
Hari ini tidak seperti biasanya. Aku disambut oleh wajah sendu Reka dan Gama yang kini masih membisu sejak aku datang ke Madavia. Bahkan Anjani masih belum mengucapkan satu katapun dari mulutnya yang tipis berwarna merah muda itu.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Kalimat itu keluar dari mulut Samba yang baru saja datang, seakan memecah keheningan rumah Reka.
Setelah melewati petualanganku di Madavia dengan banyak suka duka, akhirnya aku sampai pada titik tujuanku yang sebenarnya. Aku sudah bisa kembali ke dimensiku hanya dengan menyelesaikan satu langkah lagi sebelum akhirnya aku benar-benar terbebas dari alam ini.
Setelah menyelesaikan teka-teki yang nyaris meledakan kepalaku. Menyelesaikan segala kesalah pahaman antara Reka, Gama dan Anjani. Membuka kedok Dewari hingga berhasil melenyapkan nya dan mengembalikan Anjani ke posisi yang memang menjadi hak-nya. Yaitu, menjadi satu-satunya Ratu di Madavia, menggantikan posisi Dewari. Karena hanya Anjani yang menjadi satu-satunya pewaris mustika ular yang sebentar lagi akan aku berikan pada Altar.
Seperti lebah yang hanya memiliki Ratu, bukan Raja. Begitupun Madavia, karena itu Gama dan Reka tidak bisa menjadi Raja. Namun, Gama dan Reka kini bisa kembali tinggal di istana karena sudah mendapatkan kembali gelar 'pangeran' yang memang sudah menjadi gelar mereka sejak kecil. Itupun jika mereka tidak menolaknya. Yup, mereka menolak untuk kembali ke istana karena menurut mereka, rumahnya saat ini sudah menjadi surganya.
Kekuatan mereka sudah kembali pulih bersama lenyapnya Dewari yang telah mengembalikan kekuatan yang sudah ia renggut bertahun-tahun lamanya sejak ia duduk di singgasana menggantikan Ratu Sundari.
Pantas saja, kemarin adalah pertama kalinya aku melihat Gama menggunakan kekuatan nya. Gama memiliki cakra petir, sedangkan Anjani memiliki kakuatan eletrokinesis. Pantas, Kemarin Reka sampai roboh saat menerima serangannya.
Kekuatan Gama dan Anjani sebenarnya saling berhubungan. Sebab itu, Ratu Sundari menginginkan Anjani menikah dengan Gama. Meskipun Reka memiliki kekuatan yang tidak tertandingi yaitu, Geokinesis. Dengan kekuatan itu, ia bisa mengendalikan unsur mineral, bebatuan, tanah dan pasir. Dia adalah pengendali bumi. Dengan kekuatannya itu, ia bisa membuat tanah longsor, melubangi tanah, menggerakan dan menerbangkan bebatuan bahkan menciptakan gempa bumi.
Namun, menurut Ratu Sundari, kekuatan Gama dan Anjani akan lebih sempurna jika mereka bersatu. Mereka saling membutuhkan karena petir tidak akan terjadi tanpa listrik dan kekuatan elektrokinesis tidak akan berguna tanpa cakra petir.
Madavia sudah kembali menjadi Desa yang penuh kedamaian seperti saat di pimpin oleh Ratu Sundari. Semua siluman yang tinggal di dalamnya kini merasa lega karena sebentar lagi mereka bisa kembali masuk ke dimensi manusia untuk sekedar mengambil sari makanan atau menghuni sebuah pohon dan tempat yang bersejarah bagi mereka agar manusia tidak mengusik pohon atau tempat itu karena siluman yang menghuninya akan membuat pohon atau tempat itu terkesan angker.
***
__ADS_1
Setelah lama termangu, akhirnya Anjani memutuskan untuk berjalan ke arahku lalu memeluk erat tubuhku. "Aku minta maaf karena kemarin aku berusaha menyakitimu. Aku tahu, aku tidak bisa menarik kembali kata-kataku, tapi dengan tulus aku mengatakan bahwa hari ini aku merasa tidak ingin kehilanganmu."
Aku tersenyum menikmati pelukan Anjani yang entah kenapa terasa begitu hangat sampai-sampai kehangatan nya mengalahkan selimut tebal di kosanku. Reka yang berdiri di belakang Anjani malah mempertemukan mataku dengan matanya yang biru itu.
Dengan air mata yang terbendung diantara sela-sela matanya, Gama memelukku setelah Anjani melepaskan pelukannya. "Aku senang karena cintaku tidak terbalas olehmu, karena perpisahan ini akan sangat terasa berat ketika aku tahu pada akhirnya aku harus kehilanganmu."
Deg
Kalimatnya terdengar seperti nada menyindir. Entah itu hanya perasaanku atau memang dia sedang mencibir, karena ucapannya telah berhasil membuat hatiku bergejolak. Tidak butuh banyak waktu untuk aku menyadari bahwa saat ini aku sedang merasakan tentang apa yang sudah Gama katakan.
"Aku tidak keberatan jika kamu juga ingin memeluk Risha." Ucap Anjani menatap Reka. "Bahkan kamu boleh mengucapkan apapun padanya, termasuk apa yang sudah kamu ungkapkan padaku semalam tentang perasaanmu padanya."
Reka tersenyum tipis ke arah Anjani. Kemudian, ia mulai berjalan ke arahku dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Reka memelukku, membuat aku terbenam di tengkuknya. Aku tidak merasakan kehangatan dalam pelukannya seperti yang aku rasakan dari pelukan Anjani dan Gama.
Namun, saat ini aku justru sedang berusaha menguatkan jantungku agar tetap berdetak di tempatnya. Ada yang berbeda dari pelukannya, bukan kehangatan, melainkan kenyamanan yang membuat aku tidak ingin lepas dari pelukan ini.
"Aku mencintai kamu, Risha." Lirih Reka
Deg
Hatiku berdesir. Kalimatnya seakan membangunkan hatiku yang sedang tertidur. Membuat aku tersadar akan perasaan yang selama ini sangat aku hindari. Aku benar-benar tidak mampu menepisnya lagi, aku jatuh cinta.. Lagi.
__ADS_1
"Bukan karena wajahmu yang sangat mirip dengan Anjani. Namun aku merasa hidupku menjadi lebih berarti sejak kamu hadir dalam hidupku. Rasanya seperti memiliki semangat hidup yang sudah lama redup, dan aku tidak peduli jika aku tidak bisa memilikimu seutuhnya. Aku hanya akan tetap mencintaimu, itu sudah cukup bagiku."
"Reka, harusnya kamu bilang itu sama Anjani. Bukan sama aku." Sahutku seraya melepaskan pelukan nya dan lekas berbalik membelakanginya.
"Eh, kenapa harus begitu?" Anjani menyahut seakan dia melupakan ucapan yang baru kemarin ia lontarkan kepadaku.
"Kami sudah membicarakan banyak hal saat kamu tidak disini. Reka benar, hati tidak bisa dipaksakan. Dan aku tidak boleh mengecewakan Ratu Sundari yang sudah begitu baik menyerahkan singgasananya kepadaku. Jika saja dulu aku dijadikan tumbal untuk Dewari, mungkin saat ini aku akan menjadi roh yang paling merana. Karena aku harus menjalani hidup sebagai budak yang tidak berarti apa-apa. Bahkan kakek Wijaya tidak akan bisa menyelamatkanku. Ratu Sundari telah memberiku kesempatan agar aku bisa menikmati hidup dengan bahagia sebagai seorang Ratu di Madavia. Sebagai ucapan terimakasihku kepadanya, aku akan mengabulkan keinginannya untuk menikah dengan Gama." Sambung Anjani menjelaskan.
"Tapi, An. Aku gak mungkin bisa bersatu sama Reka. Aku manusia dan aku tinggal di alam manusia. Bahkan aku akan menikah!" Ucapku mengelak.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Biar saja semua mengalir apa adanya, kamu tidak perlu cemas karena Reka tidak sedang memintamu untuk membalas cintanya." Ucap Anjani dengan nada santai.
"Ya ampun, kapan drama ini akan berakhir? Apa sebaiknya aku tidur dulu, dan bangunin aja aku kalau kita udah siap pergi ke Altar." Ucap Samba yang sedari tadi hanya menyimak sampai merasa bosan.
"Tidak, kita harus menyelesaikan nya hari ini juga. Jika tidak segera diberikan pada Altar, akan banyak siluman dari Kerajaan lain mengincarnya dan mengancam nyawa Risha." Sahut Anjani yang sepertinya sudah bersiap mengajak ku pergi.
Reka menggamit jariku dan membawaku pergi melesat menuju ke Altar. Kami yang pergi seiring dengan langkah yang begitu cepat membuatku merasa seperti burung bangau yang terbang begitu kompak.
Kami bertepi di sebuah hutan yang sepertinya tidak berpenghuni. Aku terpana saat melihat sebuah pohon tua berukuran sangat besar di selimuti lumut hijau dan memiliki sebuah pintu. Selama aku berkelana di Madavia, ini kali pertama aku di perlihatkan sosok Altar yang sebelum nya hanya ku dengar dari cerita.
__ADS_1