
"Apa yang salah?" Tanya Samba heran karena tidak melihat perubahan apapun pada patung burung elang ataupun tempat yang akan menjadi portal ini.
"Aku perintahkan kamu untuk terhubung dengan Altar." Seruku sambil menunjuk patung burung elang. Namun, masih tetap tidak ada perubahan apapun.
"Apa teman-teman kalian di Madavia cuman nyuruh gini doang? Mungkin ada yang lain lagi yang kalian lupain, coba kalian ingat-ingat." Ucap Aldi yang membuat aku dan Samba bertukar pandang mencoba mengingat kembali tentang cara membebaskan siluman elang dari apa yg dijelaskan Anjani.
"Cuma gini aja, sih!" Sahutku setelah cukup lama mengingat. "Mungkin mereka ada bilang apa gitu sama kamu, Sam?"
Samba mengangkat bahunya. "Aku cuma dengar apa yang kamu juga dengar."
"Gimana, dong?" Tanyaku putus asa.
"Kita balik aja dulu, yuk?!" Ajak Aldi bergidig saat matanya mengamati hutan belantara yang kini sudah mulai gelap karena hari menjelang malam. "Nanti, lo datang aja ke Madavia dengan ajian meraga sukma, ceritain soal ini dan tanyain gimana cara yang bener bebasin siluman elang ini."
Samba mengangguk setuju. Akhirnya perjalanan yang di tempuh selama satu jam ini sia-sia. Kami harus kembali karena Aldi benar, tempat ini begitu menyeramkan pada saat hari menjelang malam.
...*°°°°°°°°°*...
"Apa?" Reka tercengang saat mendengar cerita Samba tentang patung burung elang yang tidak merespon saat hendak dihubungkan dengan Altar. "Tidak mungkin!"
"iya, serius! Mana aku perginya sore, sampai disana senja menjelang malam. Pulang-pulang kemalaman, lebih parahnya perjalanan kami sia-sia." Jelas Samba yang kini tengah duduk di bangku balkon rumah Reka.
"Aku benar-benar tidak mengerti, kita harus pergi ke istana untuk menemui Anjani." Ucap Reka yang kemudian pergi bersama Samba menunju istana.
Sesampainya di istana, Samba menceritakan kembali tentang kejadian di hutan pada Anjani dan Gama.
"Astaga, aku lupa!" Ucap Anjani seraya memukul jidatnya pelan. "Altar masih terhubung dengan dengan peti milik kakek Wijaya. Dulu, Kakek Wijaya sering datang kesini melalui peti itu." Ungkap Anjani yang membuat Reka dan Gama mengusap wajahnya kasar karena mereka berdua juga mengetahui itu sebenarnya, namun entah mengapa mereka bisa melupakannya.
"Aku benar-benar tidak ingat sama sekali soal peti itu." Ucap Gama.
"Benar. Mungkin karena kakek Sukma sudah lama mengunci peti itu untuk menyegel siluman elang, jadi kita hampir melupakannya." Ujar Reka.
__ADS_1
"Di masa silam, siluman elang mengorbankan dirinya untuk tersegel di peti itu bersama siluman-siluman jahat lainnya. Sejak mustika ular itu terbelah, tidak hanya siluman di Madavia yang tidak bisa masuk ke dimensi manusia. Tapi banyak juga siluman yang sedang berada di dimensi manusia dan tidak bisa kembali ke Madavia. Siluman itu yang akhirnya menghuni rumah-rumah kosong dan pohon-pohon besar di pegunungan. Dari kabar yang kudengar, para siluman yang terperangkap di dimensi manusia sering mengganggu manusia. Menjadikan manusia yang sehat menjadi sakit, menjelma sebagai makhluk yang menyeramkan untuk menakut-nakuti manusia dan yang lebih parahnya mereka menjadi haus akan darah bayi yang baru saja dilahirkan." Ungkap Anjani.
"Itu yang dulu terjadi di desaku." Sahut Samba.
"Tapi sekarang tidak mungkin akan terjadi lagi hal seperti itu, karena Kakek Wijaya telah menyegel siluman-siluman jahat dengan bantuan siluman elang yang juga merasa kehilangan tujuannya sejak ia tidak lagi terhubung dengan Altar."
"Benar, manusia jaman sekarang bahkan sudah banyak yang tidak percaya akan hal-hal mistis. Mereka selalu menganggapnya sebagai dongeng belaka. Padahal, dunia gaib itu memang ada." Ujar Samba.
"Kalau begitu, kamu juga harus membawa peti itu ke tempat yang kemarin. Patung burung elang itu harus tetap dibawa, karena siluman elang meninggalkan semua cakranya di patung itu." Suruh Gama
"Dan ingat, kamu boleh membuka peti itu hanya di tempat yang kamu pilih untuk dijadikan portal. Jangan sekali-sekali membukanya di sembarang tempat atau rencana kita akan berantakan." Ucap Reka, mewanti-wanti.
"Dekatkan juga peti itu dengan patung burung elang, agar siluman elang bisa langsung mengendalikan siluman-siluman yang nantinya akan ikut terbebas dari peti itu bersama siluman elang." Ucap Anjani.
"Astaga, ngerepotin banget sih, kalian!" Seru Samba sambil memutar bola matanya. "Ya udah, nanti bakal aku ceritain semua yang aku dengar sama Risha. Dan kami akan kembali ke hutan itu dengan membawa peti yang kalian maksud."
"Terimakasih, Samba!" Seru Reka seraya meletakan tangannya di pundak Samba.
...*°°°°°°°°°°*...
Keesokan paginya, Samba sudah sampai di rumahku seakan tidak sabar untuk menceritakan padaku tentang apa yang sudah ia dengar dari Anjani, Gama dan Reka.
"Ya ampun, Sam. Aku kan, udah bilang kalau mau kesini jangan pagi-pagi. Aku harus kerja!" Ucapku yang sedang bersiap-siap untuk berangkat.
"Kalau kita berangkatnya kayak kemarin lagi, kita bakal kemalaman lagi pulangnya. Apalagi kita harus pergi dulu ke rumah orang tua kamu buat ngambil peti Kakek Wijaya." Jelas Samba.
"Peti?" Tanyaku heran. Karena Samba masih belum menceritakan apapun dan aku merasa ini bukan waktu yang tepat karena aku sedang terburu-buru untuk bekerja.
.
.
__ADS_1
.
NB :
Apa kalian terlahir di jaman modern?
Apa kalian percaya akan hal-hal berbau mistis?
Tentu saja jawaban nya "Tidak".
Tapi saya percaya, tidak sedikit dari kalian yang menjawab "Ya"
Percaya atau tidak percaya, dunia gaib itu sebenarnya ada. Siluman dan jin itu nyata. Hanya saja mungkin di jaman sekarang tidak banyak siluman yang mengganggu manusia.
Apa kalian tahu?
Bahkan di tahun 2021 yang sudah sangat modern ini, masih ada tempat-tempat tertentu yang berhubungan dengan hal gaib.
Dari cerita ini, tentu kita tahu kalau Risha terlahir di jaman modern, namun ia kembali ke jaman kuno, dimana ia harus mempercayai bahwa siluman dan alam gaib itu sebenarnya ada.
Ceritanya belum selesai, jangan pergi dulu karena saya masih ingin mengajak kalian berpetualang di buku ini
Kalau begitu, mari kita siapkan kacang lebih banyak saat membaca cerita ini. Tapi bukan untuk menjadi cemilan, melainkan untuk menabur cangkangnya di sepanjang perjalanan karena bisa jadi pikiranmu tersesat dalam perjalanan dan tidak tahu kemana harus pulang :p
.
.
Jangan Lupa Like dan Coment serta Vote-nya, ya.
Dan
__ADS_1
Jangan lupa untuk kembali ke ragamu!!!