Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 40


__ADS_3

Samba menyeruput kopinya setelah ia menjelaskan kejadian di Madavia saat aku pingsan. Entah ia terlalu polos atau memang sengaja ingin membuat Aldi terbakar api cemburu dengan menjelaskan cerita se-detail itu. Aku hanya bisa menunduk kalut, menunggu apa yang akan Aldi katakan. Namun, ia hanya terpaku dengan segala amarah terpendamnya.


"Risha?" Suara Rosa yang baru saja masuk tanpa permisi berhasil memecah keheningan di rumahku. "Ya ampun, tangan kamu kenapa?"


"Cuma kecelakaan kecil aja kok, Ros." Sahutku singkat.


"Kok, bisa? Kecelakaan dimana? Kapan?" Tanya Rosa lagi.


"Aku jatuh dari kamar mandi." Sahutku masih singkat.


"Tadi pagi aku panggil-panggil kamu. Tapi gak ada jawaban. Jadi aku pergi kerja duluan." Ujar Rosa.


"Risha, kayak nya aku harus pulang sekarang. Sampai ketemu lagi di Madavia!"


Aku mengangguk. "Ya udah, hati-hati, ya?!"


...*°°°°°°°°°°*...


Waktu sudah menunjukan pukul 17:20 Wib. Samba sudah berlalu dan Rosa pun sudah kembali ke rumahnya. Aldi masih membisu, entah apa yang saat ini sedang ia pikirkan. Namun aku tahu, dia sangat marah saat ini.


"Aldi, aku_" Ucapku terpotong.


"Aku percaya kamu selalu setia sama aku." Sela Aldi. "Aku cuma marah aja sama keadaan yang memaksa kamu harus berkelana ke alam siluman itu sampai pada akhirnya ada laki-laki yang deketin kamu disana dan aku gak bisa apa-apa. Aku cuma gak rela, kamu yang paling aku jaga disini harus bertaruh nyawa disana dan bukan aku yang berjuang buat nyelamitin kamu."


"Maafin aku, Al. Seandainya kakek Sukma gak pernah melakukan pesugihan, mungkin aku gak akan ngalamin semua ini karena mungkin aku juga gak akan pernah terlahir ke dunia dan bertemu kamu." Ujarku penuh sesal.


"Enggak, sayang. Ini bukan salah siapa-siapa. Aku yang harusnya minta maaf karena gak bisa nolongin kamu." Jawab Aldi.

__ADS_1


Aku tidak pernah mengira bahwa Aldi akan sebijak ini. Sesingkat itukah dia melepaskan emosinya? Bahkan aku berpikir dia akan menyerah dan pergi meninggalkan ku setelah mendengar cerita Samba yang begitu detail.


"Sayang, ini cuma sementara aja. Gak akan lama lagi aku bisa hidup normal. Kamu percaya sama aku, aku akan menyelesaikan semua ini dan gak akan kembali lagi ke tempat itu." Ucapku.


"Aldi mengangguk kemudian memeluk ku dengan erat. "Malam ini aku tidur disini, aku mau jagain kamu. Kamu pasti kesulitan buat makan dan minum obat. Aku akan ngurusin kamu sampai kamu sembuh." Ucap Aldi seraya melepaskan kembali pelukan nya.


Ada sesuatu jauh di lubuk hatiku, perasaan terharu dengan sikap yang Aldi tunjukan kepadaku. Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi, seperti tahu bahwa dialah laki-laki terbaik dalam hidupku.


Aldi bisa di bilang punya segala yang di inginkan nyaris seluruh wanita di dunia untuk bersanding dengan nya. Meskipun dulu penampilan nya seperti Rock'n Roll karena dulu ia adalah ketua geng motor. Namun, siapa sangka kalau dibalik penampilan nya yang berantakan itu tetnyata dia adalah putra tunggal dari seorang CEO.


Yah, itu kan, dulu. Penampilan nya sekarang jauh lebih rapi sejak aku memintanya untuk berpakaian lebih sopan. Kadang ia pakai kaos, kadang pakai kemeja, kadang pakai sweater. Tapi, dia tidak pernah lagi mengenakan celana jeans sobek-sobek yang dulu sempat membuat ku bergidig tiap melihatnya.


Matanya yang teduh itu melihatku tengah menguap, lalu ia melirik jam beker di meja. Pukul sembilan malam. Jemarinya kemudian membelai lembut dahiku, lalu tersenyum saat aku membalas tatapan nya.


"Kalau ngantuk tidur aja. Aku disini buat jagain kamu, bukan buat ngajakin begadang." Ucap Aldi.


"Udah, jangan dipikirin. Sembuhin aja dulu luka kamu di Madavia dengan daun ajaib yang kamu ceritain itu. Kalau besok udah sembuh, baru kita pergi ke rumah aku. Gak ada yang namanya gagal, yang ada cuma terlambat aja, kan?" Ucap Aldi.


Aku mengangguk dan mengulas senyum sebelum akhirnya mataku terpejam dan kembali terjaga setelah sampai di Madavia. Aku membuka pintu dan mendapati Samba sudah menunggu di depan rumah lindung bersama Gama dan Reka.


Aku dan ketiga teman-teman ku, Reka, Gama dan Samba. Lekas pergi menuju rumah Reka untuk kembali mengobati bahuku dengan daun ajaib.


"Ngapain kalian masih disini?" Tanyaku yang sudah berada di kamar Reka siap untuk kembali mengobati bahuku.


"Kita mau ngeliat kamu lah, gimana kalau pas kita di luar, Reka ngapa-ngapain kamu?" Sahut Samba.


"Ngomong apa sih, udah keluar. Reka gak gak bakalan berbuat hal sekonyol itu sama aku. Lagian keadaan aku sekarang sadar, gak dalam keadaan pingsan kayak kemarin. Udah cepat keluar." Ujarku mengusir Gama dan Samba.

__ADS_1


Seperti Dejavu. Reka kembali membuka resleting bajuku dan mulai melepaskan nya dengan pelan-pelan agar tidak sampai menyenggol bahuku. Kemudian, ia mulai meletakan satu helai daun ajaib itu di bahu kiriku dan satu helai lagi di bahu kanan ku.


Ada sesuatu yang berdesir dalam dadaku ketika tangan nya tak sengaja menyentuh bagian punggungku karena rambutku yang terurai menghalangi bahuku. Perasaan ini seperti yang aku rasakan saat pertama kali jatuh cinta pada Aldi. Aku menggeleng sekilas, dengan cepat aku menepis perasaan itu. Ini pasti hanya perasaan gugup saja pikirku.


"Luka kamu terlalu parah, sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk menyembuhkan nya." Ucap Reka mendeteksi.


"Tapi bisa sembuh hari ini juga kan?" Tanyaku cemas.


"Tentu saja bisa. Bahu kanan mu sudah membaik. Bahkan lukanya sudah tidak membekas. Sedangkan bahu kirimu hanya tinggal sedikit lagi." Jawab Reka.


Aku menghela nafas lega. "Syukurlah"


"Risha?" Panggil Reka.


"Hmm" Sahutku.


"Kata Samba, kamu sudah punya kekasih?" Tanya Reka.


"Sejelek itukah aku di mata kamu sampai kamu kira aku gak laku?" Sahutku.


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya bertanya saja." Ucap Reka.


"Iya, Samba benar. Aku udah punya pacar. Mungkin lebih tepatnya calon suami karena dia udah berencana ngelamar aku." Jelasku.


"Oh, begitu!" Sahut Reka singkat.


"Setelah aku menyelesaikan tugas aku disini, aku akan bebas dari alam ini dan kamu juga akan kembali menjalani kisah cinta kamu sama Anjani, kan?" Tanyaku memastikan.

__ADS_1


Reka mengangguk. Setelah beberapa jam berlalu, bahuku baru berhasil di sembuhkan. Kami mulai memikirkan kembali rencana apa yang hari ini akan di jalankan agar tidak membuang waktu lebih banyak lagi.


__ADS_2