
Beberapa perawat di rumah sakit itu tengah berjalan setengah berlari seraya mendorong dua buah brankar yang terbaring Risha dan Aldi di atasnya dalam keadaan kritis, membawa mereka menuju ruangan ICU.
Mama Erina dan Papa Johan tidak berhenti menangisi kemalangan yang menimpa anaknya. Reka yang juga tidak tenang hatinya, mencoba menenangkan hati Mereka berdua saat Dokter melarang mereka ikut masuk ke ruangan ICU.
Selang infus terbelit di tangan Aldi dan Risha, suara menderu dari bunyi monitor menjadi pemandangan yang sangat menegangkan bagi Reka dan kedua orang tua Risha yang mengintip di balik sebuah kaca kecil di tengah-tengah pintu ruangan itu.
Semua orang tahu, pasien yang dirawat di ruangan itu adalah pasien dalam kondisi yang parah dan sedang bertahan hidup. Hal itu membuat orang tua Risha terguncang, meraka khawatir putrinya tidak bisa di selamatkan.
Perawat membantu Dokter memasang selang ventilator, selang itu dimasukkan melalui hidung Risha dan Aldi Untuk bisa membantu pernapasan mereka selama tidak sadarkan diri.
Di samping Risha dan Aldi, terlihat layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darah. Di layar tersebut juga terlihat garis-garis yang menunjukkan grafik detak jantung Risha dan Aldi yang juga mengeluarkan suara sesuai detakan jantung.
Tiba-tiba terdengar suara hentakan kaki mendekat ke arah Mama Erina dan Reka serta Papa Johan. Dari kejauhan mereka melihat Mama dan Papa Aldi tengan berlari kecil menghampiri mereka dengan wajah panik.
"Rin, gimana keadaan Risha dan Aldi?" tanya Mama Aldi yang baru saja sampai, wajahnya tidak kalah panik dari Mama Erina.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Papa Aldi menimpali.
"Aldi menusuk perut Risha, Tante!" Reka menyahut di saat Mama Erina dan Papa Johan hanya terdiam membeku seakan rahangnya mendadak kelu sehingga tidak mampu menjawab lontaran pertanyaan dari Mama dan Papa Aldi.
"Apa?" sontak Papa Aldi tercengang mendengarnya.
__ADS_1
Mama Aldi menggeleng, seakan ia tidak percaya dengan ucapan Reka. Air mata mengalir di pipinya, ia terguncang mendengar imbuhan itu. "Gak mungkin, kamu pasti bohong. Kalau Aldi menusuk perut Risha, terus kenapa Aldi juga terluka? Pasti ini perbuatan kamu, kan?"
"Tidak Tante, Aldi memang melakukan itu. Setelah dia menusuk Risha, dia lalu bunuh diri dengan mencambut pisau itu di perut Risha kemudian menusuk perutnya sendiri." Jelas Reka.
...***...
Tidak salah lagi, Alpha sudah meracuni otak Aswasada saat itu. Hingga Aswasada yang polos melakukan hal yang bertentangan dengan hatinya. Alpha memanfaatkan kekuatan Aswasada yang ilmunya hampir sebanding dengan Kakek tua itu.
Namun setelah ia mengetahui kebenaran nya dari Risha, ia sadar bahwa dirinya telah di adu domba hingga akhirnya ia yang menjadi kambing hitam. Ia menanggung hukuman yang seharusnya di tanggung oleh Anjani dan Alpha.
Pada saat Anjani sudah terpojok, ia melarikan diri untuk tetap menjalankan rencana nya. Ia sadar bahwa ia tidak akan mampu melawan Reka dan Gama secara bersamaan. Apa lagi jika sampai penduduk Masavia mengetahui kejahatan nya, sudah di pastikan ia akan kalah dalam segala hal.
Dia tidak ingin berpura-pura baik awalnya, tapi jika ia tetap menunjukan kebenciannya terhadap Risha, ia tidak akan bisa duduk di singgasananya. Dan dia mendapatkan semua ide licik itu dari Alpha, kakek tua itu bahkan memanfaatkan juga Anjani.
Dengan begitu semua orang akan tetap memihaknya. Ia harus tetap terlihat baik agar ia tidak kehilangan kedudukannya. Dan semua itu akan berjalan sempurna jika ia berhasil mendapatkan kembali kepercayaan dari Reka dan Gama.
Lagi pula apa yang bisa Anjani lakukan, dia hanyalah bangsa kajiman yang tidak mampu menyerang dengan kekuatan. Dia hanya bisa menghasut dan mengadu domba. Semua kekuatan nya telah hilang bersama tubuhnya, dan ia sudah menggunakan sisa kekuatan terakhirnya pada saat ia menyerang Risha.
"Aku sudah menjalankan rencana ini dengan sangat baik hingga perbuatanku tidak sampai terlihat oleh Putri Kalingga. Kita berhasil menjadikan Aswasada kambing hitam untuk menutupi rencana yang tengah kita jalankan. Dan sekarang semua orang sudah tahu siapa aku sebenarnya, aku harus bagaimana?" ujar Anjani yang kini berada di tempat persembunyian Alpha.
"Tenang lah, Anjani. Kita pantau saja dulu semua yang terjadi dan kita akan beraksi jika sudah ada kesempatan. Kita harus menunggu celah untuk mendapatkan kembali kepercayaan mereka." jawab Alpha, ia masih membutuhkan Anjani sebagai penghancur orang-orang yang terlibat melenyapkan Dewari.
__ADS_1
"Aku sudah berhasil menghasut Aldi, aku ingin membunuh Risha melalui Aldi. Dengan begitu, semua orang akan merasakan penderitaan. Mama akan kehilangan Risha, Reka ataupun Aldi tidak akan memiliki Risha. Dia terlalu beruntung untuk hidup di dimensi manusia, aku tidak rela keberuntungan itu selalu berpihak kepadanya." ujar Anjani yang seluruh pikirannya telah diselimuti dendam.
...***...
"Gimana Dok?" Tanya Mama Erina saat melihat Dokter yang menangani Risha dan Aldi baru saja keluar dari ruangan Icu.
"Ini aneh sekali, saya tidak menemukan janin dalam perut mba Risha!" sahut Dokter itu seraya menunjukan wajah kebingungan.
"Tapi Risha udah hamil dua bulan Dok, bahkan dia udah usg dan jelas banget ada janin dalam perutnya." ujar Mama Erina merasa heran.
"Iya bu, saya mengerti. Tapi kita sudah memeriksanya dan kami tidak menemukan adanya janin di dalam perut mba Risha." sahut Dokter yang kemudian berlalu.
"Rin, kok bisa sih janin di perut Risha hilang?" tanya Mama Aldi yang dibuat heran oleh pernyataan Dokter itu.
Mama Erina hanya bisa menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Saat ini ia hanya ingin melihat Risha siuman dan tidak ingin memikirkan hal lain lagi termasuk tentang hilangnya janin di perut Risha.
"Reka, gimana keadaan Risha?" tanya Samba yang baru saja sampai.
"Dia masih kritis!" seru Reka dengan wajah terpukul. "Bagaimana kamu tahu kalau Risha masuk rumah sakit?"
"Tadi aku datang ke rumah Risha, ada yang mau aku bicarain sama dia. Bi Wati yang udah ngasih tahu aku kalau Risha masuk ke rumah sakit, katanya Risha bertengkar sama Aldi sampe saling melukai" ujar Samba menjelaskan.
__ADS_1
"Kita harus bicara, Samba!" seru Reka menatap Samba dengan tatapan serius. Kemudian, Reka mengajak Samba pergi menuju taman di luar rumah sakit itu.