
Panggilan telepon itu akhirnya menciptakan kelegaan dalam hatiku. Aku menyunggingkan senyum tipis saat melihat nama 'Pacar' tertera di layar ponselku. Buru-buru aku mengangkatnya seakan khawatir dia akan berubah pikiran lalu mematikan kembali teleponnya. Sedangkan aku dengan gengsiku yang tinggi menahan aku untuk menghubunginya lebih dulu.
Dengan antusias aku mengangkat telepon itu. "Hallo, say_" Ucapku terpotong.
"Hallo, Risha Ini tante!" Seru Mama Aldi menyela. Aku tidak pernah menyangka kalau Aldi ternyata pengecut, dia bahkan lebih parah dariku yang cuma gengsian. Sedangkan dia harus melibatkan Mamanya untuk menyelesaikan masalah antara aku dengannya.
"Iya Tante, kenapa?" Tanyaku, memilih untuk pura-pura tidak tahu saja. Aku penasaran, Aldi sudah mengatakan apa saja pada Mamanya.
"Risha, kalau bisa Aldi suruh pulang dulu, ya. Tante mau minta anter sama Aldi buat beli perlengkapan hantaran." Ujar Mama Aldi yang sontak membuatku mengerutkan dahi.
Deg!!
Hatiku rasanya seperti tertimpa sesuatu yang berat seakan-akan aku mengalami serangan sesak nafas yang bahkan aku tidak memiliki riwayatnya sama sekali.
Aku harus jawab apa?
Apa aku harus bilang kalau hubungan aku dan Aldi sedang tidak baik-baik saja? Atau cukup mengatakan dengan jujur kalau Aldi tidak bersamaku saat ini?
Entahlah!!
"Hallo, Rish? Kamu masih disitu?" Tanya Mama Aldi tampak menunggu jawaban dariku.
'Aku masih disini, tante! Tapi pikiranku gak tau ada dimana!' Batinku.
"Maaf, Tante. Tapi Aldi gak ada disini, kemarin dia pulang bareng Samba. Mungkin, dia nginep di rumah Samba. Nanti Risha coba hubungin Samba, ya!" Jelasku dengan jujur.
"Samba?" Tanya Mama Aldi tampak heran.
"Iya, Tante. Samba temen Risa, temen Aldi juga!"
"Oh, gitu. Ya udah, kalau udah tersambung sama Samba, tolong kamu sampaikan pesan dari Tante ya, Rish. Suruh Aldi pulang!"
"Oke, Tante!" Seruku seraya menutup telepon.
Pantas saja sejak malam kemarin Aldi pergi dari sini, dia tidak ada menghubungiku sama sekali. Ternyata ponselnya tertinggal di rumahnya. Astaga, aku sudah menyimpulkan yang tidak-tidak dan kini aku benar-benar mengkhawatirkannya.
__ADS_1
'Aldi, kamu kemana, sih?' Gumamku seraya mencari nomor Samba di kontak ponselku.
Setelah menemukan nomor ponsel Samba, dengan penuh harap aku menekan tombol Call. Terdengar ada yang berbicara dari sana, 'Maaf, nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silahkan hubungi beberapa saat lagi.'
Oh, tidak!
Bahkan Nomor Samba tidak bisa dihubungi. Lalu aku harus bagaimana? Menunggu sampai besok? Tidak, bagaimana kalau saat ini Aldi dan Samba dalam bahaya? Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini. Hatiku begitu kacau dan sangat mencemaskan Aldi, di tambah lagi dengan Samba.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya kini aku memutuskan untuk pergi ke Madavia melalui portal di hutan yang terhubung dengan Altar. Tapi hutan itu berada di sebuah Desa terpencil daerah Ciamis, sedangkan saat ini aku berada di Bandung.
Perjalanan Bandung-Ciamis akan membutuhkan waktu dua sampai tiga jam untuk sampai disana, bahkan perjalanan di sore hari seperti ini pasti akan membuatku tiba di hutan itu saat hari sudah gelap gulita. Apa lagi aku tahu betul betapa menyeramkannya hutan itu. Dan ngomong-ngomong, selain aku harus pergi sendiri, aku juga tidak tahu harus kesana naik apa.
Tiba-tiba aku teringat mobil Mama Erina, mungkin aku bisa pergi ke ciamis menggunakan mobil itu. Aku yakin, dia tidak akan keberatan jika aku meminjamnya satu malam saja.
...*°°°°°°°°°°*...
Mobil Toyota Century dengan warna merah melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan aspal menuju ke daerah Ciamis. Hari sudah semakin larut, sedangkan perjalanan masih setengah jalan. Hingga sesampainya di bawah kaki gunung yang menuju ke hutan, aku memarkir mobil Mama Erina yang saat ini sedang aku pinjam. Kemudian, aku memberanikan diri untuk pergi menerobos semak belukar di antara pohon-pohon rindang.
Saat baru saja ingin memasuki portal yang nantinya akan membuat tubuhku seakan terhempas dan terdorong memasuki dimensi siluman, mataku sempat melirik tempat dimana aku menyimpan peti kayu. Aku mengerutkan dahi saat peti itu ternyata sudah tidak ada disitu, lalu tanpa menunggu untuk memikirkannya terlebih dahulu akhirnya aku memutuskan untuk memasuki portal dan mencari tahunya nanti.
Aku membuka pintu Altar, lalu pergi ke rumah Reka. Mungkin aku akan menemukan Samba disana. Namun sesampainya di rumah pohon Reka, aku bahkan tidak menemukan siapapun disini.
"Risha, ada apa?" Tanya Gama yg dibuat heran dengan kedatanganku ke istana seorang diri.
"Gama, kemana Reka?" Tanyaku.
"Reka? Mungkin di rumahnya!" Sahut Gama.
"Gak ada, aku udah cari di rumahnya tadi." Ucapku.
Gama mengerutkan dahinya. "Ada apa sebenarnya, Risha?"
"Gama, Aldi dan Samba hilang!" Terangku.
"Apa? Bagaimana mungkin? Dan kenapa kamu mencarinya kesini?" Gama bertanya-tanya.
__ADS_1
"Sejak kemarin pulang dari sini, mereka pergi bersama. Dan hari ini, mereka gak ada kabar. Bahkan Aldi gak ada di rumahnya, ponsel Samba juga gak bisa di hubungi. Aku khawatir, siluman yang berusaha menyakiti aku kemarin, nyulik Aldi dan Samba. Awalnya aku pikir, Samba mungkin ada di rumah Reka. Tapi Reka juga gak ada di rumahnya, Gam!"
"Mungkin Aldi dan Samba ada di tempat lain. Dirumah teman-temannya, atau mungkin sedang ada urusan lain." Kata Gama.
"Aku gak tahu, aku cuma khawatir aja sama mereka, Gam!" Ucapku.
"Begini saja, kita tanyakan ini ke Putri Kalingga. Jika Aldi dan Samba memang datang ke tempat ini, pasti kamu bisa kejadian itu dimatanya." Ujar Samba memberi solusi.
Aku mengangguk dan kami melangkah keluar istana bersama-sama. Namun baru saja sampai di luar, kami berpapasan dengan Reka yang hendak masuk ke dalam istana untuk menemui Gama.
"Reka, kamu abis dari mana?" Tanyaku yang kini berhadapan dengan Reka. "Tadi aku cari kamu ke rumah pohon dan kamu gak ada disana."
"Untuk apa kamu mencariku?" Tanya Reka dengan memalingkan tatapannya seolah ia menolak untuk menatapku.
Aku mengerutkan dahi, dia membalas pertanyaan ku dengan pertanyaan. Dan aku merasa sangat tidak puas. "Kenapa? Gak boleh emangnya?
"Tidak, aku pikir selama siluman yang menyamar sebagai diriku belum ditemukan, kamu akan selalu dalam bahaya." Dalih Reka.
"Tadi siang, aku lihat gelang yang kamu kasih ini berubah warna jadi coklat muda." Ucapku yang membuat Reka sontak menolehku dengan mata melebar. "Aku coba perhatiin orang-orang di sekitarku, dan menurutku gak ada yang mencurigakan. Waktu aku balik ke tempat kerja, gelang ini berubah warna lagi ke warna semula."
"Rupanya siluman itu selalu mengikuti kamu, bahkan sampai ke dimensi manusia." Kata Reka tampak panik.
"Apa? Bahkan sekarang aku merasa gak aman, walaupun aku udah berada di dimensi manusia sekalipun." Ucapku frustasi.
"Kita harus menyelidikinya, Reka!" Ucap Gama.
Reka mengangguk. "Aku akan tinggal di dimensi manusia, agar aku bisa selalu menjagamu, Risha!"
"Hah?" Aku menatapnya tidak percaya.
"Reka, apa kamu sudah tahu kalau Aldi dan Samba hilang?" Tanya Gama memastikan.
"Apa, hilang?" Tanya Reka tercengang.
Aku mengangguk bersama Gama. "Tadinya aku akan mengantar Risha kepada Putri Kalingga untuk mencari tahu keberadaan mereka, karena Risha berpikir mereka datang kesini." Ujar Gama.
__ADS_1
"Kamu selidiki aja masalah ini, biar aku yang mengantar Risha kepada putri kalingga. Bahkan, aku akan mengantarnya hingga ia sampai di rumahnya dengan selamat." Ucap Reka pada Gama, kemudian menatapku. Aku melirik gelangku dan tidak menemukan perubahan warna. Aku tersenyum tipis sebentar, kemudian kami pergi bersama ke Altar untuk menemui Putri Kalingga di hutan.
Reka menggamit jemariku seperti seorang ibu menggamit jemari anaknya karena takut anaknya itu hilang. Ada perasaan lega dalam hatiku, karena aku selalu merasa aman ketika berada bersama Reka. Apa lagi kali ini aku tidak akan pulang sendirian dengan melewati hutan yang pastinya sudah sangat gelap, aku tidak perlu takut karena Reka bahkan akan mengantarku sampai ke rumahku.