Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 34


__ADS_3

Aku yang sudah memakai pakaian tidurku, memamdang patung burung elang yang terletak di meja. Aku pikir aku akan melihat kembali masa lalu Reka di mata patung burung elang itu. Namun, aku tidak bisa konsentrasi jika Aldi masih berada disini.


Aku memungut pakaian Aldi yang tergeletak di lantai dan memberikannya pada pemiliknya yang kini tengah berbaring di tempat tidurku dengan bergulung selimut.


"Pakai baju kamu dan cepat pulang!" Suruhku yang kini duduk di ranjang sebelah Aldi.


"Kok, gitu sih? Kamu ngusir aku?" Tanya Aldi seraya bangkit kemudian, menyandarkan puggungnya di sandaran tempat tidur.


"Ini udah malam, sayang! Aku cuma mau istirahat aja." Jawabku mencoba membuatnya tidak salah paham.


"Jadi maksud kamu, kalau aku disini, kamu gak bisa istirahat gitu?" Tanya Aldi menyimpulkan.


Aku tertegun. Membiarkan nya tetap disini tidak hanya mengganggu waktu istirahatku. Namun, membuat aku kehilangan fokus ku pula. Tapi, menyuruhnya pulang mungkin akan diartikan mengusir oleh nya.


Aku menghembuskan nafas. "Terserah kamu, deh!" Ucapku yang kemudian pergi ke sofa untuk menghindar dari Aldi.


Bukan tak ingin berduaan ataupun bermesraan, hanya saja aku penasaran dengan masa lalu Gama dan Reka yang akan aku lihat di mata patung burung elang itu. Aku butuh suasana tenang yang tidak akan membuatku terganggu.


"Aku pulang, ya!" Seru Aldi yang sudah siap dengan pakaian nya. "Besok aku jemput kamu lagi, kita ke rumahku!"


Aku mengangguk dan membiarkan nya berlalu tanpa bertanya terlebih dahulu. Aku segera bergegas ke tempat tidur dan mulai merebahkan tubuhku di atas ranjang yang masih hangat bekas tubuh Aldi. Aku meraih patung burung elang dan mencoba menatap matanya dengan lekat dan penuh konsentrasi.


17 tahun kemudian


Anjani sudah semakin kuat dan hebat dengan menguasai ajian kulhu geni yang sudah di ajarkan oleh Sukma Wijaya dengan sempurna. Semua penduduk di Madavia bergelora. Mereka semakin percaya bahwa Anjani lah, anak manusia yang berkelana ke Madavia untuk mengalahkan Agrapana sesuai dengan ramalan tertulis.


"Jadi, kamu sudah siap?" Tanya Reka yang tengah duduk di atas batu, di tepi danau.


"Aku tidak tahu!" Sahut Anjani yang duduk di sebelah Reka.


"Ayolah, kamu harus percaya diri!" Ucap Reka menyemangati.


"Terimakasih, Reka. Aku janji, jika aku menang, aku akan mengajakmu ke dunia manusia. Aku akan memberikan mustika ular ini pada Altar dan kita akan hidup bahagia di dunia manusia." Ungkap Anjani bergelora.

__ADS_1


"Tapi aku ini siluman, Anjani." Sahut Reka tampak bimbang.


"Aku tidak peduli. Kita saling mencintai, bukan? Jika peraturan disini tidak membolehkan manusia dan siluman untuk bersatu, kita pergi saja ke dunia manusia dan hidup bahagia disana." Ucap Anjani menatap Reka penuh cinta.


Gama yang berada di balik tembok sejak tadi sudah menguping obrolan Reka dan Anjani. Hatinya panas dan ia sangat cemburu. Gama lekas pergi ke kemarnya, Dewari yang melihat itu kemudian mengikuti Gama dan mendapati putra pertamanya itu tengah bersusah hati.


"Ada apa anak ku? Kenapa bersedih seperti itu?" Tanya Dewari seraya berjalan menghampiri Gama yang tengah berdiri di depan jendela kamarnya.


"Bukan kah ibu ku yang meminta pada kakek Sukma agar Anjani menikah dengan ku?" Gama menjawab pertanyaan Dewari dengan pertanyaan pula.


"Benar, lantas kenapa?" Tanya Dewari Heran.


"Aku tidak mengerti, Kenapa Anjani malah mengajak Reka untuk hidup bersama di dimensi manusia setelah ia berhasil mengalahkan Agrapana?! Ia akan memberikan mustika ular itu pada Altar. Kemudian, pergi bersama Reka ke dimensi manusia. Lantas bagaimana denganku? Dengan permintaan ibuku?" Jelas Gama tampak kalut.


"Oh, jadi begitu ya?! Jadi Anjani akan memberikan mustika ular itu pada Altar dan pergi ke dimensi manusia?! Ini tidak bisa di biarkan Gama!" Ujar Dewari mulai memprovokasi.


"Lantas, aku harus bagaimana?" Tanya Gama.


"Kamu tidak boleh membiarkan Anjani menang!" Sahut Dewari.


...*°°°°°°°°°°*...


"Gama, sedang apa?" Sapa Anjani begitu ramah.


"Aku hanya sedang melihat burung!" Sahut Gama dengan pandangan mengarah ke atas melihat burung-burung terbang melewatinya.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke hutan? Disana ada lebih banyak burung." Ucap Anjani dengan nada mengajak.


"Kenapa harus ke hutan? Kenapa tidak ke taman saja?" Tanya Gama heran.


"Di hutan lebih sepi, kita akan bebas mengobrol." Sahut Anjani yang di setujui oleh Gama.


"Baik, ayo pergi." Ucap Gama bersemangat.

__ADS_1


Sesampai nya di hutan, Anjani malah mendorong tubuh Gama kemudian mengurung nya di dalam sangkar besi yang menancap di tanah begitu kuat.


"Anjani, apa ini? Kenapa kamu mengurungku?" Gama bertanya-tanya dengan panik.


"Aku tidak ingin kamu menggagalkan rencanaku, Gama. Aku akan pergi bersama Reka ke dimensi manusia. Kita akan hidup bersama disana selamanya. Aku harus mengurungmu agar kamu tidak merusak rencanaku." Jelas Anjani yang kemudian tertawa jahat.


"Anjani, aku tidak menyangka kamu tega melakukan ini padaku. Aku mohon, lepaskan aku. Aku tidak peduli jika kamu ingin hidup bersama Reka. Tidak perlu seperti ini!" Ujar Gama.


"Siluman mana pun tidak akan bisa membebaskan mu, kecuali aku. Tapi aku tidak akan mungkin melakukan itu, bukan?" Ucap Anjani yang kemudian berlalu.


"Anjani.....!!" Teriak Gama ketika Anjani pergi meninggalkan nya.


"Bukankah anjani sedang bersama Reka? Baru saja aku melihatnya, bahkan sempat mengobrol dengan mereka. Lantas siapa itu? Anjani juga? Bagaimana mungkin Anjani ada dua?" Ucap siluman buaya yang melihat kejadian itu dari kejauhan.


...*°°°°°°°°°°*...


Madavia di gemparkan oleh kedatangan Agrapana yang menghancurkan seluruh Desa. Semua penduduk yang ketakutan berlari dengah riuh. Anjani datang mencoba menghentikan nya. Kebetulan sekali, Agrapana memang ingin membuktikan bahwa ramalan itu tidak benar.


Hentikan, Agrapana! Aku akan mengampunimu jika kamu mau bertaubat." Te*r***iak Anjani dengan lantang.


Agrapana yang mendengar itu kemudian tertawa geli. "Anak ingusan seperti kamu, mana mungkin bisa mengalahkan ku."


"Cepat pergi tinggalkan desa ini. Mungpung aku masih berbaik hati atau aku akan membakar mu jika kamu menghabiskan seluruh kesabaranku" Ujar Anjani dengan nada mengancam.


Agrapana semakin dibuat tertawa oleh perkataan Anjani. "Hahaha, jadi kamu mengancamku? Sombong sekali anak manusia ini, lawan saja aku kalau berani."


Agrapana kemudian menyerang Anjani, Namun, ia berhasil menangkis nya dan membuat Agrapana tersungkur.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" Tanya Anjani.


"Berikan aku mustika ular yang berada di tubuh mu. Aku berjanji, setelah itu aku tidak akan kembali ke tempat ini lagi." Ujar Agrapana mencoba membujuk Anjani.


"Kenapa aku harus memberikan nya padamu?" Tanya Anjani.

__ADS_1


"Karena kalau tidak, aku pun tidak akan berhenti menghancurkan desa ini dan tentu saja aku akan segera membunuhmu. Lagi pula, kamu memang ingin kembali ke dunia manusia, bukan? Biarkan aku yang menjaga mustika ular itu!" Ujar Agrapana.


__ADS_2