
Rasa penasaranku seakan meronta, karena aku tidak bisa mengetahui apa yang terjadi di Madavia. Setelah aku memasukan jelmaan Reka ke dalam peti dan mengirimnya ke Madavia, aku menyerahkan jelmaan Reka pada Gama sesuai rencana yang sudah kami sepakati. Lagi pula, aku masih banyak urusan di dunia manusia. Aku harus membawa Aldi pulang dan kembali menemui Samba yang menungguku di tempat kost-an ku.
Aku tidak sempat menjelaskan lebih jauh pada orang tua Aldi karena Mama Aldi pingsan dan aku lekas berpamitan pulang tanpa menunggu Mama Aldi siuman. Ada urusan lain yang harus aku selesaikan besok, yaitu menemui Ci Yuzzy dan memastikan apakah aku masih ada kesempatan untuk kembali bekerja atau tidak.
"Aku belum bisa ke Madavia, energiku belum pulih, Risha!" Ujar Samba menolak permintaanku.
Aku hanya bisa berdecak kesal dan tak mungkin memaksanya karena aku tahu, saat ini dia benar-benar dalam keadaan lemah. "Ya udah, aku izinin kamu tidur disini buat malam ini aja. Besok kamu harus pulang, Sam. Kasian Nenek kamu, dia khawatir banget sama kamu."
"Kamu serius Rish, nyari aku sampe ke rumah Nenek aku?" Tanya Samba tidak percaya.
"Iya. Kamu perlu bukti?" Tanyaku seraya duduk di kasur sebelah Samba.
"Boleh, emang kamu punya buktinya?" Tanya Samba antusias.
"Punya, dong!" Sahutku menyeringai.
"Apaan coba?" Tanya Samba mengerutkan bibirnya seakan menantangku.
"Buktinya, sekarang aku tahu kalau selama ini kamu bohong. Nama kamu itu Samsul. Bukan Samba!" Ujarku kemudian tertawa, mentertawakan namanya yang entah kenapa terasa lucu bagiku.
"Ssssstt, jangan keras-keras! Nanti Rosa dengar!" Seru Samba seraya menutup mulutku yang sedang mentertawakannya.
"Emang kenapa kalau dia dengar?" Tanyaku heran.
"Aku malu, lah!" Sahut Samba tiba-tiba merengut.
"Kenapa? Jangan-jangan kamu pacaran ya, sama dia? Kapan kalian PDKT-nya?" Aku mengejarnya dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Enggak, udah ah jangan bahas itu dulu." Sahut Samba tampak kesal.
"Oke, tapi kamu harus jujur sama aku kenapa kamu harus bohong soal nama kamu?" Lagi-lagi aku melontarkan pertanyaan padanya.
"Kan aku udah bilang, aku malu. Aku cuma gak pede aja!" Sahut Samba tampak serius.
"Ya ampun, kamu itu harus bersyukur Sam, gitu-gitu juga nama pemberian orang tua kamu. Lagian siapa yang akan merendahkan nama kamu kalau kamu dari awal jujur, aku juga gak bakal ketawa kalau dari awal aku tahu nya nama kamu itu Samsul." Ujarku mencoba menyadarkannya.
"Ya!" Sahut Samba singkat. Ia tampak benar-benar kesal.
"ya udah, jangan marah!" Sahutku membujuknya.
"Aku bakal marah kalau kamu sampe kasih tahu orang lain. Apa lagi Rosa!" Ujar Samba bersikukuh.
"Oke, tapi aku cuma mau ngingetin aja sama kamu kalau sampe kamu jodo sama dia, lambat laun dia bakal tahu nama asli kamu. Kamu mau dia kecewa?" Ujarku lagi-lagi bertanya.
"Iya-iya, maaf! Btw kamu kok, bisa bebas dari siluman itu sih? gimana ceritanya? terus kamu ninggalin Aldi gitu aja?" Aku bertanya cukup banyak, setidaknya ini bukan pertanyaan tentang namanya. Aku yakin, dia tidak akan marah kali ini.
"Bukan gitu, siluman itu punya ajian panglimunan. Dia bikin aku gak bisa liat Aldi. Jadi aku gak bisa bawa Aldi pulang bareng aku. Lagian kok, aku aneh ya! denger cerita kamu yang nemuin Aldi di daerah sumedang, sedangkan aku tahu benar aku di sekap di daerah Majalengka."
"Masa, sih? Tapi kamu sempet ketemu Aldi juga kan?" Tanyaku penasaran.
"Iya, kita sempet ketemu. Malah, Aldi sempet ngucapin kata maaf sama aku. Dia juga bilang, 'Sam, kalau gue sampe harus mati disini, gue minta tolong lo jagain Risha!' gitu katanya!" Ujar Samba menjelaskan.
"Terus gimana caranya kamu bisa sampe lolos dari sana?" Tanyaku lagi.
"Aku kan bukan orang biasa, Rish. Aku gunain lah, semua ilmu aku buat ngebebasin diri dari sana." Sahut Samba terdengar arogan.
__ADS_1
Setelah lama berbincang dengan Samba, aku pun pergi ke rumah Rosa di sebelahku dan menginap di rumahnya.
...*°°°°°°°°°°*...
Esok paginya, Rosa membangunkan Risha yang enggan beranjak dari tempat tidur. Suara Rosa begitu melengking di telinga Risha, membuatnya sontak menutup telinganya tanpa sedikitpun membuka matanya.
"Biar aku saja yang membangunkannya!" Suara laki-laki yang terdengar samar-samar di telinga Risha. Malah membuatnya membawa suara itu ke dalam mimpinya.
"Risha, bangun!" Seru laki-laki yang sudah berpakaian rapi itu menggoyang-goyangkan tubuh Risha dengan tangannya, mencoba membangunkan wanita yang mendadak dysania itu.
"Aldi, aku kangen banget sama kamu!" Ucap Risha mengigau, berbicara dengan mata tertutup namun tangannya berhasil melingkar di tengkuk laki-laki itu hingga membuatnya harus menindih tubuh Risha karena kehilangan keseimbangan.
"Astaga!" Gumam Rosa yang menyaksikan kejadian itu.
"Risha, bangun! Sadar lah, Risha!" Laki-laki itu berusaha melepaskan diri, namun Risha berhasil mengubah posisinya menjadi tidur menyamping dan ia malah memeluk laki-laki itu seperti sedang memeluk guling yang empuk dan wangi. Dalam setengah sadar, Risha dapat merasakan hembusan nafas laki-laki itu di wajahnya yang berarti mereka sedang tidur saling berhadapan.
"Kamu yang sadar, sayang! Kamu itu kenapa bisa linglung? Aku sedih liat kamu!" Gumam Risha seraya mengeratkan pelukannya hingga membuat bibir laki-laki itu menempel di pipinya.
"Risha, ayo dong bangun!" Ujar Rosa berteriak di telinga Risha. Rosa sudah tidak tahan lagi melihat ranjangnya di tiduri oleh Risha dan laki-laki yang di kaguminya diam-diam.
Terdengar suara Risha berdecak, kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya dan mendapati wajah laki-laki tepat di hadapan wajahnya. Tiba-tiba ia berteriak dan mendorong laki-laki itu hingga tersungkur jatuh ke lantai.
Risha bangkit dari tidurnya, melihat laki-laki itu sedang memekik kesakitan seraya berusaha bangkit dari jatuhnya. Terlihat Rosa sedang berusaha membantunya berdiri.
"Reka, kamu ngapain tidur di sebelah aku?" Tanya Risha tercengang.
"Orang kamu yang ngigau, peluk-peluk kak Reka sampe gak bisa lepas. Udah sadar malah ngedorong kak Reka sampe jatuh. Gimana, sih?" Ujar Rosa membela Reka.
__ADS_1
"Aku hanya berusaha membangunkan mu Risha. Kenapa kamu susah sekali dibangunkan?" Tanya Reka seraya memegangi pinggangnya yang terasa sakit.