Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 44


__ADS_3

Aku masih mondar-mandir dengan pikiranku yang tidak karuan. Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam, seharusnya aku tertidur pulas saat ini. Hanya saja, berada di Madavia selama dua puluh empat jam membuatku harus terbangun di jam sembilan malam.


Aku sudah terjaga selama tiga jam. Bahkan aku sudah bercerita banyak hal pada Aldi tentang apa yang sudah aku lalui hari ini di Madavia. Tadinya aku ingin tetap terjaga sampai pagi, tapi setelah menghabiskan makanan yang sengaja di masak oleh Aldi untukku, malah mengundang kembali rasa kantuk yang sangat aku sedang hindari malam ini.


Sosok yang tengah berdiri di hadapanku menjadikan aku objek tatapannya sejak tadi. Yah, tentu saja sosok itu adalah Aldi. Aku hanya tidak tahu, akan melakukan apa selama mataku terjaga.


Jika saja ini adalah siang hari, mungkin aku akan mengajak Aldi jalan-jalan. Mungkin nonton bioskop, pergi shopping atau mungkin ke salon untuk sekedar maskeran rambut.


Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukan hal yang menyenangkan itu, bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali melewatinya. Oh, ayolah. Kenapa aku terpikirkan hal itu disaat tengah malam seperti ini? Kenapa tidak kemarin-kemarin saja? Ah, aku benar-benar dilanda kejenuhan saat ini.


"Sayang, udah dong. Kalau ngantuk tidur aja." Ucap Aldi seraya duduk bersandar di atas ranjang.


Aku tahu, laki-laki itu sedang menahan kantuk hanya karena ia terlanjur berjanji akan menemaniku sampai aku menyerah. Dia bahkan sudah beberapa kali menguap dan matanya tampak sangat layu.


"Aku hanya baru terjaga selama beberapa jam aja, masa aku harus tidur lagi." Sahutku seraya menjatuhkan diriku di atas ranjang.


"Loh, emang apa salahnya?" Tanya Aldi tergelak. "Gak bakalan ada yang ngelarang, kok!"


Aldi meraih tubuhku, membiarkan aku berbaring di bahunya. Tangannya mengusap dahiku, membuat aku perlahan-lahan memejamkan mataku.


Oh, tidak! Secepat inikah aku kembali ke tempat ini saat membuka kembali mataku. Aku menghela nafas berat sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu rumah lindung.


Aku membayangkan bagaimana dulu Reka, Gama dan Sagara sedang berdiri di depan pagar gaib untuk menunggu kedatanganku. Sekarang lihat, setelah aku membuka pintu rumah lindung ini. Bahkan aku tidak mendapati salah satu di antara mereka. Secapat inikah keadaanya berubah?


Aku terduduk di depan rumah lindung lalu menyeka air mataku yang entah kenapa harus menetes ketika aku mengenang saat-saat itu bersama mereka.

__ADS_1


Aku malah berharap, Samba ada disini untuk sekedar menemaniku, mendengarkan apa yang sedang ingin aku keluhkan saat ini. Tapi tentu saja itu mustahil karena tadi dia sudah berpamitan untuk kembali ke raganya. Pasti saat ini dia sedang tertidur nyenyak.


"Risha..." Tiba-tiba suara seseorang yang sudah tidak asing lagi bagiku, menyebut namaku. Membuat aku mengangkat wajahku dan melihat laki-laki itu sudah berdiri di depanku dan berhasil menerbitkan senyuman di bibirku. "Kamu kembali?"


Aku lekas bangkit dari dudukku lalu mengangguk. "Aku cuma gak kuat menahan kantuk."


Dia tersenyum dan aku tidak bisa mengartikan senyuman nya. Namun, sungguh aku menyukai senyuman nya yang begitu jarang aku lihat dari wajahnya. "Aku sudah menduganya. Karena itu datang kemari."


"Emangnya untuk apa kam_" Perkataan ku terpotong saat dia tiba-tiba menarik lenganku sampai aku terhuyung jatuh ke pelukannya. Aku melebarkan mataku saat menyadari dia tengah memeluk tubuhku dengan begitu erat. "Reka, ada a_"


"Apa kamu tidak bisa, sedetik saja menikmati saat-saat bersamaku ketika berada di Madavia, sebelum apa yang kita lalui saat ini berakhir dalam sekejap mata dan mengubahnya menjadi masa lalu yang kelak akan menjadi sebuah kenangan yang mungkin akan kamu rindukan." Tutur Reka yang terdengar seperti sedang membacakan puisi cinta.


Aku tertegun sejenak memikirkan kata-katanya yang berhasil mengecoh hatiku. Apa ini, kenapa hatiku berdesir? Aku tidak tahu, dan aku tidak ingin menanyakan-nya. Aku hanya ingin menikmati pelukan yang entah kenapa terasa begitu hangat, dan membiarkan diriku tenggelam dibahunya.


"Aku gak ngerti, Reka. Entah karena kalimat kamu yang terlalu baku atau memang aku yang telat mikir." Ucapku yang memang benar-benar tidak mengerti maksud Reka melontarkan kata-kata itu.


Aku tidak ingin terlalu percaya diri dengan mengira dia telah jatuh cinta kepadaku. Mungkin saja dia mengatakan itu karena selama ini aku sudah menjadi sahabat yang baik baginya dan mungkin pelukan itu tidak lebih untuk ia jadikan sebuah kenangan.


"Cinta memang sulit di mengerti, Risha." Sahutnya yang membuat mataku terbelalak. "Semakin kamu berusaha menjauhinya, semakin cinta itu berusaha menemukan jalannya."


"Oh, jadi sekarang kamu Mencintainya, Reka?" Suara Anjani dengan lantang. Aku dan Reka serempak menoleh ke arahnya. "Pantas saja, aku sudah tidak melihat cinta dimatamu saat kamu menatapku. Ternyata Risha telah mencurinya dariku."


"Enggak, An. Kamu salah paham, ini gak seperti yang kamu kira." Ucapku mencoba menjelaskan.


"Sadarlah, Reka. Aku Anjani-mu. Dia hanya saudari kembarku." Ucap Anjani seraya menunjuk ke arahku. "Apa kamu jatuh cinta kepadanya karena wajahnya yang sangat mirip denganku?"

__ADS_1


"Tidak, Anjani. Ini bukan tentang wajah, tapi tentang hati." Sahut Reka yang malah membuat Anjani semakin geram.


"Apa? Kamu membicarakan tentang hati? Apa aku tidak salah mendengar? Memang nya kamu punya hati, Reka? Kalau kamu punya hati, kamu tidak akan mungkin menyakitiku." Ucap Anjani mencibir.


"Maafkan aku, Anjani." Sahut Reka menundukan kepala.


"Aku tahu, semua ini gara-gara wanita itu, bukan?" Tanya Anjani lagi-lagi menunjukku dengan jari telunjuknya. Kemudian, Anjani menoleh ke arahku dengan tatapan sinis. "Aku membenci kamu Risha, apa tidak cukup kamu memiliki Mama dan Papa serta kehidupan yang lebih baik dariku? Apa belum puas sampai kamu juga ingin merenggut Reka dariku, Risha?"


Aku masih terus menggeleng, mengelak dari apa yang sudah ia tuduhkan kepadaku. "Enggak, An. Aku gak pernah berniat sedikitpun buat merebut Reka dari kamu, sumpah. Kamu salah paham, An. Tolong jangan pernah mengira aku bakalan ngelakuin hal itu sama kamu."


"Pengkhianat... Aku benci padamu, Risha" Teriak Anjani seraya melemparkan sebuah cahaya putih ke arahku.



Aku menutup kedua mataku saat hendak menerima hantaman cahaya putih yang aku tidak tahu itu apa. Aku hanya bisa pasrah karena menangkispun tidak akan sempat sebab aku telah kalah cepat.


"Tidak, Risha...." Teriak Reka seraya mendorongku hingga membuat aku tersungkur jatuh menyeret tanah.


Buuuuuukkhh


"Aaaaakkhh" Pekik Reka yang terpental cukup jauh dari tempatnya berdiri saat menerima pukulan cahaya yang di lemparkan Anjani.


Aku terlonjak, mataku terbelalak saat melihat cahaya itu malah berhasil merobohkan nya. Reka memegang dadanya yang terkena serangan Anjani, ia terus meringis, memekik menahan sakit.


"Rekkaaaa" Aku berteriak seraya berlari menghampirinya dengan bulir-bulir air mata di pelupuk mataku.

__ADS_1


__ADS_2