat dan aku dengar di istina Dewari. Aku takut kamu gak percaya sama aku!" Ucapku dengan girang.
"Aku percaya padamu. Lagi pula, sebenarnya aku sudah curiga terhadap Dewari dan Alpha!" Sahut Sagara.
"Curiga? Kenapa? Apa sikap dewari dan Alpha mencurigakan?" Aku menyelidik.
"Risha.." Aku dan Sagara serempak menoleh ke arah suara laki-laki yang memanggilku dari kejauhan.
Aku memicingkan mata, melihat laki-laki yang memanggil namaku tengah berlari kecil menghampiriku. "Gama?"
"Hey, sedang apa disini?" Tanya Gama yang sudah berada tepat di depanku dan Sagara.
Haruskah aku bilang bahwa aku akan ke Hilton menemui Anjani? Ah enggak, deh! Itu bukan ide bagus!
"Risha?"
Aku mengerjap. "Iya?"
"Kenapa melamun?" Tanya Gama.
"Enggak! Aku cuma lagi pengen ngobrol aja sama Saga. Kenapa emang?" Sahutku malas.
"Mengobrol? Tentang apa?" Tanya Gama penasaran.
"Tanyain aja sama Saga, apa yang baru aja aku bicarakan sama dia. Aku gak mau menyia-nyiakan waktu aku lagi, aku harus pergi." Sahutku seraya berbalik.
"Risha, tunggu! Kamu mau kemana?" Tanya Gama membuat langkahku terjeda.
"Aku mau ke rumah Reka." Aku mengubah tujuanku.
"Tidak boleh!" Seru Gama lekas menghadang ku.
__ADS_1
"Tidak boleh? Apa hak kamu ngelarang aku?" Tanyaku geram.
"Dulu anjani yang mengkhianatiku. Sekarang kamu juga akan meninggalkan aku demi dia?" Ujar Gama tampak kalut.
"Jangan pernah samakan aku de_"
"Maaf, Gama!" Potong Sagara. "Aku tidak bermaksud ikut campur urusan kalian. Tapi sepertinya, sudah saatnya aku memberi tahumu tentang apa yang sudah aku lihat lima tahun yang lalu."
"Memberi tahuku tentang apa, Saga? Apa yang sudah kamu lihat lima tahun lalu?" Tanya Gama menatap Sagara dengan penasaran.
"Aku rasa, bukan Anjani yang sudah mengurung mu di sangkar besi itu." Ungkap Sagara.
"Kamu tidak tahu apa-apa, Saga! Aku masih ingat, bagaimana dulu Anjani menjebak ku dengan mengajak ku jalan-jalan ke hutan. Padahal, aku tidak mengapa jika dia ingin hidup bersama Reka di dimensi manusia. Tidak perlu mengurungku!
Gama tampak kalut. Aku bisa melihat cinta, kebencian dan juga kemarahan di dalam mata nya.
"Seandainya tidak ada Risha, mungkin aku akan terjebak di kurung besi itu selamanya. Sebab itu, aku memberikan kewajiban pada diriku sendiri untuk melindungi Risha selama di Madavia. Meskipun sebenarnya aku ingin dia tetap tinggal." Sambung Gama.
Aku prihatin melihatnya. Kali ini aku dapat merasakan kejujuran dalam setiap perkataan yang ia lontarkan. Namun, mungkinkah Anjani akan setega itu mengurung Gama untuk hidup bersama Reka di dimensi manusia?
"Aku mengerti, Gama! Aku juga melihatnya! Aku melihat Anjani bersamamu di hutan tepat setelah aku bertemu Anjani bersama Reka. Pada saat itu, aku melihat dua Anjani. Yang satu bersama Reka, yang satunya lagi bersama mu." Jelas Sagara tampak heran.
"Tidak mungkin!!" Sambung Gama seraya menggeleng.
"Sepertinya ada yang udah mengadu domba kamu dan Anjani." Ucapku menatap tajam Gama.
...*°°°°°°°°°°*...
..."Rumah Pohon Reka"...
Gama melangkah dengan gelisah mengikutiku bersama Sagara menuju ke arah rumah pohon Reka. Aku dan Sagara berniat membantu menyelesaikan kesalah pahaman Gama pada Anjani dan juga Reka, agar Gama bisa ikut bekerja sama untuk mengalahkan siapa musuh kami sebenarnya.
"Wah, ada acara apa ini? Apa kita akan mengadakan reuni?" Ucap Reka yang berdiri di ambang pintu.
Aku menabrak bahu Reka, menerobos masuk ke dalam rumahnya di ikuti Gama dan Saga di belakangku kemudian duduk di bangku panjang yang berada di balkon.
"Hey, kenapa terburu-buru untuk masuk? Aku bahkan belum mempersilahkan kalian!" Ucap Reka menyusul ke arah kami.
"Reka, kamu tahu, kan? Bagaimana Gama bisa terkurung dalam sangkar besi di dalam hutan?" Aku menyelidik.
__ADS_1
Reka memicingkan mata. "Kalian kesini hanya untuk menanyakan itu padaku?"
"Risha, sudah lah! Aku sudah tidak peduli. Ayo kita pergi!" Ucap Gama meraih tanganku hendak mengajak ku pergi.
"Tidak!!" Aku menepisnya dan membuat Gama kembali duduk. "Kamu harus tahu siapa dalang dari semua ini, Reka."
"Dalang? Siapa memangnya dalang dari semua ini?" Tanya Gama penasaran.
"Dewari!!" Seruku menatapnya dengan mantap.
"Risha, Dewari adalah ibuku. Bagaimana mungkin kamu bisa menuduhnya?"
"Gama kamu gak tahu, Dewari dan Alpha mereka_"
"Ucapan Risha benar, Gama!" Ucap Saga membelaku.
"Saga, kamu juga menuduh ibuku?" Gama tampak kecewa.
"Hey, dia bukan ibumu Gama. Ibu kita Sundari, ingat?"
"Tapi Dewari adalah wanita yang sudah mengurus kita. Dia sudah megantikan kewajiban ibu sundari untuk membesarkan kita."
"Cukup!! Kamu harus tahu, Dewari dan Alpha sebenarnya mereka bekerja sama. Mereka manfaatin kamu buat mencelakai aku." Ujarku dengan lantang.
"Aku tidak menyangka, ternyata kalian bersekongkol untuk melawan Dewari." Gama menggeleng lemas.
"Bersekongkol kamu bilang? Gama, aku peduli sama kamu dan kamu malah meng_"
"Benarkah?" Tanya Gama memotong sebelum aku menyelesaikan perkataanku. "Kamu peduli kepadaku, Risha? Apa aku tidak salah mendengar?"
"I iya, tentu saja!" Sahutku gugup ketika memandangnya tengah menatapku dengan tatapan terharu.
Dengan mata berkaca-kaca Gama tersenyum kemudian memeluk tubuhku. "Aku tahu, semirip apapun kamu dengan Anjani, tetap saja kalian berbeda. Kamu peduli padaku, Risha. Tidak seperti Anjani!"
"Sudah, lah! kenapa harus berpelukan seperti itu." Ucap Reka meleraikan pelukan Gama kemudian meraih pergelangan tanganku. "Ayo kita pergi!"
"Kemana?" Tanyaku heran.
Reka menoleh ke arah ku dengan menguraikan senyuman.
"Menemukan kebenaran!"
__ADS_1