
Sore ini kami memutuskan untuk mencari rumah Samba ke kampung halamannya dengan harapan kami akan menemukan Samba di sana. Sejak kejadian itu, Samba juga ikut menghilang. Padahal, Reka palsu hanya membawa Aldi saja.
"Apa kamu tidak lelah?" Tanya Reka yang menatap lekat wajahku dengan tubuh yang bersandar di jok sebelahku. "Setiap hari selalu pergi setelah selesai kerja. Kamu tampak kurang istirahat, Risha. Wajahmu pucat!"
"Aku capek sebenarnya, tapi mana bisa aku istirahat di saat nyawa Aldi sedang dalam bahaya." Sahutku seraya mengemudi.
"Kamu mencintainya, Risha?" Tanya Reka memandangku dengan tatapan yang tidak dapat aku artikan.
Pertanyaan macam apa itu? Kalau tidak mencintainya, mana mungkin berpacaran hingga merencanakan pernikahan dengannya!
"Kalau gak cinta, buat apa aku bela-belain kayak gini buat nyari Aldi?" Sahutku.
"Aku pikir, itu karena memang sifatmu yang selalu mempedulikan semua orang!" Sahut Reka memandang lurus ke depan. Namun, tidak lama kembali melirikku. "Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama, jika aku yang menghilang?"
Aku tertegun, membayangkan jika benar Reka yang menghilang. Bukan Aldi! Tapi aku tidak ingin melanjutkan percakapan yang tidak berguna ini. Reka kembali memandang jalanan aspal di depan, seakan ia sudah mendapat jawaban hanya dengan melihat ekspresiku.
"Reka, gimana caranya kamu bisa menangani pekerjaan kamu tadi di kantor?" Tanyaku yang masih penasaran dengan cara Reka melakukan pekerjaan itu. "Itu bukan pekerjaan biasa. Staff administrasi memiliki peranan yang penting dalam sebuah perusahaan. Dengan jabatan itu, kamu harus berkutik dengan kegiatan surat menyurat, pencatatan, menyusun dan memasukan data, pembukuan, mengatur agenda, menelepon dan hal-hal lainnya yang sifatnya teknis."
"Lalu?" Tanya Reka singkat, membuat aku mengerutkan dahi.
"Kok, gitu doang jawabnya?" Aku menimpalkan pertanyaan.
"Bangsa siluman memiliki banyak kemampuan, Risha. Termasuk mengerjakan pekerjaan manusia tanpa harus berfikir keras ataupun bersekolah tinggi."
Hari sudah semakin larut. Perjalanan ini sedikit terhambat oleh kemacetan, sehingga aku menempuh tiga setengah jam untuk sampai di Ciamis.
Kampung ini tampak sepi, aku bahkan belum menemukan seseorang untuk di mintai tanya. Aku memarkirkan mobil di sebuah lapangan kecil yang sepi dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki memasuki sebuah gang kecil.
"Lihat, ada warung. Kita ke sana!" Ucapku seraya bergegas dengan bersemangat seakan baru saja mendapatkan sebuah harapan.
"Punten, Pak. Mau numpang tanya!" Seruku saat melihat seorang laki-laki paruh baya tengah duduk didepan warung seraya menonton tv. "Bapak tahu rumahnya Samba, gak?"
__ADS_1
"Samba?" Laki-laki paruh baya itu tampak sedang berpikir dengan dahinya yang berkerut dan bola mata yang mengarah ke atas langit-langit warungnya. "Perasaan mah disini gak ada yang namanya Samba, Neng!"
Dalam sekejap aku merasa tubuhku lemas seakan kehilangan harapan. Perjalanan ini seharusnya tidak sia-sia jika saja aku dapat menemukan Samba.
Di warung yang menyediakan kursi tangkringan ini, kami mencoba beristirahat sejenak seraya memesan dua gelas kopi untuk sekedar menyegarkan badan yang rasanya sudah terasa remuk karena beberapa hari ini aku terlalu di sibukan oleh pencarian ku ini.
"Ngomong-ngomong, kalian ini dari mana?" Tanya Bapak pemilik warung yang tengah duduk berhadapan dengan kami.
"Kami dari Bandung, Pak!" Sahutku yang kemudian menyeruput kopiku.
"Waduh, jauh-jauh teuing! (jauh banget) ari kesini mau ngapain atuh?" Tanya laki-laki itu penasaran.
"Kami sengaja dari jauh datang kesini buat nyari temen kami, Pak. Namanya Samba, dia baru-baru ini pindah lagi kesini. Katanya sih, dulu saat masih kecil dia sempet di titipin di daerah Wonosobo." Jelasku.
"Kela-kela! (Sebentar!)" Seru laki-laki itu tampak sedang mengingat sesuatu. "Si Samsul mungkin yang kalian maksud."
"Samsul?" Gumamku.
Aku sedikit bingung, tapi aku tidak ingin mempedulikannya. Siapa tahu, Samsul yang laki-laki itu bilang adalah Samba yang aku cari.
"Jadi, dulu itu si Samsul pernah di titipkan di daerah Wonosobo." Ujar laki-laki itu menjelaskan. "Bukan di titipkan, sih! Tapi, di sembunyiin. Soalnya waktu itu, ada siluman neror keluarga itu. Katanya sih, gara-gara pesugihan."
"Oh! gitu ya, Pak? Kalau begitu, dimana ya rumahnya?" Tanyaku yang kembali bersemangat karena apa yang di ceritakan oleh laki-laki itu sama persis dengan apa yang pernah aku dengar dari mulut Samba.
"Mamang anterin aja lah, ya? Soalnya udah gelap begini, takut eneng nanti nyasar!" Ucap laki-laki itu seraya berdiri lalu menggulung sarung yang di kenakannya dan diangkatnya sarung itu sedikit ke atas lalu pergi mengantar kami.
Setelah melewati beberapa rumah yang tampak sepi dengan pepohonan jati di perkebunan yang luas, akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang cahaya lampunya temaram. Rumah kayu permanen yang sederhana dengan halaman cukup luas itu tampak sepi seperti rumah-rumah lain yang sudah aku lewati sebelumnya.
"Itu dia rumahnya." Ujar laki-laki paruh baya itu seraya menunjuk rumah yang kini berada tepat di depan kami berdiri. "Tapi Mamang gak tahu, si Samsul ada di rumah atau enggak. Soalnya, dia kerja katanya! Kalaupun Samsul gak ada, tapi Mak Tuti pasti ada"
"Mak Tati?" Gumamku.
__ADS_1
"Muhun, Nenek-nya Samsul! Sahutnya.
"Oh, gitu! Ya udah, makasih banyak ya, Pak!" Ucapku memberinya senyuman.
"Iya, Neng! Sama-sama. Kalau gitu Mamang nganter nya sampai sini aja, ya? Soalnya warung gak ada yang nungguin." Ujar laki-laki itu yang kemudian berlalu.
"Reka, katanya kamu itu siluman yang memiliki kemampuan. Masa buat nemuin rumah Samba aja kamu gak bisa!" Seruku menegurnya sebelum mengetuk pintu rumah itu.
"Kata siapa? Aku bisa, hanya saja kamu tidak pernah bertanya padaku. Bahkan saat baru saja aku hendak mengatakannya, kamu sudah lebih dulu berlari ke arah warung itu dan kamu tidak memberiku kesempatan untuk bicara!" Jelas Reka yang membuat aku menyesali perbuatanku sendiri.
"Kamu nyalahin aku?" Tanyaku mengelak.
"Tidak, aku hanya menjelaskan! Dan sekarang aku ingin memberi tahumu sebelum kamu merendahkanku lagi." Ujar Reka.
"Apa?" Tanyaku penasaran
"Aku tidak mencium bau tubuh Samba di rumah ini." Sahut Reka.
"Oke, kita buktikan!" Ucapku, lalu mulai mengetuk pintu rumah kayu itu seraya berseru, "punten!!"
Tidak berselang lama, seseorang dari dalam sedang membuka pintu seraya menyahut, "mangga!!"
Terlihat seorang wanita baya mulai menampakan diri di ambang pintu dengan rambut yang sudah separuh beruban di gelung ke belakang. "Milarian saha, Neng?" (Mencari siapa)
Aku sedikit tertegun, karena tidak cukup mengerti dengan bahasa Sunda sehingga membuatku kebingungan untuk menjawabnya. Aku hanya tersenyum tanpa bertanya arti dari ucapan wanita itu.
"Bu, maaf saya ganggu malam-malam gini. Saya mau ketemu Samba!" Ucapku.
"Samba?" Wanita baya itu mengernyitkan kening.
"Samsul maksudnya, Bu!" Sahut Reka buru-buru meralat.
__ADS_1
"Oh, Samsul. Hayu atuh, masuk!" Ucap Nenek Samba. Maksudku, Samsul.