
"Kamu sudah mengusai kemampuan pyrokinesis sekarang kita masuk ketahap berikut nya yaitu meredupkan atau mematikan api." Ucap Sagara bergairah.
Aku mengangguk. "Ayo kita mulai!"
"Kamu harus Bermeditasi lagi selama tiga puluh menit untuk mendapatkan ketenangan jiwa dan batin mu." Ucap Sagara yang kemudian berlalu bersama Reka dan Gama.
Aku menghela nafas dan memulai meditasiku. Dengan mata terpejam aku mencoba menenangkan diri dan berkonsentrasi hingga tak terasa tiga puluh menit berhasil aku lewati. Sagara kembali bersama Reka dan Gama.
Kali ini, Sagara membawa dua buah lilin. Satu dengan nyala api, sedangkan satunya lagi dalam keadaan padam. Kemudian, ia meletakan kedua lilin itu di depan ku dengan jarak agak jauh.
"Nyalakan lilin yang padam itu hanya dengan melihat api pada lilin yang menyala ini." Suruh Sagara.
Aku menatap lilin dengan nyala api, seakan-akan aku dapat merasakan api itu. Bahkan aku bisa membuat api itu bergerak-gerak ketika aku tak sengaja menggerakan jariku. Aku menarik bibirku. Sepertinya senyumanku membuat Sagara mengerti hingga ia mengangguk-anggukan kepala dengan tersenyum pula.
Aku mulai menunjuk lilin dengan nyala api dengan jari telunjuk ku. Aku mengayunkan jari telunjuk ku kemudian, mengalihkan nya pada lilin yang padam hingga akhirnya menyala.
Terukir senyum bangga di bibirku yang tidak di lewatkan oleh Sagara, Reka dan Gama. Mereka bertepuk tangan dengan senyum yang serupa denganku. Aku dapat melihat keakraban Reka dan Gama kali ini. Yang aku tahu, mereka saling menghindar. Melihat keduanya akur, hatiku merasa lega.
"Kamu hebat, Risha. Aku bangga sama kamu." Ucap Gama seraya menepuk-nepuk bahuku.
"Aku yakin, kamu akan mampu mengalahkan Agrapana." Ucap Reka menatap bangga dengan senyuman tipis.
"Makasih, ya. Kalian yang udah kasih aku semangat sampai aku bisa berhasil begini." Ucapku dengan perasaan girang.
"Eh, sudah-sudah! Jangan terlalu senang dulu. Ini belum selesai." Ucap Sagara melerai.
"Oke, maaf! Jadi tadi bukan tahap ketiga, ya?" Tanyaku.
"Bukan! Itu hanya permulaan! Tahap ketiga bahkan belum di mulai. Kamu lupa? Tahap ketiga itu meredupkan api. Lihat, apinya masih menyala pada lilin itu." Ujar Sagara.
"Oh, iya! Maaf, aku keburu seneng duluan!" Ucapku yang kemudian menyeringai.
__ADS_1
"Kalau kamu bisa membakar, tapi tidak bisa memadamkan nya kembali. Bagaimana jadinya?" Ucap Sagara membuatku bergidig.
"Iya, kamu benar! Ya udah, cepat kita muiai." Sahutku bersemangat.
"Sekarang fokus lah pada api yang menyala lalu padamkan!" Suruh Sagara membuatku kebingungan.
Aku mengerenyitkan dahi. "Padamkan?"
Sagara mengangguk. "Iya, tapi jangan di tiup!"
Lagi dan lagi aku mengikuti arahan Sagara. Hanya dengan menyuruhku memadamkan api tampa memberitahu aku harus bagaimana itu sungguh membuatku sedikit kesulitan karena aku tidak boleh memadamkan nya dengan di tiup. Lantas aku harus bagaimana? Menyiramnya dengan air? Aku rasa tidak!"
Fokus pada nyala api dan padamkan
Itu adalah teori yang sangat simple namun membuatku berpikir keras untuk mempraktekan nya. Mungkin aku akan menganggap api itu sebagai peliharaanku yang harus menuruti setiap perkataanku dan akan padam jika aku menyuruh api itu padam.
"Padam!" Seruku yang menatap dalam nyala api seraya mengibaskan tanganku dan tetnyata berhasil. Hey, aku hanya iseng-iseng tadi. Ternyata api itu benar-benar menuruti perintahku!
Delapan jam sudah berlalu dan aku harus segera kembali. Sedangkan, masih banyak yang ingin aku ceritakan pada Reka dan Gama juga Sagara. Pelatihan pyrokinesis ini telah merenggut waktuku untuk mengobrol dengan mereka. Aku ingin menuntaskan segala masalah yang terjadi pada Gama dan Reka. Dan kapan aku akan menepati janjiku pada Anjani untuk membebaskan nya?
"Saga, sebelum aku masuk, aku mau kita janjian untuk pergi ke bukit Hilton besok, untuk membebaskan Anjani." Ucapku sebelum melewati pagar gaib di rumah lindung.
"Kita belum bisa membebaskan nya sebelum kamu berhasil mengalahkan Agrapana. Tidak ada kunci yang bisa membuka penjara itu kecuali Agrapana mati." Ungkap Sagara.
Aku mengerenyitkan dahi. "Apa?"
"Sudah, kita bicarakan lagi ini besok. Sekarang masuk lah, hari disini sudah gelap. Sedangkan di duniamu pasti sudah pagi." Ucap Sagara.
Aku memandang Reka dan Gama tengah menatapku. Sayang sekali, hari ini aku tidak bisa menceritakan tentang patung burung elang itu pada mereka. Aku berbalik dan segera membuka pintu rumah lindung kemudian, lekas berbaring di ranjang kayu.
...*°°°°°°°°°*...
__ADS_1
Hari senin yang cerah, aku sudah bangun tepat pada waktunya. Usai menghabiskan sarapan pagiku, aku segera bergegas pergi untuk bekerja.
"Risha, tunggu!" Teriak Rosa. Aku menoleh dan mendapatinya tengah berlari kecil menghampiriku. "Risha, kita kan partner kerja, kenapa gak ngajak aku berangkat bareng sama kamu, sih?"
"Maaf, aku kira kamu udah berangkat duluan!" Sahutku seraya melanjutkan langkahku.
"Enggak, dong! Kalau aku pasti ngajak kamu dulu sebelum berangkat." Ucap Rosa yang kini berjalan bersama denganku.
"Oh, gitu? Maaf. Aku gak tahu!" Ucapku Dingin.
"Kok, kamu jadi berubah sih, sama aku?" Tanya Rosa dengan wajah sendu.
"Berubah? Berubah gimana maksudnya?" Aku pura-pura tidak mengerti.
"Yang aku tahu, kamu orang nya baik, ramah dan peduli. Sekarang kamu cuek banget sama aku." Jawab Rosa menyadari.
"Iya justru itu, karena aku terlalu baik aku jadi sering di manfaatin sama orang. Kebaikan ku justru sering di balas dengan kejahatan!" Ujarku dengan nada menyindir.
"Kok, kamu ngomongnya gitu, sih? Aku ada salah apa sama kamu?" Tanya Rosa dengan wajah tanpa dosa
Aku terkekeh geli mendengar pertanyaan Rosa yang seperti sedang hilang ingatan. "Aku gak salah dengar? Kamu nanya ada salah apa sama aku? Harusnya kamu dong, yang lebih tahu!" Jawabku yang tidak terpengaruh oleh wajah sendunya.
"Risha, aku benar-benar gak ngerti apa maksud kamu. Kamu begini sejak lihat Aldi mau gendong aku." Ucap Rosa.
"Nah, itu kamu ingat!" Sahutku singkat.
"Risha, tolong jangan salah paham. Kamu juga tahu, kan? Waktu itu kaki aku sakit. Kamu juga lihat sendiri bagaimana rak itu menghimpit kaki aku. Aku cuma minta tolong sama Aldi untuk bawa aku ke sofa, karena aku lihat di selimutku ada kecoa. Aku gak bermaksud buat menggoda Aldi." Jelas Rosa.
"Aku gak bilang kamu mau menggoda Aldi, kok!" Sahutku yang tidak terlalu menanggapinya.
"Aku tahu. Aku ngerti kamu pasti cemburu sama aku. Tapi tolong jangan terus marah sama aku hanya karena kamu salah paham." Ujar Rosa. masih berusaha membujuk ku.
__ADS_1
"Lihat, kita udah sampai. Ayo masuk!" Seruku seraya berlari kecil masuk ke dalam toko lebih dulu.