
keheningan di rumahku mendadak pecah berkilat karena suara tangisku yang tak dapat aku tahan lagi setelah aku mendengar penjelasan Aldi yang membuatku heran dengan perbuatan Rosa.
Aku menoleh ke arah Aldi, mencoba percaya dengan apa yang di jelaskan oleh nya. Aku sudah pernah melakukan kesalahan dengan meninggalkan nya karena terlalu mempercayai iblis yang ku anggap sebagai teman. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi, aku tidak boleh meragukan kesetiaan Aldi.
aku menyeka air mataku. "Aku percaya sama kamu, Al!"
Aldi menghembuskan nafas lega kemudian tersenyum ke arahku. "Besok hari minggu, kita joging, yuk?!"
Aku mengangguk tanda setuju. Setelah itu, Aldi pamit pulang.
...*°°°°°°°°°°*...
Setiap hari ragaku beraktivitas di dimensi manusia dan setiap malam sukma ku beraktivitas di dimensi siluman. Aku akan tertidur pada malam hari dan sukmaku yang bangun menyambut pagiku di dimensi siluman.
Layaknya di dimensi manusia, Usai menjalani aktivitas di dimensi siluman, aku akan kembali tidur ketika hari mulai gelap dan ragaku yang akan terbangun menyambut kembali pagiku di dimensi manusia.
Aku sudah lupa seperti apa rasanya beristirahat. Aku lelah! Aku bosan! Aku muak dengan dimensi ini. Kali ini tekad ku sudah bulat, aku akan memusnahkan Agrapana agar aku bisa mengeluarkan mustika ular ini dari tubuhku sehingga aku bisa kembali merasakan mimpi yang normal. Mimpi yang menjadi bunga tidur. Meski aku harus bermimpi buruk sekalipun. Setidaknya itu hanya mimpi, bukan?
Aku pergi melesat keluar dari rumah lindung melewati pagar gaib tanpa rasa takut yang aku rasakan sebelum nya, tanpa menunggu Gama atau pun Reka datang menjemputku. Hari ini aku ingin menemui Dewari di istana nya, yang sebelum nya sangat aku hindari dan takuti.
Baru saja aku sampai, tidak sengaja aku mendengar percakapan Dewari dengan Alpha. Cepat-cepat aku sembunyi di balik dinding.
"Kenapa masih belum ada perkembangan juga, Alpha?" Tanya Dewari tampak gelisah.
"Gadis itu tidak pernah datang kembali ke rumah Gama. Sejak hubungan mereka renggang, Gama lebih sering menyendiri dan tidak pernah mau lagi mendengarkan ku." Sahut Alpha yang juga tampak gelisah.
"Jangan-jangan Gama malah jatuh cinta pada anak manusia itu. Kalau itu benar, bagaimana bisa Gama menjalankan rencana kita?!" Dewari menggigit bibir bawahnya.
"Aku rasa begitu, niatnya untuk balas dendam telah padam sejak gadis itu malah menyelamatkan Gama di dalam kurung besi." Suara serak milik Alpha seakan membenarkan dugaan Dewari.
__ADS_1
"Aku heran, kenapa gadis itu bisa membuka kurung besi yang bahkan siluman manapun tidak bisa membuka nya." Ucap Dewari
"Mungkin gadis itu mendapatkan kekuatan dari mustika ular yang ada di tubuhnya itu." Sahut Alpha menyimpulkan.
Oh, jadi sebenarnya Alpha mengetahui yang sebenarnya. Kurang ajar, si kakek tua itu. Bisa-bisanya dia mengarang cerita untuk membodohi aku.
"Sekarang apa rencanamu selanjutnya? Aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kita harus segera menyatukan kembali mustika ular itu."
Menyatukan kembali mustika ular? menyatukan kembali dengan apa?
"Kita harus turun tangan. Bagaimana kalau kita sendiri yang mengajak Risha ke Hilton dan menyuruhnya menemani kembaran nya. Bilang saja kalau itu adalah satu-satu nya cara agar dia bisa kembali ke dimensinya." Ucap Alpha memberi saran.
"Bodoh! Semua siluman di Madavia akan tahu siapa aku sebenarnya jika aku yang turun tangan. Biarkan semua siluman tetap mengira bahwa Agrapana lah yang membuat dia terbunuh sampai harus menderita di Hilton." Ucap Dewari yang membuatku terperangah.
Jadi Dewari lah dalang nya? Ternyata dia yang udah bikin semua berpikir bahwa dia siluman yang baik. Kenyataan nya, dia telah mengadu domba semua siluman di madavia dengan Agrapana. Jahat!!
"Padahal waktu itu hampir saja berhasil. Gama sudah membawa Risha ke Hilton namun gadis itu lebih dulu curiga pada Gama hingga ia berhasil kabur. Sejak itu mereka tidak pernah bertemu lagi. Aku tidak mengerti harus membujuk Gama dengan cara apa, dia sudah tidak mau mendengarkan ku." Ucap Alpha putus asa.
Apa? Jadi waktu Reka di cambuk dewari itu karena Reka memilih untuk tetap menjaga rahasia kakek. Padahal Gama mengatakan Reka di cambuk dewari setelah dewari mengetahui kelicikan Reka. Aku telah di adu domba dengan Reka. Mereka telah membuatku membenci laki-laki yang tidak bersalah. Ternyata selama ini aku bersama dengan musuh yang berusaha mencelakaiku.
"Untung saja sekarang kita sudah tahu bahwa mustika itu ada di dalam diri Anjani dan Risha. Kita harus segera menyatukan roh mereka untuk menyatukan kembali mustika ular yang terbelah menjadi dua." Ucap Alpha membuat Dewari sedikit lebih lega.
Sial, ternyata musuhku yang sebenarnya adalah Dewari. Jadi begitu, mustika ular itu sebenarnya ada di dalam diriku dan juga Anjani. Aku harus melakukan sesuatu!
Dengan pelan dan sangat hati-hati, aku mencoba pergi dari istana ini. Aku akan mencari tahu nya sendiri.
Aku menepi di sebuah sungai yang akan ku lewati. Sungai yang begitu jernih mengalir tenang di penuhi dengan bebatuan besar. Baru saja aku ingin menyebrangi nya, tiba-tiba muncul seekor buaya membuatku terlonjak kaget.
Tiba-tiba buaya itu merubah wujudnya menjadi seorang pria muda yang sudah aku kenal sebelumnya.
__ADS_1
"Saga? Ngagetin aja, sih!" Ucapku menghembuskan nafas lega.
"Risha, mau kemana?" Tanya Saga yang kini beranjak dari air sungai menaiki bebatuan, menghampiriku ke tepi sungai.
"Aku mau ke Hilton! Aku mau ketemu Anjani. Aku harus bicara sama dia." Aku menyelesaikan jawabanku.
"Sayang sekali, kamu sudah banyak menyia-nyiakan waktu di Madavia hanya dengan bermain-main saja. Seharusnya saat ini kamu berlatih untuk mempersiapkan diri melawan Agrapana." Ucap Sagara seraya duduk di sebuah batu besar tepat di sebelahku.
"Berlatih? Maksud kamu berlatih berkelahi? Ayolah, Saga! Aku ini seorang wanita yang sangat lembut, mana mungkin aku bisa berkelahi!" Ucapku merengut.
"Bodoh, bukan berlatih yang seperti itu! Tapi, berlatih untuk mempelajari Ajian Kulhu Geni!" Sahut Sagara.
"Ajian kulhu geni?" Aku mengerutkan kening.
"Kakek mu mewarisi ajian itu, kan?!" Tanya Saga.
Aku mendesah. "Ah, aku bahkan baru mendengarnya!"
"Yang aku dengar dari kakek mu, dia akan mewariskan ajian kulhu geni itu padamu. Kulhu Geni mampu membakar makhluk sejenis siluman!" Ungkap Sagara.
"oh, yah?!" Ucapku yang di angguki Sagara. "Kalau udah diwariskan sama aku, berarti aku gak perlu mempelajarinya lagi dong?!"
"Memang! Namun tetap saja kamu perlu berlatih untuk mengendalikan nya dengan pyrokinesis!" Ucap Sagara.
"Pyrokinesis?! Ajian apa lagi itu?" Sahutku merasa jenuh.
"Itu bukan ajian, apa Gama tidak pernah menceritakan nya padamu?" Tanya Sagara.
"Tidak!" Aku menggeleng cepat. "Gama malah mengarang cerita saat aku bertanya alasan kedatanganku ke Madavia!"
__ADS_1
"Mengarang cerita bagaimana?"