Meraga Sukma

Meraga Sukma
70. Menunggu Kepastian


__ADS_3

Sesampainya di rumahku, aku lekas mencari ponselku di kamar dan bergegas menelepon Samba. Namun nomornya tidak bisa di hubungi malah operator mengatakan kalau nomornya sedang berada di luar jangkauan.


Aku hanya bisa menunggu Samba, duduk manis bersama Reka dengan pikiran yang kalang-kabut. Aku khawatir Samba tidak berhasil membawa Aldi pulang, pikiranku benar-benar tidak dapat aku kendalikan saat ini.


"Risha!" Panggil Papa Johan berjalan ke arah sofa.


"Iya, Pa?" Aku menoleh Papa Johan yang baru saja duduk di sofa, berhadapan dengan aku dan Reka.


"Risha, Papa udah memutuskan." Papa menatapku lalu melirik Reka di sebelahku. "Pernikahan kalian akan di langsungkan minggu depan!"


"Apa?" Sontak aku terguncang, dadaku seakan dihantam sesuatu yang menyakitkan. "Kenapa harus minggu depan?"


"Semakin cepat semakin baik, Risha. Jangan tunggu sampai perutmu besar, baru nikah. Papa gak mau ya, kamu bikin malu keluarga!" Papa Johan menatapku dengan tatapan gusar.


"Tapi Pa_" Aku ingin membantahnya, tapi Papa Johan langsung menyela.


"Kita itu keluarga terpandang, jangan sampai nama baik keluarga kita tercemar gara-gara kamu, Risha!" Bentak Papa Johan, sontak membuat aku dan Reka tercengang dan menatapnya tidak percaya.


Ini adalah pertama kalinya aku menerima nada tinggi dari kalimat Papa. Papa Johan memang seorang Ayah yang tegas, tapi dia tidak pernah kasar apa lagi bersuara keras.


Malam sudah semakin larut dan belum ada kabar apapun dari Samba. Aku mendesah dengan perasaan gelisah, sedangkan Reka berpamitan pulang dan akan datang esok pagi.


...*°°°°°°°°°°*...


Dering telepon yang berbunyi berhasil membangunkan tidurku. Perlahan aku membuka mataku dan meraih ponsel yang tergeletak di nakas sebelah tempat tidurku. Tertera Mama Aldi memanggil di layar ponsel itu, aku mengucek mataku sebelum aku mengangkat telepon itu.


"Hallo, Tan?" Ucapku dengan suara yang masih serak.


"Hallo Risha, maaf Tante telepon sepagi ini. Kamu bisa datang kesini gak, sayang?" Suara Mama Aldi dari telepon.


"Hmm, iya Tan. Bisa, kok! Tapi ada apa ya, Tan? Kayak nya penting banget!" Ucapku penasaran.

__ADS_1


"Ini soal Aldi, Rish. Masa Aldi berubah jadi orang-orangan sawah!" Suara Mama Aldi tampak panik.


"Hah? Ya udah, nanti Risha kesitu ya, Tan. Risha mau mandi dulu." Aku terkesiap mendengar hal itu dan lekas bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap.


Setelah mengetahui kalau yang berada di rumah Aldi adalah jerami, aku tidak langsung memberitahu orang tua Aldi. Aku khawatir mereka akan sangat syok dan mempengaruhi kesehatan Mama Aldi. Aku berniat akan memberi tahu mereka saat aku telah berhasil menemukan Aldi, namun tampaknya mereka sudah mengetahuinya lebih dulu sebelum Aldi yang asli berhasil di bawa pulang.


Tidak tahu kenapa, hingga saat ini Samba masih belum memberi kabar. Lantas apa yang harus aku katakan pada Mama Aldi jika sampai disana? Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya? Tidak, identitas Reka akan terbongkar jika aku menceritakan kebenaran tentang Aldi. Lagi-lagi aku harus memikirkan alasan untuk bahan cerita nanti pada Mama Aldi.


Setelah bersiap-siap, aku bergegas menuruni anak tangga dan hampir saja aku akan memasuki mobil Mama Erina jika saja dia tidak memanggilku.


"Kamu mau kemana sepagi ini, Risha?" Tanya Mama Erina yang tengah asik menyiram tanaman di taman depan rumah.


"Risha mau ke rumah Aldi, Ma!" seruku seraya membuka pintu depan mobil lalu bergegas memasukinya.


"Kok buru-buru sih, Gak sarapan dulu?" Tanya Mama Erina.


"Nanti aja ya, Ma. Bye, Ma!" seruku, cepat-cepat melajukan mobil dan segera berlalu.


"Ada apa sih, Ma?" Tanya Papa Johan yang baru saja keluar dari rumah karena mendengar ribut-ribut di luar.


"Risha, Pa. Dia pergi tergesa-gesa, padahal belum sarapan!" Sahut Mama Erina.


"Emang mau kemana Risha sepagi ini?" Tanya Papa Johan penasaran.


"Ke rumah Aldi katanya!" Sahut Mama Erina.


...*°°°°°°°°°°*...


"Coba kamu lihat ini, Risha! Masa Aldi berubah jadi kayak gini? gak masuk akal banget, kan!" Mama Aldi memperlihatkan gulungan jerami padi yang di ikat menyerupai orang-orangan sawah.


"Tante tenang, ya. Jangan khawatir, ini emang bukan Aldi, Tan." Aku memberanikan diri untuk mengungkapkan tentang jerami itu dan Aldi.

__ADS_1


"Iya Tante juga tahu itu bukan Aldi, itu jerami padi." Ujar Mama Erina tampak frustasi.


"Maksud Risha, Aldi yang selama ini tinggal disini ternyata bukan Aldi yang asli, Tan." Aku menggigit bibirku, khawatir orang tua Aldi akan syok.


"Maksud kamu gimana sih, Risha? Tante gak ngerti deh, bukan Aldi yang asli gimana sih?" Mama dan Papa Aldi mengerutkan dahinya. Mereka benar-benar kompak, bukan!


Aduh, gimana cara aku jelasin nya? emang kalau aku ceritain hal-hal mistis mereka bakalan percaya, gitu?


"Tante percaya hal-hal mistis, gak?" Tanyaku skeptis.


"Enggak, Tante gak percaya. Kamu mau bilang kalau Aldi kayak gini karena setan, gitu?" Ujar Mama Aldi tampak geram.


"Enggak Tante, bukan gitu maksud Risha." Sahutku dengan perasaan harap-harap cemas.


"May! udah lah, kita dengerin dulu aja apa kata Risha. Kamu mau percaya atau enggak itu terserah kamu, tapi aku mau denger penjelasan dari Risha!" Ujar Papa Aldi sontak membuat Mama Aldi termenung.


"Jadi gini Om, Tante! Aldi yang asli sebenarnya lagi di sembunyiin di alam gaib, dan Aldi yang disini emang itu jerami padi. Makanya dia gak bisa gerak ataupun bicara, karena dia hanya benda mati." Jelasku, berusaha mengucapkan kalimat itu dengan lantang.


"Kamu udah tahu kalau Aldi yang disini adalah jerami padai dan kamu gak ngasih tahu kami sejak awal Risha?" Ujar Papa Aldi memandangku dengan tatapan kesal.


"Maaf Om, Risha gak bermaksud ngebohongin Tante sama Om, Risha juga tahu nya baru kemarin-kemarin kok!" Aku terus berusaha menjaga emosi orang tua Aldi.


"Terus gimana nasib Aldi, Risha?" Tanya Mama Aldi tampak mulai histeris.


"Tante sama om tenang dulu ya, Risha lagi ngusahain bawa Aldi pulang!" sahutku, mencoba meyakinkan dan menenangkan orang tua Aldi.


Dering telepon berbunyi, aku lekas mengambil ponselku di dalam tas selempangku. Aku melebarkan mataku saat melihat panggilan itu ternyata dari Samba, buru-buru aku mengangkat telepon itu.


"Hallo, Sam? Kok, baru ngabarin sih?" Tanyaku dengan nada kesal.


"Aku udah di rumah kamu, Risha. Kamu dimana?" Suara samba di dalam telepon sontak membuatku merasa menjadi orang yang sedang berulang tahun dan baru saja mendapatkan kejutan.

__ADS_1


"Aku pulang sekarang!" seruku lekas berdiri dan bersiap pergi.


__ADS_2