Meraga Sukma

Meraga Sukma
12. Menikmati Malam Bersama Aldi


__ADS_3

Deru nafasku semakin membara, aku mendongakkan kepala dengan memejamkan mata menikmati setiap sentuhannya.


Aku baru sadar ternyata tangannya sudah membuka satu persatu kancing baju tidurku kemudian melemparnya ke sembarang arah. Tangan nya kini meraba punggungku lalu melepaskan kaitan bra yang menutupi dadaku.


Dia mulai menjelajahi leherku lalu turun ke dada. Membuat aku tidak bisa menahan ******* nikmat.


"******* kamu bikin aku gak bisa menahan nya lagi, Risha." Ucap Aldi yang kemudian berdiri lalu membopongku. Membawaku ke dalam kamar dan membaringkan aku di atas ranjangku.


"Aku takut, Al" Ucapku yang melihat Aldi mulai menindih tubuhku


"Apa yang kamu takutin, Risha?" Tanya Aldi dengan tatapannya yang teduh.


"Aku takut setelah ini kamu akan ninggalin aku" Jawabku lirih.


Aldi membelai rambutku. Merapikan rambutku yang sedikit berantakan. "Ini bukan pertama kalinya kita melakukan ini dan aku gak pernah sekalipun ninggalin kamu. Bahkan pada saat kamu ninggalin aku, aku masih ngejar kamu, Risha."


Aldi mencium keningku. Membuat aku merasa tenang dan percaya kepadanya. Dia kembali mencium bibirku lebih intens. Tangan kirinya meremas lembut bagian dadaku. Sedangkan tangan kanan nya tengah berusaha melepaskan celana tidurku, membuat aku benar-benar telanjang bulat.


Aldi membenamkan wajahnya dibahuku. membuat aku memegang kepalanya yang kini menuju ke arah dadaku dan mulai menjambak rambutnya saat lidahnya bermain di dadaku.


Kini tangannya menelusuri bagian pahaku yang membuat aku melebarkan tungkaiku. Ia membuka handuknya, membuat kami benar-benar telanjang bulat, tampa sehelai benangpun yang menutupi.


Aldi memulai aksinya dengan perlahan. Sesuatu miliknya yang sedari tadi mengganjal di bagian bawah perutku kini telah menerobos gawang milik ku. Aku dapat mendengar bagaimana ia mendesah hingga membuat aku semakin terangsang.


Aldi menahan kedua tanganku dan mempercepat gerakannya. Keringatnya membuktikan betapa panasnya adegan ini. Aku mengigit bibir bawahku, mendongak saat tubuhku tidak bisa menahan getaran hebat hingga aku merasakan cairan asing keluar dari kewanitaanku yang tak lama di susul oleh Aldi.


"Cukup sekali kita berpisah, Rish" Ucap Aldi yang kini berbaring lelah di sebelahku dengan nafas yang masih terengah-engah. "Aku mau bersama kamu selamanya"


Aku menoleh dan memiringkan posisi tidurku menghadapnya. "Aku juga gak mau pisah lagi sama kamu. Kamu adalah orang yang berhasil menempati relung hati aku hingga merenggut keperawananku. Membuat aku kecanduan akan kenikmatan yang aku rasakan bersama kamu"

__ADS_1


Aldi tersenyum bahagia. Dia mendekap erat tubuhku. Waktu sudah menunjukan pukul 00:45 Wib. Kami pun memutuskan untuk tidur dengan balutan selimut yang menutupi tubuh kami yang belum sempat memakai kembali pakaian kami masing-masing.


***


Aku membuka kedua mataku dan sudah mendapati diriku berada di rumah lindung. Betapa terkejutnya ketika aku menyadari tubuhku masih telanjang bulat tampa sehelai benang yang menutupi tubuhku.


"Ya tuhan, gimana ini" Gumamku seraya menjambak pelan rambutku sendiri. Bagaimana bisa aku melupakan bahwa aku selalu datang ke tempat ini dengan pakaian yang aku pakai pada saat tidur.


Aku teringat kata-kata terakhir Gama yang akan menungguku hari ini depan rumah lindung. Bagaimana caranya aku bisa menemui Gama dengan keadaanku seperti ini.??


Aku benar-benar panik, namun untung saja tidak ada yang bisa memasuki rumah lindung ini sehingga tidak akan ada yang bisa melihatku dalam keadaan telanjang sekalipun itu Gama.


Mataku melihat kain gorden yang menutupi kaca jendela rumah ini. Aku segera menarik kain gorden itu dan hampir saja aku membuat Gama melihat sebagian dari diriku di jendela, membuat aku refleks berjongkok untuk menyembunyikan tubuhku.


Kain gorden itu mampu membalut tubuhku. Menyelamatkan aku dari rasa malu. Perlahan aku membuka pintu dan melihat Gama yang berada di depan pagar.


"Kemana pakaian mu, Risha?" Tanya Gama yang memandangku dari atas ke bawah.


"Aku lupa memakai kembali bajuku" Sahutku seraya memalingkan wajahku.


Gama tertawa, membuat aku mengerutkan keningku. Apa dia sedang mentertawakan ku?


Kini gama menghentikan tawanya lalu menatapku dengan intens. "Sebenarnya kamu tidak perlu begitu untuk menarik perhatian ku, Risha." Ujar Gama seraya menunjukan seringainya.


Aku melewatinya dan tak sengaja menabrak bahu Gama. "Apaan sih, Gama. Ini bukan disengaja tahu"


"Aww.." Rintih Gama pura-pura kesakitan seraya menyentuh bahunya lalu membalikan badan ke arahku. "Jadi kamu tadi ketiduran pada saat mandi?"


Aku mendengus kesal. "Udah lah, cepat bawa aku ke rumah kamu. Aku takut ada yang lain melihat aku seperti ini, aku bisa malu."

__ADS_1


Gama mendekatkan mulutnya di telingaku kemudian berbisik. "Oh, jadi kamu sudah tidak sabar, ya?"


Aku mendorong tubuhnya pelan, membuat nya mundur satu langkah. "Ya udah, aku masuk aja lagi ke rumah lindung"


"Jangan!!" Seru Gama seraya meraih tanganku. Menghentikan tujuanku untuk kembali ke rumah lindung. "Waktu kita tidak banyak karena kamu terlambat sampai disini aku bahkan sudah menunggumu begitu lama"


Ini memang kali pertama aku tidur sampai selarut ini. Itupun karena aku terlalu menikmati saat-saat bersama Aldi hingga bahkan aku tidak sempat membaca buku agenda kakek Sukma.


Gama membopong tubuhku, membawaku pergi ke rumahnya dengan jurus melesatnya.


"Aku gak mau bertele-tele lagi" Ucapku yang kini tengah bersandar di bangkunya. "Cepat kasih tahu aku, agar aku bisa kembali menikmati mimpi yang normal. Aku udah jenuh dengan semua ini."


"Aku akan menjelaskan nya" Ucap Gama seraya menoleh ke arahku. "Tapi kamu harus membuka dulu kain gorden itu dari tubuhmu"


Sontak aku menoleh ke arahnya dan memandangnya dengan tatapan kesal hingga aku tidak bisa menahan diri lagi untuk memukul kepalanya dan memakinya. "Dasar laki-laki mesum, kamu pikir aku wanita rendahan yang mau memperlihatkan tubuh aku yang indah ini didepan kamu. Terus kamu mau apa? Mau perkosa aku, gitu?"


Gama yang menerima pukulanku merintih kesakitan. Tangan nya berusaha melindungi kepalanya dari hantaman tanganku. "Berhenti, Risha. Bukan begitu, tolong dengarkan dulu"


Aku mendengar nada permohonan itu dan berhenti memukulnya. "Emang nya apa yang perlu aku dengar lagi dari kamu?"


"Bukan begitu maksudku" Ucap Gama seraya mengusap lengan nya yang habis ku pukuli. "Aku ingin kamu membuka kain gorden itu agar bisa memakai pakaian yang layak dan nyaman. Itupun tentu saja bukan di depanku" Jelas Gama.


"Oh, ya?" Tanyaku seolah ragu. "Kenapa gak bilang dari tadi?"


"Kamu sudah terlebih dulu memukulku sebelum aku menyelesaikan perkataanku" Sahut Gama tampak kesal.


"Hihihi, Maaf" Aku menyeringai seraya menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Gama membuka lemari bajunya kemudian meraih sebuah peti kayu berukuran 50 cm dengan bentuk persegi panjang. Tangan nya perlahan membuka peti itu kemudian menunjukan isi didalamnya padaku. "Aku masih menyimpan pakaian Anjani. Kamu bisa memakainya"

__ADS_1


__ADS_2