Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 35


__ADS_3

Anjani tercengang. Bagaimana Agrapana mengetahui rencana Anjani untuk kembali ke dimensi manusia? Sedangkan, ia hanya membicarakan hal itu kepada Reka. Tidak mungkin jika Reka memberitahu Agrapana tentang rencana itu.


"Bagaimana kamu mengetahui semua itu?" Tanya Anjani penasaran.


"Itu tidak penting! Cepat berikan saja mustika ular itu padaku." Sahut Agrapana dengan nada tinggi.


"Tidak akan!" Seru Anjani seraya menyerang Agrapana dengan bola api hingga berhasil mengenai tubuhnya.


Agrapana yang terbakar oleh bola api meringis dan terbang menuju danau. Anjani yang mengejarnya kemudian tidak sengaja melihat bayangan Dewari di air danau itu.


Anjani tercengang ketika melihat tubuh fisik Agrapana adalah sosok seekor naga putih. Sedangkan, bayangan nya di air adalah sosok Dewari.


"Tidak mungkin!!" Batin Anjani seraya berbalik. Menyembunyikan bendungan air mata yang sebentar lagi jebol.


Setelah berhasil memadamkan api di tubuhnya dengan menceburkan diri ke dalam air danau itu, Agrapana kembali terbang melesat dengan cepat menuju ke arah Anjani. Memanfaatkan Anjani yang masih tengah menyeka air matanya. Kemudian,


BLUSSSSSSSKKK


Semua siluman yang menyaksikan nya terperangah. Anjani menundukan kepalanya, melihat sebilah pedang telah berhasil menembus dadanya. Ia di tusuk dari belakang oleh Agrapana yang tidak lain adalah Dewari.


"Ibu.." Ucap Anjani yang kemudian tersungkur ke tanah dengan berlumuran darah.


"Anjjaaaaanniiiiii....." Teriak Reka yang berlari ke arah Anjani dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Semua siluman melihat bagaimana mustika ular itu melayang dengan cahayanya yang menyilaukan. Bahkan tidak ada satupun mata yang sanggup terbuka. Kemudian, sinar itu redup bersama mustika yang hilang.


Terdengar riuh nya penduduk Madavia yang tengah di landa kepanikan.


"Dimana mustika ular itu?"

__ADS_1


"Oh, tidak! Apakah mustika ular itu hancur?"


"Mungkinkah mustika ular itu hilang? Tapi hilang kemana?"


"Gawat, kalau mustika ular itu tidak ada bagimana cara kita masuk ke dimensi manusia untuk menyerap sari makanan? Kita akan kelaparan!!


Aku mengerjap. Seakan baru saja tersadar dari alam bawah sadarku. Aku tahu, setiap yang bernyawa pasti akan mati jua. Namun, ini terlalu tragis bagiku. Melihat bagaimana saudari kembar ku mati oleh seorang yang di panggilnya ibu, hatiku menangis. Bagaimana mungkin aku bisa hidup bahagia disini sedangkan saudariku hidup menderita disana. Ini tidak akan adil baginya.


Sepertinya aku mengerti apa tujuanku sebenarnya datang ke Madavia. Dengan datang kesana, kini aku tahu bahwa ternyata aku memiliki saudari kembar yang di rahasiakan oleh keluargaku dariku.


Dengan datang kesana, akhirnya aku tahu siapa sebenarnya aku dan riwayat kelahiranku. Takdir seakan membawaku kesana untuk mengungkapkan segala kebenaran baik itu di duniaku maupun di Madavia.


Semua siluman di Madavia tidak tahu siapa musuh mereka sebenarnya. Bahkan Gama dan Reka juga Sagara. Semuanya hidup dalam kesalah pahaman yang membuat adik dan kakak saling membenci dan mengabaikan. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan membawa kebenaran ke desa Madavia.


Aku akan membawa kedamaian dan hanya akan terbebas jika aku sudah berhasil menyelesaikan segala pertikaian yang terjadi di Madavia demi kebahagiaan saudariku, Anjani. Aku akan memberikan mustika ular ini pada Altar setelah aku berhasil mewujudkan tekadku.


Ake menyeka air mataku yang berderai kemudian, meletakan patung burung elang itu di atas meja. Waktu sudah menunjukan pukul 21:30 Wib, aku pun segera memejamkan mataku.


Aku membuka kembali mataku dan segera bangkit dari ranjang kayu lekas membuka pintu. Aku berlari kecil melewati pagar gaib dan tidak menemukan Reka dan Gama atau bahkan Sagara yang biasanya selalu menunggu kedatanganku di depan pagar gaib ini.


Mataku terus mencari dan tetap tidak menemukan nya. Hatiku merasa tidak tenang, pikiranku mulai menduga-duga bahwa hal buruk mungkin terjadi pada mereka. Aku sangat panik dan tidak tahu harus kemana, harus berbuat apa.


Aku memutuskan akan mencarinya ke rumah Reka dan berharap mereka bertiga sedang berada disana. Aku melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Reka. Sesampainya disana, aku masih tidak menemukan siapapun.


"Reka...? Gama...? Sagara...? Kalian dimana?" Aku berteriak dengan mata yang tidak berhenti menelusuri hutan di sekitar rumah Reka.


Tiba-tiba terdengar suara pekikan, aku segera bergegas menuju sumber suara itu. Mataku terbelalak saat Gama, Reka dan Sagara tengah berdiri mematung dan tampak tidak berdaya dengan secarik kertas berwarna merah menempel di dahi mereka.


"Apa-apaan ini? Kenapa kalian bisa begini?" Tanyaku yang baru saja mendarat di depan mereka. Aku mengangkat tanganku, hendak melepaskan secarik kertas yang menempel di dahi mereka.

__ADS_1


"Berhenti!!" Suara sentakan seorang laki-laki berhasil membuatku terlonjak.


Aku lekas berbalik dan mendapati sepasang mata hitam pekat tengah menatapku dengan mengenakan pakaian serba putih seperti pendekar pada umumnya.


"Oh, jadi kamu yang menempelkan kertas itu dan bikin mereka membeku seperti ini?" Tanyaku seraya menghampiri pemuda itu tanpa rasa takut dengan mengangkat jari telunjuk ku ke arah wajahnya.


"Benar, aku hebat kan?!" Sahut pemuda itu seraya meraih tanganku kemudian, menurunkan jari telunjuk ku. "Mereka adalah siluman yang sangat berbahaya!"


"Berbahaya? Mereka teman-teman aku. Aku akan melepaskan kertas itu!" Ucapku seraya berbalik dan berjalan ke arah Reka dan Gama juga Sagara yang berdiri tertahan di sebuah pohon besar.


Tiba-tiba pemuda itu meraih kedua tanganku dari belakang dan menahan nya dengan tangan kirinya. Sedangkan, lengan kanan nya melingkar di leherku, mengunci tubuhku sampai tidak bisa memberontak.


"Hey, apa-apaan, sih? Lepasin!" Ucapku seraya meronta.


"Kamu bukan siluman!" Seru Pemuda itu seraya mengelus pipiku. "Aku bisa merasakan tubuh kamu yang begitu hangat!"


"Eh, jangan sentuh aku! Lepasin!" Seru ku dengan nada memerintah.


"Ternyata kita sama, kamu juga sukma yang berkelana ke alam ini." Ujar pemuda itu yang kemudian melepaskan tangannya.


Aku berbalik dan lekas mendorongnya. Aku melihat api unggun yang mungkin bekas pemuda itu. Kemudian, menggerakan tanganku seperti sedang mengambil api itu dari kejauhan dengan tanganku hingga kini di tanganku seperti sedang menggenggam api yang sudah siap aku lemparkan ke arah pemuda di depanku.


Laki-laki itu membelalakan mata kemudian, ia menggelengkan kepala. "Gak mungkin! Cuma kakek Wijaya yang memiliki ajian kulhu geni itu!"


Aku mengerutkan dahiku heran. Apa dia baru saja menyebut nama kakek Sukma Wijaya? Mungkinkah dia mengenal kakek ku?


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanyaku penasaran.


"Eh, jangan marah gitu, dong! Aku manusia! Sama seperti kamu. Cepat padamkan api itu, aku gak mau kamu membakar aku hanya karena salah paham!" Jelas laki-laki itu seraya berjalan melewatiku menuju ke arah Gama, Reka dan Sagara.

__ADS_1


Mendengar tutur katanya yang tidak kaku dan baku seperti siluman yang tinggal di Madavia sepertinya berhasil membuatku percaya pada pemuda itu. Akhirnya, aku mengibaskan tanganku hingga api itu padam dari tanganku.


__ADS_2