Meraga Sukma

Meraga Sukma
09. Reka dan Gama, Adik dan Kakak


__ADS_3

Aku berjalan seraya menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada Dewari di sekitarku. Aku telah melewati pagar gaib pelindung rumah ini. Mataku menjelajahi tempat ini dan aku masih tidak menemukan Reka atau pun Dewari. Aku memutuskan akan pergi sendiri ke rumah Reka.


"Risha..." Panggil Gama setengah berlari menghampiriku.


Aku menoleh ke arah Gama yang sedang membawa sebuah bingkisan di tangan nya. "Gama, ngapain disini?"


"Aku ingin memberikan ini padamu..." Jawab Gama seraya mengulurkan tangan menyerahkan bingkisan di tangan nya.


Aku menerimanya lalu membuka bingkisan dari Gama. "Sandal?"


Gama mengangguk. "Itu akan melindungi kakimu"


Aku memakai sandal yang di berikan oleh Gama dan ternyata cukup. Sandal ini tampak sangat lucu meskipun hanya terbuat dari kayu. "Makasih ya, Gama. Aku suka sandalnya!!"


Gama mengangguk dengan senyum yang terhias di wajahnya "Sama-sama, Rish.."


Aku menyipitkan mataku "Tapi gimana kamu bisa tau ukuran kaki aku?"


Gama tersenyum malu. "Tentu saja pada saat aku sedang merawat kakimu yang terluka waktu itu"


Aku tertawa kecil. "Ya ampun, kamu masih sempat-sempatnya mengukur kaki aku di saat seperti itu"


Gama ikut tertawa seraya mengangguk. "Oh ya, kamu mau kemana?"


"Aku mau ke rumah Reka." Sahutku.


Gama mengerenyitkan dahi. "Memangnya ada perlu apa?"


"Aku pengen Reka menepati janjinya buat bantuin aku terbebas dari sini" Jawab ku.


"Jika hanya itu aku juga bisa." Sahut Gama


"Oh ya?" Tanyaku yang di angguki oleh Gama. "Oke.. Tapi aku tetap akan ke rumah Reka untuk memastikan dia baik-baik aja dan aku juga ingin bertanya kenapa dia gak dateng kesini hari ini"


"Rupanya kamu begitu peduli Pada Reka?" Tanya Gama dengan tatapan datar.


Aku tersenyum. "Itu karena Reka juga peduli sama aku, Gama."

__ADS_1


Gama mendengus "Hutan ini terlalu berbahaya untuk mu. Biar aku mengantarmu" Ujar Gama


Aku berjalan bersama Gama menuju ke rumah pohon Reka.


"Bagaimana sandalnya?" Tanya Gama


"Cukup nyaman" Jawabku


"Syukurlah.."


...*°°°°°°°°°°*...


"Reka.." Aku terbelalak ketika melihat Reka terbaring tak berdaya di balkon rumah pohon nya dengan luka-luka di tubuhnya seperti bekas cambukan. Aku lekas berlari menghampiri Reka "Kenapa kamu jadi begini?"


Reka memandang ke arahku kemudian ke arah Gama. Aku memandang Reka yang tengah menatap tajam pada Gama. Apa Reka dan Gama saling mengenal? Pertanyaan macam apa itu, tentu saja mereka pasti saling mengenal. Keduanya adalah siluman ular, bukan.?


Aku merangkul tubuh nya, membantu Reka berdiri dan membaringkannya kembali di atas ranjang "Apa yang terjadi setelah aku pergi?"


"Dewari mencambuk ku dengan ekor nya yang runcing itu" Jawab Reka


"Apa?? Tapi bukan nya dia ibu kamu? Gimana bisa seorang ibu tega menyiksa anak nya sendiri seperti ini" Tanyaku heran.


"Gara-gara aku, kamu jadi begini. Maafin aku, Reka." Ucapku dengan wajah menyesal.


"Sandiwara mu sangat mengesankan, Reka!" Ujar gama yang tersenyum di sebelah bibirnya dengan pandangan ke arah langit-langit seakan tak ingin melihat wajah Reka.


Aku menoleh ke arah Gama dengan geram "Kamu kenapa sih, Udah jelas-jelas tubuh Reka luka-luka begini. Kamu bilang sandiwara??"


"Sudah lah, tidak perlu berdebat. Aku mengerti mengapa Kakak ku itu bersikap seperti itu." Ungkap Reka membuatku terkejut.


Aku memiringkan kepala "Kakak?"


Aku memandang Gama yang tidak bergeming. Aku memperhatikan wajah serta tubuhnya. Aku menyadari kemiripan Reka dan Gama. Bahkan sejak aku bertemu dengan Gama, aku sempat berpikir ia adalah Reka. Aku tidak pernah mengira bahwa Reka dan Gama ternyata kakak dan adik.


"Kapan kamu bertemu Gama, Risha?" Tanya Reka padaku yang kini tengah duduk di ranjang sebelah Reka.


"Kemarin, saat aku pulang sendiri dari rumah kamu." Jelasku

__ADS_1


"Apa gama menyakitimu?" Tanya Reka yang membuat aku menoleh padanya dengan heran. Mengapa Gama harus menyakitiku? Aneh sekali pertanyaan nya.


Aku menggeleng "Enggak, dia justru nolongin aku. Gama bahkan mengobati luka aku sebelum ia mengantar aku pulang ke rumah lindung"


Gama menyipitkan mata ke arah Gama yang berdiri di depan pintu kamar. "Benarkah, tapi bagaimana bisa kamu terluka?"


"Saat pulang dari rumah kamu, aku berlari dengan terburu-buru. Aku menginjak ranting-ranting kering yang runcing hingga kaki aku lecet dan terluka"


Reka tersenyum puas ke arah Gama. "Wah Kak Gama, apa sekarang kita akan bekerja sama?"


Gama memandang Reka dengan sinis. "Tidak akan pernah. Aku justru tidak akan membuat rencana busuk mu berhasil"


Aku mengerenyitkan dahi. "Rencana busuk apa yang di rencanakan Reka?"


"Jika rencanaku busuk bagimu, lalu bagaimana dengan rencanamu, kak Gama?" Sahut Reka tanpa menghiraukan pertanyaanku. Tatapan nya pada Gama benar-benar tajam. Entah apa yang terjadi pada kakak adik ini.


"Sudah lah, Risha. Jangan dengarkan dia, ayo kita pergi saja dari sini" Ajak Gama seraya menarik lenganku.


Aku menepis tangan Gama yang menggenggam lenganku. "Tapi aku tidak mungkin ninggalin Reka dengan keadaan seperti itu, Reka bisa mati."


"Kamu tidak tau siapa Reka sebenarnya. Entah bagaimana perasaanmu jika kamu tahu. Bahkan Aku tidak yakin kamu masih mau merawat luka Reka jika kamu tahu siapa dia sebenarnya" Ujar Gama tampak serius.


Aku memijat pelipisku, sepertinya aku mendadak migrain. Ini semua membuat aku sangat bingung. Siapa yang harus aku percaya disini?


Gama meraih kembali tanganku lalu menggendongku, membawa aku pergi melesat hingga kini kami telah sampai di rumah Gama.


"Kamu membiarkan Reka sekarat, dia adik kamu, Gama. Dimana hati kamu? Apakah siluman memang tidak punya perasaan?" Ucapku yang merasa heran dengan sikap Gama yang tega mengabaikan adiknya sendiri dalam keadaan sekarat.


"Dia memang adik ku, tapi dia akan membuatmu celaka" Sahut Gama yang justru malah lebih mencemaskan ku dari pada adiknya sendiri.


"Tapi Kenapa Reka akan melakukan itu sama aku?" Tanyaku penasaran.


"Reka sengaja menjauhkan mu dari Dewari agar kamu tidak pernah tau kebenaran tentang kakek mu. Reka tidak ingin jika Dewari memberi tahu mu tentang pintu keluar yang akan membebaskan mu dari sini"


"Apa??" Aku memegang kepalaku yang mulai terasa berdenyut-denyut. Seharusnya aku tidak tidur dulu sebelum aku membaca buku agenda kakek Sukma sampai selesai, tapi buku agenda itu terlalu tebal. Aku tidak yakin dapat menyelesaikan membacanya dalam satu malam.


"Risha, dia akan menukar nyawamu dengan kekasihnya yang bernama Anjani yang telah mati. Dewari tidak sengaja membunuh Anjani karena ia telah mencuri mustika ular yang menjadi jantung dan merupakan sumber kekuatan dimensi ini." Jelas Gama.

__ADS_1


"Tapi untuk apa Anjani mencuri mustika ular itu?" Tanyaku.


"Dengan mustika itu kami semua bisa pergi ke dimensi manusia. Bahkan kami bisa menyamar menjadi manusia biasa. Mustika itu adalah sumber kekuatan kami, tapi Anjani dan Reka bekerja sama. Mereka ingin menggunakan mustika itu untuk tinggal di dunia manusia. Sedangkan, pada hakekatnya siluman ular yang pergi ke dunia manusia, tatap akan kembali ke dimensinya.


__ADS_2